Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Menolak hadiah


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Bagas dan Renata mampir ke sebuah mall besar yang ada di tengah kota. Keduanya berjalan bersejajar mengelilingi pusat perbelanjaan yang sangat luas itu. 


Tiba di sebuah salah satu toko, Renata menghentikan langkahnya, ia mendekati pintu kaca transparan. Matanya terpana melihat beberapa lukisan yang terpajang di dalam ruangan itu. 


Wah, indah sekali, seandainya aku bisa memajang lukisan ku di sana, pasti banyak yang suka. 


Bagas menepuk pundak Renata dari belakang hingga membuat gadis itu kaget.


"Kamu lihat apa?" tanya Bagas, ia ikut menatap ke arah dalam. 


"Lukisannya bagus-bagus ya, Pak."


"Kamu suka lukisan juga?" tanya Bagas antusias, ia langsung membuka pintunya dan masuk. 


"Dari kecil aku suka lukisan, tapi __"


Renata memotong ucapannya, tiba-tiba dadanya sesak dan lidahnya kelu mengingat tentang hidupnya yang pernah terlewati dengan sia-sia. 


Renata kenapa, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan dariku. 


Bagas meraih tangan Renata, mengajaknya menghampiri sang pemilik toko. 


"Selamat datang, Pak Bagas. Apa ada lukisan yang akan bapak tawarkan?" tanya seorang pria yang lebih tua dari Bagas. 


Bagas menggeleng, "Saat ini aku masih fokus dengan kantor dan belum bisa untuk mengurus gallery," ujar Bagas menjelaskan. 


Dari lubuk hati yang terdalam, ia pun ingin mengembangkan bakat melukisnya. Namun, setelah kalah dari Derya, ia pun tak bisa meninggalkan kantor yang sempat memburuk. 


"Pak, ini lukisan milik siapa?" tanya Renata penasaran. 


Sebelum sang pemilik toko menjawab, seorang pria masuk menghampiri mereka. 


"Pak Derya," sapa pemilik toko, sedangkan Bagas dan Renata hanya diam. 


Suasana menjadi canggung, Derya menatap Renata dan Bagas bergantian lalu bersalaman dengan pemilik toko itu. 


"Apa kabar pak Derya? Lama tidak bertemu."


"Pak, sepertinya kita harus pergi dari sini, ada yang perlu aku beli." Renata dan Bagas langsung keluar menghindari tatapan Derya yang tak bisa diartikan. 


Setibanya di ambang pintu, sang pemilik toko memanggil Renata hingga gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Renata antusias. 


"Pak Derya memberikan hadiah lukisan itu untuk, Mbak." Pria itu menunjuk lukisan mewah yang ada di sisi kiri. 

__ADS_1


Mas Derya memberikan hadiah lukisan padaku, apa aku tidak salah dengar.


Renata menatap Derya dari jauh. 


"Terima kasih, Pak. Tapi aku tidak butuh hadiah dari siapapun," tolak Renata mentah-mentah, ia masih ingat dengan kejadian di rumah Derya yang membuatnya kesal. Apalagi pria itu dengan sengaja ingin melecehkannya dan mengambil kehormatannya.


Sebenarnya apa hubungan mereka, kenapa Derya memberikan lukisan mahal itu untuk Renata.


Bagas hanya bisa bertanya dalam hati, ia tak mungkin menanyakan hal itu di depan Derya dan juga pemilik toko. 


"Permisi…." Renata kembali meraih tangan Bagas. 


"Renata…" panggil Derya dengan suara berat. 


Dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin mendekat, Derya berdiri di samping pemilik toko lalu mengambil lukisan yang terpajang. Entah, saat ini Renata berada di ambang kebingungan melihat sikap Derya yang berubah lembut. 


"Terimalah, anggap saja ini tanda minta maaf dariku."


Renata memiringkan bibirnya lalu mendekati Derya. Keduanya saling bertukar pandangan hingga membuat Bagas semakin penasaran. 


"Sebuah kehormatan tidak bisa dibeli dengan uang, jadi jangan pernah menganggapku wanita murahan yang akan memaafkan laki-laki brengsek seperti kamu hanya dengan sebuah lukisan. Ingat, kamu punya adik perempuan, dan kamu akan merasakan sakit jika dia berada di posisiku."


