Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Keampuhan si Kebakar


__ADS_3

"Kita mau kemana Mas?" Tanya Dira penasaran.


Pasalnya sang suami menariknya keluar dari vila dan langsung meminta supir membawa mereka ke sebuah tempat yang namanya asing bagi Dira.


"Nanti juga kamu tahu," sahut Gara.


"Masih jauh ya? Aku udah laper."


"Jauh lagi Pak?" Tanya Gara pada supir yang membawa mereka.


"Sebentar lagi Tuan, belokan depan itu nanti kita sampai," jawab si supir.


Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang hendak di tuju Gara. Sebuah tempat yang terlihat sangat mewah dan berkelas.


"Ayo turun," ajak Gara.


Dira keluar dari mobil setelah Gara membuka pintu mobil di sampingnya. Layaknya suami yang sangat perhatian pada istri. Gara bahkan langsung menggandeng mesra istrinya.


"Ini tempat apa Mas?" Tanya Dira lagi.


"Tempat yang bisa membuktikan kegunaan dari kartu kebakar itu." Kekeh Gara yang hanya di balas dengusan oleh Dira.


Tadi saat mereka sudah naik ke dalam mobil, Gara tak henti-hentinya tertawa kala mengingat respon istrinya melihat black card.


Hingga Dira mengancam akan mendiamkan dan tak mau tidur sekamar. Barulah Gara terdiam membisu dan tak membuka suara lagi sampai Dira bertanya.


"Bercanda istriku." Gara mengangkat tangan mereka yang bertaut lalu mengecup tangan Dira.


"Apa sih Mas? Malu tahu," ucap Dira.


"Iya, iya, gak lagi." Gara menyerah tak ingin mencari masalah lagi dengan sang istri.


Keduanya masuk ke dalam bangunan tinggi dan berkelas itu. Tidak terlalu ramai pengunjung yang datang. Tapi rata-rata orang yang masuk ke dalam tempat itu semuanya terlihat sangat glamor.


"Kok mereka penampilannya kayak mau ke acara penting ya Mas?" Bisik Dira pada suaminya agar tak di dengar yang lain.


Gara menahan senyum mendengar ucapan Dira itu. Ada-ada saja pertanyaan istrinya ini.


"Mereka itu rata-rata orang berdompet tebel."


"Wah, pas banget kalo gitu Mas. Dompetku juga tebel."


"Oh, ya!"


"Iya, tapi kayaknya di sini gak laku uang pecahan ya Mas. Tempatnya aja mirip mall yang sering kami datengi."


"Uang pecahan?" Tanya Gara dengan kedua alis terangkat.


Dira mengangguk, sedangkan Gara semakin tidak mengerti.


"Uang pecahan gimana? Mas gak pernah tahu ada uang yang namanya uang pecahan."


"Masa sih? Mas beneran gak tahu?" Kaget Dira akan ucapan Gara.


"Iya," sahut Gara.


"Huh, gimana Mas bisa tahu ada uang pecahan? Keluarga Mas aja pegangannya semua kartu ATM," ucap Dira.


Baru gadis itu ingat kalau suaminya ini bukan orang dari kalangan bisa seperti dirinya. Bahkan nenek Ira yang sudah tua saja, isi dompetnya lebih banyak kartu dari pada uang.


Nenek Ira pernah membuka dompetnya di depan Dira saat memberi uang pada kepala pelayan di rumahnya. Bahkan uang yang di berikan nenek pada kepala pelayanpun uang 100 ribuan.


Padahal kala itu kepala pelayan hanya butuh uang untuk beli kecap manis. Tapi nenek memberikan uang 100 ribu. Kembaliannya pun tak di inginkan oleh nenek.


Wajar saja suaminya tak tahu uang pecahan, anak sultan mah beda, batin Dira.

__ADS_1


"Uang pecahan itu gimana sih istri?" Tanya Gara ingin tahu.


"Uang 2000, 5000, 10.000, 20.000. Itu termasuk dalam ketegori uang pecahan kalo di kala rakyat biasa kayak kami." Dira menjelaskan pada Gara.


Rakyat biasa katanya? Biasa bikin orang shok sama pertanyaan anehnya baru bener, batin Gara.


"Hebat juga ya nama uangnya. Padahal uangnya gak papa tapi di bilang pecahan." Kekeh Gara.


"Gak lucu Mas." Dira mengeluarkan wajah juteknya agar sang suami berhenti terkekeh atau akan kembali panjang urusannya nanti.


Ehem ehem


"Ayo, masuk ke sana."


Gara membawa Dira memasuki salah satu tempat perbelanjaan yang ada di gedung itu.


"Ini tempat apa Mas? Banyak banget perhiasannya."


Mata Dira berbinar saat melihat ada begitu banyak benda berkilauan dari perhiasan dengan bentuk yang berbeda.


"Ini toko perhiasan mewah," kata Gara.


