Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Isi hati nenek


__ADS_3

Gara duduk di sofa dengan Gilang di sebelahnya yang sedang duduk santai. Bahkan hatinya sedang berbunga-bunga.


Meski tidak melihat langsung drama yang terjadi saat neneknya kembali tadi. Gilang sudah mendengar dari pekerja apa yang terjadi hingga sang nenek berwajah datar.


Saat ini Gara merasa sangat bersalah terhadap neneknya karena harus mendapatkan makian dan hinaan dari Kekasihnya.


"Siapa perempuan itu?" Tanya nenek ingin mendengar langsung dari Gara. Siapa perempuan yang berani menghinanya? Meski sudah menebak siapa orangnya.


"Dia ... dia Intan Nek, pacar Gara," sahut Gara lirih.


"Nenek gak nyangka kamu bisa punya pacar yang liar kayak gitu." Nenek Ira menatap tajam Gara yang menunduk di depannya.


"Maaf Nek, Gara juga gak nyangka kalo sikap Intan kayak gitu," sesalnya.


"Gak nyangka? Trus kenapa kamu bisa pacaran sama dia kalo kamu gak tahu sifat aslinya gimana?" Kesal nenek Ira melotot pada Gara.


"Ya namanya juga cinta Nek, kan ada istilah cinta itu buta." Gara mencoba mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.


"Bukan cintanya yang buta, tapi kamunya yang buta. Masa perempuan kasar dan gak berakhlak gitu di jadikan pacar. Masih jadi pacar aja dia udah sok berkuasa di sini, gak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua."


"Gimana nanti kalo udah jadi istri kamu Ga? Bisa jantungan Nenek, trus gak panjang umur."


Nenek Ira memegangi dadanya seakan kesakitan dari perbuatan Intan sudah bisa ia rasakan bila perempuan sungguhan jadi cucu mantunya.


"Itu perempuan yang mau kamu nikahi? Apa gunanya nikah karena cinta kalo dia gak bisa menghargai orang lain tapi selalu mau di hargai. Nenek udah sering ingetin kalian, kalo mau di hargai sama orang lain maka harus hargai orang lain juga. Lebih baik di segani karena sikap rendah hati sama prestasi dari pada di takuti karena kekuasaan dan banyak uang."


"Suatu saat nanti kalo kamu mengalami kesusahan, sikap rendah hati dan prestasi itu bakalan nolongin kamu melalui uluran tangan orang yang memang tulus. Tapi sebaliknya, sikap berkuasa dan uang kamu itu nantinya bakalan lebih buat kamu hancur saat kamu jatuh."


"Gak akan ada orang yang tulus bantuin kamu kalo kamu cuma banggain kekuasaan dan uang yang banyak. Pangkat, jabatan, status sosial, itu semua gak akan berarti kalo sikap kamu buruk."


"Apa gunanya manis di depan tapi hati kamu busuk? Nenek gak akan mau nerima perempuan itu jadi cucu mantu. Lebih baik punya menantu orang susah dari pada orang terkenal tapi tabiatnya jelek, itu lebih memalukan."


Nenek Ira benar-benar mengeluarkan semua isi hatinya.


Semua emosinya yang tertahan sejak Intan menghina dan merendahkannya kini di tumpahkan semua pada Gara.


Bukan karena nenek Ira sudah punya calon istri untuk Gara. Memang sejak pertama Gara mengatakan punya pacar, tidak pernah sekalipun perempuan itu mau bertemu dengannya karena alasan sibuk bekerja.


Dari sana nenek Ira sudah merasa kalau pacar Gara wanita karir yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Sejak itu pula nenek selalu mendesak Gara untuk menikah dengan perempuan lain selain pacarnya itu.

__ADS_1


Tapi kali ini pertemuan pertama mereka malah membenarkan firasat nenek Ira yang sudah tidak baik sejak awal Intan menolak bertemu dengannya hanya demi pemotretan.


"Maaf Nek, Gara salah. Gara bakalan putusin Intan trus nuruti keinginan Nenek. Apapun itu, asal Nenek maafin Gara." Gara berlutut di depan nenek Ira dengan wajah sedih karena sang nenek yang masih terlihat marah padanya.


"Bohong, waktu itu kamu juga udah janji mau ikut Nenek cari jodoh, tapi kamu ingkar janji. Kamu lebih milih kerjaan dari pada permintaan Nenek. Jadi sekarang pergilah! Nenek gak peduli lagi sama kamu."


"Nenek mau hubungi calon kamu untuk batalkan lamaran Nenek tadi siang. Bener-bener malu Nenekmu ini karena kelakuanmu."


Nenek Ira berdiri hendak masuk kamarnya karena kepalanya pusing akibat kejadian tadi siang menjelang sore.


