Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Makan di warteg


__ADS_3

Sinar mentari masuk dari sela-sela  jendela. Renata mengerjap-ngerjapkan mata. Menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Mimpi indahnya buyar saat merasakan sentuhan lembut di bagian pipi. 


Sosok semalam yang membuatnya kelelahan itu tersenyum renyah dan terus menatap wajahnya. Bagas tak henti-hentinya menoel hidung Renata berharap agar cepat bangun. Seakan tak punya salah sedikit pun sudah merenggut mahkotanya. Ruangan itu masih sama, bahkan Renata masih berbaring di ranjang yang menjadi saksi bisu pergulatannya yang  pertama. 


"Kenapa sih, Mas? Apa aku aneh?" tanya Renata dengan suara serak khas bangun tidur. 


Bagas Menggeleng. Mencium kening Renata berulang kali. Memberikan sambutan untuk pertama kalinya sebagai seorang suami. 


"Aku lapar, kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan." Bagas menunjukkan beberapa makanan yang sudah tersedia di meja makan dekat balkon. 


Bagas membantu Renata membuka selimutnya. Tak seperti saat pertama tidur, ternyata ia sudah memakai piyama lengkap. 


"Kamu makan dulu, aku masih malas." 


Lama-lama sikap manja Renata membuat Bagas terpancing. Pria itu membuka kancing bagian atas, namun dengan sigap Renata menghentikannya. 


"Oke, kita makan." Terpaksa Renata mengalah daripada harus terkena imbasnya dan tak bisa berjalan. 


Setelah Renata turun, Bagas tersenyum melihat noda yang ada di sprei. Itu membuktikan jika dirinya yang sudah menodai istrinya. Memberikan arti seorang istri yang sesungguhnya. 


"Mas, kamu ngapain?" Renata menepuk lengan Bagas yang masih bengong di sisi ranjang. 


Bagas tersenyum dan menggeleng. Ternyata Renata pun tak sadar sudah kehilangan sesuatu yang berharga. 


"Mas, besok aku ada jadwal seminar, menurut kamu gimana?" tanya Renata sembari mengambil secangkir teh hangat dari meja. 


Bagas pun ikut menyeruput kopi hitam yang tinggal separo. Sebab, sebelum Renata bangun, ia sudah meminumnya lebih dulu. 


"Terserah, kalau kamu sudah nyaman lakukan saja, tapi kalau belum, lebih baik dicancel, biar nanti aku yang bilang." 


"Mas…" 


Renata menepuk paha Bagas. Ada satu keinginan yang terus mengelilingi otaknya saat ini. 


"Aku ingin tinggal bersama kakek. Aku ingin di masa tuanya tidak merasa kesepian. 


Sedikit berat untuk Bagas. Di satu sisi ada sang mana yang juga janda. Di sisi lain, Renata dan kakek Liam baru saja di pertemukan oleh takdir. Tidak mungkin ia melarang keinginan Renata. 

__ADS_1


"Nggak papa, kita akan bergantian, tinggal dimanapun aku siap, asalkan kau bersamaku." 


Renata menghabiskan teh dan berlalu. Baru saja tiba di depan kamar mandi, Bagas kembali memanggil Renata yang membuat sang empu menghentikan langkahnya. 


"Yang bersih, aku ingin kita mengulangi seperti semalam," ucap Bagas menggoda. 


Renata memanyunkan bibirnya lalu masuk. Tak ingin menanggapi Bagas yang tidak akan ada habisnya. 


Berbeda dengan Bagas dan Renata yang ingin menghabiskan waktu di kamar hotel, Derya dan Gina sudah berkeliling memutari kota. Hampir dua jam lamanya, Derya menunjukkan beberapa tempat wisata yang ada di pusat kota. Tak lupa tempat kesukaan kaum hawa hingga  beberapa tempat bersejarah yang menakjubkan. 


"Apa hari ini kamu puas?" tanya Derya mulai memelankan mobilnya yang masuk ke halaman restoran. 


Gina tersenyum manis. Tak menyangka, akhirnya keinginannya terkabul bersama Derya. 


"Kalau dikatakan puas, belum sih, tapi sudah terhibur, terima kasih."


