Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Membongkar rahasia


__ADS_3

Kakek Liam termenung. Tatapannya kosong. Meskipun sudah di selimuti kebahagiaan, ternyata hatinya masih gusar karena sebuah rahasia pahit yang masih di pendamnya. Bimbang, antara jujur atau dibawa mati sampai ke liang kubur. 


Seandainya Renata tahu, apa dia akan memaafkanku. Tapi aku tidak bisa diam saja, aku sudah bersalah padanya, semua harus diluruskan sebelum aku meninggal. 


Kakek Liam merogoh ponsel dan menghubungi seseorang. Tak berselang lama Akio dan Mondi masuk. Mereka mematung di belakang kakek Liam menunggu perintah pria itu. 


"Aku ingin jujur pada Renata, apapun yang terjadi dia harus tahu kalau aku yang pernah menyabotase makanan di cafe nya." 


"Tapi, Tuan __" 


Kakek Liam mengangkat tangannya, menyela Akio untuk tidak melanjutkan ucapannya. 


"Sekarang Kalian panggil Renata, aku ingin bertemu dengannya," titah kakek Liam yang tidak bisa dibantah Akio dan Mondi. 


Setelah Akio dan Mondi menghilang di balik pintu, kakek Liam memegang dadanya yang terasa nyeri. Berjalan tertatih-tatih menuju ranjang. Sudah dua hari kesehatan kakek Liam kurang baik. Namun, ia menutupi dari semua orang, termasuk Renata dan Bagas. 


Mondi dan Akio masuk ke mobil. Ia tidak berniat menjalankannya, kedua bodyguard itu memikirkan perintah yang menurut mereka sangat berat. 


"Bagaimana kalau kita bilang ke Tuan kalau nona Renata sudah  memaafkannya dan tidak perlu bertemu," ide Akio. 


"Tuan Liam bukan orang bodoh, pasti dia akan mencari tahu lagi. Apapun yang terjadi, kita harus menjalankan perintah," sambung Mondi menyalakan mesin mobil dan melaju begitu kencang, menerobos jalanan yang penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. 


Semoga Nona mau memaafkan Tuan. Dia sudah membebaskan Nino, itu artinya dia akan memaafkan siapapun dalang dari semua ini. 


Akio memantapkan hati untuk segera bertemu dengan Renata seperti perintah kakek Liam. 


Setibanya di halaman rumah Bagas, Akio dan Mondi tak langsung turun, mereka mengusir rasa ragu yang mengendap, ada ketakutan yang menghantui hingga tak bisa membuat mereka berpikir jernih. 


"Yakinlah kalau nona akan memaafkan Tuan Liam." 


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Renata dan Bagas keluar dari rumah bersamaan saat  Akio dan Mondi turun dari mobil. Mereka berpapasan di teras rumah. 


"Om Akio kangen sama aku, minta di kerjain lagi," goda Renata ketawa-ketiwi. 


Akio dan Mondi melangkah mundur lalu menggeleng. "Kami ke sini atas perintah Tuan Liam, beliau meminta nona datang ke rumah." 

__ADS_1


Renata mengerutkan alis. Pasalnya, semalam Ia baru dari sana, dan tidak biasanya Kakek Liam ingin  bertemu Dengannya di pagi buta. 


"Ada apa?" tanya Renata penasaran. 


"Tidak ada apa-apa Nona, beliau hanya ingin bertemu, Anda." 


"Baiklah, aku akan pergi ke sana, tapi aku tidak mau satu mobil dengan kalian," ucap Renata melewati kedua tubuh kekar Akio dan Mondi.


Nona boleh membenciku, tapi jangan benci kakek Nona sendiri.


...****************...


Renata langsung masuk ke kamar Kakek Liam. Ia mendapati tubuh ringkih itu berbaring dengan tertutup selimut tebal. Rambutnya putih serta kulitnya yang keriput. Badannya sedikit kurus hingga beberapa tulang nampak menonjol.


Renata mendekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mengulur menyentuh tangan sang kakek yang bersedekap.


Kakek Liam membuka matanya dan tersenyum. Seutas kebahagiaan kembali muncul ketika cucunya itu duduk di dekatnya. 


"Ada apa kakek memanggilku?" tanya Renata dengan pelan. 


"Kakek ingin bicara sama kamu, ini penting sekali." 


