
Tangis Renata pecah. Tak menyangka, pulang dari Jepang membawa keberhasilan dan kesedihan secara bersamaan. Mematung di samping mobil yang baru saja mengantarkannya. Menatap Bu Nurmala dari kejauhan. Kakinya lentur, seakan tak bisa menggapai tangan seorang ibu yang sudah merenggang.
"Sini, Sayang! Ibu sudah menunggumu dari tadi."
Setelah Renata memberitahu jadwal kepulangannya, Bu Nurmala tak henti-hentinya menatap gerbang.
Renata mengusap air matanya. Sekuat tenaga berlari menghampiri wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu.
Pelukan hangat tercipta. Melepas rindu yang menggebu, sudah satu minggu Renata meninggalkan Bu Nurmala, membuat kesepian yang lama kembali bangkit menerpa.
"Maafkan aku, Bu," ucap Renata tersendat, menahan tangisnya. Mengurai rasa sesak yang hinggap di sepanjang perjalanan. Menahan rasa gemuruh di dadanya.
"Kenapa harus minta maaf!" sahut bu Nurmala mengelus punggung Renata yang bergetar hebat.
Derya turun dari mobil, mendekap sebuah piala indah yang terbuat dari emas. Bu Nurmala sudah tahu tentang kemenangan Renata. Namun, wajah sang ibu berubah datar melihat sosok pria selain Bagas.
Bu Nurmala mengendurkan pelukannya. Menatap wajah Renata yang sedikit pucat. Pasalnya, semenjak melepas cincin dari Bagas, ia belum bisa menelan makanan sedikit pun.
"Kenapa kamu pulang bersama Derya, Bagas mana?" tanya bu Nurmala yang belum tahu hubungan Renata dan sang keponakan.
Tatapannya sinis. Setelah pertikaian antara Bagas dan Derya, Bu Nurmala tak lagi ramah pada pria yang kini ada di depannya.
Derya menunduk. Tahu kesalahan yang pernah diperbuat, ia hanya menyerahkan piala itu pada Renata. Mundur satu langkah sedikit menjauh. Menghindari tatapan Bu Nurmala yang smekain tajam.
"Bu, Nanti aku jelaskan. Sekarang lebih baik ibu masuk dulu," pinta Renata mengiba. Meskipun tak rela melihat kedekatan mereka, Bu Nurmala tetap masuk, menunggu penjelasan selanjutnya.
Renata menghampiri Derya. "Terima kasih karena mas Derya mau mengantarku sampai ke sini. Maaf dengan sikap ibu. Mungkin dia __"
Ucapan Renata terpotong.
"Tidak apa-apa. Semua ini salahku. Jadi tenanglah, aku pulang dulu, Sena pasti sudah menunggu."
Lambaian tangan menjadi saksi. Akhirnya mereka berpisah setelah berjam-jam bersama. Canda tawa pun sempat dirasakan Derya dan Renata selama perjalanan.
"Sampai jumpa. Jangan lupa apartemen," teriak Renata ke arah Bagas yang masih membuka kaca mobil.
Derya hanya mengangguk dan tersenyum.
Renata masuk ke rumah. Meletakkan piala kebanggaannya di meja ruang tengah, tepat di depan Bu Nurmala.
"Ini aku persembahkan untuk Ibu," ucap Renata.
__ADS_1
Bu Nurmala kembali memeluk. Terharu, sekian lama hidup seorang diri, kini ada anak yang memberikan hadiah untuknya.
Hening sejenak, Suara Renata tertahan di kerongkongan, menikmati pelukan hangat dari Bu Nurmala.
Semoga ibu tidak marah dengan keputusanku.
Renata meringsuk. Duduknya semakin dekat, mengikis jarak antara keduanya.
"Aku ingin bicara dengan ibu. Ini penting." Renata bersuara pelan, masih ada keraguan yang membuatnya sulit untuk mengungkapkan semuanya.
"Bicaralah, ibu akan menjadi pendengar setia."
Bu Nurmala tersenyum. Dalam benaknya terbesit jika Renata akan menceritakan perjalanan indahnya selama di Jepang bersama Bagas. Seperti foto yang sempat diunggah beberapa hari yang lalu.
Renata mengumpulkan keberaniannya. Menatap dalam-dalam manik mata Bu Nurmala yang nampak bening. Senyum terus terukir menantikan ungkapan Renata.
