Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Rencana pesta


__ADS_3

Dira menatap tak percaya dengan apa yang ada di depannya saat ini. Buku nikahnya sudah selesai dan foto yang baru saja ia lakukan tadi bersama pemuda di sampingnya sudah terpasnag di buku itu.


Tinggal tanda tangannya saja yang belum di berikan. Ia tidak percaya kalau secepat itu mendapatkan buku nikah.


Lebih tak percaya lagi kalau nenek Ira akan membawanya mengambil buku nikah secepat ini.


Ia mengira kalau mereka baru akan membahas tanggal pernikahan saja tapi kenapa bisa langsung jadi mendapatkan buku nikah. Bahkan ia tidak curiga saat di minta berfoto untuk buku nikah yang mungkin akan selesai seminggu kemudian, tapi ini hanya hitungan menit saja.


Dira menatap nenek Ira yang berdiri di belakang mereka dengan senyuman manis dan bahagianya. Nenek Ira yang melihat raut kekagetan dan tidak percaya di wajah gadis di samping cucunya langsung mengangguk penuh semangat.


Tujuannya agar Dira tidak berubah pikiran dan mau menandatangani buku nikah. Sebenarnya buku nikah sudah dari beberapa hari yang lalu di buat, saat berniat mencarikan jodoh untuk Gara.


Hanya tingga mengisi data si perempuan dan menempelkan foto lalu tanda tangan, selesai. Dan Dira menatap buku di tangannya dengan perasaan berdebar.


Bukan karena ia mulai memiliki perasaan pada pemuda yang sudah menjadi suaminya sekarang. Tapi karena rasa kagetnya yang belum hilang karena dirinya sudah menjadi istri.


"Terimakasih udah mau jadi cucu mantu Nenek. Nenek senang sekali." Nenek Ira memeluk Dira dengan perasaan membuncah yang tak pernah bisa ia ungkapkan.


Akhirnya harapannya untuk melihat sang cucu menikah dan memiliki pasangan hidup terwujud sudah. Meski ia harus memaksa dan berdrama agar keinginannya terkabul dan harus menyakiti perasaan sang cucu karena ia yang tidak merestui hubungan Gara dengan Intan.


Tapi lebih baik sakit di awal dari pada sakit setiap saat karena pasangan yang kurang perhatian dan lebih mementingkan dirinya sendiri.


"Terimakasih juga untuk Nenek yang udah mau nerima Dira."


Dira membalas pelukan nenek Ira dengan perasaan yang membuncah pula karena akhirnya ia memiliki keluarga dan seorang nenek yang begitu baik.


"Gara, jaga dan lindungi istri kamu karena sekarang dia tanggunh jawabmu." Nenek Ira beralih memeluk Gara dengan sayang.


"Iya Nek, kali ini Gara gak akan buat Nenek kecewa lagi," kata Gara membalas pelukan neneknya.


Setelah mendapatkan buku nikah, nenek Ira membawa Dira ke mall untuk berbelanja. Sedangkan Gara hanya bisa mengikuti saja kemana kedua perempuan itu pergi.


"Kamu mau pesta pernikahan yang kayak apa, Nak?" Tanya nenek Ira dengan semangat.

__ADS_1


"Kalo bisa sih gak perlu ada pesta Nek." Nenek Ira menatap Dira bingung, begitupun dengan Gara.


"Loh, kok gitu? Memangnya kamu gak pengen gelar pesta pernikahan?" Tanya nenek Ira.


"Kalo di tanya pengen atau gak? Ya jelas pengen Nek. Tapi jaman sekarang gelar pesta pernikahan itu gak murah. Dari pada uangnya untuk pesta pernikahan lebih baik di tabung untuk masa depan. Buat bekal di kemudian hari apa lagi cari uang gak mudah."


"Tabungan Dira juga gak banyak untuk nambahin biaya buat pesta nanti," jelas Dira dengan tampang polos kala mengingat perjuangannya mencari uang untuk kehidupannya.


Nenek Ira tersenyum geli melihat wajah polos Dira. Juga rasa kagum karena Dira masih memikirkan persiapan untuk masa depan dan bahkan dengan usahanya sendiri bisa memiliki simpanan untuk masa mendatang.


"Kamu tenang aja, semua biaya Nenek yang tanggung. Anggap aja sebagai hadiah dan penyambutan buat kamu yang udah masuk ke keluarga Nenek," kata nenek Ira sembari mengelus kepala Dira lembut.


"Tapi nanti uang Nenek habis, kalo Nenek ingin sesuatu nanti gimana? Apalagi Nenek pasti butuh jaminan untuk kesehatan Nenek." Dira merasa tidak enak hati dengan perkataan nenek Ira.


Karena Dira belum tahu siapa dan apa pekerjaan nenek Ira dan suaminya. Cara berpakaian sama seperti yang lain dan tidak terlihat memakai barang mewah apapun.


