Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Musibah yang bersamaan


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Seperti biasa, setiap pagi Bagas datang ke apartemen untuk menjemput Renata. Jika hari kemarin mereka masih disibukkan dengan pekerjaan, hari ini berbeda. Bagas dan Renata akan sibuk dengan persiapan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. 


Bagas dan Renata adalah pasangan yang sangat serasi. Begitulah orang-orang memandangnya. Keduanya terus memamerkan kemesraan yang semakin erat. 


"Ternyata kamu lebih cantik seperti ini," puji Bagas melihat Renata yang baru keluar dari kamar. Jika biasanya Renata membiarkan rambutnya terurai panjang, kali ini gadis itu menguncirnya, menampakkan leher jenjangnya. 


"Masa sih, Mas. Biasa saja."


Renata menggeser tubuhnya ke arah kaca yang bertengger di dinding. Menatap bayangannya dari pantulan cermin. Memastikan apa yang diucapkan Bagas itu bukan hanya bualan saja. 


"Iya, dan rasanya aku pengen gigit." 


Renata mendengus, menyudahi dandannya. Menghampiri Bagas yang duduk dengan senyum licik. "Ayo berangkat, nanti kesiangan."


Sebelum ke butik, Bagas mampir ke kantor karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebenarnya Renata enggan untuk masuk, meskipun semua orang tahu dengan posisinya saat ini, baginya bertemu dengan mereka adalah  membuka luka lama. 


"Ayo, sekarang kamu adalah calon istriku. Tidak akan ada yang berani menghinamu lagi." 


Bagas melingkarkan tangannya di pinggang Renata. Mereka berjalan bersejajar melewati beberapa karyawan yang berlalu lalang. 


"Selamat pagi Pak, Bu." Sapaan demi sapaan Renata terima. Dunia terbalik begitu cepat, dulu ia yang harus membungkuk ramah pada semua orang. Kini mereka lah yang melakukan itu tanpa disuruh.


Entah, sudah berapa kali ia masuk sebagai calon istri Bagas, nyatanya, kenangan pahit itu masih saja terlintas di otaknya. 


"Mas, kok aku jadi risih," bisik Renata. Melirik ke arah kiri kanan. Tak henti-hentinya karyawan menyapanya dengan panggilan, nyonya. 


"Jangan risih, itulah hidup, terkadang kita ada di bawah terkadang juga di atas." Bagas balas berbisik. 


Hampir saja menekan tombol lift, Jerry berlari kecil dengan beberapa map di tangannya. 


"Ada apa, Jer? Kenapa kamu panik?"


"Maaf, Pak. Ada yang sabotase proyek kita. Semua ludes terbakar dan tidak menyisakan apapun."


"Apa…"


Bak tersambar petir, tubuh Bagas lemas seketika. Seluruh organ tubuhnya seakan mati, Pasalnya proyek itu hampir seratus persen jadi, biaya yang dikeluarkan pun tak sedikit. Pasti akan rugi  puluhan miliar. Bukankah itu kecelakaan yang sangat serius?


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanya Bagas dengan bibir bergetar. Pikirannya mulai keruh dan semrawut. 

__ADS_1


"Saya baru mendapat kabar satu jam yang lalu. Para pekerja tidak melihat pelakunya, saat mereka bangun semua tempat sudah dikepung api."


"Tenang, Mas." Renata memeluk Bagas dengan erat, mengusap keringat yang membasahi setiap jengkal wajah pria itu. Detakan jantung Bagas terdengar jelas di telinga Renata.


"Tapi, Re. Itu satu-satunya proyek yang paling besar, dan aku__" 


"Ssssttt


Renata mendaratkan jari telunjuk di bibir Bagas." Semua harta yang kita miliki hanya titipan, aku tahu ini sangat menyakitkan. Tapi percayalah, setiap perbuatan akan ada balasannya."


Bagas mengusap wajahnya dengan pelan. Membalas pelukan Renata. Mencari kekuatan untuk tetap berdiri kokoh menghadapi semuanya. 


"Jer, jangan kasih tahu mama dan tante, aku takut mereka akan khawatir."


"Baik, Pak." 


Ponsel Renata berdering. Ia segera merogohnya. Ternyata itu adalah Rita, pegawai yang kini menjadi orang kepercayaannya.


