
Bagas memutuskan sambungannya setelah mengatakan "Maaf". Seburuk apapun nasib Melinda bukan urusannya lagi. Tak mau mengorbankan kebahagian Renata yang kedua kali. Cukup sekali ia menggores luka pada gadis itu.
"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Renata menyelidik.
Bagas duduk di tempatnya. Tersenyum renyah mendekatkan bibirnya di telinga Renata. Kakek Liam dan dua orang pengacara masih sibuk dengan dokumen di depannya.
"Melinda," jawabnya singkat.
"Ngapain dia menelponmu? Bukankah dia punya tunangan?" pekik Renata membuat semua orang menatapnya, termasuk kakek Liam.
Bagas mengangkat kedua bahunya, cuek. Rasa cemas yang sempat mengendap itu lenyap seketika saat ia ingat rasa sakit hatinya. Bukan itu saja, kini Bagas tak perlu melihat siapapun. Hanya ada Renata Nicholas, gadis yang sudah membuktikan kesetiaannya.
"Ngapain dia menghubungi kamu, jangan bilang kalau dia ngajakin balikan?" sahut Bu Nurmala yang ikut kesal dengan kelakuan Melinda dulu.
"Tidak, katanya Dicki menyakitinya. Dia meminta bantuanku."
"Kenapa harus kamu, bukannya dia punya teman yang lain, Kenapa harus mantan?"
Bagas menggaruk alisnya, merasa terdesak oleh Renata yang terus ngomel.
Renata menggeser duduknya menjauh dari Bagas, namun itu malah membuat pria itu gemas. Menarik tubuh Renata lalu mendudukkan di pangkuannya.
Kakek mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat tingkah manja Renata. Persis dengan istrinya sewaktu masih hidup. Hanya Wanda, satu-satunya wanita yang bisa melunakkan hatinya.
"Mungkin aku mantan yang terindah," goda Bagas mencubit hidung Renata.
Mendengus kesal melihat Bagas yang terus bercanda. Padahal, hatinya saat ini sangat jengkel.
Eheeemmm
Deheman kakek Liam membuyarkan suasana. Renata turun dari pangkuan Bagas dan tersenyum malu.
"Hari ini kalian mau ke mana?" tanya kakek Liam, menyerahkan dokumen ke tangan Renata.
Tugasnya memberikan harta warisan sudah tuntas. Jerih payahnya sewaktu masih muda, semua kebanggaannya kini berpindah tangan pada sang cucu. Hanya meninggalkan beberapa aset untuk dirinya dan juga Gina.
"Ke galeri, aku ingin melukis wajah kakek dan Ayah. Nenek dan juga ibu."
Kakek Liam mengangguk, itu pun pernah dilakukannya saat merindukan Reno. Sebab, hanya itu yang bisa membuat hatinya tenang dan damai. Menyalurkan rasa kangen lewat sebuah gambar yang bertengger di Kanvas.
Renata tetap satu mobil dengan Bagas, sedangkan kakek Liam bersama Akio dan Mondy juga dua pengacara.
__ADS_1
"Mas, aku mau mampir ke mall, mau beli sesuatu," ucap Renata saat mobil mulai memasuki kawasan pusat perbelanjaan.
"Mau beli apa?" tanya Bagas penasaran, tangannya mengusap pucuk kepala Renata dengan lembut.
"Ada deh, kamu nggak perlu tahu."
Berbeda di mobil Bagas yang hanya ada candaan dari dua sejoli yang sedang kasmaran. Di mobil lain, Kakek Liam masih nampak serius mengingat kabar anak buahnya yang kini menikmati suramnya jeruji besi.
"Mondi, bagaimana kabar istrinya Nino?" tanya Kakek Liam.
"Baik, Tuan. Nino juga sehat. Kemarin Nona Renata dan tuan Bagas menjenguknya, tapi Nino tetap diam. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya."
"Untuk sementara waktu aku akan diam, tapi jika Nino memang tidak mau dibebaskan. Aku akan bertindak setelah Renata dan Bagas menikah."
Bagas dan Renata Masuk ke mall terbesar yang ada di pusat kota. Saling menggenggam tangan dengan erat. Wajahnya tampak bersinar memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun.
