Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Foto di pantai


__ADS_3

Seperti ucapan Gara yang ingin mereka foto di tepi pantai. Siang imenjelang sore ini mereka berdua sedang bersiap.


Dira bahkan sedang di rias oleh perias yang di panggil Gara untuk datang ke vila bersama seorang fotografer. Simpel saja sesi foto mereka, tidak perlu harus melibatkan orang banyak.


"Mas!" Panggil Dira pada suaminya yang terlihat sedang berbincang pada si tukang foto.


Mendengar panggilan dari istrinya membuat Gara menoleh kesumber suara. Alahkan terkejutnya ia saat melihat bagaimana penampilan istrinya saat ini.


Make up natural yang di gunakan Dira sangat terlihat cocok berpadu dengan gaun biru yang di gunakannya. Belum lagi visual Dira yang memang mendukung dan sangat pas dengan style nya.


"Sangat cantik."


Bukan Gara yang memberi pujian pada Dira. Melainkan si tukang foto yang berada di belakang Gara.


Mendengar suara orang lain memuji istrinya tentu saja membuat Gara tidak suka. Suami Dira itu langsung melirik sinis pada si tukang foto.


Ehem.


Dehem Gara untuk menyadarkan si tukang foto yang terlihat masih terpesona oleh Dira. Sontak saja si tukang foto itu langsung salah tingkah.


"Maaf, Tuan." Si tukang foto merasa tak enak hati melihat Gara yang nampak tak suka dengannya.


"Kamu ke sini untuk bekerja, bukan memandangai istri saya. Mengerti!" Titah Gara sinis.


"Mengerti, Tuan. Maafkan ketidak sopanan saya." Sungkan si tukang foto.


Setelahnya mereka pergi ke pinggir pantai di dekat vila untuk mulai berfoto. Meski sudah memilih waktu di hari sibuk seperti hari senin. Nyatanya tak membuat pantai Bali sepi pengunjung.


Masih banyak juga pengunjung di sepanjang tepi pantai itu. Bahkan lebih dominan para pengunjung bule.


"Hey, lihat. Wanita itu sangat cantik." puji seorang bule yang sedang duduk di kursi santai.


(Di bagian pujian bulenya langsung author buat pake bahasa Indonesia. Supaya lebih mudah dan gak cape translate lagi).


"Iya, dia sangat cantik."


"Apa dia seorang artis? Taua model?"


"Mungkin keduanya."


Mendengar ucapan para pria bule yang menggunakan bahasa inggris mengagumi istri membuat Gara merasa kepanasan.


Dengan posesif ia memeluk pinggang ramping Dira. Berjalan dengan mantap dan penuh kemenangan, bahwa dirinya pemilik sesungguhnya dari wanita yang mereka kagumi.


"Gak usah meluk juga kali, Mas. Malu tahu di lihatin orang-orang," bisik Dira yang merasa risih dengan perhatian orang-orang pada mereka berdua.


"Sama suami sendiri gak perlu malu, istriku."


Gara berbicara menggunakan bahasa Inggris pula. Sengaja ia lakukan agar para pria bule yang menatap kagum istrinya mendengar.


"Ck, sok Inggris kamu, Mas."


"Kamu gak ngerti artinya?" Tanya Gara melihat Dira.

__ADS_1


"Tahu, aku kuliah jurusan bisnis. Jadi harus bisa bahasa Inggris."


"Jadi kamu masih kuliah." Kaget Gara.


"Udah selesai, dua minggu lagi wisuda."


Gara mengangguk mengerti.


Keduanya mulai melakukan sesi berfoto di pinggir pantai. Langit yang biru semakin menambah keindahan pemandangan di sana.


Pasangan suami istri itu berfose layaknya model profesional. Bahkan Gara tak menyangka jika istrinya bisa bergaya dengan baik seperti sudaj biasa.


"Kamu pernah jadi foto model?" Tanya Gara penasaran akan keluesan sang istri di foto.


"Gak, aku cuma koki di warung."


"Yakin? Tapi kok Mas ngerasa kamu kayak udah biasa berfose untuk foto."


"Itu kan cuma perasaan kamu aja, Mas. Nyatanya aku gak pernah foto kalo gak untuk sesuatu yang formal."


