
Dira terbangun dari tidurnya dengan merasakan kenyamanan. Tidurnya juga sangat nyenyak meski harus bangun di saat jam masih menunjukkan angka 4 pagi.
Waktu dimana ia biasa bangun untuk mulai beraktifitas menyiapkan masakan untuk warung. Namun sudah seminggu lebih ia tidak kembali ke warung.
Selain menyiapkan beberapa hal untuk acara pernikahan, juga larangan dari nenek yang tidak memperbolehkan sang pengantin pergi.
Dira bangkit dari posisi tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi begitu saja setelah melepaskan pelukan suaminya.
Selesai mandi dan berpakaian, Dira mendekati meja rias dan mulai merapikan penampilannya. Di sanalah Dira baru menyadari sesuatu dan mulai berpikir.
"Bukannya tadi malam aku tidur di kamar sebelah ya? Kok bisa ada semua kebutuhanku di sini."
Pandangan wanita itu menyapu seluruh isi kamar dan melihat kalau yang di tempatinya itu kamar pertama yang ia dan suaminya tempati.
"Loh, kok aku bisa balik kesini sih? Siapa yang bawa aku ke sini?" Heran Dira.
"Ya suamimu ini lah yang bawa."
Suara serak bangun tidur itu menarik perhatian Dira yang langsung menoleh ke arah kasur.
"Siapa yang suruh Mas bawa aku ke sini lagi?" Tanya Dira dengan galak.
"Gak ada, keinginan Mas sendiri."
"Mas tahu gak sih kalo aku tuh lagi kesel banget sama kamu?" Wajah Dira benar-benar menampakkan raut kekesalan yang tak tertahankan lagi.
"Maaf, kalo kamu boboknya di sana yang nemenin Mas bobok di sini siapa?" Tanya Gara dengan kepala sedikit di miringkan.
"Tahu ah, males ladeni kamu Mas."
Dira menatap kearah cermin lagi dan memulai kegiatan menyisir rambutnya. Dan di teruskan dengan memakai segala keperluan perawatan wanita.
Tidak sampai berdandan seperti para istri pengusaha lainnya yang harus terlihat superior. Dira malah berdandan sederhana dengan memakai pelembab wajah lalu bedak dan liptint.
Agar tetap terlihat segar saat keluar rumah dan nampak lebih rapi juga dengan rambut kuncirnya. Setelah pakaiannya sendiri, Dira memakai celana longgar dan kaos lengan pendek.
Penampilannya benar-benar sederhana tapi memikat mata.
Gara yang melihat sang istri sudah tampil cantik dan segar langsung beranjak mendekat. Memeluk dari belakang, kepalanya di letakkan di pundak Dira sembari mencium aroma wangi dari tubuh istrinya.
"Kamu mau kemana sih? Langit juga masih gelap di luar, tapi kamu udah cantik aja."
Gara tak segan-segan memuji istrinya dan bersikap romantis seperti pasangan yang saling mencintai. Demi terwujudnya pernikahan yang mereka inginkan.
"Aku masih kesel sama kamu loh Mas." Dira mengingatkan Gara kalau mereka belum berdamai.
__ADS_1
"Iya, Mas tahu," ucap Gara santai masih dengan mengecupi leher istrinya, tapi tak meninggalkan bekas.
Karena ingin meluluhkan hati sang istrilah yang membuat Gara bersikap romantis pada Dira.
"Kamu pengen jalan-jalan kemana hari ini? Mas bakalan temenin kamu kemana aja." Tawar pada Dira.
"Yakin? Semalam aja katanya mau pulang tahu-tahu belok ke bar," ucap Dira mengingatkan kelakuan Gara yang membuatnya kesal.
"Maaf, gak lagi deh kayak gitu. Semalam Mas khilaf." Dira diam tak menanggapi.
"Mas mandi dulu sebentar, kamu tunggu di sini aja. Ada yang mau Mas kasih soalnya."
Gara melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin terlihat tampan agar bisa sebanding dengan istrinya yang sudah cantik.
Masa istri sudah tampil cantik plus wangi, suami masih bau iler. Walaupun tetap tampan sih, batin Gara.
Dira menghela napas panjang saat Gara sudah masuk ke dalam kamar mandi. Istri Gara itu mendudukkan dirinya di kursi meja rias sembari memikirkan sesuatu.
Ia ingin pernikahan yang bahagia bersama pasangannya. Apa lagi sekarang bukan hanya nenek Ira yang menerima dan menyayanginya. Tetapi juga ada papa, mama mertua dan adik iparnya.
Belum lagi dengan orang tua angkatnya yang begitu ramah padanya. Dira sempat mendengar dari papa Madi kalau ia memiliki tiga anak perempuan.