Derya mematikan mesin dan membuka seat belt. Ucapan terima kasih dari bibir Gina bagaikan hujan di musim kemarau. Pasalnya, ucapan itu tidak pernah diucapkan gadis yang berkuasa itu, namun kini ia bagaikan rakyat jelata yang bisa menghargai jerih payah orang lain. 


Gina menatap restoran mewah yang ada di depannya. Membaca beberapa tulisan yang tertera di depan. 


"Kenapa harus ke restoran Jepang? Aku ingin makan makanan khas sini." Gina hanya membuka kaca mobil karena enggan untuk turun. 


"Jadi gimana, kita jadi makan di sini, nggak?" tanya Derya memastikan.


Dari relung hati yang terdalam, Derya ingin Gina merasa nyaman saat di dekatnya. Entah kenapa, ia pun ingin terus bersama. 


"Makan di warteg saja,'' ucap Gina masih sedikit gagu, dan itu membuat Derya terbahak. 


"Nggak bisa, Na. Aku nggak mau di marahin kakek Liam gara-gara mengajakmu makan di pinggir jalan." 


Wajah Gina meredup. Matanya berkaca mengingat statusnya saat ini. Ia merasa tidak penting lagi di mata kakek Liam, dan mungkin tidak ada artinya lagi di mata pria itu. 


"Nggak mungkin kakek marah, aku bukan cucunya, pasti sekarang kakek sibuk pada Renata dan mas Bagas. Dia tidak akan memperdulikanku lagi." 


Cairan bening menetes dengan deras membasahi pipi Gina. Ia merasa bukan siapa-siapa lagi di mata sang kakek dan butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya. 


"Baiklah, kita makan di warteg." 

__ADS_1


Derya keluar dari halaman restoran tanpa protes. 


Seperti permintaan Gina, Derya menghentikan mobil di depan rumah mini yang ada di depan taman. Ia dan Gina turun lalu masuk. Seperti tamu yang lain, mereka memesan makanan lalu duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Beberapa pengunjung yang ada di sebelahnya pun sudah menyantap hidangan sesuai selera masing-masing. Sesekali mereka melirik ke arah Derya dan Gina yang terus mengusap tangannya dengan tisu. 


"Ini mbak, Mas." Dua piring nasi yang lengkap dengan lauk tersaji di depan Derya dan Gina. 


Tanpa ragu-ragu, Gina langsung menyantap makanannya dengan lahap. Ini adalah momen yang mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup, makan di sebuah warung kecil tanpa mengeluarkan banyak uang, namun sudah mendapat makanan yang nikmat. 


Meskipun masih kikuk, Derya pun mengikuti Gina yang terus menyuap nasinya tanpa mempedulikan kursinya yang sempit dan berdesak-desakan. 


"Enak?" tanya Derya mengunyah makanannya pelan. 


Gina mengangguk, menyelipkan rambutnya ke belakang. 


Dari tadi Gina memegang rambutnya, apa dia merasa risih. 


Derya meletakan sendok. Berpikir keras untuk membantu Gina. 


Pakai apa ya. 


Derya meraih tangan Gina dan melepas gelang yang melingkar di pergelangan tangan gadis itu. Gina melongo tanpa berkomentar karena mulutnya penuh dengan makanan. 


Mengikat rambut panjang Gina dengan pelan. Meskipun tidak rapi, setidaknya gadis itu merasa nyaman saat makan. 


"Besok gelangnya aku ganti."


Gina mengangguk kecil, lidahnya kelu, pita suaranya seakan terikat membuatnya bisu. Perhatian Derya menarik hatinya. Rasa kagum mulai terpancar melihat ketulusan pria itu. 


Ponsel Derya berdering membuat lamunan keduanya ambyar.


Gina kembali fokus pada makanannya yang tinggal sedikit, sedangkan Derya langsung merogoh benda pipihnya yang ada di saku celana. 


"Kakek Liam," seru Derya kaget. 


Gina ikut menatap nama yang berkelip, namun ekspresinya tetap datar. 


Derya menggeser lencana hijau tanda menerima.

__ADS_1


"Cepat, bawa pulang Gina!" teriak Kakek Liam yang sukses membuat Derya gemetar. 


__ADS_2