"Kok Mas ragu ya sama ucapan kamu. Gak meyakinkan banget kalo kamu cuma foto untuk hal formal."


Dira mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tak mengerti. Dira hanya mengikuti arahan dari si tukang foto itu saja. Dan tidak merasa tegang sama sekali saar berfose.


"Minum dulu yuk, Mas. Haus."


"Iya, sekalian ganti gaun yang putih ya. Nanti kita foto lagi sambil nunggu matahari tenggelam."


Dira mengangguk setuju saja. Keduanya kembali ke vila untuk istirahat.


Sedangkan Gara memakai celana putih dan kemeja putih bergambar pemandangan pantai pula.


"Kenapa?" Tanya Gara kala menyadari tangan Dira yang sedikit menarik roknya kebawah.


"Ini kependekan, Mas. Kena angin pantai terbangterbang roknya." Polos Dira menatap Gara.


"Kamu pake celana pendek lagi kan di dalemnya?"


"Iya, tapi tetep kurang nyaman, Mas."


"Gak papa, nanti kamu bakalan terbiasa juga."


Gara tersenyum menenangkan yang di balas senyuman juga oleh Dira.


Sesi foto kedua berjalan lancar dan sempurna. Bahkan keindahan matahari terbenam pun sempat menjadi latar belakang foto pasangan muda itu.


Gara melihat hasil foto-foto mereka yang sangat memuaskan baginya. Tidak sia-sia ia menahan kecemburuan selama berfoto saat ada orang lain yang ikutan memfoto istrinya.


Cemburu? Ya, Gara cemburu saat kedua matanya melihat ada beberapa orang pria yang kedapatan mengambil foto istrinya dengan ponsel mereka.


Tentu saja saat itu Gara langsung mendekap erat Dira dan mencoba menghalangi camera para pria bule itu dari istrinya.


"Berapa lama lagi kita di sini, Mas?" Tanya Dira di sela-sela makan malam mereka di restoran dekat pantai.

__ADS_1


Seperti permintaan Dira kemarin malam yang ingin makan seafood di pinggir pantai.


"Sekita 2 sampe 3 hari lagi. Kenapa? Kamu mau kemana lagi?"


"Gak kemana-mana sih. Cuma mau pulang aja, soalnya ada yang harus aku selesaikan di kampus sebelum wisuda nanti."


"Apa?"


"Banyak."


"Misalnya?"


"Buku."


"Buku apa?"


"Yang pasti urusan penting."


"Ya, tapi kan urusan penting itu pasti ada judulnya. Pentingnya itu bagaimana? dan mengapa?" Penasaran Gara.


"Nanti juga Mas tahu."


Semakin penasaran lah Gara dengan kalimat yang menyimpan banyak rahasia itu.


Apa dira punya pacar? Apa orang yang di sukainya di kampus? Atau istrinya ini akan bertemu secara rahasia dengan pria lain?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Gara. Ia tidak akan membiarkan siappun mengambil istrinya. Meski ia belum yakin apa sudah ada cinta di antara mereka.


Yang pasti Gara tak akan melepaskan Dira begitu saja.


"Ok, besok kita pulang. Tapi dengan satu syarat."


Dira menatap suaminya dengan satu alis terangkat.


"Cuma mau pulang aja ada syaratnya?" Tanya wanita itu heran.


"Iya," sahut Gara enteng.


"Apa?"


"Mas, harus ikut kekampus kamu. Anggap aja Mas lagi sidak kampus istri."


Dira melongo dengan syarat yang di berikan sang suami. Apa lagi tadi katanya? Sidak? Astaga.


"Bilang aja kalo Mas memang mau ikut. Gak usah pake syarat-syaratan."


"Itu kamu tahu."


Dira menghela napas panjang lalu meraih gelas minumnya.


"Kalo aku gak mau gimana?"


"Percayalah, Mas suamimu ini punya banyak cara supaya bisa hadir di kampus kamu walau kamu gak ajak."

__ADS_1


Dira diam tak menjawab apa lagi menyanggah ucapan suaminya. Jika ia terus meladeni, bisa-bisa suaminya ini akan semakin ngelantur.


__ADS_2