Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Hamil


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Seperti rencana awal, satu bulan Bagas menginap di rumah mama. Satu bulan lagi di rumah Kakek Liam, dan yang sebulan lagi di rumah Ibu Nurmala. 


Pernikahan Bagas dan Renata sudah menginjak tiga bulan. Meskipun terbilang masih sangat muda, nyatanya kebahagiaan memenuhi rumah tangga mereka. Kesibukan Renata di Galeri dan Cafe tak menyurutkan untuk memenuhi semua permintaan Bagas. Bahkan terkadang, ia rela datang ke kantor atas permintaan suaminya. 


Namun, ada yang berbeda di pagi ini. Ternyata Renata benar-benar tidak ingin ditinggal jauh. Setelah keputusan kakek Liam untuk tinggal di Indo selamanya, Renata tak khawatir lagi akan keadaan sang kakek. Kasih sayang yang melimpah membuat hidupnya semakin sempurna. 


Di kamar itu nampak Hening, Bagas menatap baju kantornya yang mengenaskan. Bagaimana tidak, baju kantor yang biasa menggantung di depan lemari itu teronggok di lantai. Entah kenapa, Renata ingin dimanja dan ingin dipeluk. Membuang barang-barang yang disentuh Bagas. 


Bagas tersenyum, memakai kaos hitam serta celana pendek lalu ikut naik di ranjang. Seperti permintaan sang istri, ia ikut berbaring dan memeluknya. 


Bu Amara masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuk pintu. Heran dengan keduanya yang belum keluar juga. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul delapan, seharusnya Bagas sudah turun sarapan, namun mereka tak datang juga. 


"Maaf, Mama sudah lancang masuk tanpa izin kalian."


"Nggak papa, Ma," jawab Bagas tanpa melepas pelukannya. 


"Renata kenapa?" Bu Amara menghampiri Bagas. Menatap wajah menantunya yang sedikit pucat. 


"Kamu sakit?" Renata menggeleng menahan perutnya yang terasa mual. 


"Tapi wajah kamu pucat loh?" 


Bagas ikut menatap Renata dengan intens. Wajah yang biasanya bersinar dengan sedikit make up itu terlihat layu dengan bibir mengering. 


"Dari kemarin kamu nggak makan, kan?" 


Bu Amara terbelalak, pasalnya kemarin mereka baru pulang dari rumah kakek Liam, jadi Mama belum tahu apa yang terjadi pada Renata. 


"Apa? Nggak makan? Kenapa kamu nggak bilang ke mama?" Menyalahkan Bagas yang kurang teliti dengan kesehatan istrinya. 


"Iya, Ma. Dari kemarin dia itu nggak mau makan. Katanya nggak selera."


Seketika rasa cemas itu lenyap. Apa yang ditunggu akhirnya tiba. Bu Amara langsung menghubungi Bu Nurmala tanpa mengatakan apa-apa pada Bagas dan Renata. 


Selang tiga puluh menit, Bu Nurmala sudah tiba dengan seorang dokter cantik yang memakai jas berwarna putih. Dia adalah Liana, dokter kandungan dan juga keponakan almarhum suaminya. 


"Bu, aku nggak sakit. Ngapain bawa dokter ke sini?"


"Kamu memang nggak sakit, tapi tetap butuh dokter kandungan." 

__ADS_1


Bagas mengernyitkan dahi saat mendengar ucapan bu Nurmala yang menurutnya sedikit nyeleneh. 


"Tapi Renata nggak hamil, Tan?" 


"Kalian saja yang nggak tahu. Makanya, jadi suami itu yang cerdas, masa kalah sama kita yang sudah tua begini." Nada meremehkan. 


Kalian kan sama-sama perempuan, sedangkan aku laki-laki, mana tahu yang begituan, gerutu Bagas dalam hati. 


Bu Amara menarik tubuh Bagas. Memberi tempat dokter Liana untuk memeriksa Renata. 


"Kakak harus tes pakai ini dulu supaya lebih jelas. Nanti kalau hasilnya positif, kita lanjut di rumah sakit."


Liana memberikan sebuah test pack pada Renata. 


Renata meraih benda kecil nan panjang itu dan membawanya ke kamar mandi. Sebab, ia pun pernah membaca artikel hamil muda yang ciri-cirinya persis yang  ia alami. 


Bagas deg-degan, matanya tak teralihkan dari pintu kamar mandi. Berharap yang dikatakan kedua ibunya itu benar adanya. 


