Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Kekantor


__ADS_3

"Kalo mau ketawa, keluarkan aja. Nanti kamu ketut kalo nahan-nahan," ucap Gara.


Sontak saja suara tawa menggema di kamar Gara. Tawa lepas dari seorang Nadira yang tak pernah ia perlihatkan. Tawa yang tak pernah muncul sejak kehilangan ibunya.


Gara menatap Dira dengan tersenyum senang. Meski harus menjadi bahan tertawaan istrinya karena di buat kesal oleh kedua adiknya.


Gara bersyukur karena akhirnya bisa melihat tawa lepas istrinya.


"Seneng banget sih? Padahal suami kamu ini lagi kesel loh."


"Gak nyangka aja, Mas. Kamu yang biasanya ngeselin, sekarang bisa di buat kesel juga."


Dira mengusap air matanya yang keluar akibat tertawa.


"Kapan Mas ngeselin? Gak pernah tuh!" Sangkal Gara.


"Gak pernah? Waktu kita di Bali, kamu tuh sering buat aku kesel, Mas."


"Kan waktu itu."


"Tadi juga."


"Iya, iya, Mas ngeselin. Sekarang, Mas mau tunjukin apa itu ngeselin yang sesungguhnya."


Gara tersenyum miring menatap Dira yang nampak merinding melihatnya. Gara mendekap tubuh Dira sampai berbaring.


"Mas ..." kaget Dira.


Gara mulai mencumbu istrinya dan berlanjut dengan kelanjutan yang selanjutnya.


-------


"Kalian mau kemana?" Tanya Mama Rida kala mendapati Dira dan Gara turun bersama dengan penampilan yang rapi.


"Mau keperusahaan, Tan."


"Loh, bukannya kamu masih cuti? Kok udah mau ke perusahaan aja?"


"Kan udah gak bulan madu lagi, Tan. Jadi masuk kerja aja, sekalian kenalin Dira sama semua karyawan."


"Oh, gitu."


Mereka menuju meja makan untuk sarapan bersama. Di sana juga sudah ada nenek Ira yang ikut sarapan.


Tentu saja semua orang mempertanyakan hal yang sama dengan mama Rida. Dan Gara memberi jawaban yang sama seperti sebelumnya.


"Nek, Gara punya niat untyk beli rumah," ucap Gara membuat kaget semua orang.

__ADS_1


"Beli rumah? Kamu mau pindah dari sini? Nenek, kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Lesu nenek Ira.


"Kan, Papa udah pulang." Gara tak juga sebenarnya meninggalkan nenek.


Tapi apa boleh buat, ia sudah berniat untuk membeli rumah sendiri untuk keluarga kecilnya.


"Biar aja mereka, Ma. Anak-anak udah nikah, biar mereka mandiri. Karena kehidupan mereka gak akan selalu berjalan mulus, belajar dari sekarang mengurus keluarga sendiri. Mereka perlu itu semua untuk masa depan," kata papa Rudi.


"Ya udahlah, Mama bisa apa kalo kamu udah ngomong gitu." Pasrah nenek Ira.


Meski sedih karena Gara keluar dari rumahnya, tapi apa yang di katakan oleh anaknya benar. Cucunya perlu berusaha sendiri membina rumah tangga tanpa campur tangan keluarga.


"Nanti kita bisa sering-sering ke sana, Ma. Arau anak-anak yang dateng ke sini," ucap mama Ella menghibur mertuanya.


"Iya," sahut nenek Ira.


Setelah sarapan, Gara dan Dira keluar rumah menuju mobil. Reno sudah bersiap menunggu di samping mobil.


"Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Gara pada Reno setelah mobil melaju.


"Iya, Tuan. Tapi, ada perubahan pemegang saham di agensi GK LABEL."


"Siapa yang menjual saham milik mereka? Bukannya pendapatan mereka selama ini cukup besar dari agensi?"


"Benar, Tuan. Tapi kemarin terjadi penurunan harga saham, sehingga beberapa pemilik saham yang persenannya kecil menjual saham mereka."


"Iya, Tuan. Masalah artis yang pernah saya laporkan itu, sekarang sudah semakin panas dan sensasional."


"Apa lagi masalah orang itu?" Heran Gara dengan begitu banyaknya masalah yang selalu di timbulkan oleh Intan.


"Tuan, bisa bertanya langsung dengan pak Wawan. Supaya bisa lebih jelas semua permasalahannya. Pak Wawan juga ingin menyampaikan sesuatu pada Tuan selaku Direktur Utama."


