Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Makan malam


__ADS_3

Renata pulang membawa sebuah kemenangan dan hadiah yang sangat besar. Ucapan selamat diterima dari beberapa orang yang menyaksikan tayangan di tv. Bukan karena Renata, namun wajah yang sangat familiar, pengusaha muda Bagas yang membuat mereka  langsung bisa mengenal Renata. 


"Semua ini juga atas dukungan calon suami saya," goda Akemi menirukan gaya bicara Renata.


Itu adalah kalimat yang diluncurkan pada pihak yang mewawancarainya. Bagas terkekeh menepuk lengan kekar Akemi yang terus cekikikan. 


"Ternyata pacar kamu hebat." Mengangkat jempol seperti yang dilakukan Bagas setelah Renata memberikan penjelasan tentang lukisannya. 


"Dia tak hanya hebat, tapi juga cantik dan baik."


Seketika Renata mencubit pinggang Bagas hingga membuat sang empu meringis kesakitan. Malu dengan pujian yang menurutnya berlebihan. 


"Sakit, Yang. Awas kamu ya, nanti aku per kaos di kamar."


Renta berlari kecil meninggalkan Bagas yang masih nampak santai bicara dengan Akemi. 


Setibanya di lorong hotel, Renata berpapasan dengan Derya yang baru saja keluar dari salah satu kamar. 


"Renata, kamu baru balik?" tanya Derya. 


Renata diam, menatap koper yang ada di tangan Derya, lalu mengamati penampilan yang lengkap. Hingga jaket pun sudah rapi membalut tubuhnya. Sepertinya pria itu mau pulang. Itulah Renata menebaknya. 


"Mas Derya mau ke mana?" tanya Renata memastikan. 


"Aku mau pulang, ada urusan yang harus aku selesaikan. Oh ya, selamat atas kemenangan kamu. Aku ada hadiah untuk kamu." 


"Apa?" tanya Renata antusias. 


Derya tersenyum ragu, sebenarnya ia belum menyiapkan apapun untuk Renata, dan baru akan memikirkannya di rumah. 


"Nanti kalau Kamu sudah pulang, baru aku kasih," imbuh Derya. 


"Kenapa buru-buru pulang?" tanya Renata melanjutkan.


Suara deheman membuyarkan keduanya. Derya dan Renata menoleh ke arah sumber suara yang ada di depan pintu lift. 


"Mas Bagas," sapa Renata menatap calon suaminya yang berjalan ke arahnya. Dari raut wajahnya nampak sedikit tegang tanpa senyum. 


"Kakek Liam mengundangmu makan malam."


Bagas berbicara ke inti. Hubungan yang masih renggang membuat keduanya masih canggung saat bersikap. 


Renata mematung di tengah-tengah kedua pria gagah yang saling melengos ke kiri dan kanan. Membuang muka untuk tidak saling bertemu. 


"Iya, Mas. Bukankah suatu kehormatan bisa diundang makan malam bersama kakek Liam?" Renata menimpali, ia tak mau Derya pergi begitu saja. 

__ADS_1


Bagas menatap Renata dengan tatapan tidak suka saat membujuk Derya dengan lembut. Mungkin bisa dikatakan cemburu melihat calon istrinya berhubungan baik dengan lawannya. 


Tidak ada jawaban, Derya seperti memikirkan sesuatu yang tidak diketahui Renata dan Bagas. 


"Baiklah, aku akan ikut makan malam di rumah kakek Liam."


Meskipun belum bisa menyatukan mereka, setidaknya Renata lega bisa meluluhkan hati Derya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat. 


Makan malam berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Meja makan itu dipenuhi berbagai menu khas Jepang dan Indo yang pastinya menggugah selera. Dentuman sendok dan piring terus beriringan menghiasi telinga. 


Sesekali Renata melirik Gina yang terus tersenyum saat menatap Bagas. Lagi-lagi ia menangkap sesuatu yang aneh di balik bibirnya yang berwarna pink. 


"Apa kamu suka makanannya, Re?" tanya kakek Liam mencairkan suasana. 


"Suka, Kek. Apalagi yang ini." 


Renata mengambil sushi dan melahapnya.


Bagas tersenyum. Melihat sesuatu di sudut bibir Renata, dengan sigap ia mengambil tisu dan mengelapnya membuat dada Gina semakin terbakar api cemburu. 


"Berapa hari lagi kalian di sini?" tanya Kakek. Entah pada siapa, Derya dan Bagas saling tatap, sedangkan Renata sibuk menyantap makanannya yang tinggal sedikit. 


