
Setelah sampai di taman, kondisinya sudah ramai. Mereka harus berjalan lagi untuk bisa sampai di bagian dekat danau dan mencari tempat untuk menggelar tikar lipat yang mereka bawa.
"Kayaknya gak ada tempat lagi kak, semuanya udah ada orang." Lesu Desi kala tidak menemukan tempat kosong untuk mereka.
Hampir di setiap bagian dekat danau sudah di isi oleh orang lain yang juga sedang bersantai mengelilingi danau.
"Kita agak kebelakang aja Des, yang penting masih ada tempat," kata Dira memberi semangat.
Tempat yang tepat di pinggir danaunya sudah penuh. Tapi bagian belakangnya masih ada yang kosong.
"Ya udah deh," sahut Desi.
"Memangnya kamu mau yang di dekat danau?" Tanya nenek Ira yang di angguki Desi.
"Iya Nek, tapi udah penuh semua." Desi menghela napas panjang.
"Gak usah ngeluh, yang penting masih ada tempat untuk kita. Di bagian manapun yang penting dekat danau," ucap Dira mencoba menenangkan Desi.
"Kita coba jalan lagi aja, Nak. Kali aja masih ada tempat kosong." Nenek Ira memberi usul yang memacu semangat Desi lagi.
"Beneran Nek? Nenek masih sanggup jalan kaki?" Tanya Dira sebelum Desi buka suara.
Bagaimanapun juga Dira mempertimbangkan keadaan nenek Ira yang sudah tua dan tidak mungkin di bawa berjalan terlalu lama. Karena kemungkinan kecapeaan dan kaki yang sakit tidak bisa di hindari nantinya.
Nenek Ira malah tersenyum mendengar pertanyaan Dira itu yang terdengar mengkhawatirkannya.
"Gak papa, Nak. Nenek ini belum tua tua banget loh untuk jalan keliling danau ini," ucapnya meyakinkan Dira agar tidak khawatir.
"Tapi danaunya luas loh Nek, nanti kaki Nenek sakit kalo kelamaan jalan," kata Dira dengan wajah yang memang mengkhawatirkan nenek Ira.
"Udah tenang aja, ayo jalan." Nenek Ira menarik Dira dan Desi untuk kembali berjalan mencari tempat yang kosong.
Sembari berjalan mencari tempat mereka mengobrol. Terutama Dira yang penasaran kenapa nenek yang kemarin ia tolong ini sudah tidak menggunakan kursi roda lagi.
"Maaf Nek, boleh Dira tanya sesuatu?" Dira meminta maaf lebih dulu sebelum menanyakan hal yang mungkin sensitif bagi nenek Ira.
"Boleh, mau tanya apa?" Nenek Ira melihat ke arah Dira.
"Maaf kalo nanti ada pertanyaan Dira yang menyinggung nenek atau buat nenek gak nyaman. Tapi Dira penasaran Nek, soalnya kemarin waktu kita ketemu Nenek duduk di kursi roda. Kenapa sekarang udah enggak?"
Nenek Ira tersenyum mendengar pertanyaan Dira yang menurutnya biasa saja tapi malah bagi gadis muda itu takut ia tersinggung.
__ADS_1
"Oh itu, karena Nenek bisa jalan sendiri," kata nenek Ira selow.
"Sebelumnya Nenek sakit apa kalo boleh tahu?" Tanya Desi yang belum paham. Bisa jalan kok duduk di kursi roda pikirnya.
"Gak ada." Singkat nenek Ira yang membuat Dira dan Desi saling pandang bingung.
"Gak ada? Jadi maksudnya Nenek gak sakit apa-apa? Nenek baik-baik aja gitu?" Nenek Ira terkekeh mendengar pertanyaan beruntun dari Dira.
Apa lagi wajah polos Dira yang nampak sangat lugu seperti anak kecil yang bingung dan sedang menantikan sebuah jawaban dari pertanyaannya.
"Iya," jawabnya sembari mengangguk pasti.
"Trus kenapa Nenek kemarin duduk di kursi roda?" Tanya Desi.
"Cuma nyobain."
"Cuma nyobain?" Kaget kedua gadis di sebelah kanan dan kiri nenek Ira kompak.
"Iya, kenapa? Kok kalian kaget gitu?" Nenek Ira melihat kanan kiri ke arah dua gadis di sampingnya.
"Astaga, Nenek itu orang paling aneh yang pernah Desi lihat tahu gak?" Ucap Desi dengan wajah yang masih kaget dan tak percaya dengan jawaban nenek Ira.
"Anehnya?" Tanya nenek Ira.
Desi melihat tubuh nenek Ira dari atas sampai bawah yang memang kelihatan masih bugar meski kulitnya sudah mulai keriput.