Reno memilih untuk tak mengatakan semua yang terjadi pada atasannya. Karena bagaimanapun juga ini menyangkut masalah dari dua perusahaan di bawah kendali Gara sendiri.


"Ya sudah, kita ke sana dulu."


Dira melihat suaminya yang nampak sangat malas membicarakan masalah yang terjadi di perusahaan yang mereka bahas. Perusahaan? Direktur Utama? Apa suaminya ini beneran Direktur seperti apa yang pernah di katakannya?


Sampai sekarang Dira belum tahu jika suaminya memang Direktur. Yang Dira tahu hanya suaminya anak orang kaya. Keturunan bangsawan, sudah pasti banyak uang.


"Jadi kamu beneran Direktur, Mas?" Tanyanya.


Gara mengalihkan pandangannya ke arah Dira yang berwajah polos.


"Jadi sampe saat ini kamu belum percaya juga kalo suami kamu ini Direktur?" Kaget Gara tak percaya.


"Percaya gak percaya sih."

__ADS_1


Gara melongo mendengar kalimat Dira, sungguh ajaib sekali istrinya ini. Pantas saja tadi pagi saat Gara mengatakan akan membawanya ke perusahaan, Dira nampak ragu untuk mengiyakan.


"Nanti kamu lihat sendiri, Mas suami kamu ini orang paling penting di mana-mana," ucap Gara.


"Oh," sahut Dira santai dan enteng.


Oh katanya? Astaga istriku, jerit batin Gara shok dengan kepolosan dan kesantaian istrinya dalam bersikap.


Tiba-tiba Dira merasa ingat sesuatu tentang yang tadi di bahas oleh suaminya dan orang yang sedang menyetir.


GK LABEL? Bukannya itu perusahaan yang baru ia beli sahamnya kemarin sore? Saham 15% Dira dapatkan dengan usaha keras dan negosiasi harga yang baik pada pemilik awalnya.


Dan kini, saham itu sudah resmi menjadi miliknya karena kemarin mereka sudah menandatangani surat jual beli saham dan serah terimanya. Dengan Mega dan Eva sebagai saksi di pihak Dira.


Juga seorang pengacara dan sekretaris bapak tua pemilik saham sebelumnya.


Apa suaminya ini pemilik perusahaan itu? Wah, dunia terasa sempit sekali. Atau memang dirinya yang kurang memperhatikan siapa pemilik perusahaan dari saham yang ia beli.


Sesampainya di agensi, Gara membawa Dira masuk dengan menggandeng mesra tangan istrinya.


Dira yang memakai baju kemeja lengan panjang yang di padukan dengan celana panjang longgar. Serta rambut di kuncir kuda, memakai hells setinggi lima senti.


Belum lagi riasannya yang natural dan sangat terlihat alami. Begitu pas di wajah cantik Dira yang nampak memancarkan cahaya keindahan.


Banyak karyawan Gara yang memperhatikan sang Direktur Utama yang datang bersama seorang wanita.


Bahkan tak sedikit yang melontarkan kalimat kagum pada Dira. Tentu saja hal itu membuat Gara bangga dan semakin ingin menunjukkan siapa pemilik wanita cantik yang sedang ia gandeng mesra ini.


"Wah, wah, wah, lihatlah siapa yang datang ini?" Goda Wawan yang juga baru tiba dan hendak masuk melewati lobi.


"Kenapa?" Tanya Gara menatap adik sepupunya itu pamer.


"Apa itu? Muka pamer kamu gak mempan sam aku, Mas. Aku udah duluan merasakan punya istri, bahkan aku udah punya anak." Pamer Wawan membanggakan anak istrinya.


"Nanti juga kami bakalan punya anak."


"Ya haruslah, supaya nanti kita bisa tunjukin anak siapa yang paling hebat."


"Kamu pikir kompetisi apa? Kayak mau laga anak aja."


Kedua lalu terkekeh bersama akibat candaan mereka.


"Oh iya, nanti ada rapat pemegang saham. Ku harap Mas bisa hadir," ucap Wawan di angguki Gara.


"Iya, nanti sekalian ke sana. Kasih tahu aja sama Reno, jam berapa rapatnya."


"Sip, nanti Agi yang hubungi Reno."

__ADS_1


Wawan berjalan menuju ruangannya yang ada di sebelah ruangan Gara. Sedangkan Gara juga langsung masuk ke ruangannya untuk melihat-lihat perkembangan agensi yang di dirikannya ini.


__ADS_2