
Sudah saatnya untuk membuka semuanya. Sebuah fakta harus diungkap sebelum tenggelam dan menghanyutkan. Pulang dari galeri, Akio dan Mondi membawa dua lukisan indah yang terbungkus rapi, sangat membanggakan bagi kakek Liam dilukis oleh sang cucu yang pernah menjadi juara.
"Itu apa, Kek?" tanya Gina yang baru saja masuk ke kamar kakek Liam.
Gadis itu tampak penasaran dan memegang dua pigura yang masih tertutup rapat.
"Lukisan kakek dan nenek, juga anak kakek dan istrinya." Tersenyum renyah mengingat wajah lucu Renata setelah menyelesaikan misinya.
Gina membelalakkan mata, mendekati kakek yang duduk di tepi ranjang. Ia menatap kakek seakan meminta penjelasan.
"Anak, itu berarti orang tuaku?" tukas Gina. Selama ini kakek Liam tak pernah menyinggung perihal kedua orang tuanya.
Kakek Liam tersenyum tipis.
Mungkin ini saatnya aku bilang ke Gina kalau Renata adalah cucuku.
"Akio, Mondi, kalian keluar dulu!" titah Kakek Liam pada dua bodyguardnya.
Ada apa ini? Sepertinya ada sesuatu yang serius, tapi apa.
Gina mulai menerka-nerka melihat wajah kakek Liam yang terus menatap dua lukisan itu.
"Sebenarnya kamu bukan cucu kandung kakek."
Itu adalah tamparan keras. Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas di otaknya. Sejak kecil, bahkan dari bayi Ia hidup bersama kakek Liam. Tidak pernah ada ucapan apapun yang membuatnya sangat yakin akan statusnya sebagai cucu satu-satunya. Namun, kini ia mengetahui kenapa semua harta kakek Liam masih belum pindah ke tangannya.
"Maksud, Kakek?" ucap Gina gugup menahan dadanya yang terus bergemuruh.
Kakek Liam menepuk punggung tangan Gina yang terasa dingin. Ada guratan ketakutan di wajah gadis itu. Kakek Liam selalu memanjakannya, memberikan apapun yang Gina mau, dan selalu mengorbankan kebahagian orang lain demi dirinya. Tapi saat ini, ia tak bisa lagi melakukan itu semua. Tidak bisa menuruti semua keinginan Gina, apalagi saat menyangkut Renata.
"Dulu kakek kamu adalah pengawal kakek. Sebelum meninggal dia menitipkan kamu pada kakek, cucu satu-satunya. Ibumu meninggal setelah melahirkan, sedangkan ayah kamu pergi entah kemana. Karena kasihan, kakek membesarkan kamu. Dia tahu kalau kakek butuh teman setelah kepergian anak kakek yang tak kunjung pulang. Dia itu sangat peduli pada kakek."
Hening sejenak, mengenang kehidupan di masa lalu yang penuh dengan drama. Kebahagiaan kecil yang sempat menutup luka. Kakek Liam sedikit lega, akhirnya ia bisa mengungkap rahasia yang dipendam berhari-hari, meskipun itu pasti akan menyakiti Gina, namun itulah sebuah fakta yang nyata.
"Sekarang kakek sudah menemukan cucu kandung kakek. Dia tumbuh tanpa kasih sayang kakek. Dia bisa mandiri tanpa kekayaan dari kakek. Kini saatnya kakek menyayanginya di sisa hidup kakek."
Butiran bening lolos membasahi pipi kakek Liam. Tak bisa melupakan apa yang pernah ia lakukan pada Renata.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Gina dengan bibir bergetar. Rasa takut mulai menyeruak membuat dadanya sesak.
"Renata Nicholas, dia adalah cucu kandung kakek yang selama ini kakek cari. Dia putri dari anak kakek yang pergi dua puluh tujuh tahun lalu."
Gina membisu, ia tak bisa berkutik mendengar penjelasan kakek Liam. Tak mungkin ia bisa membantah ataupun mengelak. Kakek Liam bukan orang bodoh yang akan mengakui orang lain begitu saja tanpa bukti yang kuat.
"Tapi kamu tenang saja, kakek tetap menganggapmu sebagai cucu kakek. Kamu akan tetap menyandang gelar Nicholas."
