Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Menerima warisan


__ADS_3

Renata termenung. Kejadian di kantor polisi terus terngiang-ngiang di otaknya. Banyak yang menjanggal dengan pengakuan seorang Nino yang hanya bekerja sebagai buruh. Di sisi lain, pembangunan gedung pun sudah dimulai atas nama Nino pula, membingungkan. 


Teka-teki yang belum terpecahkan. 


Renata membuka tirai jendela, mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Setelah kemarin sibuk di kantor polisi dan butik, hari ini waktunya untuk bermalas-malasan, bahkan Renata tak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk Bagas. 


"Enaknya ngapain, ya?" bermonolog memikirkan aktivitas yang bisa menghilangkan jenuh. Cafe sudah aktif kembali. Pekerjaan pun diserahkan pada Rita sebagai orang kepercayaan.


"Ke galeri aja." Renata meraih handuk lalu ke kamar mandi. Baru saja membuka baju, pintu diketuk dari luar. Bu Nurmala teriak tepat di depan pintu kamar mandi. 


"Iya, Bu. Ada apa?" balas Renata berteriak, membuka pintu sedikit lalu menyembulkan kepalanya. 


"Ada kakek Liam, katanya mau bertemu denganmu," ucap Bu Nurmala. 


Renata mengerutkan alisnya. "Ngapain dia ke sini?" tanya Renata antusias, pasalnya itu masih sangat pagi belum waktunya orang bertamu. 


"Ibu juga nggak tahu, dia bersama dua orang, bawa tas besar," ucap Bu Nurmala seperti yang ia lihat. 


"Ya sudah, suruh kakek tunggu sebentar, aku mandi dulu." Renata menutup pintunya kembali, sedangkan Bu Nurmala keluar menemui Kakek Liam. 


Bu Nurmala datang membawa tiga kopi untuk kakek Liam dan yang lain. 


"Maaf, apa saya boleh bertanya?" tanya kakek Liam. Menatap Bu Nurmala dengan lekat, dari awal bertemu, ia belum memperkenalkan diri juga belum tahu sepenuhnya tentang Bu Nurmala. 


Bu Nurmala duduk di sofa berseberangan dengan meja. 


"Silakan, Tuan," sapa Bu Nurmala mengikuti panggilan yang disematkan anak buah kakek Liam. 


"Bagaimana Renata bisa tinggal di sini, apa ibu masih saudara dengan Naomi?"


Bu Nurmala tersenyum kecil lalu menjelaskan semuanya. 


"Tidak, Tuan. Waktu itu saya lihat Renata pingsan di jalanan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Badannya kurus rambutnya acak-acakan, karena tidak ada yang menolong, saya bawa pulang. Setelah sadar, dia tidak mengatakan siapa keluarganya, jadi saya memintanya tinggal di sini. Dan saya mengangkatnya menjadi anak."


Kakek Liam mengangkat tangannya, tidak ingin tahu kisah hidup Renata sebelumnya, pasti menyakitkan. Sendirian tanpa kedua orang tua dan tinggal bersama orang lain. Tanpa kasih sayang yang hangat. Takut penyesalannya akan semakin mendalam jika tahu semuanya.


"Apa Bagas sangat mencintainya?" tanya Kakek Liam lagi. 


Ingin memastikan jika cucunya itu benar-benar menikah dengan orang yang tepat. 

__ADS_1


"Awalnya saya yang menjodohkan mereka. Tapi Bagas menerima nya dengan baik. Bagas juga bilang, katanya Renata berbeda dengan wanita di luaran sana. Sederhana dan tidak banyak permintaan." Bu Nurmala menjelaskan panjang lebar. 


Sekarang semuanya sudah gamblang. Kakek Liam semakin yakin ingin menyerahkan seluruh hartanya untuk Renata. 


"Pagi, Kek," sapa Renata yang baru saja keluar dari kamar. Ia menghampiri Kakek Liam, mencium punggung tangannya, tak lupa memeluknya dengan erat. 


"Ada apa pagi-pagi kakek ke sini?" tanya Renata, mengendurkan pelukannya menatap dua pria yang duduk di sisi kakek Liam. 


Dari wajahnya mereka bukan asli orang indo, terlihat dari kulitnya yang terlalu putih dan matanya yang sipit. 


Kakek Liam menoleh, tanda memerintah pria itu untuk memulai pekerjaannya. 


