
Malam semakin larut. Dingin pun kian mencekam. Di kamar yang sangat mewah itu Bagas mulai jahil, tangannya merayap membuka resleting gaun milik Renata. Menciumi punggung istrinya dengan lembut. Mencurahkan cintanya dengan perlakuan manis.
"Mas…"
Suara Renata terdengar seksi membuat Bagas tersenyum. Menggigit bibir bawah saat tangan Bagas mulai menyentuh bagian dadanya.
Lampu sudah menyala remang. Bagas melanjutkan aksinya saat Renata mulai terhanyut dalam permainan. Menggiring menuju ranjang. Gaun yang terbuka sudah mulai melorot. Hanya menutup bagian bawah saja, sedangkan tubuh Renata yang bagian atas sudah terekspos, hanya ada kain berwarna maron yang menutup dua benda berharganya.
"Sayang, aku mau melakukannya sekarang," ucap Bagas dengan suara parau, menahan hasrat yang menggebu.
"Tapi aku belum mandi," jawab Renata menahan jantungnya yang berdegup kencang, ia mulai tergoda dengan sentuhan-sentuhan hangat suaminya.
"Tidak apa-apa, nanti kita mandi bersama."
Renata memutar tubuh. Melingkarkan tangannya di leher Bagas. Menyatukan bibir dengan bibir suaminya. Terkesan agresif, namun Bagas sangat suka dengan sikap Renata yang apa adanya, daripada malu-malu yang membuatnya hilang semangat. Melupakan rasa sakit di bagian kaki yang penuh luka.
Bagas mengangkat kedua paha Renata hingga kini gadis itu berada di gendongannya. Renata melingkarkan kedua kakinya di pinggul suaminya. Langkah Bagas berhenti saat tiba di sisi ranjang.
Bibir mereka masih menyatu. Bagas duduk di tepi ranjang. Renata masih berada di pangkuannya. Gadis itu merasakan sensasi baru dengan ciuman yang berdurasi lama.
Tanpa ada perintah, Renata membuka dasi yang mengikat leher Bagas lalu melepas jas dan melemparnya dengan asal, beralih membuka kancing kemeja pria itu.
Bagas melepas ciumannya. Mensuplai oksigen mengembalikan napas yang terengah-engah. Kini Renata sukses melucuti kemejanya hingga menampakkan dada bidang yang begitu menggoda.
Saling tatap, Renata mendorong tubuh Bagas hingga berbaring dengan kaki masih menjuntai di lantai.
Renata sedikit naik dan duduk di atas perut suaminya, tubuhnya membungkuk dan kembali menyatukan bibir mereka.
Entah siapa yang memimpin, keduanya benar-benar larut dengan situasi yang menegangkan. Akhirnya, ketukan pintu membuat mereka tercengang.
Selang beberapa detik, Renata mulai panik, ia langsung turun dari tubuh Bagas dan berlari ke kamar mandi, sedangkan Bagas pun ikut bangun dan memungut bajunya yang teronggok di lantai.
Rasa kesal bercampur marah membuatnya terus berdecak. Hampir saja Bagas mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, namun harus gagal karena kedatangan orang yang tidak punya akhlak.
Ceklek
Renata membuka pintu dan menyembulkan kepalanya menatap Bagas yang masih sibuk memakai baju.
"Sayang, sini sebentar," ucap Renata melambaikan tangan, ia tahu jika suaminya marah, dan jalan satu-satunya ia harus meredakan amarah itu.
Bagas mendekat seraya mengancingkan kemejanya dengan rapi.
"Kamu butuh sesuatu?"
__ADS_1
Renta menggeleng tanpa suara
"Lebih dekat lagi," pinta Renata.
Bagas mencondongkan kepalanya tepat di depan wajah Renata yang hanya berjarak beberapa senti saja.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Bagas.
"Sekarang buka pintunya dulu, nanti kita lanjutkan lagi." Mendorong tubuh kekar suaminya.
Pintu kamar mandi tertutup kembali.
Bagas tersenyum lalu membuka pintu kamar.
Rasa marah itu lenyap saat melihat sang mama di depan pintu. Tak sendirian, tapi ada kakek Liam dan Bu Nurmala, serta dokter dan wanita paruh baya yang tidak Bagas kenal.