Renata melongo, menatap pria yang ada di sisinya dan di depannya bergantian. 


"Cepat banget, bagaimana kalau kalian seminggu lagi di sini. Tenang saja, untuk biayanya biar aku yang tanggung," tawar kakek Liam menekankan. 


Bagas berbisik, meminta persetujuan dari Renata. Namun, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya. Menyerahkan jawaban sepenuhnya pada Bagas. 


"Baiklah, Kek. Nanti aku telepon Jerry dulu, kalau dia bisa memegang perusahaan, aku akan pulang nanti. Tapi kalau tidak bisa, terpaksa aku dan Renata tetap akan pulang." 


"Kalau kamu, Der?"


Derya mengangguk kecil, "Sama."


"Kek, aku mau ke supermarket beli keperluan kuliah," ucap Gina merengek, memotong perbincangan kakek Liam. Matanya terus melirik Bagas yang menghabiskan minumannya. 


"Pergi saja!" titah Kakek Liam. 


"Tapi ini sudah malam, aku maunya diantar mas Bagas."


Uhuk Uhuk 

__ADS_1


Renata tersedak makanan hingga Derya dan Bagas terkejut. Menyodorkan minuman bersamaan di depan Renata. 


"Kalau makan pelan-pelan." 


Renata menerima gelas dari tangan Bagas dan meminumnya. Meskipun kecewa, Derya tetap menerima kenyataan. Tak bisa berbuat lebih mengingat bahwa Renata adalah milik Bagas. 


"Kenapa harus aku?" tanya Bagas antusias. 


Pasalnya, di rumah kakek Liam tidak kekurangan orang. Banyak bodyguard dan penjaga, supir pun ada beberapa dan juga pegawai lainnya. 


"Aku maunya kamu?" pinta Gina mengiba. 


Demi cucu kesayangan, kakek Liam menatap wajah Renata yang menunduk fokus pada makanannya. 


"Re, nggak papa kan Bagas nganterin Gina? Paling cuma sebentar, kamu tunggu di sini saja dulu." 


Bagaimana bisa Renata menolak permintaan kakek Liam, orang yang sangat baik padanya dan beberapa jam yang lalu sudah memberikan hadiah. Renata mengangguk tanpa suara. 


Sama seperti Renata, Bagas pun langsung pamit pergi bersama Gina. 


Hampir lima belas menit membelah jalanan yang lumayan gelap, Gina belum juga mengatakan tempat tujuannya. Setiap Bagas bertanya, ia hanya menjawab sebentar lagi sampai dan begitu seterusnya. 


"Mas, kita mampir kesana yuk! Sebentar saja." Gina menunjuk sebuah cafe yang ada di tengah danau. Sangat indah di nikmati malam hari di cuaca yang lumayan dingin. 


"Katanya kamu mau ke supermarket? Kenapa harus ke cafe dulu?" protes Bagas tanpa menghentikan laju mobilnya. 


"Sebentar saja, Mas. Setelah ini kita ke supermarket." Bagas tak mau berdebat, ia menuruti permintaan Gina yang sangat konyol. 


Hampir tiga jam Renata menunggu. Malam semakin sunyi mencengkam. Rumah kakek Liam sedikit sepi, hanya ada beberapa penjaga yang berlalu lalang mengitari rumah. Belum ada tanda-tanda Bagas pulang, pria itu pun tak menghubungi Renata sekedar memberi kabar.


"Re, kakek ke kamar dulu, kalau kamu ngantuk boleh tidur di kamar itu." Kakek Liam menunjuk kamar mewah yang ada di sisi kiri kamarnya. 


Renata hanya mengangguk. 


Mas, kamu kemana sih, kenapa nggak pulang-pulang? 


Dada Renata bergemuruh hebat. Ia teringat dengan sikap Gina yang selalu mencari perhatian pada Bagas. 


Apa sebenarnya yang direncanakan Gina? 


Derya datang menghampiri Renata yang duduk di sofa depan. Sebenarnya pria itu tak pulang saat Bagas pergi, ingin memastikan jika Bagas tepat waktu. Namun, kenyataannya lain, bahkan Bagas seperti mengabaikan Renata. 


"Re, lebih baik kamu pulang dulu, ini sudah larut malam, aku takut kamu masuk angin."


Perhatian Derya membuat Renata tersentuh. 

__ADS_1


Tak kuat menahan kantuk, Renata memilih pulang bersama Derya daripada menunggu kedatangan Bagas yang belum pasti. 


__ADS_2