
Mempunyai pemikiran lebih dewasa membuat Renata bijak. Apalagi kakek Liam sendiri yang sudah menyatukan antara dirinya dan Gina. Tidak mungkin ia menolak ataupun sombong, meskipun ia adalah cucu yang sebenarnya, Gina lah yang sudah hidup bersama kakek Liam dari kecil. Menemaninya kala sepi melanda.
Renata beranjak, mendekati Gina. Wanita yang memakai dress berwarna putih itu duduk di samping Gina. Dandanannya mencerminkan hatinya yang bersih seperti embun pagi.
Derya pun menggeser duduknya, memberi ruang pada Renata.
"Kamu dengar apa kata kakek?" tanya Renata. Menepuk-nepuk punggung tangan Gina.
"Kita adalah saudara, tidak ada gunanya saling bermusuhan. Aku minta maaf jika ada salah sama kamu."
Mata Gina berkaca. Di depannya itu adalah wanita yang paling ia benci. Bahkan Gina ingin membuat hidupnya hancur. Namun, fakta membalikkan keadaan.
"Jika kamu tidak mau memanggilku kakak, tidak apa-apa, tapi aku harap kamu memenuhi permintaan kakek, menganggapku saudara."
Setelah merasa cukup, Renata berdiri. Menahan air mata yang hampir lolos.
"Mas, aku ingin ke kamar," ucap Renata dengan bibir bergetar.
Diterima atau tidak, yang terpenting sudah melakukan kewajibannya sebagai saudara yang lebih tua.
"Tunggu!"
Suara itu menghentikan langkah Renata dan Bagas Yang sudah berada di belakang pintu.
Renata tersenyum kecil tanpa menoleh. Dentuman sepatu dan lantai terdengar semakin mendekat. Bagas mundur satu langkah.
"Aku yang seharusnya minta maaf," ucap Gina tanpa ragu.
Seketika Renata menoleh, menatap Gina dengan lekat. Tidak ada yang berbeda dengan wajah gadis itu. Namun, dari tutur sapanya sangat jauh berbeda saat mereka bertemu di Jepang.
"Tidak seharusnya aku merebut mas Bagas yang sudah jelas menjadi tunangan, Kakak."
Renata merasa terenyuh, panggilan yang disematkan Gina membuatnya bahagia. Keikhlasan hatinya untuk menerima dan membuka hubungan baru kini terjawab sudah. Usahanya tidak sia-sia, ketulusannya tak bertepuk sebelah tangan. Gina pun nampak menerima tali persaudaraan yang disambung oleh kakek Liam.
"Itu wajar, karena mas Bagas tampan, banyak wanita yang menginginkannya termasuk kamu dan mantan dia." Melirik Bagas yang mengerutkan alis. "Tapi jodoh ada di tangan Tuhan, dan tidak akan tertukar."
__ADS_1
Gina berhamburan memeluk tubuh Renata. Tak henti-hentinya menitikkan air mata bahagia. Tidak pernah terbesit dalam otaknya jika hubungannya dan Renata semakin erat.
Ternyata kak Renata sangat baik, aku tidak tahu bagaimana kehidupannya dulu, tapi aku ingin mengikuti jejaknya, sebagai perempuan yang mandiri dan tidak mengandalkan harta kakek.
"Kak, aku ingin belajar melukis," ucap Gina tanpa melepaskan pelukannya.
"Memangnya kamu nggak bisa melukis?" tanya Renata memastikan, menatap kakek Liam yang sibuk menyeka air matanya.
Gina menggeleng tanpa suara. Selama ini ia tak pernah peduli dengan lukisan. Bahkan kakinya pun tidak pernah menginjak galeri kakek Liam jika tak ada acara penting.
Bagas memberi kode pada Renata. Pria itu menyungutkan kepalanya ke arah Derya yang masih setia duduk di sofa.
"Tenang saja, sudah ada yang siap membantumu kapanpun."
"Siapa?" tanya Gina penasaran.
"Mas Derya."
Seketika Derya menatap Renata dan menggeleng.
"Sebentar lagi kalian Menikah, dan mas Derya siap membantumu siang dan malam," cetus Renata yang membuat wajah Gina merona malu.
Setelah pamit, Bagas dan Renata keluar dari kamar kakek Liam. Membawa kebahagiaan yang tak pernah ia sangka.