"Trus sekarang kursi rodanya kemana Nek? Nenek sebenernya dari mana? Kita juga belum tahu nama Nenek?" Tanya Dira pula.
Nenek Ira tidak bisa menahan tawanya meski tidak lepas akibat kepolosan kedua gadis di sampingnya.
"Oh iya, kita memang belum kenalan ya," ucap nenek Ira pula menatap kedua gadis di sampingnya bergantian.
"Iya, bahkan sejak tadi kita udah sama-sama trus udah ngobrol juga. Tapi kami belum tahu nama Nenek siapa?" Ujar Dira.
"Trus kenapa kalian mau nerima Nenek? Padahal kan kita gak saling kenal." Nenek Ira melihat Dira terdiam dan melihat ke depan.
"Kak, di sana ada tempat. Aku ke sana duluan ya sebelum di ambil orang lain." Desi segera berlari membawa tikar lipat mereka menuju tempat kosong yang di temukannya di pinggir danau.
"Jangan terlalu dekat ke danau Des," teriak Dira.
"Beres," sahut Desi pula ikut berteriak sembari berlari.
__ADS_1
"Kamu belum jawab pertanyaan Nenek." Nenek Ira mengingatkan Dira.
"Oh iya maaf Nek, sebenernya Dira juga gak tahu kenapa harus nerima Nenek yang belum Dira kenal. Tapi felling Dira sih Nenek orang baik, jadi spontan aja tadi ajakin Nenek ke sini," kata Dira sembari melihat nenek Ira yang tersenyum.
Entah kenapa menurut Dira nenek Ira ini tipe orang yang gampang tersenyum dan ramah. Mudah bergaul dengan mereka yang notabennya bisa jadi cucunya.
"Tenang aja, Nenek orang baik kok. Belum pernah gigit orang walaupun gigi Nenek udah ada yang lepas," ucap nenek Ira.
"Itu faktor usia Nek, setiap orang pasti nanti bakalan ngalamin kok. Dira juga nanti kalo udah tua kayak Nenek bakalan gitu giginya."
"Nama kamu Dira?" Tanya nenek Ira yang sudah sejak tadi sebenarnya ingin mengatakan itu.
Karena Dira yang selalu menyebutkan namanya kalau membahasakan dirinya sendiri sebagai bentuk ke sopanannya pada yang lebih tua.
"Iya Nek, kalo yang tadi namanya Desi. Temen kami yang satu lagi namanya Mega, tapi dia gak ikut karena perutnya gak nyaman katanya," jelas Dira memperkenalkan kedua temannya juga.
"Mungkin dia mau dapet tamu bulanan." Tebak nenek Ira.
"Mungkin Nek, nama Nenek siapa?" Tanya Dira.
"Panggil aja Nenek Ira, maaf bukan maksud Nenek mau nipu kalian kemarin. Tapi sebenernya Nenek punya alasan sendiri," kata nenek Ira.
"Gak papa Nek, malah bagus kalo Nenek bisa jalan. Jadi lebih leluasa bergerak."
Nenek Ira dan Dira tersenyum bersama apa lagi kala melihat Desi yang begitu antusias dengan pemandangan di depannya yang cantik.
Tempat yang sejuk dari pepohonan yang rimbun dan sedikit berangin menambah kesan santai dan damai yang menyejukkan.
Ketiga orang itu duduk bersama di tikar lipat yang sudah di gelar Desi. Mengeluarkan segala macam makanan yang mereka bawa hingga cemilan dan minumannya.
"Wah, semua makanannya enak. Siapa yang masak, Nak?" tanya Ira sembari makan cemilan.
"Ini semua olahan tangan kak Dira Nek, makanan di warung juga masakan kak Dira," jawab Desi.
"Pantesan rasanya beda sama makanan warung lain, makanannya lebih mirip masakan restoran." Nenek Ira memuji masakan Dira dengan senyum lebarnya.
"Iya nenek bener, kami juga belajar masak sama kak Dira untuk makanan di warung," ucap Desi.
Nenek Ira benar-benar terhipnotis dengan makanan yang di buat oleh Dira. Apa lagi biskuit yang terasa garing dan renyah sangat cocok untuk gigi tuanya yang tidak bisa makan makanan bertekstur agak keras.
Bahkan kue buatan Dira pun sangat pas bagi nenek Ira, creme di luar lembut di dalam. Semua olahan tangan Dira sangat cocok di lidah nenek Ira.
__ADS_1
Harus cepat-cepat di miliki nih harta karun sebelum di ambil orang' batin nenek Ira sembari mengunyah kue dengan mata yang melihat Dira yang sedang minum.