
Bagas menatap lukisan milik Renata dengan tatapan intens. Ia tak melihat ada kecacatan sedikit pun di gambar tersebut. Bahkan ia merasa takjub dengan penjelasan Renata yang menurutnya sangat serasi dengan gambarnya.
"Ternyata Renata sangat berbakat, dia bukan pelukis biasa," guamamnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana rumah sudah sangat sepi. Lampu yang ada di bagian luar ruangan sudah berganti dengan lampu temaram, namun Bagas masih berada di ruangan lukis. Ia terus memegang dadanya, menahan detakan jantungnya yang berirama lebih cepat, bahkan sesekali hatinya berdebar-debar mengingat wajah Renata.
"Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya," sangkal Bagas sambil menggelengkan kepala.
Setelah puas menikmati lukisan itu, Bagas keluar dari ruangan. Hampir saja ia membuka pintu kamarnya, pintu ruangan lain terbuka.
Renata, kenapa dia keluar dari kamar?
Bagas menatap Renata yang terus mengibas-ngibaskan tangannya, gadis itu terlihat seperti orang kepanasan.
"Re," panggil Bagas menghampiri Renata.
Renata menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Bagas, ngapain jam segini bapak di luar?" tanya Renata panik. Perlahan ia mundur hingga berada di bibir tangga.
"Aku memang belum tidur, tadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau kamu sendiri, kenapa keluar?" tanya Bagas balik, meskipun lampu menyala redup, ia bisa melihat raut wajah Renata yang nampak ketakutan.
"AC nya mati, terus tirainya yang putih itu tersibak terus, padahal jendelanya sudah dikunci, tapi masih saja anginnya masuk."
Renata bergidik ngeri dan beralih berdiri di belakang Bagas.
Bagas membuka pintu kamar Renata. Ternyata benar apa yang dikatakan gadis itu, tirai jendela tertiup angin dari luar membuat suasana sedikit horor.
Bagas masuk ke dalam, ia mengambil remot dan mencoba menyalakan AC nya, namun masih saja tidak bisa.
"Sepertinya Ac di kamar ini rusak."
Bagas meletakkan remot nya lalu mendekati Renata yang mematung di ambang pintu, disaat melihat pucatnya wajah gadis itu, tiba-tiba saja ide jahilnya buncul memenuhi otaknya.
Bagas mengelus tengkuk lehernya lalu menatap setiap sudut kamar itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Renata menatap Bagas dengan lekat.
"Kamar ini nggak pernah di tempati, jangan-jangan __"
"Aaaaaa…." jerit Renata.
Seketika Renata berhamburan memeluk Bagas. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Bagas yang membuat sang empu tersenyum menang.
Bagas menggerakkan tangannya mengelus punggung Renata dengan lembut.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan menemani kamu," ujar Bagas meyakinkan.
Renata semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa, ia merasa nyaman berada di dada pria itu.
"Bagaimana kalau kamu tidur di kamarku saja," tawar Bagas.
Renata mendorong tubuh Bagas hingga pria itu terhuyung.
"Nggak mau, lebih baik aku pulang saja," pinta Renata dengan serius.
Bagas memutar otaknya, mencari cara supaya Renata mau tidur di kamarnya, padahal rumah itu masih banyak kamar yang tidak ditempati. Namun, Bagas tetap ingin menggoda Renata.
"Maksudku, kamu tidur ranjang, dan aku akan tidur di sofa jagain kamu," jelas Bagas.
Rasa kantuk kembali menyerang. Renata tak bisa untuk berbincang lebih lama lagi, dan akhirnya ia setuju dengan tawaran Bagas daripada harus tidur di tempat itu sendirian.
Sebelum masuk ke kamar Bagas, Renata menarik tangan pria itu dari belakang.
"Bapak yakin tidak akan berbuat aneh-aneh?" tanya Renata memastikan.
Bagas tersenyum, menepuk-nepuk punggung tangan Renata yang masih terlihat ketakutan.
"Aku janji." Bagas mengangkat dua jarinya ke atas lalu membuka lebar pintunya.
Renata berjalan menuju ranjang, meskipun Bagas sudah berjanji ia masih sedikit ragu.
