
Berjuta-juta jiwa kenapa harus Derya yang bersama Renata? Kenapa bukan Jerry atau yang lain. Bagas benci dengan situasi ini, tapi ia harus tetap sabar, menahan dadanya hampir meledak demi hubungannya membaik.
"Ngapain kamu ke sini?" Nada ketus, seolah-olah tidak ada rasa rindu yang membelenggu, padahal Renata sangat menginginkan kehadirannya.
Bagas menatap penampilan Renata dari atas hingga bawah. Masih sama, sederhana dan cantik. Tak ada sedikitpun yang berubah, sebenarnya tangannya sudah geli ingin memeluk. Namun apa daya, itu tak bisa dilakukannya. Harus sopan dulu, sebelum lancang diperbolehkan.
"Pak, Renata tanya, kenapa nggak dijawab," bisik Jerry di telinga Bagas.
"Siapa, Re?" tanya Derya untuk yang kedua kali. Saking sibuknya, ia tak menyadari siapa yang mematung di ambang pintu.
"Mas Bagas, sebaiknya aku suruh masuk atau pergi saja, biar kita bisa berduaan," jawab Renata dengan suara lantang. Sengaja memamcing emosi dan ingin melihat reaksi Bagas.
"Terserah, ini apartemen milik kamu, jadi berhak menerima dan mengusir tamu sesuai keinginanmu," imbuh Derya, ikut mengompori Renata.
Aku harus tenang, tidak boleh emosi. Jangan biarkan suasananya jadi runyam.
"Re, aku mau bicara sama kamu." Akhirnya suara itu lolos dari bibir Bagas.
"Bicara saja di sini,"
"Nggak," sergah Bagas menekankan.
"Tapi di dalam ada mas Derya, aku takut nanti dia terganggu."
"Kalau begitu kita ke kamar, karena aku pun hanya ingin bicara berdua dengan kamu," jelas Bagas terkesan memaksa.
Renata mengatupkan bibirnya menahan tawa. Melihat wajah Bagas yang tegang adalah pemandangan apik. Pria itu nampak menahan amarah yang sudah membelenggu, kedua tangannya pun mengepal sempurna dan siap menghantam siapapun di depannya.
Renata berjalan menuju kamar. Bagas mengikutinya dari belakang. Melirik ke arah Derya yang juga menatapnya.
Setibanya di depan pintu kamar, Bagas menarik Renata hingga jatuh ke dekapannya.
"Itu siapa?" menunjuk wanita paruh baya yang ada di ruang makan.
"Bi Darmi, dia yang membantuku membersihkan tempat ini," jawabnya, berusaha melepaskan tangan Bagas yang memeluknya, malu di lihat Derya dari ruang tamu. Namun, tenaganya yang lebih kecil tak mampu melepas tangan kekar itu. Terpaksa Renata masuk kamar masih dalam pelukan Bagas.
Sesampainya, Renata duduk di tepi ranjang. Bagas Mengunci pintunya dan duduk di samping sang pujaan hati. Menatap ke arah yang sama.
__ADS_1
Hening
Banyak yang ingin Bagas katakan, namun masih tertahan di kerongkongan. Mensuplai oksigen menenangkan pikiran sejenak untuk memulai semuanya.
"Aku minta maaf."
"Maaf untuk apa?" tanya Renata masih menunjukkan wajah judes. Sesuai rencana nya dengan Bu Nurmala, ia tak mau cepat luluh, harus memberi pelajaran pada Bagas yang seenak jidatnya membiarkannya pulang sendiri.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kita bisa memulainya dari awal, aku mencintaimu."
"Bagaimana dengan Gina dan kakek Liam? Bukankah mereka juga menginginkanmu, aku tidak mau menjadi penghalang antara kamu dan dia. Kamu berhak memilih, Mas."
Tanpa sepatah kata, Bagas meraih tubuh Renata dan memeluknya. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain merebut hati Renata kembali.
"Aku tidak peduli, aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan kita demi orang lain. Aku menyesal sudah melakukan hal yang salah, tapi itu tidak akan terulang lagi. Apa kamu mau kembali padaku. Kita lanjutkan apa yang sudah kita rencanakan."