"Aku dan mas Bagas putus, Bu," ucap Renata ke pokok masalah.
Bu Nurmala melebarkan senyum. "Jangan bercanda, Re. Ini gak lucu." Tidak percaya, Bu Nurmala menggeleng, menepuk-nepuk punggung tangan Renata yang masih bertumpu di paha nya.
Renata kembali terisak. Kenangan manis bersama Bagas adalah satu-satunya masa yang paling indah dalam hidupnya. Kehadiran Bagas mampu membuatnya lupa akan masa lalu yang kelam dan memberi warna baru. Namun, kini juga menggores luka yang dalam.
Merengkuh Bu Nurmala lagi, mencari sumber kekuatan untuk menghadapi hari esok tanpa Bagas. "Cinta kami masih lemah, hubungan ini tidak bisa dipertahankan. Tapi aku percaya, Tuhan akan tetap mempersatukan kami jika jodoh. Ibu jangan khawatir. Aku dan dia masih menjalin persahabatan."
"Ibu akan selalu berdoa, semoga kamu dan Bagas berjodoh."
Aamiin
Renata mengucap dalam hati. Tak mau berharap penuh, takut terjatuh dalam jurang yang terdalam.
"Bu, aku ingin tinggal sendiri, aku akan menggunakan uangku untuk membeli apartemen dan kebutuhan yang lain."
"Kamu mau pergi dari sini? Meninggalkan ibu sendiri lagi?"
Renata tersenyum, menangkup kedua pipi Bu Nurmala.
"Tidak, aku cuma ingin mandiri dan mempunyai usaha, itu saja. Ibu tetap menjadi ibuku yang terbaik," jelas Renata dengan lembut.
Masa depan. Ya, Renata mengharapkan masa depan cerah yang akan membawa hidupnya. Tidak mungkin terus tergantung pada Bu Nurmala. Ia juga tak bisa kembali bekerja menjadi cleaning service.
Ponsel berdering. Renata merogoh benda pipihnya dari tas. Ternyata Derya yang menghubunginya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya bu Nurmala ketus. Sudah melihat nama yang berkelip di layar.
"Mas Derya, aku minta dia mencarikan apartemen, mungkin saja sudah dapat," jawab Renata tanpa menatap.
"Halo, Mas. Ada apa?" tanya Renata mengawali pembicaraan.
"Aku sudah dapat apartemen, Re. Pasti kamu suka. Bagas juga punya satu unit di sini."
"Baik, Mas. Nanti siang aku ke sana, sekarang aku mau istirahat dulu, capek."
Sambungan terputus. Renata meletakan ponselnya. Tak mau berlama-lama berbincang dengan Derya, takut bu Nurmala semakin merengut.
"Re, jangan bilang kalau kamu dan Derya__"
Tak merestui jika Renata dan Derya menjalin hubungan yang lebih dari sahabat.
"Tidak, Bu. Kami cuma berteman, Mas Derya sudah mengakui semua kesalahannya, dia hanya ingin membantuku, itu saja," jelas Renata meyakinkan.
Di sisi lain
"Siapa, Kak?" tanya Sena dari belakang Derya.
Gugup melanda. Derya memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Menutupi hubungannya dengan Renata yang sudah mulai membaik, takut Sena akan berbuat macam-macam pada Renata.
Derya menggaruk tengkuk lehernya. Jujur atau tidak, yang pasti cepat atau lambat Sena akan tahu juga.
"Bukan siapa-siapa, aku ke kamar dulu." Derya beranjak dari duduknya.
"Itu Renata, kan? Jawab yang jujur," celetuk Sena.
Terpaksa Derya mengangguk, ia tak mau menutupi nya lagi, takut timbul masalah yang berkepanjangan.
"Kakak suka sama Renata?" tanya Sena menyelidik.
Derya membulatkan mata, hatinya berdesir mendengar kata "suka".
"Tidak, aku hanya kasihan, dia baru saja putus dengan Bagas. Sudah, ngapain membahas Renata."
Derya pergi meninggalkan Sena yang sebenarnya masih punya banyak pertanyaan.
Kamu memang bilang tidak suka. Tapi mata mu menunjukkan kalau kamu suka pada Renata.
__ADS_1
Derya masuk ke kamar. Menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Tangannya bergerak, menyentuh dadanya yang berdetak dengan kencang.
Aku tidak tahu apa itu cinta, tapi setiap dekat dengannya, aku merasa bahagia.