Tidak semudah itu untuk bisa menerima kenyataan. Hati Gina bak teriris seribu pisau mendengar penjelasan kakek Liam.
"Aku permisi."
Gina meninggalkan kakek Liam. Pikirannya langsung buntu, tatapannya kosong, seakan dunia menjatuhkannya dalam sekejap di dasar lautan terdalam.
Meskipun kakek Liam masih mengakuinya dan memberikan marga Nicholas untuk Gina, ia tetap merasa insecure pada Renata, gadis yang sangat ia benci.
Masuk ke kamarnya dan duduk di sofa.
"Kenapa harus Renata cucunya kakek, aku sangat membencinya. Karena dia, aku tidak bisa mendapatkan mas Bagas."
Gina melempar semua bantal yang tertata rapi. Membanting peralatan make up yang berjejer di depan meja rias. Memporak porandakan kamar yang beberapa waktu lalu dibersihkan oleh cleaning service. Hampir semua isi kamar itu teronggok di lantai menjadi pelampiasan Gina.
Usai dari galeri, Bagas dan Renata ke rumah Nino. Bodyguard kakek Liam sedikit ketar-ketir atas kunjungan itu, takut semua terbongkar sebelum waktunya, yakni sebelum mereka menikah.
"Apa kamu yakin ini rumah Nino?" tanya Renata pada sang sopir.
Bagas menyembulkan kepalanya. Menatap rumah sederhana yang tampak asri.
"Yakin, Nona. Ini rumah Nino."
Renata dan Bagas turun, tetap diikuti pengawal. Berjalan pelan menghampiri anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan usang di depan rumah.
Aku tidak bisa memisahkan mereka. Aku tahu rasanya hidup tanpa orang tua, menyakitkan. Aku tidak mau itu terjadi pada orang lain.
Renata duduk di depan bocah kecil yang nampak cuek padanya.
"Hai, siapa nama kamu?" tanya Renata mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Angga, Tante," jawab bocah itu singkat. Menerima uluran tangan Renata dan mencium nya.
"Di mana ibu kamu?" tanya Renata menatap pintu rumah yang sedikit terbuka.
Angga hanya menunjuk ke arah rumahnya tanpa suara.
"Ya sudah, sekarang kamu main sama om dulu, tante mau bertemu ibu kamu."
Renata mengusap pucuk kepala Angga lalu berdiri lagi.
"Kamu yakin masuk sendirian?" Bagas sedikit cemas.
"Mas, aku hanya mau bilang pada istrinya, kalau kita akan membebaskan Nino, kasihan anaknya. Dia juga butuh orang tua yang lengkap."
Bagas mengangguk setuju. Dari lubuk hati yang terdalam. Ia pun kasihan saat melihat Angga di kantor polisi.
"Permisi…" seru Renata sembari mengetuk pintu.
Seorang wanita yang memakai daster rumahan keluar menghampirinya.
Ada tatapan mengintimidasi yang dirasakan Renata. Saling membisu hingga akhirnya Renata yang melambaikan tangan lebih dulu.
"Selamat siang, Bu," sapa Renata dengan ramah.
"Siang." Wanita itu menatap Bagas yang asyik bermain dengan Angga lalu mempersilahkan Renata masuk.
Mata Renata menyusuri setiap sudut isi rumah. Mulai dari beberapa lukisan yang terpajang di dinding dan juga beberapa perabot yang sepertinya sepadan dengan rumahnya. Tidak ada yang mencurigakan. Dari tatanan setiap ruangan juga menunjukkan jika mereka benar-benar dari kalanngan bawah.
"Kamu siapa?" tanya wanita itu menyelidik.
"Kenal kan, Bu. Nama saya Renata, tujuan saya datang ke sini ingin tahu tentang pak Nino."
"Mama saya Mira, istrinya mas Nino," jawabnya singkat. Wajahnya nampak meredup saat Renata menyebutkan nama suaminya.
"Apa ibu yakin kalau pak Nino itu hanya bekerja sebagai buruh?"
Mira mengangguk tanpa suara.
__ADS_1
"Tapi kenapa dia mau menjatuhkan saya dan mas Bagas, padahal kami tidak mengenalnya."
"Maaf, saya tidak tahu apa-apa tentang itu, silahkan bicara dengan mas Nino sendiri. Sekarang dia ada di penjara."