Mobil yang mereka kendaraipun meski terlihat bagus namun masih terlihat biasa, karena orang lain juga ada yang punya dan yang di yakini Dira hanya mobil sewaan saja.


"Udah kamu tenang aja, serahkan semuanya sama Nenek. Kamu cukup duduk manis dan semuanya beres." Nenek Ira menepuk pundak Dira lembut dan tersenyum meyakinkan.


Gara menatap Dira dari kaca yang ada di atas bagian dalam mobil. Jelas terlihat bagaimana wajah gadis itu yang nampaknya memendam sesuatu yang tak tersampaikan.


Kesan pertaman bagus sih, sikapnya dewasa juga. Tapi aku gak mau langsung nilai baik juga karena baru ketemu bahkan belum saling sapa. Nanti harus cari kesempatan buat kesepakatan sama dia, batin Gara.


Mata pemuda itu masih tertuju pada Dira istrinya yang duduk bersama sang nenek di kursi belakang. Tanpa sengaja Dira juga melihat kearah kaca dimana ia merasakan ada yang memperhatikannya.


Benar saja kalau suaminya itu sedang menatapnya. Dira menatap suaminya juga dan mereka saling pandang melalui kaca hingga akhirnya Dira mengalihkan pandangannya lebih dulu.


Sampai di mall ketiganya langsung masuk dan menuju lantai dua. Nenek membawa Dira menuju butik yang besar di mall itu. Butik itu juga marangkap salon di satu sisi lainnya, satu pintu dua arah berbeda.


"Gimana yang Tante minta Ta?" Tanya nenek Ira pada sang pemilik butik setelah mereka bertemu di sebuah ruangan.


"Udah selesai Tan, tinggal nunggu ukurannya aja," sahut wanita paruh baya yang terlihat modis dan masih cantik.

__ADS_1


"Ini cucu mantu Tante, kamu ukur gih biar langsung di jahit gaunnya." Nenek Ira membawa Dira mendekati tante Pita.


"Cantik ya tante, sayang Ella gak disini," kata Pita sembari menyambut Dira dengan sapan hangat.


"Selamat datang sayang," lanjutnya memeluk dan cipika cipiki dengan Dira.


"Terimakasih Tante," sahut Dira.


"Aduh suaranya lembut banget sih, mana wajahnya gemesin lagi."


Tante Pita mencubit pelan kedua pipi Dira yang berisi karena gemas kala Dira tersenyum padanya dan terlihat semakin menggemaskan di matanya.


"Ayo sini Tante ukur dulu kamunya, supaya bisa cepat di jahit gaunnya."


Tante Pita mengambil meteran yang biasa ia gunakan dan mulai mengukur bagian tubuh Dira lalu mencatatnya.


"Ini sih ukuran idealnya para gadis, Nak. Beruntung banget sih kamu Ga, dapet istri kayak gini," kata tante Pita setelah selesai mengukur tubuh Dira.


"Ideal gimana Tan? Tingginya aja cuma sebahu aku," ucap Gara.


"Gimana gak sebahu kamu? Tinggi badan kamu itu di luar batas kewajaran orang Indo," celetuk tante Pita.


"Di luar batas kewajaran gimana?" Tanya Gara.


"Tinggi kamu itu 190 sedangkan kebanyakan orang Indo, cowoknya paling tinggi 175 atau 180 itupun jarang. Nah kalo tingginya Dira bisa sebahu kamu, itu tandanya tingginya ideal untuk ukuran cewek. Nenek aja kalah tingginya sama Dira, Tante juga walau sedikit. Kamu gen kakek kamu banget," sahut tante Pita.


"Gara memang gen kakeknya kuat Ta. Tingginya, mukanya, sikapnya juga mirip Tapi yang lebih mirip kakek papanya Gara, ibarat pinang di belah dua," kata nenek Ira.


"Bener itu Tan, tapi kamu harus terimakasih loh Ga sama Nenek, karena udah cariin istri seksi kayak gini, tante Pita mengedipkan satu matanya pada Dira dan tersenyum jahil pada Gara.


"Seksi gimana Tante? Biasa aja tuh, rata ... aduhh." Gara mengusap kepalanya karena jitakan snag nenek.


"Mulut kamu itu gak bisa di rem apa omongannya?" Kesal nenek pada Gara yang kalau bicara terlalu jujur.

__ADS_1


"Yang kelihatan gak selalu sama kayak kenyataan Ga. Tapi nanti kalo kamu udah malam pertama sama istrimu ini, kamu pasti bakalan setuju sama apa yang Tante ucapkan, percayalah." Tante Pita terkekeh melihat wajah malu Dira.


Tadi saat melakukan pengukuran ia memang sempat membisikkan sesuatu pada tante Pita yang ia sembunyikan agar tidak terlalu terlihat. Dan itu bagian sensitif wanita yang di sembunyikan Dira agar tak terlalu menonjol.


__ADS_2