"Ke mana dulu?"
Renata menghentikan langkah. Menatap beberapa toko yang ada di lantai dasar. Menunjuk ruangan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Banyak manekin yang terpajang dengan balutan gaun mewah nan mahal. Dulu Renata hanya bisa berandai-andai dan bermimpi untuk memilikinya. Kini ia tak perlu lagi khawatir, apapun yang ia inginkan pasti akan terkabul.
Bagas mengambil sebuah gaun mewah berwarna hijau botol. Dari tampilannya gaun itu sangat cocok dipakai Renata.
Renata meraih baju yang menggantung di tangan Bagas dan megamatinya dengan intens.
"Seumur hidupku, kamu adalah orang yang pertama bilang aku cantik. Padahal dulu saat di kantor semua orang menghinaku, mereka bilang aku tidak pantas mendapatkanmu. Mereka selalu membullyku dan menyiksaku.''
Bagas menarik tubuh Renata dan mendekapnya. Kenapa tidak dari dulu ia melihat Rebata, bahkan ia tak pernah peduli dengan pegawai rendahan.
"Sekarang buktikan pada mereka, kalau kamu bisa segala-galanya. Kamu bukan orang sembarangan yang bisa mereka injak-injak. Kamu adalah Renata, seorang pelukis hebat yang bisa menaklukan Bagas Ankara.
Renata tertawa renyah. Menepuk dada bidang Bagas hingga membuat sang empu meringis.
"Lebay, aku tetap ingin menjadi Renata yang dulu, meskipun takdir sudah mengubahku."
Tanpa sadar, semua pengunjung yang ada di ruangan itu bertepuk tangan melihat aksi keduanya. Menjadi pusat perhatian bukan lagi hal yang tabu bagi mereka yang selalu menunjukkan kemesraannya.
"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar, tunggu di sini!"
Bagas meninggalkan Renata yang kembali sibuk memilih baju.
__ADS_1
"Mbak, aku pilih baju yang ini sama ini tolong dibungkus."
Renata membawa dua gaun yang berwarna pastel dan juga hijau botol pilihan Bagas. Menatap jam yang melingkar di tangannya, hampir lima menit, namun Bagas belum kembali juga membuatnya cemas.
Setelah menerima dan membayar baju yang dibelinya, Renata keluar dari toko, karena tida fokus, isla menabrak wanita yang ada di depannya hingga keduanya jatuh tersungkur.
"Ma… maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucap Renata tanpa menatap seseorang yang mengelus lutut di depannya.
"Lain kali lihat-lihat!"
Ini kan suara Melinda.
Renata mendongak, menatap wanita yang berdiri di depannya.
"Melinda… "
"Kamu…"
Keduanya saling memekik, terkejut.
Renata berdiri menatap wajah Melinda yang tampak baik-baik saja. Bahkan tak ada sedikit pun yang terluka.
Katanya tadi di sakiti sama tunangannya, tapi mana, apa dia cuma mau menipu mas Bagas.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Melinda, menunjuk Renata, matanya melirik ke arah tas yang dibawanya.
''Bukan urusanmu, lebih baik kau urus diri kamu sendiri, jangan minta bantuan sama mantan," cetus Renata tanpa rasa takut.
"Kurang ajar," geram Melinda, ia mengucap dengan suara lirih namun tajam. "Kamu pikir Bagas benar-benar mencintai kamu! Dia itu hanya kasihan saja, jangan geer. Kamu itu sampah yang kebetulan dipungut sama dia."
Renata melipat kedua tangannya. Menatap Melinda dengan tatapan kasihan. Bukan dari penampilan, namun dari sikapnya yang terus mencari keburukannya.
Dua orang pria dari jauh berlari kecil, namun langkahnya ditahan oleh Renata.
"Minggir, aku mau jalan!" ucap Renata ketus.
Melinda tersenyum, seakan menantang Renata yang sudah berada di ambang kemarahan karena jalannya sudah di halangi.
"Kamu pikir siapa, berani memerintahku tahu seperti itu. Ingat kamu tidak lebih dari sampah," ulang Melinda dengan suara lantang.
Plak
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Melinda.