Mata Renata mulai berkaca, kenangan buruk yang diciptakan Derya tak mungkin dilupakan begitu saja.


"Mulai sekarang jangan ganggu aku, atau semua orang akan tahu siapa sebenarnya Derya yang terhormat ini."


Setibanya di samping mobil, Renata menumpahkan air matanya, meskipun berusaha untuk tetap tangguh, hatinya sebagai seorang perempuan tetaplah lembut. 


"Re, kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas mengelus punggung Renata yang bergetar. 


Renata menggeleng lalu mengusap air matanya. Bibirnya tersenyum paksa. Ia tak boleh lemah dan harus bangkit dari masa lalunya yang kelam. 


"Menangislah, Re. Jika itu membuat dadamu lega."


Bagas meraih tubuh Renata dan mendekapnya, sebagai seorang pria, ia tidak bisa membiarkan wanita mengemban luka sendirian.


Setelah sedikit reda, Bagas menangkup kedua pipi Renata dan menatap matanya yang masih memerah. 


"Aku tidak tahu apa hubungan kamu dengan Derya, tapi aku harap dia tidak menyakitimu lagi."


Aku tidak boleh membuka aib mas Derya pada pak Bagas, bagaimanapun juga dia pernah baik dan mau menampungku. 


"O, jadi ini kelakuan kamu saat di luar, pantas saja kamu pergi dari rumah, ternyata kamu menjual diri," celetuk seorang wanita yang baru saja tiba. 


Renata merapikan rambutnya dan menoleh. 

__ADS_1


"Kak Karin," sapa Renata dengan bibir yang masih sedikit gemetar. 


Iya, dia dialah Karin, sepupu Renata yang juga sering menyiksanya waktu masih tinggal se rumah. 


Karin menatap penampilan Renata lalu beralih menatap penampilan Bagas. Ia memeluk Renata dan tersenyum licik. 


"Kamu dapat berapa juta semalam," bisik Karin di telinga Renata. 


Plakk


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Karin. Jika dulu ia hanya diam menerima pelampiasan semua orang, kini Renata tak bisa melakukan itu semua. 


Toni yang ada di samping Karin terkejut melihat kemarahan Renata. 


"Asal kakak tahu, aku bukan wanita murahan yang mau menukar tubuhku dengan uang. Lebih baik kakak urus pacar kakak dari pada ngurusin aku."


Paman, aku minta maaf sudah menampar putri paman, tapi itu harus aku lakukan supaya kak Karin bisa menjaga ucapannya dan tidak merendahkanku lagi.


Renta meninggalkan Karin, ia langsung membuka pintu mobil milik Bagas dan masuk. 


Karin menghentak-hentakkan kakinya kesal, ia tak terima dengan sikap Renata yang sudah berani menamparnya di depan sang pacar. 


Bagas duduk dan menatap Renata yang tampak cemas. 


"Siapa Karin?" tanya Bagas sembari memasang seat belt. 


"Dia kakak sepupuku, dulu aku tinggal bersama dia dan bibi. Aku sangat menyayangi mereka. Namun, setelah paman meninggal, mereka membenciku. Rumah bibi bagaikan neraka. Mereka memperlakukanku tidak adil, karena menganggapku penyebab paman meninggal."


Bagas manggut-manggut mengerti, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil bertanya-tanya tentang kehidupan Renata sebelumnya.


"Apa sekarang kamu nyaman tinggal di rumah tante Nurmala?" tanya Bagas. 


Renata tersenyum mengingat bu Nurmala yang selalu memanjakannya. 


"Bu Nurmala sangat baik, meskipun aku bukan keluarganya dia memperlakukanku seperti putri kandungnya."


Entah kenapa saat mendengar itu Bagas merasa lega. 


"Tapi, akan lebih baik jika aku bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain." 


"Maksud kamu?" tanya Bagas. 


"Sebenarnya aku bisa melukis, bahkan salah satu lukisan ku pernah menjadi pemenang di salah satu event, dan aku akan memulainya dari sekarang."


Bagas mengangkat satu jempolnya tanda setuju. 

__ADS_1


"Semoga berhasil."


__ADS_2