Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Membuat keributan 2


__ADS_3

Bapak Security yang merasa tahanannya terlepaspun segera berdiri dengan cepat dan mengejar. Tapi sayang, karena ia terlambat karena Intan sudah masuk ke dalam lift.


"Ada yang masuk tanpa ijin menuju lantai 25. Mohon rekan di sana segera menuju ke lift."


Bapak Security langsung masuk ke dalam lift bagian OB agar bisa cepat mengejar perempuan yang sudah 2 kali mencelakainya.


Intan sendiri begitu keluar dari dalam lift langsung berlari mencari ruangan Gara. Karena tidak pernah bisa punya waktu untuk lebih mengenal dan mengatahui setiap kepentingan pria itu, kini Intan kebingungan mencari ruangan Gara.


"Mana lagi ruangannya?"


Mata Intan terus bergerak melihat kesana kemari mencari ruangan Direktur Utama. Hingga akhirnya ia melihat papan gantung di atas pintu yang bertuliskan Direktur Utama.


Dengan cepat Intan berlari menuju ruangan itu sebelum pihak keamanan menangkapnya.


"Hey, berhenti!" teriak dua orang security yang sudah sampai di lantai 25 setelah tadi mendapat peringatan ketika mereka sedang sibuk di lantai 24.


Sekretaris Gara yang meja kerjanya berada di depan ruangan Gara pun di buat kaget dengan kehadiran orang yang tergesa-gesa datang. Bahkan kini perempuan itu langsung masuk ke dalam ruangan Gara.


"Nona, anda di larang masuk."


Wanita yang tadinya sedang sibuk dengan dokumen itu terpaksa harus berdiri dan mengejar orang yang masuk sembarangan ke dalam ruangan sang Direktur.


"Gara, kamu harus pecat semua orang gak berguna itu. Berani-beraninya mereka tuduh aku penyusup." Adu Intan pada seseorang yang sedang duduk di kursi Direktur menghadap kaca.


"Maaf nona, silahkan anda keluar dan jangan buat keributan di sini."


Wina langsung mendekati Intan hendak menariknya keluar. Tapi yang ada malah ia di bentak.


"Kamu di pecat! Pergi dari sini!" teriak Intan.


Wina menutup kedua telinganya karena suara Intan yang begitu memekakkan telinga.


Hingga seseorang yang duduk di kursi milik Gara itu berbalik dna menampakkan wajahnya. Alangkah kagetnya Intan melihat orang lain yang menempati kursi Direktur.


Alih-alih Gara yang duduk di sana, kini malah berganti menjadi pria paruh baya.


"Siapa kamu? Kenapa buat keributan di tempat saya?" Aura gelap langsung terasa begitu pria yang tak lain papanya Gara itu buka suara.


"Loh, mana Gara? Bukannya perusahaan ini punya Gara? Kenapa bisa jadi orang lain?" kaget Intan.


Masuk pula dua Security yang tadi mengejar Intan.


"Maaf Tuan Besar, kami lalai menjaga keamanan hingga seorang pengacau bisa masuk." Kedua Security itu membungkuk sejenak sebagai tanda bersalah.

__ADS_1


"Bawa dia keluar."


Kedua Security itu langsung mendekati Intan untuk menangkapnya. Tapi Intan kembali berteriak histeris layaknya orang kehilangan akal.


"Katakan dimana Gara? Dimana dia? Kalian semua pasti bakalan di pecat kalo berani sakitin aku."


Wina menutup kedua telinganya erat untuk kedua kalinya pula. Seorang Securitu langsung membungkam mulut Intan agar tidak berteriak lagi, karena itu sangat mengganggu.


"Apa maksud ucapannya?" tanya Pak Rudi yang merupakan ayah kandung Gara.


"Maaf Tuan Besar, Nona ini mengaku sebagai calon istri Tuan Muda. Bahkan Nona ini mengatakan kalau pernikahan Tuan Muda tidak sah karena dia calon istri yang sesungguhnya dari Tuan Muda."


Security yang mendapat dua kali kesialan dari Intan itu buka suara.


Pak Rudi memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Pak Rudi tentu saja tahu siapa perempuan yang sedang di tahan oleh bawahannya itu.


