
"Gimana perjalanan kalian, Nak? Apa menyenangkan?" Tanya mama Ella penasaran.
"Apa bulan madu kalian lancar?" Tanya nenek Ira pula.
"Semua aman terkendali," sahut Gara.
"Kamu gak jahatin menantu Mama, kan?" Mama Ella menatap putranya intimidasi.
Takut saja wanita itu jika putranya berbuat kasar pada istrinya. Secara mereka menikah atas paksaan dari nenek.
"Mama ini, kayak anaknya penjahat kelas kakap aja pake nanyak begituan." Gara tak terima dengan ucapan mamanya.
"Namanya juga kalian nikah karena paksaan nenek. Bisa juga yang namanya nikah kontrak terjadi. Apa lagi ... aduh."
Mama Ella menyentil bibir anak perempuannya yang ucapannya asal keluar saja.
"Kamu itu kalo ngomong jangan yang aneh-aneh."
Eva mengusap bibirnya yang habis di sentil mamanya.
"Itu bukan aneh, Ma. Bisa aja itu beneran terjadi, secara anak laki-laki Mama itu masih dalam rangka cinta mantan."
"Eva!" Papa Rudi buka suara karena tak ingin anaknya mengatakan hal yang dapat menyinggung perasaan kakak iparnya.
"Maaf, Pa." Sesal Eva menyadari kesalahannya setelah mendapatkan teguran tegas meski hanya memanggil namanya saja.
"Udah, udah, gak ada yang namanya nikah kontrak atau apapun itu. Kalo memang ada hal itu, Nenek bakalan buang kamu yang bersangkutan ke hutan."
Nenek Ira mengeluarkan kalimatnya sekaligus peringatan untuk Gara. Ada rasa takut juga dalam hati nenek Ira jika segala kemungkinan yang di katakan Eva terjadi.
"Kok, Gara? Gara gak tahu apa-apa loh, Nek. Jangan di bawa-bawa nama Gara," protesnya.
"Itu cuma peringatan buat kamu Gara. Kalo memang hal yang di bilang Eva gak terjadi, ya bagus. Tapi kalo terjadi, jangan harap kamu bisa ketemu sama anak angkat Paman lagi." Papa Madi ikut ambil bagian mengingatkan Gara.
"Jangan kan ketemu, kamu sentuh dia juga gak boleh lagi. Tante bakalan carikan jodoh lain buat Dira."
Mama Rida nampak turun dari lantai atas bersama dengan Mega. Gadis di belakang mama Rida nampak mengelus telinganya. Bisa di pastikan jika Mega mendapatkan jeweran.
"Kejem banget sih, Tante."
"Biarin, kalian memang harus sedikit di kejemin. Supaya gak nakal kayak Mega."
"Kok jadi aku sih, Ma. Gak salah apa-apa juga," protes Mega.
"Gak salah apa-apa kamu bilang?" Mata mama Rida melotot pada anak gadisnya.
"Iya, iya, aku salah. Mama maha benar," gumam Mega pelan di kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" Pelotot mama Rida pada Mega.
"Gak ada."
Mega mengalihkan pandangannya pada Dira yang nampak memancarkan wajah bahagia.
Tentu saja Mega tahu apa yang di rasakan oleh Dira saat ini. Sejak remaja di usir dari rumah, harus bekerja mati-matian demi sesuap nasi dan melanjutkan pendidikan.
Rasa rindu akan memiliki keluarga bahagia yang di inginkan Dira. Kini sudah terwujud dengan masuknya sahabatnya itu ke dalam keluarganya.
"Gimana sama pantainya? Bagus gak? Seru gak di pantai?" Cecar Mega membuat kening Dira mengkerut.
"Kok, kamu tahu aku ke pantai?" Tanya Dira yang memang masih bingung dengan seluruh keluarga nenek Ira.
"Mas, kan udah pernah bilang sama kamu. Mega yang kasih tahu Nenek kalo kamu suka pantai," sahut Gara mengingatkan apa yang pernah di katakannya di pesawat kala itu.
"Kapan kamu ngomong gitu, Mas?" Tanya Dira dengan wajah polosnya.
"Waktu di pesawat, yang kamu ngira kalo kita di culik."
"Di culik? Siapa yang di culik?" Tanya Nenek Ira.
"Gak ada, Nek. Cuma waktu kita lagi di pesawat mau berangkat ke Bali. Dira lagi tidur sewaktu Gara bawa naik pesawat. Gara juga lupa kasih tahu waktu habis sarapan."