Bagas mengambil bantal dan membawanya ke sofa. Ia membaringkan tubuhnya di sana untuk mengurai rasa lelah karena pekerjaan yang mulai menggunung pasca bangkrut.
Hampir sepuluh menit Bagas menatap langit-langit kamarnya, kini ia pun tak mendengar suara Renata yang ada di tempat pembaringan.
Sepertinya Renata sudah tidur, terka Bagas dalam hati.
Bagas bangun lagi, ia menatap Renata yang ada di balik selimut itu dari arah sofa, sekian lama mengenal banyak perempuan, Renata satu-satunya wanita yang sangat lugu, bahkan selama bersama, gadis itu tak pernah sekali pun menanyakan perihal tentang dirinya, ataupun kepribadiannya.
Kira-kira, laki-laki seperti apa kriteria Renata. Ah, kenapa aku jadi mikir itu si, mendingan aku tidur.
Untuk yang kesekian kali Bagas menepis perasaan yang bergejolak di dadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Renata menggeliat merenggangkan otot-otot nya, ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap tempat yang sedikit asing di matanya.
Aku di mana? Pertanyaan mulai muncul dalam benaknya.
Renata mengingat kejadian semalam lalu menyibak selimutnya, ia menatap kaki Bagas yang menjulur melebihi panjang sofa.
__ADS_1
Ternyata masih di kamar pak Bagas.
Renata turun dari ranjang. Ia berjalan pelan mendekati Sofa. Bagas masih tertidur pulas dengan napas teratur.
Kasihan juga pak Bagas. Pasti dia capek.
Renata mematung di samping sofa, ia mengingat kemarin saat Bagas bekerja di kantor, bahkan pria itu tak sempat makan siang di luar karena sibuk.
"Pak, Bangun!" Renata menggoyang-goyangkan kaki Bagas.
Bagas melenguh, meskipun ia merasa terusik, matanya masih sangat berat untuk dibuka.
"Pak, bangun!" ucap Renata sedikit meninggikan suaranya.
Sebab, tidak sadar tidur di sofa, Akhirnya Bagas memiringkan tubuhnya dengan asal hingga ia terjatuh ke lantai dengan kepala terbentur sudut meja.
Renata terkejut, namun ia juga ingin tertawa melihat aksi Bagas yang sangat lucu.
"Bapak," seru Renata yang membuat kesadaran Bagas kembali normal, ia menatap sekelilingnya lalu menatap Renata yang berdiri di sisinya.
"Gimana tidur kamu semalam?" tanya Bagas tanpa menghiraukan dirinya.
"Lumayan." Renata mengulurkan tangan ke arah Bagas, dengan sigap pria itu menerima uluran tangan Renata dan duduk di bawah sofa. Hening tercipta lagi.
"Aku keluar dulu," pamit Renata.
Bagas hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
Baru saja membuka pintu, Renata membulatkan matanya saat melihat Bu Amara dan bu Nurmala ada di depan kamar Bagas.
"Ibu, Tante," sapa Renata terkejut, ia menoleh ke belakang menatap Bagas yang nampak santai.
"Kamu ngapain di kamar Bagas?" tanya bu Amara menyelidik, menunjuk ke arah Renata dan Bagas bergantian.
Meskipun tak begitu mempermasalahkan dengan itu, setidaknya, sebagai orang tua Bu Amara menanyakan penyebabnya.
"Ta….tadi malam AC di kamar sebelah mati, Tante. Pak Bagas menyuruhku tidur di kamarnya, tapi kita tidak tidur seranjang. Pak Bagas tidur di sofa." Renata menjelaskan dengan gugup saat kedua wanita paruh baya itu menatapnya dengan tatapan curiga.
Bagas beranjak dan mendekati Renata.
"Iya, Ma. Apa yang dikatakan Renata itu benar, jadi kalian jangan khawatir," ucap Bagas meyakinkan.
"Kalian bukan suami istri, wajar jika mama khawatir. Mama nggak mau, kamu mencoreng nama baik keluarga karena menghamili perempuan diluar nikah. Lebih baik kalian menikah dulu, sebelum tidur sekamar."
"What…. menikah?" ucap Renata dan Bagas bersamaan.
__ADS_1
Ternyata bukan cuma anaknya yang pintar modus, emaknya juga.