Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Mengakui


__ADS_3

"Daaaaa daa kakek….. "


Renata terus melambaikan tangannya ke arah mobil yang terparkir di depan rumah Bu Nurmala. Wajahnya berseri-seri saat kakek Liam membalas nya. Kebahagian baru, bertemu orang terdekat kembali mengubah takdir Renata Nicholas. Menyempurnakan kehidupan yang akan datang. 


Akio berlari kecil menghampiri Renata yang ada di tengah-tengah Bagas dan Bu Amara. Berdiri di depan Renata dengan kepala menunduk menatap lantai. Malu dengan statusnya sekarang. Wanita yang pernah diseret paksa ternyata adalah majikannya sendiri. Lebih mulia dibandingkan Gina yang hanya cucu pungut.


"Saya minta maaf atas kejadian malam itu, Nona." 


"Tidak apa-apa, kamu hanya melakukan tugas," sergah Renata, takut Akio melanjutkan ucapannya. Sebab, tak ingin Bagas tahu tentang kejadian malam itu. 


Dikubur dalam-dalam mungkin akan lebih baik daripada membuka luka lama. Pasti Bagas akan merasa bersalah. 


"Jaga kakek dengan baik. Kamu adalah orang kepercayaannya. Kapan-kapan aku dan mas Bagas akan main ke rumah," jelas Renata seperti yang terbesit dalam otaknya. 


"Tapi tuan besar tidak mau pulang. Beliau menunggu pernikahan Nona berlangsung. Silakan pikirkan lagi. Di akhir hidupnya hanya ingin bertemu dengan anak satu-satunya, yaitu tuan Reno. Tapi setelah tahu dia sudah meninggal, beliau putus asa, saya mohon nona bisa membangkitkan semangatnya lagi."


Akio menyarankan pada Renata. Sebagai bodyguard kakek Liam berpuluh-puluh tahun membuatnya hafal apa saja yang dialami kakek Liam saat sendiri. 


Renata mengangguk pelan. Ia harus memikirkan tubuh tua sang kakek yang mengharapkan kehadirannya, kebahagiaan nya masih bisa diraih bersama Bagas, tapi kakek Liam harus seorang diri menikmati hari tuanya.


"Baiklah nanti aku pikirkan lagi."


Sekali lagi Akio mengucap terima kasih atas terbuka nya pintu hati Renata untuk memaafkan sang kakek. 


Setelah mendapatkan sedikit harapan baru, Akio berlalu melajukan mobilnya keluar gerbang. 


Kembali berkumpul di ruang keluarga. 


Keempat ponsel milik Bagas terus berdering hingga sang empu bingung mau mengambil yang mana. Pilihannya jatuh pada ponsel pribadi, di sana ada Jerry yang menghubunginya. 


"Ada apa, Jer?" tanya Bagas langsung ke inti. 


"Ada yang ingin membangun gedung kita lagi, Pak. Masalah kebakaran itu sudah ada orang yang mengakui di kantor polisi. Identitasnya masih disembunyikan, hanya bapak yang boleh melihatnya."


"Apa!" 


Bagas terkejut, penyataan macam apa itu? Tidak masuk akal sama sekali bagi Bagas. Membakar, menghilangkan jejak, lalu mengakui. Seolah-olah perkara besar itu dibuat seperti sebuah mainan. 


"Baiklah, nanti aku ke kantor polisi."

__ADS_1


"Ada yang lebih mengejutkan, Pak," lanjut Jerry. 


"Apa?"


"Ternyata bersamaan dengan gedung bapak yang terbakar, cafe juga mengalami masalah."


Seketika Bagas menatap Renata yang sibuk menata makanan di ruang makan. 


"Masalah apa?"


"Ada yang menyabotase makanan dengan racun, dan ternyata orang itu adalah orang yang sama. Jadi kebakaran gedung bapak dan kejadian di cafe sudah direncanakan. Aku tidak tahu apa motif dia, yang pastinya, pelaku ingin menghancurkan bapak dan non Renata," sambung Jerry menjelaskan lewat sambungan telepon.


Bagas manggut-manggut mengerti. Menyuruh Jerry untuk mengecek ke luar kota tempat bekas gedungnya yang sudah hangus. 


Pintar sekali kamu menutupi ini dariku, bahkan kamu masih sempat menghiburku. Padahal kamu sendiri punya masalah. 