"Dira ngira kalo dia di culik karena kamu tidurkan di kamar pesawat. Trus, panik begitu tahu dia di ketinggian?" Tebak papa Rudi dengan benar.
"Iya, pinter banget sih Papa," puji Gara.
"Apa hubungannya pinter sama dapetin Mama? Jangan asal ngomong, Pa." Mama Ella melotot kecil pada suaminya.
"Udah, fokus sama pengantin baru aja. Pengantin kadaluarsa gak boleh ikutan," celetuk Mega.
"Mulut kamu, Mega. Astaga, anak siapa sih dia?" Mama Rida menegur Mega yang malah bersembunyi di belakang tubuh Dira.
"Anak kamu yang pasti, Rid," ucap mama Ella tersenyum kecil melihat kepusingan iparnya itu akan tingkah sang anak.
"Kakak, bener," sambung mama Rida.
"Malam pesta pernikahan kamu itu, Mama sama Papa masih bisa kenal sama aku yang udah dandan kayak biduan. Jadilah malam itu semua keluarga tahu kalo aku udah pulang."
Mega sengaja mengatakan semuanya pada Dira yang terjadi malam itu. Selain memberi penjelasan, juga untuk mengalihkan pembicaraan mama dan bibinya.
"Pada hal aku bukan pulang, tapi karena mau lihat nikahan kamu. Waktu ketemu sama Nenek, aku kasih tahu aja kalo kamu suka pantai. Aku juga yang bilang sama Nenek untuk kirim kalian bulan madu ke sana." Mega tersenyum senang.
"Untung aja Mega kasih tahu Nenek apa yang kamu suka. Soalnya waktu itu Nenek juga lagi bingung, mau kirim kalian kemana buat bulan madu."
"Kirim, kirim, kirim, memangnya kami barang apa?" Protes Gara yang tak di tanggapi Mega.
__ADS_1
"Jadi secara gak langsung, Mega udah bantuin Nenek untung melancarkan niat. Jadi, Nenek. Mana hadiahnya?" Mega menatap nenek Ira dengan tersenyum lebar.
"Gampang soal hadiah, sore nanti kita pergi ke mall. Nenek traktir kamu belanja sepuasnya."
"Hore ..." Mega bersorak girak mendegar ucapan neneknya.
"Eva, boleh ikut juga ya, Nek?" Nenek Ira mengangguk setuju.
"Kamu juga ikut ya, Dir?" Ajak Mega.
"Bo ..."
"Gak boleh," sambar Gara cepat sebelum Dira seleaia menjawab.
"Kenapa?" Tanya nenek Ira dan Mega bersamaan.
"Iya, kenapa Mas?" sambung Eva ikutan.
"Gak seneng banget lihat orang seneng," sinis Mega dan Eva yang kesal dengan larangan Gara.
"Mas, suaminya. Tanpa ijin dari suami, istri gak boleh kemana-mana." Gara mengeluarkan hak patennya sebagai suami Dira.
"Sombong banget sih, padahal baru jadi suami" Cibir Mega.
"Tahu tuh! Norak banget, Mas," sambung Eva.
"Suka-suka lah," ucap Gara tanpa perduli dengan cibiran adik-adiknya.
"Jadi, kalo Nenek yang bawa istri kamu, kamu gak ijinin juga."
Mega dan Eva menatap Gara mengejek.
Gara meggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung akan memberikan jawaban apa. Jika menolak, sudah bisa di pastikan ia akan di ceramahi.
"Dira ikut, Nek. Dira pengen jalan-jalan bareng kalian. Mama Ella sama Mama Rida, ikut juga gak?"
Dira angkat suara karena tak ingin suaminya terlihat serba salah. Selain itu, ia juga rindu jalan-jalan bareng Mega.
"Mama Rida gak bisa, Nak. Nanti sore ikut Papa ke luar negeri." Papa Madi menjawab pertanyaan Dira.
"Kayaknya kali ini Papa harus pergi sendirian, Mama juga udah kangen pengen jalan-jalan sama yang lainnya," ucap mama Rida.
Papa Madi menurunkan bahunya mendengar kalimat sang istri.
"Baiklah, kali ini Papa ijinin. Lesunya.
"Si Papa, kayak anak muda lagi kasmaran aja. Gak mau pisah sama pasangan," ejek Mega.
__ADS_1
"Dari pada kamu, jomblo," balas papa Madi.
"Ck, gak usah di ungkit juga, Pa." Mega cemberut.