"Maaf Nona, jika kami mengganggu, Anda. Perkenalkan nama saya Hisao, dan Ini Dai," menunjuk pria disampingnya lagi. "Kami adalah pengacara tuan Liam yang akan membacakan beberapa wasiat beliau."


Renata menatap sang kakek, meminta sebuah penjelasan dengan maksud kedatangan mereka. 


"Kamu cukup dengarkan, dan tanda tangan."


Seperti perintah kakek Liam, Renata diam mendengarkan ucapan dua pengacara itu yang saling bergantian. 


Beberapa map pun dibuka satu-persatu dan dibaca dengan teliti. Sedikit pun tak meninggalkan kalimat yang tertera di atas kertas putih. 


Sudah tiga dokumen di baca. Meskipun isinya berbeda, namun tujuan yang sama, Renata mulai bingung untuk menanggapi semua itu. 


"Jadi kakek mewariskan semua harta kakek untuk aku?" Renata memastikan dengan apa yang di dengar. 


Kakek Liam mengangguk kecil. 


"Tapi aku tidak pernah kuliah. Aku tidak bisa mengelola semua perusahaan itu," tolak Renata. 


Ia tak mau menyalahgunakan harta yang dipercayakan padanya. Bagi Renata  itu hanya akan menambah beban pikiran. Mimpinya untuk menjadi pelukis sudah terwujud. Sebentar lagi ingin mengabdi pada Bagas, bukan yang lain.


"Kan, ada Bagas." Menunjuk pria yang sudah mematung di ambang pintu. 


Pria itu tampak tampan dengan memakai kaos berwarna hitam dengan celana jeans yang senada. Wajahnya cool dengan rambut model baru. 


"Dia yang akan menggantikan semua pekerjaan kakek. Dia akan menjadi menantu keluarga Nicholas." 


Bagas menghampiri dan duduk di samping  Renata. Kakek Liam sengaja menghubunginya untuk datang saat penyerahan harta warisan itu. 

__ADS_1


"Bagaimana dengan Gina, apa dia sudah tahu tentang ini?" 


Kakek Liam menggeleng. "Aku yang akan cerita semuanya. Jangan pikirkan dia, sekarang lebih baik kamu fokus dengan pernikahan. 


Kakek Liam mengingatkan rencana mereka yang sudah delapan puluh persen terlaksana. 


Hening 


Renata masih meresapi setiap perkataan kakek Liam yang terus membujuk untuk menerima keputusannya. 


"Terserah kamu saja, jika kamu merasa nyaman dengan harta itu, tanda tangan. Jika tidak, lebih baik tidak usah  diterima."


Setelah menimbang, akhirnya Renata meraih pulpen dan menandatangani map yang ada di depannya. 


Senyum merekah di bibir kakek Liam. Satu tanggung jawab akhirnya lunas sudah. Kini bebannya sedikit berkurang. Reno Nicholas tidak bisa kembali lagi, namun meninggalkan putri yang kini sudah memiliki seluruh harta warisannya. 


"Di Jepang kakek juga punya tempat liburan yang sangat bagus. Cocok untuk kalian saat bulan madu."


Berbeda dengan Bagas yang langsung antusias menanyakan tempat itu pada  kakek Liam. Renata justru menundukkan kepala, meskipun tinggal menghitung hari, ia tidak pernah berpikir jauh ke sana. 


Ponsel Bagas berdering membuat suasana hening. 


Melinda, ngapain dia menghubungi ku.


"Maaf semuanya, aku terima telepon dulu," pamit Bagas meninggalkan ruang tamu yang masih tampak ramai.


Bagas menggeser layar hijau saat tiba di taman samping.


"Ada apa, Mel?" tanya Bagas dengan nada datar. Tidak ada jawaban. Suara tangis menggema menghiasi telinga Bagas. 


"Halo Mel, kamu kenapa?" tanya Bagas lagi.


Bagas nampak khawatir, selama pacaran dia jarang sekali melihat Melinda menangis. Namun kini, ia mendengar gadis itu sesenggukan. 


"Mas Bagas, tolong aku," ucap Melinda terputus-putus. 


"Iya, kamu kenapa?" tanya Bagas sedikit memekik. Sesekali matanya menatap ke arah dalam. 


"Mas Dicki memukul ku, Mas. Dia jahat padaku."

__ADS_1


Bagas mengingat-ingat nama itu, setelah tiga menit, akhirnya ia tahu jika itu adalah nama tunangan Melinda. 


 


__ADS_2