Bagaimanapun juga, sebagai orang tua dan terpisah jauh dari sang putra. Pak Rudi tidak ingin kelewatan informasi mengenai anaknya, meskipun Gara tinggal bersama sang ibu.


"Bawa dia pergi, jangan pernah ijinkan masuk lagi." Pak Rudi kembali memutar kursi menghadap kaca dan membaca isi kertas di tangannya.


Pak Rudi pernah mencaritahu siapa Intan itu setelah mendapat kabar kalau Gara punya kekasih. Ada orang suruhan Pak Rudi di perusahaan itu yang selalu memantau kegiatan pekerjaan Gara.


Merasa Intan tidak cocok dengan anaknya, Pak Rudu menyetujui dan mendukung usul mamanya untuk menjodohkan Gara. Percaya bahwa pilihan sang mama yang terbaik untuk anaknya.


Intan di seret keluar dari perusahaan oleh kedua Security tadi. Bahkan tidak perduli dengan tatapn para karyawan yang sudah mulai keluar dari ruangan untuk pulang.


"Bukannya dia si artis sekaligus model itu ya!" Para karyawan yang melihat Intan langsung bergosib.


"Iya, itu dia."


"Kok di usir dari perusahaan ya?"


"Siapa yang di carinya?"


"Malu banget, ya ampun."


"Dia dari agensi artis dan model di bawah naungan perusahaan kita kan?"


"Iya, malu-maluin banget sih."


"Hilang harga dirinya sebagai artis populer."


Jika Intan menjadi bahan gosib bagi karyawan perusahaan GT yang akan pulang. Maka lain hal nya dengan ketiga orang baru saja mendapatkan keuntungan dari Intan.

__ADS_1


"Kita ke kafe depan yuk!" ajak si pemilik video kemarahan Intan.


"Ayo, tapi jangan sampe malam banget ya."


"Iya, udah ayo."


Ketiga perempuan itu meninggalkan perusahaan dan menuju sebuah kafe. Mereka memilih meja paling pojong dan sepi pengunjung agar pembicaraan lebih enak.


"Gimana yang tadi itu? udah ada hasilnya?" tanya teman si Resepsionis.


"Udah, kalian kirimkan nomor rekening kalian sini. Aku kirim uangnya sama kalian semua."


Si pemilik video melihat kedua temannya dengan yakin.


"Memangnya beneran dapet duit ya? dapet berapa?" Penasaran perempuan yang jadi korban.


"Sepuluh juta"


Melotot kaget kedua orang di hadapan wanita itu. Mereka tak percaya akan apa yang di katakan teman mereka yang dari bagian IT perusahaan itu.


"Yang bener kamu, masa iya cuma video begitu doang bisa dapet 10 jeti." Ragunya.


"Itu belum seberapa yang kita dapetkan. Cuma remahan bagi mereka yang suka gosib dan berita terpanas." Senyum wanita itu dengan lebar.


"Memangnya kamu apain videonya?" tanya teman si Resepsionis penasaran.


"Aku jual ke wartawan," bisik si pemilik video.


"Kamu kenal dari mana wartawan yang mau beli video itu?" penasaran si korban amarah Intan.


"Mantan," sahutnya santai.


"Hah? mantan kamu seorang wartawan?" tanya kedua wanita Resepsionis itu.


"Iya, tapi dia bagian pencari gosib. Aku jual videonya sama perusahaan dia, dan apa yang kita dapetkan masih kecil. Karena perusahaan yang nyebar gosib itu bakalan dapet keuntungan lebih besar."


Perempuan pemilik video itu nampak santai bicara pelan.


"Trus, kenapa kamu cuma bisa dapetin 10 jeti aja kalo mereka bisa dapet 10 kali lipat?" Tanya si korban.


"Nikmati aja dulu hasilnya ini, video selanjutnya bakalan lebih mahal nanti," jawab si pemilik video.


"Ya udahlah, kita bagi tiga aja itu uangnya biar adil." Usul si korban.

__ADS_1


"Gitupun bolehlah, yang penting dapet tambahan aku," kata teman si korban.


Akhirnya uang 10 juta yang mereka dapatkan itu di bagi mereka bertiga.


__ADS_2