
Intan langsung pergi ke perusahaan GT pusat untuk bertemu langsung dengan Gara. Ia ingin kejelasan dari berita pernikahan pria itu di media yang masih saja menampilkan pesta mewah dan megah itu.
"Gak bisa, gak mungkin dia nikah sama perempuan lain. Harus aku yang jadi istrinya, harus aku, karena cuma aku yang pantes jadi istrinya. Gak ada perempuan lain yang bisa ambil posisiku jadi nyonya Gara. Gelar itu cuma bisa di miliki olehku aja" kesal Intan sepanjang perjalanan menuju perusahaan.
"Aku harus pastikan sendiri kalo Gara belum nikah. Kalo pun udah nikah dia harus ceraikan istrinya, karena yang pantes jadi istrinya cuma aku," lanjutnya dengan nada marah dan wajah yang sudah memerah akibat menahan amarah di dadanya.
Sesampainya di perusahaan pusat GT CORP. Intan langsung masuk begitu saja menuju resepsionis.
"Dimana ruangan Direktur kalian?" Tanyanya dengan nada galak.
Kedua perempuan yang ada di meja Resepsionis itu saling pandang. Antara percaya dan tidak kalau orang yang ada di depan mereka ini adalah artis yang sedang naik daun. Beberapa kali memerankan peran utama wanita dalam serial drama dan juga model kelas atas.
"Dimana ruangan Direktur kalian? Apa kalian tuli hah?" Teriak Intan kalap saat pertanyaannya tak mendapatkan jawaban malah yang di beri pertanyaan bengong.
"Ruangan Direktur ada di lantai 25. Apa nona butuh ..." Kalimat Resepsionis itu terhenti karena Intan pergi begitu saja setelah di beritahu.
"Loh kok main pergi aja sih?" Tanya si Resepsionis itu heran.
"Biarin ajalah dia pergi dari pada marah-marah di sini," ucap temannya.
"Gak nyangka ya. Rupanya artis top kayak dia gak punya sopan santun, mana kasar banget lagi sikapnya."
"Iya, muka cantik tapi hati jelek."
"Mau kasih dia pelajaran?" Tawar seorang teman kerja mereka tapi dari bagian lain.
"Gimana caranya? Dia banyak duit bisa lakuin apa aja, lah kalo kita? Gaji cukup untuk kebutuhan sebulan. Bisa di sisihkan sedikitpun mending untuk tabungan," ucap si Resepsionis yang tadi di marahi Intan.
__ADS_1
"Gak perlu pake uang, asal kalian bisa jaga rahasia ini di kita bertiga aja," ucapnya.
"Ok lah. Artis sombong kayak dia memang harus di kasih pelajaran," ucap resepsionis satu lagi.
"Ya udah. Nanti masalahnya kita tanggung sama-sama kalo ketahuan," sambung yang lain.
"Ok, aku buat akun sosmed palsu dulu." Si perempuan yang tadi menawari untuk membalas perbuatan Intan pun mulai memainkan ponselnya.
Hingga tak lama kemudian ia menunjukkan ponselnya pada kedua teman Resepsionis itu.
"Aku rasa ini bakalan meledak kalo kita sebar, trus kita bisa dapet sedikit uang. Anggap aja sebagai ganti rugi buat kalian," ucapnya.
"Tapi gimana caranya video itu bisa menghasilkan uang?" tanya Resepsionis yang di marahi Intan.
"Kalian tenang aja, serahkan semua sama aku. Kalian lanjutkan aja kerjaan kalian. Gak sampe satu jam kita pasti bisa dapet uang tambahan," yakinnya.
"Sebenernya tadi aku mau pulang karena kerjaan udah selesai. Aku ijin pulang duluan trus lihat si artis itu tadi. Namanya Intan kan! Nah maksudnya aku tadi mau rekam sekalian kenalan, minta tanda tangannya juga karena temen kos aku ada yang ngefans sama dia. Eh malah dapet sesuatu yang luar biasa."
"Ya udah kalo gitu, kamu sebar aja itu rekamannya. Artis gak bermutu dan gak berakhlak memang gak pantes jadi bintang besar," kesal si perempuan yang di teriaki Intan.