Ceklek


Semua berhamburan menghampiri Renata yang ada di ambang pintu kamar mandi. Tersenyum tipis dengan kedua tangan ke belakang. 


Dokter Liana geleng-geleng melihat tingkah mereka. 


Wajah Renata meredup dan menunduk membuat Bu Amara dan Bu Nurmala saling tatap. 


"Nggak papa, Sayang. Hamil itu pemberian Tuhan. jika hasilnya negatif, kalian harus bekerja keras lagi supaya cepat hamil."


Renata mengulurkan tangannya dengan sigap di depan Bagas. Orang yang harus bertanggung jawab dengan hasilnya. 


Bagas meraih test pack yang ada di tangan Renata, betapa terkejutnya saat melihat dua garis bertengger di sana. 


"Kamu hamil?" tanya Bagas dengan mata berkaca. 


Renata mengangguk pelan. "Aku hamil, akhirnya kita akan memiliki anak." Mengelus perutnya yang masih rata. 


Bagas langsung memeluk Renata dengan erat. Menciumi setiap jengkal wajah istrinya dengan lembut, mencurahkan rasa kebahagian yang tiada tara. 


Bu Amara dan Bu Nurmala tak mau ketinggalan. Dua wanita itu merebut tes pack dan ikut memastikannya. 

__ADS_1


"Terima Kasih karena kamu mau mengandung anakku. Aku janji tidak akan meninggalkanmu bekerja."


"Akhirnya sebentar lagi kita punya cucu. Keturunan keluarga Ankara dan Nicholas akan hadir di tengah-tengah kita." 


Bu Amara bahagia dan juga merasa tersayat. Bayangan suaminya kembali hadir, air matanya terus mengalir membasahi pipi saat mengingat keinginan Sang suami yang belum terwujud. 


Nanti kalau cucu kita sudah lahir, aku ingin memberinya nama Bintang Ankara, jika dia perempuan, aku akan memberinya nama Rembulan Ankara. Aku ingin menggendongnya, menimangnya sebelum tidur dan memberikannya susu. 


Setelah bu Amara dinyatakan tak bisa hamil lagi. Suaminya terus berharap Bagas cepat menikah dan memberikannya seorang cucu. Namun takdir berkata lain, suaminya harus pergi sebelum apa yang diinginkan itu dikabulkan Tuhan. 


Bu Amara semakin sesenggukan. Antara bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Setelah puas memeluk Renata, Bagas beralih memeluk mamanya. Menepuk punggungnya yang bergetar hebat. 


"Mama ingat papa, ya?" tanya Bagas diiringi dengan senyuman. 


"Jangan menangis, Ma. Papa pasti bahagia di alam sana." 


Bu Amara mendongak, menatap wajah Bagas. "Kamu mau kan, menuruti permintaan papa sewaktu masih hidup." 


"Permintaan apa?" tanya Bagas penasaran. 


"Kalau nanti anak kamu berjenis kelamin laki-laki, beri nama Bintang Ankara, dan seandainya anak kamu perempuan, beri nama Rembulan Ankara, itu keinginan papa kamu setelah rahim mama diangkat." 


Renata ikut tersenyum dan memeluk sang mertua. 


"Terserah Mama saja. Lagipula nama itu bagus, kok."


Liana mendekat dan mengucapkan selamat atas anugerah yang diterima Bagas dan Renata. 


Bagas menghubungi kakek Liam, ia pun ingin berbagi kebahagiaan pada kakeknya yang juga mengharapkan kehamilan Renata, bahkan kakek Liam sempat memberikan jamu kesuburan  pada Renata supaya cepat mengandung. 


Sama seperti Keluarga Bagas yang bahagia, kakek Liam pun tak henti-hentinya bersyukur dengan berita itu. 


"Akio, Mondi," panggil kakek Liam pada dua bodyguardnya yang paling setia. 


Dua pria bertubuh kekar itu membungkuk ramah di depan kakek Liam tanda hormat. 


"Renata hamil, sebentar lagi cicitku akan lahir, kalian harus menjaga Renata dengan baik." 


Kedua pria bertubuh kekar itu menggaruk kepala masing-masing. Tiga bulan bekerja dengan Renata benar-benar menurunkan reputasinya sebagai bodyguard. Dulu mereka yang bekerja dengan penuh tantangan, kini mirip anak SD yang hanya bermain-main. 

__ADS_1


__ADS_2