
"Kalo udah selesai hubungi, Mas. Nanti Mas jemput kamu," ucap Gara saat Dira mengcium tangannya hendak pamitan.
"Memangnya, Mas gak sibuk?" Tanya Dira menatap suaminya.
"Gak terlalu sih, lagian banyak bawahan yang bisa di suruh."
"Kalo memang Mas sibuk, nanti aku pulang sendiri aja."
"Gak! Pokoknya nanti telpon Mas kalo udah pulang, biar Mas jemput."
Dira menghela napas mendengar keinginan suaminya yang begitu kekeh ingin menjemputnya.
"Iya, Mas suami. Nanti aku telpon kalo udah mau pulang." Dira tersenyum manis pada suaminya.
Tentu saja Gara ikut tersenyum manis mendengar ucapan istrinya yang begitu menurut padanya. Ia juga muali merasa nyaman berdekatan dengan Dira.
"Aku turun dulu ya, Mas. Hati-hati di jalan," ucap Dira sebelum turun.
"Iya, kamu jangan deket-deket sama laki-laki di sana, ya?" Kata Gara mengingatkan sang istri agar berjauhan dengan pria lain.
"Iya, Mas suami." Gara tersenyum mendengarnya.
Setelah Dira turun dari mobil, barulah Reno melajukan mobil meninggalkan kawasan kampus.
Dira berbalik arah berjalan menuju gerbang kampus. Istri Gara itu berjalan menuju ruangan tempat ia bisa menyelesaikan pembayaran terakhirnya.
Ketika melewati lorong-lorong kampus, Dira di tegus oleh seorang pria.
"Dira!" Panggil pria itu.
Dira yang sudah hapal dengan suara itu memilih acuh. Bagaimana tak hapal jika orang itu selalu saja mengganggunya selama masa kuliahnya.
Meski di acuhkan oleh Dira pun, pria itu tetap saja tak pernah menyerah.
Si pria playboy itu merasa sangat tertantang untuk menaklukan Dira yang terkenal kecantikannya di kampus mereka. Hanya saja Dira tak banyak bersosialisasi, hal itu penyeban tak banyak orang di dekatnya.
Dira juga selalu acuh dengan apa pun yang terjadi di kampusnya. Karena ia hanya ingin belajar dengan baik di kampus itu, bukan untuk mengurusi masalah orang lain.
"Dir! Sombong banget sih?" Pria itu mensejajarkan langkahnya dengan Dira.
"Kenapa?" Tanya Dira dengan wajah biasa-biasa saja.
"Kamu kemana aja selama ini? Aku gak bisa hubungi kamu sama sekali."
"Aku sibuk," ucap Dira acuh.
Pria bernama Bam alias Bambang itu tetap saja mencoba mendapatkan respon dari Dira.
"Sibuk apa sih, kamu?"
"Kerja."
__ADS_1
"Oh, nanti makan siang bareng, yuk!" Ajaknya pada Dira.
"Maaf, aku udah ada janji."
"Janji sama siapa? Aku boleh ikut gak?"
Tubuh Bam semakin di dekatkan pada Dira, yang membuat wanita itu merasa sangat risih.
"Gak bisa, aku duluan." Dira langsung belok kearah ruangan para dosen.
Langkah Dira juga semakin cepat karena Bam terus saja mengikutinya.
"Dira! Tunggu aku!" Bam juga mempercepat langkahnya mengejar Dira.
Dira berhenti di depan ruangan bagian administrasi. Mengetuk pintu hingga mendapatkan sahutan dari dalam.
Dira masuk tanpa perduli dengan Bam yang masih saja mengikutinya.
Bahkan sampai di dalam ruangan administrasi itu pun, Bam masih juga ikut masuk ke dalam.
Setelah menyelesaikan urusan pembayarannya, Dira kembali berjalan keluar dari ruangan itu. Dan Bambang masih juga mengikuti langkah wanita itu.
"Kamu mau pulang sekarang? Aku anter, ya? Atau kita jalan-jalan dulu, sekalian makan siang."
Dira hanya diam saja, tak merespon apapun yang di ucapkan oleh Bam.
"Mas Bambang!" Panggil seseorang yang membuat langkah Bam terhenti.
"Ika, kenapa?" Tanya Bam saat perempuan yang memanggilnya tadi sudah mendekat.
"Kita makan siang bareng, yuk?" Ajak Ika dengan suara manja pada Bam.
"Sorry, aku udah janji sama Dira untuk makan siang bareng." Bam kebali berjalan mengejar Dira yang sudah di depannya.
"Mas Bam, tunggu!" Ika mengejar Bam yang sudah berjalan di dekat Dira.
"Kita makan siang dimana, Dir? Aku yang traktir deh." Bujuk Bam agar Dira mau makan siang bersamanya.
"Makan siang sama aku aja, Mas. Cewek kampungan kayak dia itu gak cocok sama kamu." Ika memegang lengan Bam yang langsung di tepis pria itu.
