Bukan Pernikahan Kontrak

Bukan Pernikahan Kontrak
Membuat keputusan


__ADS_3

"Ish ... Siapa kamu? Minggir sana!" Usir Intan pada Dira.


Intan bahkan mengusap kedua lengannya sampai telapak tangan. Juga pakaian yang di kenakannya, seakan Dira adalah sesuatu yang kotor dan mengotori pakaiannya.


"Kamu artis yang sedang bermasalah itu?" Tanya Dira santai tanpa perduli dengan ucapan Intan. Apa lagi sikap Intan yang terkesan jijik padanya.


"Gak usah sok ikut campur kamu, ya? Kamu gak ada hak untuk bicara di sini." Sinis Intan.


Semua pria pemegang saham di sana nampak kaget dengan apa yang di ucapkan Intan. Memang selama ini mereka selalu di beritahu setiap masalah yang terjadi.


Dan Intan berada di urutan pertama yang paling sering mereka dengar namanya bermasalah. Tapi baru kali ini berhadapan langsung dengan yang bersangkutan.


Melihat langsung juga bagaimana sikap dan ucapan wanita itu yang sangat tidak sopan.


"Tolong jaga sopan santun anda, Nona. Ini ruang rapat, bukan ruang gulat." Agi yang sudah snagat sebal berucap ketus.


Intan berdecih mendengar ucapan Agi. Wanita itu hendak mendekati Gara lagi dengan senyuman manisnya.


Tapi lagi-lagi langkahnya terhalang oleh keberadaan Dira.


"Minggir!" Teriak Intan kesal karena apa yang di lakukan Dira.


"Duduk Atau pecat?" Gara angkat suara karena sudah lelah berdiri dan ingin masalah cepat selesai.


"Duduk sana! Gak denger apa udah di perintah?"


Intan memarahi Dira dengan sombongnya. Mengira kalimat Gara tadi untuk wanita yang menghalangi langkahnya mendekati Gara.


Dira memutar bola matanya lalu menarik tangan Gara agar duduk di tempat mereka tadi.


Intan yang melihat posisi duduk wanita yang menghalanginya berada di dekat Gara, nerasa tidak terima.


"Minggir kamu! Itu tempat duduk aku."


Agi dan Reno berdecak kesal melihat kelakuan Intan yang sangat tidak tahu tempat dan tidak sopan.


"Jangan buat keributan lagi Intan, ayo kita duduk di sana."


Manager Intan menarik perempuan itu agar duduk di kursi kosong lainnya.


Tapi Intan tetaplah Intan, si keras kepala yang mudah emosi dan sombong.


"Gak, usir perempuan itu! Kursi itu cuma aku yang bisa dudukin. Dimana ada Gara sayangku? Di sana tempatku." Angkuhnya.

__ADS_1


Manager Intan menepuk keningnya pening. Sungguh ia tak mampu lagi berkata apa-apa tentang artisnya yang satu ini.


Agi yang sudah sangat kesal melihat sikap Intan langsung menarik lengan wanita itu. Menyeretnya lalu di dudukkan di kursi paling ujung.


"Apa yang kamu lakukan? Aku bisa menuntutmu karena kekerasan!" Teriak Intan lagi.


"Sopanlah, Nona. Karir anda sedang di pertaruhkan saat ini," ucap Agi memberi peringatan.


Intan yang tadinya akan mengeluarkan amarahnya lagi langsung terdiam. Tapi tak lama, karena wanita itu sudah kembali buka suara.


"Heh, memangnya siapa yang berani merusak karirku? Hanya orang-orang bodoh yang akan memecat artis potensial sepertiku." Angkuhnya.


"Astaga, jadi ini artis kontroversial di agensi ini?" Tanya seorang pria tak habis pikir.


"Sekarang katakan keputusan anda, Pak Direktur. Kalau saya pribadi, saya tidak akan mempertahankan wanita ini untuk tetap di perusahaan kita." Pria lain angkat suara juga.


"Itu benar, bahkan sopan santunnya juga tidak ada. Jika kita tetap mempertahankan artis seperti ini, kita hanya akan semakin kehilangan penggemar." Sambung yang lain.


Gara menghela napas panjang, memang salahnya karena dulu terlalu memanjakan Intan diam-diam. Dan selalu mendukung apapun yang di lakukan wanita itu.


Bahkan jika Intan melakukan kesalahan, perusahaan akan menutupi semua itu meski mendapat banyak penolakan dari para petinggi.


"Saya hanya akan mengatakan ini sekali saja." Gata menarik napas sejenak lalu menghembuskannya.


"Nona Intan, masalah yang anda timbulkan kali ini sudah sangat luar biasa. Jadi, sebagai petinggi perusahaan saya ingin anda mengikuti semua peraturan perusahaan ini."