"Mas aku terima telepon dulu." Setelah mendapat izin, Renata sedikit menjauh dari Bagas dan Jerry hingga mereka berdua tidak bisa mendengar pembicaraan Renata dan Rita.


"Ada apa, Rit?" 


Renata membulatkan mata. Tak kalah terkejut mendengar musibah yang menimpa cafe miliknya. 


"Lalu,  bagaimana keadaannya?" tanya Renata antusias. 


Tentu saja khawatir melanda. Itu menyangkut dengan nyawa seseorang. Renata tidak mau dituduh menjadi pembunuh dengan sesuatu yang tidak dilakukannya.


"Korban dilarikan ke rumah sakit, tapi ada beberapa pihak keluarga yang menuntut, saya harus bagaimana?" 


"Kamu tenang saja, aku akan ke rumah sakit sekarang, bilang pada mereka kalau aku akan bertanggung jawab." 


"Baik, Bu." 


Sambungan terputus. Melihat Keadaan Bagas saja, Renata merasa kasihan, ia tak mau membebani pria itu dengan musibah yang juga menimpanya. 


Renata memasukkan ponselnya. Memasang wajah se tenang mungkin untuk mengelabui Bagas.


"Mas, gimana kalau ke butik nya kita undur saja, aku ada keperluan sedikit," ucap Renata ragu. 

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" tanya Bagas dengan suara berat.


Kejadian beberapa bulan lalu kembali melintas, di mana Melinda meninggalkannya disaat Bagas runtuh, ia takut itu akan terulang lagi. 


"Aku mau ke cafe, ada urusan sebentar. Nanti kalau sudah selesai, aku balik ke sini."


Bagas mengangguk pelan, meskipun ada sedikit keraguan, ia tak mau berpikir negatif. 


Bagas menatap punggung Renata berlalu melewati pintu depan. 


"Jer, kenapa Renata buru-buru seperti itu, apa di ajuga akan meninggalkanku seperti Melinda?"


Jerry Tersenyum. "Renata itu baik. Tidak mungkin dia meninggalkan bapak hanya karena masalah seperti ini. Sekarang lebih baik kita ke ruangan menunggu penyelidikan."


Setelah turun dari mobil, Renata menghampiri Rita yang sudah menunggunya di depan resepsionis rumah sakit. Wanita itu menjadi tahanan keluarga korban yang saat ini sedang dirawat. 


"Bagaimana keadaan pasien, Rit?" 


"Saya belum tahu, Bu. Dari tadi saya di sini nungguin, Ibu."


Rita mengantar Renata ke ruangan pasien. Kebetulan dokter baru saja keluar. 


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Renata, matanya menatap ke arah seorang pria yang terkapar di atas ranjang. 


"Pasien sudah melewati masa kritis. Sekarang sedang istirahat, untung saja cepat di bawa kesini. Kalau tidak, mungkin racunnya akan menyebar di seluruh organ tubuh," jelas sang dokter. 


"Racun? Maksud dokter pasien tidak keracunan dari bahan makanan, tapi memang ada racun yang dicampur makanannya?"


Dokter yang ada di depan Renata mengangguk. "Racun ini langka dan jarang ditemui. Tapi sangat berbahaya karena bisa membunuh dengan perlahan, mematikan jaringan organ tubuh hingga tidak berfungsi sama sekali." 


Kenapa Kejadian ini bersamaan dengan musibah yang dialami mas Bagas? Apa ada orang yang sengaja mau mencelakaiku dan mas Bagas, tapi siapa? 


"Saya harap ibu Renata mau bertanggung jawab pada keluarga saya, atau saya akan laporkan ke polisi."


Wanita yang ada di samping Renata menangis sesenggukan, mungkin orang yang belum ia kenal itu salah satu keluarga korban. 


"Baik, Bu. Saya akan bertanggung jawab. Kasus ini akan segera kami laporkan. Semoga pelakunya cepat diketahui."


Cobaan apalagi ini, kenapa ada saja yang ingin merenggut kebahagiaanku dan mas Bagas. Tidak mungkin ini perbuatan mas Derya, pasti ada orang luar yang mau menghancurkan usaha kami, tapi siapa?

__ADS_1


Satu-satunya orang yang terbesit di otak Renata adalah kakek Liam.


__ADS_2