Yang pertama ikut suaminya ke negara lain, yang ke dua kabur dari rumah dan yang ketiga tinggal di asrama kampus. Kedua orang tua angkat Dira begitu merasa kesepian karena ketiga anaknya pergi.
Tapi mau bagaimana lagi? Papa Madi yang sering membawa mama Rida pergi perjalanan bisnis membuat anak-anaknya tak betah di rumah juga.
Tapi siapa juga yang tidak kesal dan marah, saat sedang serius bicara. Lawan bicara malah bercanda dengan sesuatu yang sensitif bagi wanita yang tak pernah berhubungan dengan pria seperti Dira.
"Lamunin apa?"
Dira berjingkat kaget mendengar suara Gara yang begitu dekat di telinganya.
"Mas, ngagetin aja sih?" Kesal Dira sembari mengusap dadanya.
"Maaf, maaf, gak sengaja."
Gara meraih pengering rambut hendak mengeringkan rambut basahnya.
"Sini, aku aja yang keringkan. Mas duduk," ucap Dira merebut pengering rambut dari tangan Gara.
Dengan senang hati Gara menuruti keinginan Dira dan duduk manis di kursi yang tadi di duduki istrinya.
"Panas banget kursinya, kayaknya kita bakalan punya banyak anak deh." Gara berceletuk sembari terkekeh kecil.
"Apa hubungannya kursi panas sama banyak anak?" Tanya Dira penasaran, jangan lupakan tampang polosnya saat mendengar kalimat aneh.
__ADS_1
"Kata orang tua jaman dulu. Kalo kursi yang di duduki perempuan itu panas waktu di tinggalkan, itu tandanya si perempuan itu bisa punya banyak anak," jelas Gara.
"Kalo laki-laki yang duduki trus tempat duduknya panas, itu tandanya apa?"
"Itu tandanya dia harus punya banyak anak juga."
"Maksud Mas, laki-laki ngelahirin gitu?"
Gara menepuk keningnya mendengar ucapan Dira. Salah memang ia kalau mengawali pembicaraan aneh pada istrinya. Segala kalimat anehnya akan melahirkan kalimat di luar dugaan lainnya, plus wajah polos istrinya.
"Ya kamu lah yang ngelahirin, kemarin kan kita udah buat anak. Nanti malam juga harus buat lagi."
"Buat, buat, memangnya kue apa."
Dira menyisir rapi rambut suaminya yang sudah kering. Tak lupa pula ia beri sedikit vitamin rambut miliknya.
"Kok kamu kasih itu sih? Itukan punya cewek. Punya Mas yang itu." Gara menunjuk minyak rambutnya yang ada di sebelah minyak wangi.
"Jangan terlalu sering pakai minyak rambut Mas. Gak bagus juga untuk kesehatan rambut, sesekali rambut itu butuh vitamin juga. Bukan cuma di rapiin aja pake minyak rambut."
"Baiklah Nyonya Gara, terserah anda saja bagaimana baiknya." Pasrah Gara.
Hatinya sangat senang mendapatkan perhatian dari istrinya. Setelah Dira selesai menata rambutnya, kalimat berikutnya membuat Gara tak percaya.
"Maafin sikapku tadi malam Mas, aku sadar udah terlalu berlebihan dan gak sopan karena ninggalin kamu." Sesal Dira.
Gara berdiri dari duduknya dan membawa Dira duduk di sofa.
"Mas juga minta maaf, karena gimanapun juga semuanya berawal dari Mas. Maaf ya istriku, Mas gak akan ulangi lagi yang tadi malam."
Gara memeluk Dira yang juga membalas pelukan hangat suaminya. Dira meminta maaf karena tidak ingin memendam rasa bersalah pada suaminya.
"Kita damai nih ya?" Dira mengangguk mengiyakan.
Setelah pelukannya terlepas, Gara mengambil seauatu di dompetnya dan menyerahkannya pada Dira.
"Nih, buat kamu. Uang bulanan yang kamu minta." Gara menyerahkan kartu berwarna hitam pada istrinya.
"Apa ini Mas?" Dira melihat dan membolak-balik kartu yang baru saja di terimanya.
"Itu kartu ATM tanpa batas, kamu bisa belanja apa aja sesuka kamu." Gara memberitahu secara mudah pada istrinya agar mengerti.
"Kok hitam? Kartunya kebakar ya Mas? Atau di cat?"
Dira benar-benar heran dengan kartu yang di berikan suaminya. Karena baru pertama kali melihat warna kartu ATM yang seperti itu. Sedangkan miliknya berwarna kuning. Tali ini hitam.
__ADS_1
Gara melongo mendengar pertanyaan polos istrinya. Gosong katanya? Di cat? Yang bener aja? Batin Gara shok akan pertanyaan Dira.