"Tapi, jika anda tidak bisa bekerja sama dengan baik dengan perusahaan. Maka perusahaan dengan tegas akan memutuskan kontrak kerja dengan anda."


Gara berbicara dengan penuh wibawa dan tegas, belum lagi wajah datarnya menatap Intan penuh keyakinan. Bahwa semua yang di katakannya bukan main-main.


"Apa yang kamu katakan, Ga? Kamu mau pecat aku dari perusahaan? Kok kamu tega banget sih sama aku? Aku ini pacar kamu loh?"


Intan sangat kaget dengan apa yang di katakan Gara. Baru kali ini ia tidak mendapatkan pembelaan dari pria itu.


"Tolong bicara yang sopan, Nona. Tuan adalah Direktur perusahaan ini, sekaligus atasan tertinggi di sini." Reno menegur Intan.


"Pacar? Dia pacar kamu, Mas?" Tanya Dira yang memang tidak tahu apa-apa.


Ia ingat tentang Wartawan saat di bandara kala itu. Ada yang bertanya tentang hubungan Gara dengan artis sekaligus model inisial I.


Apa wanita ini yang di maksud Wartawan itu? Batin Dira.


"Bukan," sahut Gara yakin karena memang sudah tidak ada hubungan antara dirinya dengan Intan.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Ga? Aku ini pacar kamu. Kita pacaran sudah 6 bulan lamanya," ucap Intan tak terima dengan apa yang di katakan Gara.


"Oh, jadi dia pacarnya Pak Gara? Pantas saja sejak dulu selalu di bela ketika membuat masalah." Seorang pemegang saham buka suara.


Dira menatap Gara penuh selidik, lalu menatap Intan yang di wajahnya terdapat seringai kecil. Meski di wajah itu ada rasa tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Oo, jadi begini kelakuan kamu di belakang aku?" Dira mengedipkan sebelah matanya pada Gara.


Pria itu tak mengerti dengan apa yang di lakukan istrinya melalui kedipan itu. Karena memang dia orang yang kurang peka dengan keadaan.


"Baiklah, kalau begitu saya yang akan mengambil keputusan sebagai NYONYA ANGGARA." Dira menekan kan statusnya di depan Intan.


Dira sudah ingat juga dengan apa yang pernah di katakan Gara. Kalau pria itu punya seorang mantan. Bahkan nenek pun pernah mengatakan demikian juga.


Mengingat apa yang pernah di katakan nenek tentang Gara yang hanya di manfaatkan oleh pacarnya saja. Dira baru paham jika yang memanfaatkan Gara adalah Intan.


"Saya ingin Nona Intan melakukan konferensi pers dan memohon maaf atas apa yang terjadi di media. Kita juga akan mengundang orang-orang yang bersangkutan untuk hadir dan memberi konfirmasi pula."


"Setelah konferensi itu selesai, Nona Intan harus mengambil surat peringatan terakhir dari perusahaan. Nona Intan juga harus mengikuti semua peraturan dan aturan dari perusahaan seperti yang di katakan Pak Anggara."


"Jika Nona Intan menolak semua kebijakan perusahaan tentang ini. Maka dengan terpaksa kontrak kerja kita akhiri." Dira menatap tajam Intan.


Intan mengepalkan kedua tangannya marah mendengar semua ucapan Wanita di samping Gara itu. Apa lagi pengakuannya sebagai 'NYONYA ANGGARA'. Benar-benar membuat dirinya kepanasan.


"Kamu tidak berhak membuat keputusan apapun. Apa lagi mengatas namakan Nyonya Anggara? Karena status itu hanya milikku."


Dira terkekeh mendengar ucapan Intan yang begitu percaya diri.


"Silahkan lihat layar di belakang, dan anda akan tahu siapa saya? Berhak tidaknya saya membuat keputusan."


Intan menatap remeh Dira lalu menatap layar di depannya.


"Siapa namamu?" Tanya Intan.


"Nyonya Anggara adalah pemilik 15% saham, dan namanya ada di bawah nama pak Wawan. Apa lagi beliau istri sah dari pak Anggara, beliau berhak membuat keputusan selama itu baik bagi perusahaan ini."


Salah satu pria di sana memberitahu Intan siapa wanita di samping Gara itu.


Intan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya melampiaskan amarah. Ia tidak ingin mengeluarkan amarahnya, apa lagi sudah sangat jelas tidak mendapat dukungan lagi dari Gara.


Pria yang di kiranya masih mencintainya itu pun terlihat sangat acuh dan tak perduli dengannya.


"Saya, setuju dengan ide istri saya." Gara menggenggam tangan Dira penuh keyakinan.

__ADS_1


Hingga semua petinggi itup pun menyetujui apa yang di ucapkan Dira.


Kali ini aku mengalah, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku nanti, batin Intan.


__ADS_2