"Ok." Si pemilik rekaman mulai memainkan ponselnya lagi. Sedangkan kedua teman Resepsionisnya kembali bekerja.
Sementara Intan yang sudah pergi setelah tahu di mana ruangan Gara langsung pergi begitu saja. Ia mendekati lift para petinggi dan hendak masuk ke sana tapi di tahan oleh seorang Security yang sedang keliling perusahaan menjaga keamanan.
"Maaf nona. Lift ini untuk para petinggi perusahaan, nona harus naik lift yang sebelah sana. Itu untuk karyawan dan tamu yang ingin berkunjung " ucapnya.
Intan yang mendapatkan larangan langsung meradang. Belum lagi kemarahan di hatinya terselesaikan malah datang pula orang-orang yang memancing amarahnya itu, menurutnya.
__ADS_1
"Kamu pikir kamu itu siapa hah? Kamu gak berhak ngatur aku. Dan pergi dari hadapanku sekarang!" teriak Intan dengan kedua mata melotot galak.
"Maaf nona. Saya hanya menjalankan tugas dan peraturan. Silahkan nona gunakan lift sebelah sana." Security itu menunjuk arah lift yang harus di gunakan oleh Intan.
"Oh, berani ya kamu ngelawan aku? Kamu tahu siapa aku hah? Aku ini calon istri bos kamu. Calon nyonya perusahaan ini dan calon pemilik perusahaan ini juga, paham kamu. Jadi pergi sekarang juga sebelum kamu di pecat," ucap Intan dengan angkuhnya.
Security di hadapan Intan bukannya takut atau pergi dari hadapan Intan. Melainkan tertawa akibat ucapan Intan yang menurutnya halu itu.
"Astaga, rupanya anda tukang halu nona. Bos kami sudah menikah dan kemarin pesta resepsinya. Kami semua di undang ke sana dan saya sangat yakin kalau istri bos bukan anda nona karena istri bos itu sangat cantik dan anggun," kata si bapak Security.
Intan semakin meradang saja mendengar ucapan pria di depannya dan dengan kasar Intan melayangkan tamparan pada pria yang sudah berumur 40 an tahun itu.
"Jaga mulut kamu kalo bicara ya, saya barulah calon istri yang sah. Pernikahan itu gak sah dan cuma tipuan, jadi jangan sembarangan kalo bicara!" teriak Intan kalap.
Pikirannya sudah tak karuan lagi saat ini, dan semua apa yang di lakukannya benar-benar di luar kendali pikirannya karena perasaan marah dan tidak suka saat melihat pernikahan pria yang selama ini menjadi tamengnya di dunia hiburan.
Rasa khawatir akan tidak mendapatkan dukungan kuat dan kehilangan kekuasaan di agensi membuat Intan tak bisa lagi berpikir sehat selain meluapkan semua amarahnya.
"Dasar perempuan gila!" Kesal si bapak Security langsung mencekal kedua tangan Intan kuat dan menarik si artis itu kearah kelyar perusahaan.
Karena tidak ingin ada kekacauan di perusahaan tempatnya bekerja dan memang sudah tugasnya menjaga keamanan meski ia sendiri sudah kena tamparan. Berharap tidak ada orang lain yang kena tamparan gila perempuan yang di seretnya.
"Memanggil pos keamanan. Ada perempuan gila di dalam depan lift, mohon bantuan untuk mengamankan karena terus berontak," ucap Security itu pada alat di pundaknya sembari terus menahan Intan yang berontak keras seperti orang kurang waras.
"Lepas!" Teriak Intan berusaha melepaskan diri hingga akhirnya ia berhasil lolos dan langsung lari menuju lift dengan cepat setelah mendorong jatuh pria yang menahannya.
Untung saja saat keributan itu terjadi suasana kantor sedang sepi karena sedang jam kerja dan semua orang sangat fokus. Posisi ruangan yang jauh dari tempat keributanpun membuat para karyawan tidak mendengar keributan yang di buat Intan.
__ADS_1