"Lama banget bukanya, ngapain saja kamu, jangan bilang __"
"Mama, Renata di kamar mandi, dan tadi aku bantuin menyiapkan baju," sergah Bagas sebelum Bu Amara melanjutkan ucapannya.
Kakek Liam hanya menahan tawa. Sebagai seorang pria sejati. ia tak bisa ditipu mentah-mentah, kakek Liam sudah merasakan firasat aneh melihat kemeja putih Bagas yang terkena noda lipstik di bagian leher.
Bakalan lama lagi, gerutu Bagas tak terima, tapi juga tak bisa menolak mamanya.
Dua wanita itu masuk dan duduk di sofa. Baru beberapa menit berada di kamar, yang ditunggu keluar dengan memakai jubah mandi.
Bagas menghampiri Renata dan menuntunnya ke arah sofa.
"Sayang, ini dokter yang akan memeriksa kaki kamu."
Renata duduk dan memperlihatkan luka yang sedikit terasa perih saat terkena air.
Setelah beberapa menit di periksa, dokter itu mengeluarkan salep dan tersenyum.
"Ini tidak terlalu parah, dioles salep tiga kali pasti sudah kering." Memberikan obat untuk Renata. "Jangan pakai high heels yang tinggi dulu, takutnya akan menambah luka," saran dokter tersebut.
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Renata ramah.
Setelah dokter keluar, kini Renata beralih membaringkan tubuhnya di ranjang.
Bu Darmi membuka jubah Renata dan menggantinya dengan selimut tebal. Semua itu tetap dengan pantauan Bagas yang duduk di depan meja rias.
__ADS_1
Tanpa sengaja, Bagas melihat buah dada Renata yang nampak menonjol. Menelan ludahnya dengan sudah payah saat juniornya kembali bereaksi.
Sabar, ini adalah ujian, Setelah ini kamu pasti masuk sarang.
Bu Darmi mulai melakukan tugasnya. Memijat punggung Renata dengan lembut, memberikan minyak urut yang terasa hangat dan menenangkan.
"Nanti kalau terlalu sakit, bilang ya, Non," ucap Bu Darmi.
"Iya, Bi," jawab Renata mulai merasakan kenyamanan di bagian urat-uratnya yang terasa kaku.
Bagas memilih memainkan ponsel. Ternyata menunggu sangat membosankan, itulah menurutnya. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir tiga puluh menit Bu Darmi memijat, belum ada tanda-tanda selesai yang membuat Bagas bertanya.
"Bi, masih lama kah?" tanya Bagas tanpa rasa malu. Ia sudah tak sabar ingin menikmati tubuh istrinya.
"Sebentar lagi, Den. Ini tinggal kakinya saja," jawab Bu Darmi dengan santai.
Dasar pengantin baru, baru juga beberapa menit, sudah tidak sabar.
Selang lima belas menit, Bu Darmi turun dari ranjang dan menghampiri Bagas yang sibuk dengan benda pipihnya.
"Sudah selesai, Den. Saya pamit dulu," ucap Bu Darmi.
Bagas kegirangan dan tersenyum. Memberikan bonus untuk bu Darmi. "Makasih, Bu. hati-hati di jalan!"
Bagas membuka kan pintu untuk Bu Darmi. Setelah itu menutup dan menguncinya lagi. Berharap tadi adalah gangguan pertama dan terakhir kali. Melangkah pelan menghampiri Renata masih tengkurap di atas ranjang.
Napas Renata terdengar teratur. Bagas mengelus punggung istrinya yang terasa licin.
"Sayang," bisik Bagas seraya menyelipkan rambut Renata yang menutupi sebagian pipi.
Hemmmm
Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Renata, bahkan gadis itu tak pindah posisi sedikit pun.
"Sayang, kita lanjut yang tadi, yuk!" ajak Bagas memelas.
Dengkuran napas halus semakin terdengar membuat Bagas terbelalak dan menatap mata Renata dengan lekat.
Jadi dari tadi dia tidur.
Bagas menepuk jidat dan menghempaskan tubuhnya di samping Renata.
Apakah malam ini aku nganggur dan gagal malam pertama?
__ADS_1