Bagas memanggil Renata. Dalam sekejap gadis itu kembali duduk di sampingnya dan memainkan ponsel yang ikut-ikutan berdering. 


Bagas ingin penjelasan dari Renata. Kabar yang dibawa Jerry itu adalah berita yang sangat serius, dan bisa-bisanya Renata memendamnya sendiri. 


"Ada apa, Mas?" Renata menyembunyikan ponselnya dengan buru-buru, takut pesan dari Rita diketahui kekasihnya. 


"Sayang, aku ingin kamu jujur," ucap Bagas pelan, namun menekankan. 


"Jujur. Maksud kamu apa? Selama ini aku  gak pernah membohongi kamu." 


"Tentang Cafe," lanjut Bagas. 


Renata mengusir kegugupan yang mulai melanda. Bagas Bukan orang bodoh yang bisa di kelabuhi begitu saja. Namun, semua ada sebab yang membuat Renata harus bungkam. 


"Kenapa dengan cafe?" Renata masih basa-basi. Bagas semakin meringsuk dan melingkarkan tangannya di pinggang Renata. 


Mungkin ini saatnya mas Bagas tahu, toh semuanya sudah jelas, pasien juga sudah dibawa pulang. Tapi sebenarnya siapa yang ingin menjebak ku, kenapa dia malah melapor ke polisi.


"Maaf ya, Mas. Bukan maksudku menyembunyikan semua itu dari kamu, aku hanya ingin kamu tidak terbebani dengan masalahku."


Bagas tersenyum tipis, meskipun ia masih belum terima karena sikap Renata yang menghadapi masalahnya sendiri, setidaknya semua sudah jelas. 


"Lain kali jangan diulangi lagi."

__ADS_1


Renata mengangguk. 


Disisi lain


Kakek Liam tidak bisa meredam amarahnya saat mendengar salah satu anak buahnya sudah berada di kantor polisi. 


"Seharusnya aku yang di penjara," pekiknya, menatap Akio dan Mondi dengan tatapan tajam. Kedua tangannya mengepal dengan wajah pias. 


Gina datang menghampiri kakek Liam yang mematung di depan jendela. 


"Ada apa ini? Kenapa kakek marah?" tanya Gina pada Akio yang ada di belakang pintu. 


"Tidak ada apa-apa," bohong kakek Liam lirih. 


Gina masih sangat muda dan belum sepantasnya tahu apa yang sudah dilakukan kakek Liam terhadap Renata dan Bagas. 


"Na, kamu keluar dulu, kakek mau bicara dengan Akio."


Setelah punggung Gina menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Akio mengangkat telepon sejenak, lalu menghampiri kakek Liam. 


"Maaf Tuan, surat yang anda minta sudah selesai, besok akan tiba di sini."


"Baiklah, kamu atur waktu pertemuan dengan Renata. Sekarang kalian keluar, aku mau istirahat, jangan bilang pada siapapun tentang ini, termasuk Gina."


Baru saja membuka pintu, Akio dan Mondi dikejutkan dengan Gina yang mematung di depan kamar. Gadis itu melipat kedua tangannya. Menatap Akio dan Mondi dengan tatapan selidik. 


"Aku tahu ada sesuatu yang kakek sembunyikan dariku, katakan!"


Tidak ada rasa takut sedikit pun. Akio dn Mondi tersenyum kecil. 


"Maaf Nona, saya tidak bisa memberitahu masalah ini pada siapapun, termasuk Nona."


Gina berkacak pinggang, kesal pada dua bodyguard itu. Wajahnya berapi-api melihat  anak buah sang kakek yang saling berbisik. 


"Terserah, aku akan cari tahu sendiri."


Gina berlalu meninggalkan Akio dan Mondi. Menutup pintu dengan keras menandakan jika ia sedang marah. 


Gina melempar tas dan duduk di tepi ranjang. Samar-samar, ia masih bisa mendengarkan ucapan kakek Liam yang menyebut nama Renata. Menyuruh Akio dan Mondi untuk tidak memberi tahu dirinya. 

__ADS_1


"Untuk apa kakek ingin bertemu dengan Renata. Memangnya apa yang disembunyikan kakek, bukankah aku cucu satu-satunya. Kenapa tidak boleh tahu? Apa kakek sudah merencanakan sesuatu pada gadis jelek itu? Surat apa yang akan tiba ke sini." 


Gina mengacak rambutnya dan menghempaskan tubuhnya. 


__ADS_2