"Masalah apa?" tanya Renata lagi."


Kakek Liam menatap Bagas yang berdiri di sisi ranjang, lalu menatap Renata. Penyesalan yang tiada ujung Ia rasakan. Meskipun semuanya sudah ditebus dengan uang, tetap saja Kakek Liam merasa bersalah dengan apa yang pernah dilakukannya. "Katakan saja, Kek," tanya Renata lagi. 


"Ini tentang kejadian di cafe kamu. Apa kamu masih ingat?"


Renata mencoba memutar otaknya, mengingat apa saja yang pernah terjadi di cafe nya. Satu-satunya kejadian yang masih terlintas hingga saat ini adalah seseorang yang sengaja meracuni dan ingin menjatuhkannya. 


"Iya, Kek. Aku ingat, tapi orangnya sudah tertangkap," jawab Renata cerdas. 


"Maksud kamu Nino?" tanya Kakek Liam. 


Renata mengangguk tanpa suara. 

__ADS_1


"Apa kamu juga ingat, kejadian yang menimpa kamu, Gas?" 


"Ingat, Kek. Proyek aku terbakar, pelakunya juga orang yang sama seperti di cafe, tapi Renata sudah memaafkannya. Dia sudah keluar dari penjara." Bagas menjelaskan panjang lebar. 


Kakek Liam menghela napas panjang. Mengumpulkan semua keberaniannya. Menyiapkan hati dan mentalnya. Apapun yang terjadi, kejujuran yang akan membuat hidupnya tenang, dan Ingin suatu saat mati tidak diburu dengan dosa. 


"Sebenarnya kakek yang melakukannya," ucap kakek dengan bibir gemetar. Ponsel yang ada di tangan Renata jatuh seketika. Selama ini ia tidak pernah mempunyai pikiran jika Kakeknya sendiri yang melakukan itu.


Meskipun saat itu belum tahu fakta yang sebenarnya, Tidak sepantasnya public figure seorang kakek Liam melakukan hal yang kotor. Renata langsung beranjak mendekati Bagas, ia terus menggeleng menatap wajah layu sang kakek. Seakan masih tak percaya dengan apa yang terucap dari bibir Kakek Liam. 


"Maafkan kakek, maafkan kakek," ucap kakek  penuh penyesalan. Bukan hanya Renata,  Bagas pun tak  percaya dengan semua itu. Ini seperti sebuah mimpi baginya.


Renata pikir dalang semua itu adalah lawan bisnis Bagas, tapi ternyata hanya karena masalah pribadi kakek Liam tega menghancurkan mereka. 


"Kakek jangan bercanda?" tanya Renata  antusias. Ia ingin Kakek Liam meralat ucapannya. Antara marah dan benci, jika apa yang dikatakan kakek Liam itu adalah fakta yang sebenarnya. 


"Semua yang dilakukan Nino adalah perintah dari kakek, dia hanya menjalankan tugas. Sekarang terserah. Apapun keputusan kalian, kakek terima. Kakek siap menghabiskan susa hidup di penjara." 


Ternyata orang yang keji itu adalah kakekku sendiri, apa yang harus aku lakukan?


"Aku benci kakek, Aku benci…" teriak Renata sambil berlari keluar. Tak sanggup lagi untuk menatap wajah kakek Liam. Hanya akan ada kebencian yang tersirat.


"Kamu kejar Renata, Gas. Jangan biarkan dia kenapa-napa."


Bagas hanya mengangguk dan berlari kecil mengikuti Renata.


 Tiba-tiba kakek Liam merasakan sakit di bagian dadanya. Merasa tidak kuat dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. 


Akio dan Mondi berlari masuk. Mengangkat tubuh kakek Liam dan membaringkan di atas ranjang. 


"Kalian jangan bilang pada Renata kalau aku sakit. Seandainya ajalku tiba, kalian cukup meminta maaf pada Renata atas nama ku. Katakan padanya kalau aku sangat menyayanginya. Katakan padanya aku menyesal sudah pernah menyakitinya." 


Buliran bening mengalir dengan deras membasahi pipi kakek Liam. Napasnya mulai tersengal hingga pria itu memejamkan matanya.


"Bangun, Tuan!" Akio menepuk-nepuk pipi kakek Liam, sedangkan Mondi memeriksa denyut nadinya.

__ADS_1


__ADS_2