"Pasti mahal ya Mas harganya?."


Gara hanya tersenyum mendengar ucapan Dira.


"Kamu suka yang mana?" Tanya Gara.


"Hhm ... bagus semua Mas. Menurut Mas mana yang paling cantik?"


"Ini, gimana?" Gara menunjuk sebuah kalung yang begitu indah .


Bentuk yang simpel dengan satu bandul berbentuk hati berwarna putih cerah.


"Cantik Mas." Dira tersenyum manis menatap kalung yang di tunjuk Gara.


Tapi kali ini, senyuman Dira benar-benar memikat hati Gara.


"Kita keluar aja yuk Mas!" Bisik Dira mebuat kening Gara mengkerut.


"Kenapa?" Tanyanya heran.


"Harganya mahal, Mas. Nolnya banyak."


"Trus?" Gara belum paham maksud istrinya.


"Kita pulang aja, itu harganya gak ngakal, Mas."


Barulah Gara paham maksud Dira, istrinya ini takut tak mampu membayar kalung yang harganya mahal itu. Tapi bagi Gara itu bukan apa-apa.


"Saya mau kalung ini."


Dira sontak melihat Gara yang mengucapkan kata itu dengan enteng.


"Mas, jang ..."


"Sst, diem aja." Gara menempelkan jari telunjuknya di bibir Dira agar tidak meneruskan ucapannya.


"Kita lihat kemampuan kartu kebakar ini," lanjutnya sembari menunjukkan kartu di tangannya.


"Memangnya dia bisa apa, Mas?"


"Bisa buat borong semua isi toko ini."


"Masa sih, Mas?" Kaget Dira tak percaya.

__ADS_1


"Lihat aja nanti." Santai Gara.


Petugas toko mengambil kalung yang di inginkan Gara tadi dari kotak kaca.


"Mau di coba dulu atau langsung di bungkus, Tuan?"


"Coba dulu."


"Silahkan."


Gara meraih kalung yang di berikan petugas toko.


"Sini, pakek kalungnya. Kalo bagus buat kamu, kita ambil yang ini."


Dira diam saja kala Gara memakaikan kalung yang tadi di pilih. Saat sudah terpasang sempurna, Gara melihat bagaimana hasilnya.


"Wow, luar biasa." Puji Gara dengan kedua mata menatap penuh puja istrinya.


"Biasa aja lihatnya, Mas. Gak usah gitu juga." Malu Dira.


"Anda benar-benar terlihat luar biasa, Nona. Kami masih memiliki cincin, gelang dan anting-anting yang memang berpasangan dengan kalung anda. Kalau berkenan, saya akan ambilkan."


Petugas toko menawarkan pada Dira akan keberadaan teman-teman dari kalung yang di pakainya.


"Ambillah," ucap Gara singkat.


"Baiklah, mohon di tunggu."


Petugas toko langsung beranjak mengambil benda yang di maksudnya tadi.


"Gak perlu yang lainnya, Mas. Yang ini aja udah cukup." Protes Dira akan keputusan Gara.


"Gak papa, anggap aja itu sebagai hadiah dari Mas buat kamu." Gara merangkul pundak Dira.


"Hadiah apa? Aku gak lagi ulang tahun, Mas."


"Hadiah kan gak melulu harus ada sebuah perayaan istriku. Kapanpun kalo kita mau bisa kasih hadiah sama siapa aja yang kita kehendaki."


"Terserahlah." Pasrah Dira.


"Gitu dong, nurut sama suami." Gara mencubit pelan dagu Dira yang sedang cemberut.


Tak lama petugas toko datang dengan membawa sebuah kotak perhiasan.


"Silahkan di lihat, Tuan, Nona. Ini semua dengan kalung yang tadi satu paket. Tapi kalau mau beli satuan juga bisa."


"Saya ambil semuanya." Gara melihat ke arah Dira.


"Kamu gak mau pilih yang lain lagi?" Tawarnya berharap Dira memilih sendiri yang di sukainya.


"Mau yang itu, Mas." Tunjuk Dira pada sebuah kotak kaca yang berisikan beberapa gelang.


"Kamu mau berapa?" Tanya Gara.


"Ehm, kayaknya sepuluh cukup."


"Banyak banget sepuluh? Satu aja istriku, nanti pilih model yang lain biar lebih bervariasi."


"Yang itu aja, Mas. Nanti mau aku bagi-bagi sama keluarga dan temen aku."


"Maaf, Nona. Tapi gelang yang di sana cuma ada satu buah. Setiap seri perhiasan di tempat kami hanya menyediakan satu barang. Jadi tidak akan ada yang sama dengan yang lainnya, seperti yang Nona pakai saat ini."


"Yah ... gak jadi deh kalo gitu."


Dira kehilangan semangat seketika.

__ADS_1


"Jangan sedih istriku, nanti kita cari yang lain aja ya." Dira mengangguk setuju.


__ADS_2