
Bagas tidak menyerah begitu saja. Pasalnya, junior sudah terlalu lelah untuk menunggu. Meronta-ronta membuatnya tak tahan lagi.
"Sayang, bangun!" Entah berapa kali berbisik, Bagas terus mencoba membangunkan Renata yang tenggelam di alam mimpi.
Menggaruk kepala yang tidak gatal. Menatap rambut panjang sang istri dari arah belakang. Menjernihkan otaknya sejenak untuk mencari cara yang jitu.
Bagas melompat dari ranjang, berlari kecil dan masuk ke kamar mandi. Mengisi bathtup dengan air hangat, tak lupa mencampur dengan sabun wangi aroma terapi. Setelah penuh, Bagas pun keluar menghampiri Renata.
"Maaf ya, aku gangguin kamu." Bagas menyibak selimut lalu tertawa saat melihat tubuh polos istrinya.
Kini hanya celana segitiga yang melekat di bagian sensitif Renata. Mengangkat tubuh mungil Renata dan membawanya ke kamar mandi.
Merasa terguncang dan melayang, akhirnya Renata membuka mata. Menatap langit-langit ruangan yang ditempati. Hembusan napas Bagas menerpa wajahnya yang kini mulai sadar.
"Mas, aku mau dibawa ke mana?" tanya Renata dengan suara serak.
"Kita mandi dulu, badanmu lengket." Alasan, namun juga masuk akal.
Menjerit pun percuma, Bagas pasti sudah melihat semuanya. Renata hanya menahan malu saat Bagas terus menatapnya.
Bagas menurunkan Renata di dalam bak mandi dengan pelan. Setelah itu dirinya pun melepas semua bajunya kecuali celana bokser sebagai penutup burungnya yang ingin terbang.
Berendam di air hangat ternyata tak kalah nyaman dengan pijatan Bu Darmi beberapa waktu lalu.
Bagas ikut masuk hingga menimbulkan riak air. Ia duduk di belakang Renata. Kedua kakinya menghimpit tubuh sang istri yang menciptakan rasa geli.
Awalnya Bagas ingin berendam bersama dengan waktu yang lama. Nyatanya, posisi mereka saat ini membuatnya tak bisa bertahan. Junior yang masih terbungkus rapi sudah mulai memberontak saat kepala Renata bersandar di dadanya.
Ada rasa aneh yang menjalar membuat Bagas bergetar. Ia merengkuh tubuh Renata hingga menyentuh dua benda kenyal. Memainkannya pelan yang membuat Renata mendesis.
Apa ini, kenapa rasanya seperti ini?
__ADS_1
Renata heran dengan rasa yang mulai menyeruak di dadanya. Sensasi-sensasi baru mulai merambat. Merespon sentuhan Bagas yang sangat lembut. Pria itu nampak lihai dengan aksinya.
Persetan dengan berendam, Bagas sudah tak mampu untuk bertahan lama, ia berdiri dan keluar. Beralih mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Begitu juga dengan Renata yang mengikutinya dari belakang. Di momen pertama ini Bagas tak mau menjamah istrinya dengan asal. Ia harus memberi kenikmatan untuk Renata yang tidak bisa dilupakan sampai kapanpun.
"Maaf ya, kalau kamu tidak nyaman," ucap Bagas merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku paham kok," jawab Renata menerima handuk dari Bagas. Ia tak membesarkan masalah itu meskipun jantungnya sendiri sudah berirama tak karuan.
Kali ini Renata hanya memakai handuk yang menutup bagian dada hingga paha, sedangkan Bagas memakai handuk yang melilit di perutnya.
Rencana yang Bagas rancang dengan teliti berubah total, semua tak sesuai ekspektasi nya yang akan lancar. Nyatanya, berbagai halangan membuat malam pengantin itu penuh drama.
Renata berjalan ke arah walk in closet, namun Bagas menghentikannya dan memeluk dari belakang.
"Tidak usah ganti baju, kita akan melakukannya sekarang."