Renata mendongak. Menatap manik mata Bagas yang nampak sendu, ada genangan cairan bening yang menghiasi kedua bola matanya.
Tersenyum renyah, tangannya bergerak menyentuh rahang kokoh Bagas.
"Aku mau, ini bukan kesempatan kedua, Mas. Tapi kesempatan terakhir, jika kamu mengulangi kesalahan lagi, aku pastikan kita berpisah selama-lamanya."
"Aku akan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin." Mengecup pucuk kepala Renata dengan lembut, tanda meluapkan rindu.
"Ngapain Derya di sini?" tanya Bagas, tak mau salah paham lagi dengan kehadiran pria itu.
"Dia membantuku mengurus pembelian cafe dan gedung untuk galeri, besok aku mau membukanya, kamu ikut ya," pinta Renata mengedipkan matanya dengan cepat.
"Apa statusku, kalau cuma teman, nggak mau, mendingan aku ke kantor."
Renata beranjak dari duduknya. Menatap bayangan dari pantulan cermin.
"Nggak lah, sebagai calon suamiku." Renata tersenyum malu.
Bagas menghampiri Renata dan memeluk tubuhnya dari belakang. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang dan cinta yang tiada ujung.
"Memangnya kamu masih punya modal?"
__ADS_1
"Menipis sih, Mas. Kamu doakan saja, semoga cepat lancar."
Bagas merogoh ponsel dan mengetik sesuatu di sana.
Jer, transfer uang ke tante Nurmala 2M, ke mama 1M dan ke Renata 1M.
Pesan masuk dan langsung dibaca oleh Jerry.
Dalam hitungan detik ia harus mengeluarkan jumlah uang yang sangat fantastis, namun itu tak seberapa karena saat ini perusahaannya pun kembali berkembang dengan pesat.
Derya menatap jam yang melingkar di tangannya, hampir satu jam Bagas dan Renata di kamar. Tak tahu apa yang mereka lakukan. Tak ada guratan khawatir, karena Derya yakin Bagas tidak akan macam-macam.
"Kapan Kamu pulang?" Renata membalikkan tubuhnya. merapikan rambut Bagas yang menutupi jidat.
"Tadi pagi, aku pulang bersama kakek Liam dan juga Gina."
Renata mengerutkan alisnya. Menurunkan tangannya dan mundur satu langkah hingga bersandar di meja rias.
"Jangan ngambek dulu, aku akan ceritakan semuanya."
Bagas berdiri di samping Renata.
"Mereka ke sini ingin mencari keluarganya yang hilang. Kata salah satu bodyguard kakek Liam, orang itu pindah ke Indo, dan kabar itu baru diketahui dari salah satu istri bodyguard nya yang sudah meninggal."
Renata mendekatkan bibirnya di telinga Bagas.
"Kamu yakin karena itu? Gimana kalau ini cuma alasan, supaya mereka bisa lebih dekat dengan kamu dan tante Amara, apa kamu akan berubah pikiran?"
"Tidak, cukup sekali aku melakukan kesalahan. Apapun yang terjadi aku akan tetap memilih kamu."
"Tuhan maha membolak-balikkan pikiran. Bagaimana kalau tante Amara dan ibu menyetujui kamu dengan Gina, mereka orang kaya dan terpandang, tidak mungkin ada yang menolaknya, sedangkan aku__"
Bagas menutup mulut Renata dengan telapak tangan.
"Aku akan tetap memilih kamu. Kita harus berjuang bersama untuk mendapatkan kebahagiaan. Mama dan tante tidak pernah melihat harta, dengan siapapun aku menjalin hubungan, mereka akan tetap setuju, asalkan aku bahagia."
Kamu boleh yakin, Mas. Tapi aku tidak yakin pada kakek Liam. Dia bisa menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan siapapun, termasuk hubungan kita.
__ADS_1
Ada rasa takut yang menyeruak. Renata masih ingat, bagaimana sadisnya para bodyguard kakek Liam mengusirnya di malam itu.
Semoga cinta kita kuat dan bisa melewati cobaan yang menerpa.