Bukan lagi ke kamar yang ia tempati semalam melainkan benar-benar keluar dari hotel.
"Kita kemana, Sayang!" tanya Bagas. Menghampiri Akio yang mematung di samping mobil mewah milik kakek Liam. Semenjak resmi menjadi keluarga Nicholas, mereka berdua kini tak bisa keluar sendiri, dan harus dengan pengawal.
"Pulang ke rumah mama, pasti dia kesepian karena ams nggak tidur di rumah. Aku nggak mau dibilang merebut mas darinya," canda Renata.
Seperti perintah Renata, Mondi melajukan mobilnya ke arah rumah Bagas. Dalam perjalanan, canda tawa pun tercipta. Renata tidak ingin seperti kakek Liam yang selalu serius menghadapi bodyguardnya yang membuat semua orang takut padanya.
Setibanya di depan supermarket, Renata meminta Mondi menelanjan laju mobilnya. Ia melihat wanita yang tak asing di matanya berdiri di bawah terik matahari yang sangat menyengat.
"Mas, itu kayaknya kak Karin" Menunjuk sang sepupu yang terus mengusap keningnya, sedangkan satu tangannya memegang pinggang.
__ADS_1
Perutnya semakin besar membuat wanita itu lumayan gemuk.
"Mungkin sih, aku lupa wajahanya."
"Non, jangan turun!" cegah Akio saat Renata hampir membuka pintu mobil.
"Tapi itu kakak ku, Pak. Apa aku tidak boleh menemui keluargaku?" Renata balas membentak. Entah lebih enak miskin atau Kaya. Dulu saat dirinya masih menjadi cleaning service di perusahaan Bagas, bebas ke mana saja, tapi sekarang ingin bertemu orang saja harus dengan izin, menjengkelkan.
"Saya tahu, Non. Tapi ini perintah, dan saya tidak bisa membiarkan nona bertemu orang asing."
Renata memukul pundak Akio dan Mondi bergantian, bagaimana menjelaskan pada mereka kalau wanita itu adalah saudaranya, bahkan suaranya saja dianggap angin oleh dua pengawal kakeknya.
Bagas hanya bisa diam menahan tawa, sepertinya istrinya pun lagi sensitif banget.
"Kalau begitu bapak ikutin ojek itu." Menunjuk motor hitam tukang ojek yang sedang memakaikan helm untuk Karin.
Tidak ingin terkena marah, Mondi pun mengikuti ojek yang ditunjuk sang majikan.
Tidak ada yang berubah. Kehidupan bibi dan juga Karin masih sama seperti dulu. Rumah sederhana dengan halaman yang luas. Renata membuka kaca mobil saat Karin berjalan masuk. Hamil tanpa seorang suami, Tak bisa membayangkan, pasti Karin mengalami kesulitan yang menumpuk belum lagi ekonominya pasti sangat sulit.
"Mas, aku ingin bertemu bibi, sebentar saja." Renata izin pada Bagas dan juga kedua pengawal kakek Liam.
Ketiga pria itu diam dan saling tatap. Meskipun sebagai suami, Bagas pun belum bisa sepenuhnya memutuskan langkah yang harus diambil Renata.
"Mas, kamu suami aku, dan mulai hari ini jangan pedulikan kakek karena semua ada di tangan kamu."
Akio dan Mondi terus menatap Bagas yang nampak bingung. Ia juga tak bisa membantu, takut salah.
"Baiklah, aku akan menemani kamu menemui bibi dan Karin."
Kecupan bertubi-tubi mendarat di pipi Bagas dengan lembut dan lama.
Dia yang beruntung, tapi aku yang buntung, gerutu Mondi dan Akio dalam hati masing-masing.
Tangis bibi dan Karin pecah saat melihat Renata dan Bagas di ambang pintu. Penyesalan yang tidak berguna lagi. Hanya bisa berandai-andai dengan waktu yang sudah terlewati.
__ADS_1
Renata memeluk Bibi dengan erat. Se jahat apapun, wanita itu tetap saudara ibunya yang harus di hormati.
"Jangan nangis, Bi. Semoga kak Karin mendapatkan suami yang mencintainya dengan tulus. Jangan khawatir dengan biaya hidup kalian, aku yang akan menanggungnya."