"Jangan usir Gara Nek. Gara sayang Nenek, kali ini Gara gak bakal ingkar janji. Gara bakalan turuti semua keinginan Nenek. Jangan abaikan Gara ya Nek." Sedih Gara memeluk kedua kaki nenek Ira.


Gara benar-benar takut diabaikan oleh nenek yang sudah mengasuh dan mengurusnya selama ini. Apa lagi kasih sayang nenek yang begitu membuatnya bahagia meski jauh dari orang tua. Gara takut kehilangan semua perhatian dan cinta neneknya.


"Ampuni Gara Nek, Gara sayang Nenek." Tangis Gara penuh penyesalan.


Pilihannya yang salah menyebabkan sang nenek harus sakit hati akibat penghinaan dari perempuan pilihannya.


Nenek Ira menghela napas panjang untuk menetralkan hati dan pikirannya yang kalut karena tangisan sang cucu. Bagaimanapun juga ia tidak akan tega melihat cucunya sampai harus berlutut dan memohon seperti ini hanya karena masalah sederhana saja.


"Buktikan," ucap nenek Ira seraya melepaskan pelukan Gara pada kakinya. Duduk kembali di sofa dengan di ikuti Gara yang duduk di sampingnya.


Saat sudah mengetahui langsung melihat kearah lain karena Gara yang melihat ke arah nenek juga.


Suara panggilan menghubungkan terdengar keras karena Gara meloudspeker suaranya. Gilang duduk santai di posisinya semula dengan cemilan potongan buah yang tadi di bawanya saat akan duduk bersama nenek dan saudaranya.


Bukannya tidak bersimpati pada nenek atau Gara, Gilang hanya ingin cari aman saja karena kondisi nenek yang sedang marah juga.


Dari pada kena imbas dari kemarahan sang nenek pula lebih baik diam menjadi pendengar.


Hingga panggilan ke tiga barulah panggilan terjawab. Dan suara di seberang sana membuat kedua alis Gara terangkat. Sedangkan nenek Ira dan Gilang menatap Gara heran, kenapa dengan suara perempuan itu?


"Kamu kenapa?" Tanya Gara lebih dulu karena suara Intan yang terdengar lirih seperti orang mabuk.


"Kenapa? Kamu tanya Kenapa? Ini semua karena kamu. Kenapa kamu tadi tampar aku? Kenapa kamu usir aku? Kamu udah jatuhin harga diri aku. Aku malu kamu tahu gak?" Teriak Intan.


Nenek Ira menutup kedua telinganya karena suara Intan yang terdengar begitu keras. Bahkan Gara sampai menjauhkan ponselnya akibat teriakan Intan.


"Gak usah teriak-teriak, kita putus!" Ketus Gara yang memang merasa marah pada Intan karena berani menghina neneknya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? putus? Yang bener aja kamu?" Kaget Intan masih dengan suara teriakannya.


"Iya putus." Tegas Gara lalu memutuskan panggilan begitu saja karena tidak ingin banyak bicara lagi dengan Intan.


Gara melihat nenek yang masih berwajah datar.


"Sudah Nek, Gara udah putus sama Intan," kata Gara melihat nenek Ira.


"Gara siap nikah sama perempuan pilihan Nenek," lanjutnya.


"Kamu siap nikah dalam satu minggu ini?." Tantang nenek Ira.


"Iya Nek, Gara siap kapanpun." Tegas Gara dengan tatapan meyakinkan neneknya.


"Buktikan aja ucapan kamu itu," ucap nenek masih dengan wajah datar.


Nenek Ira bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Gara menghela napas lega karena masalahnya dengan sang nenek sudah termasuk selesai. Tinggal tunggu performanya saja besok, juga ketabahan hatinya menerima pilihan sang nenek.


Apa lagi pilihannya ternyata sudah menorehkan luka di hati sang nenek tercinta.


"Mas!" Panggil Gilang.


Gara menoleh.


"Apa?"


"Mas kalah taruhan," ucap Gilang mengingatkan yang semakin membuat Gara menghirup napas panjang lalu menghembuskannya.


"Bilang aja mau apa!" Ketus Gara yang membuat Gilang tersenyum cerah.


"Mobil yang baru Mas beli," kata Gilang membuat kedua mata Gara melotot kaget.


Bagaimana tidak melotot kaget kalau yang di minta Gilang itu mobil spot terbaru yang seminggu lalu baru ia beli. Bukan masalah harganya tapi ijin dari nenek untuk membelinya sangat sulit.


Nenek tidak akan mengijinkan mereka membeli sesuatu yang tidak terlalu penting apa lagi hanya untuk di pajang dan jarang di gunakan.


"Beli sendiri," kata Gara tidak rela menyerahkan mobil edisi terbatas itu.

__ADS_1


"Kalo ada yang gratis, kenapa harus keluar duit?" Sahut Gilang sembari menatap Gara dengan kedua alis naik turun membuat Gara jengah.


__ADS_2