"Lepasin! Kamu apa-apaan sih?" Bam menatap Ika malas.
Dira sendiri tidak perduli dengan dua orang di sampingnya. Ia memainkan ponselnya dengan acuh, seakan ia hanya seorang diri di sana.
Dira berjalan menuju ke taman sembari menunggu jemputannya datang.
"Kita makan siang bareng, Maa. Aku ada rekomendasi restoran mewah yang enak banget. Aku jamin Mas bakalan suka deh sama makanannya, juga tempatnya."
Ika masih saja berusaha untuk bisa makan siang dengan Bam.
"Tapi aku maunya makan sama Dira," ucap Bam ketus.
__ADS_1
"Aduh, Mas. Denger, ya? Dia itu udah jadi simpenan orang lain. Bahkan tadi aku lihat dia turun dari mobil mewah. Bahkan mobilnya itu gak banyak orang yang punya di negara kita."
Ika memprovokasi Bam agar tak lagi mengejar-ngejar Dira, karena dirinya sendiri menyukai pemuda itu.
Bam menatap Dira yang duduk tenang di taman kampus sembari bermain ponsel. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ika.
Sedangkan Bam saja kesulitan mendekati Dira, bagaimana mungkin bisa jadi simpanan pria lain. Bisa saja itu jelyarga Dira kan, pikir Bam.
"Gak usah kamu provokasi aku, gak mempan." Sangkal Bam pada Ika.
"Siapa yang provokasi sih, Mas? Apa ku omongin itu beneran? Tadi aku lihat sendiri dengan kedua mata aku. Dia turun dari mobil mewah yang limited edision, bahkan om-om yang jadiin dia simpenan juga kelihatan tadi." Dusta Ika dengan wajah serius.
Bam menatap Dira tak percaya, bahkan kening pemuda itu nampak berkerut seperti berpikir. Ika menarik sudut bibirnya senang, ia merasa kalau rencananya berhasil untuk menjauhkan pria idamannya dari Dira.
Untung saja tadi pagi ia melihat Dira yang turun dari mobil mewah, jadi bisa ia sebarkan gosip tak baik tentangnya. Dengan begitu, reputasi Dira sebagai perempuan baik-baik akan hancur.
Dan Ika akan mengambil keuntungan dari itu semua dengan mendekati Bam. Pemuda tampan dan kaya di kampus mereka.
"Kalo gitu kamu tinggalin aja pria itu, Dira. Kamu ikut sama aku. Aku bakalan janji gak bakalan biarin kamu hidup sengsara," ucap Bam yakin.
Ika membuka mulutnya tak percaya mendengar apa yang di ucapkan oleh Bam.
"Ya gak bisa gitu dong, Mas! Kok kamu mau sih sama dia? Jelas-jelas dia itu simpenanya om-om. Kalo kamu sama dia, yang ada reputasi kamu bakalan hancur. Keluarga kamu juga pasti gak bakalan setuju kamu sama dia."
Ika menatap Bam dengan kesal juga kedua tangan yang di kepalkan erat di kedua sisi tubuhnya.
"Siapa kamu bisa ngatur-ngatur aku? Kamu gak perlu ikut campur sama hidupku, karena kita gak punya hubungan apa-apa. Dan aku juga gak suka sama kamu," ucap Bam ketus.
Ika semakin kesal mendengarnya.
"Kamu kok ngomong gitu sih? Aku ini anak pengusaha, kamu bakalan punya nama baik yang bersinar kalo jadi pasangan aku."
"Gak butuh bantuan kamu untuk menjaga nama baikku. Sekalipun kamu anak pengusaha, aku tetep gak suka sama kamu." Tegas Bam menatap kesal pada Ika yang seolah merendahkannya.
"Ayo kita pergi sekarang, Dira!" Bam menatap kursi yang tadi di duduki Dira sudah kosong.
"Loh? Kemana Dira pergi?" Bam melihat sekelilingnya berharap bisa menemuka keberadaan wanita itu.
Namun tak terlihat juga olehnya, dengan celat Bam bergerak pergi dari taman untuk mencari keberadaan Dira.
"Mas! Mas Bam! Ish ... awas aja kamu, Dira!" Kesal Ika dengan wajah marahnya karena di acuhkan oleh Bam.
Sedangkan Dira yang di cari oleh Bam, sudah duduk manis di dalam mobil sang suami. Tentu saja bersama suaminya yang juga ada di dalam mobil itu.
"Katanya tadi mau kirim supir aja, Mas! Kok Mas bisa ikut juga?" Heran Dira menatap suaminya.
Karena apa yang di katakan pria itu di pesan tak sesuai kenyataan.
"Tadinya Mas mau suruh supir kantor jemput kamu, tapi karena kata Reno ada urusan di luar kantor. Ya sudah, Mas sekalian jemput kamu ke sini, nanti kita makan siang bareng."
Gara tersenyum menatap istrinya yang membalas senyumannya.
__ADS_1