Bibir Bagas kembali nakal. Menciumi bahu Renata. Tak peduli dengan rambut keduanya yang masih basah. Mereka melanjutkan aksinya yang beberapa waktu lalu terjeda. Merasa siap dengan permintaan suaminya, Renata pun mengikuti tanpa membantah.
Dalam sekejap, Bagas sudah membuang handuk Renata. Kini keduanya hanya tertutup selimut tebal. Dinginnya ac tak lagi berpengaruh. Penyatuan yang butuh perjuangan ekstra. Butuh konsentrasi dan tenaga lebih. Ternyata tak semudah seperti cerita di novel-novel, dalam satu kali hentakan sudah berhasil.
Hampir lima belas menit Bagas masih kesulitan. Merasakan juniornya sedikit ngilu saat ingin menerobos masuk ke liang sempit milik istrinya. Namun, ia juga kasihan pada Renata yang terlanjur menangis. Tak mungkin ia menghentikan misi nya di tengah jalan.
Harus berhasil harus berhasil. Itulah kata hatinya hingga Bagas kembali melanjutkan aksinya.
"Sayang, aku minta maaf," ucap Bagas di telinga Renata. Mengusap cairan bening yang membasahi pelipis istrinya.
Renata mengangguk pelan dan tersenyum. Sebagai seorang istri, ia pun tak ingin membuat Bagas kecewa. Malam pertama pasti impian setiap laki-laki normal, dan ia ingin Bagas merasakannya malam itu juga.
Sebagai bentuk apresiasi, Renata pun memberi semangat pada Bagas meskipun rasa junior mulai menghantam dan membuatnya meringis.
Aku harus bisa.
__ADS_1
Setelah beberapa kali hentakan, akhirnya Bagas bisa menerobos gawang. Jeritan Renata menghiasi keheningan malam. Wajahnya memerah saat merasakan sesuatu itu masuk dengan sempurna di bawah sana.
Bagas tidak tinggal diam. Ia berusaha meredakan rasa sakit yang menyelimuti Renata. Menyatukan bibirnya lagi.
Memberi sensasi baru supaya sang istri bisa menikmati permainannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Bagas berhasil menanam benih di rahim Renata. Tenaganya terkuras habis demi memenuhi kewajiban perdana nya. Ia tergolek lemas, saling mengatur napas yang sempat menderu karena pergulatan panas yang mengasyikkan. Ucapan terima kasih pun bertubi-tubi Bagas lontarkan pada Renata yang sudah melayaninya sepenuh hati.
Bagas sedikit menggeser tubuhnya. Meletakkan kepala Renata di lengannya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Kamu milikku," ucap Bagas mengusap peluh yang membasahi kening Renata.
Mantan perawan itu hanya mengangguk kecil. Menahan rasa sakit yang luar biasa, tapi juga nikmat tiada tara.
Biasanya seorang laki-laki akan melakukan malam pertama itu sampai dua atau tiga ronde.
Tontonan di youtube yang tadi siang Renata lihat bagaikan hantu yang membuatnya takut, takut itu terjadi padanya.
Bulu halus Renata merinding, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika itu sampai benar-benar dilakukan Bagas. Sebelum terjadi, ia melayangkan permintaan.
"Mas, apa aku boleh meminta sesuatu?" ucap Renata ragu.
"Boleh, selama aku bisa, pasti aku penuhi," jawab Bagas mengecup pipi Renata dengan kilat.
"Aku ingin malam ini satu kali saja, setelah sakitnya hilang, terserah mas mau berapa kali, aku siap."
Bagas mengatupkan bibirnya menahan tawa. Wajah Renata nampak menggemaskan saat dibalut rasa takut.
"Iya, kita tidur sekarang." Memeluk tubuh Renata dengan erat.
Dalam hitungan detik, Renata kembali terlelap, tubuhnya sedikit terasa remuk dengan ulah Bagas yang sangat antusias.
__ADS_1
Bagas ikut terlelap, mengembalikan tenaganya sebelum besok bergulat yang lebih memanas lagi. Berharap Bagas junior cepat bersemayam di rahim istrinya.