Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Bertanding


__ADS_3

Melihat ratusan peserta yang duduk manis di kursi masing-masing membuat Renata menciut. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori. Ini pertama kali baginya menghadapi pelukis dari berbagai manca negara, bahkan salah satu dari mereka adalah pelukis internasional yang sangat terkenal. 


Awalnya Bagas juga tidak ingin mengajak  Renata ikut karena sebelumnya tidak pernah mengikuti lomba seperti itu. Namun, ingin Renata lebih percaya diri dengan keahlian yang dimiliki. 


Renata menelan ludahnya dengan sudah payah lalu mendekati Bagas yang berbicara dengan seorang pria yang tidak ia kenal. 


"Mas, sebaiknya kita pulang saja. Aku nggak jadi ikut," bisik Renata bersembunyi di balik punggung lebar tunangannya. 


"Kenapa, bukankah ini impian kamu untuk menjadi pelukis yang dikenal dunia?" Bagas balas berbisik.


"Tapi aku takut mengecewakan kamu, bagaimana kalau aku kalah?"


Bagas tersenyum, menyelipkan anak  rambut yang menutupi pipi mulus sang calon permaisuri. 


"Aku tidak butuh kemenangan kamu. Tapi kamu harus berjuang, tunjukkan pada dunia kalau kamu bisa mewujudkan mimpi yang sudah lama terpendam," bujuk Bagas meyakinkan. 


Renata mengangguk, genggaman tangan Bagas bagaikan kekuatan dan keberanian yang disalurkan untuk dirinya. 


"Kenapa kamu sendiri nggak ikut?" tegur Renata pada Bagas yang kali ini hanya memilih menjadi penonton. 


"Kalau aku ikut, siapa yang akan mendukung dan memberi semangat untuk kamu?" 


Bersamaan dengan ucapan Bagas, Derya masuk. Pria itu masih bisa mendengar ucapan Bagas yang ditujukan kepada Renata. 


"Hai, Re. Peserta nomor berapa?" tanya Derya basa-basi. 


Renata tersenyum kecil dan menunjukkan nomor yang sudah menempel di dadanya. Tidak ada perbincangan lagi saat Derya menatap Bagas yang terus merengkuh pinggang ramping Renata. 


Tatapan keduanya masih dingin. Nada permusuhan masih terlihat jelas. Mereka tak ada yang ingin meminta maaf lebih dulu, dan masih mengutamakan ego masing-masing. 


Bagaimana cara membuat mereka akur, batin Renata melirik Derya dan Bagas bergantian. 


"Mas Derya ke sini dengan siapa?" tanya Renata mencairkan suasana. 


"Sendiri, Sena ada acara di luar kota, jadi dia nggak bisa ikut."


Renata manggut-manggut paham.


Bagas mengeratkan pelukannya. Dari wajahnya sudah jelas jika pria itu cemburu dengan sikap Renata yang sok akrab. 


"Mas Derya, aku keluar dulu." 


Menarik lengan kekar Bagas untuk menjauh, menghindari Derya yang terus menatapnya lekat. 

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku cuma menyapa," ucap Renata mengelus rahang kokoh Bagas yang mulai mengeras. 


"Aku nggak suka." 


"Aku tidak akan mengulanginya lagi," timpal Renata dengan cepat. 


Pertandingan akan dimulai lima menit lagi. Renata menggunakan waktu itu untuk bersama dengan Bagas. 


Kakek Liam datang menghampiri Renata yang masih tampak gugup. Meskipun Bagas sudah menghiburnya dengan berbagai cerita, jantungnya tetap saja berdegup dengan cepat bak lari marathon. 


"Bagaimana, Re? Apa Kamu sudah siap?" tanya Kakek Liam. 


"Sudah siap, Kek."


Sekali lagi, Bagas memberikan sebuah penyemangat untuk Renata sebelum bergelut dengan peralatan yang sudah bertengger di urutan terdepan. 


Tidak ada tema khusus, kali ini pelukis bisa menggambar apa saja, asalkan tepat dan bisa bernilai tinggi. Semua karena dinilai dari kelincahan, hasil gambar dan juga makna yang terkandung di dalamnya. 


Selama mengikuti lomba, Bagas menghubungi Bu Amara dan Bu Nurmala. Mereka sudah rindu pada Renata dan berharap Bagas membawanya cepat kembali.


Setelah itu, Bagas mengabsen lantai dan menatap jam yang melingkar di tangannya. Sesekali mengintip dari balik jendela yang terbuat dari kaca transparan. 


Ting tung 


Bagas merogoh benda pipih ya dari saku jas dan menatap nomor yang tidak bertuan. 


Bagas membuka sebuah pesan gambar dari orang yang tidak dikenal. 


Apa kamu masih yakin kalau Renata mencintai kamu dengan tulus. Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan kamu. Buktinya, dia bertemu dengan orang lain dibelakang kamu. 


Bagas menatap gambar tersebut dengan lekat, di mana Renata hanya terlihat wajah nya, tampak punggung lebar yang mematung di depannya. Mereka seperti dua orang yang sedang berciuman. 


Ini kan tiga hari yang lalu di supermarket dekat rumah tante Nurmala. 


Bagas mengingat sebelum ia dan Renata pergi ke Jepang, seharian penuh tidak bertemu dengan Renata. Hanya berhubungan lewat sambungan ponsel. 


Bagas menerka-nerka, namun hatinya masih yakin jika Renata sangat tulus mencintainya. 


Banyak orang yang membencinya, pasti ini karena iseng dan ingin membuat hubungan kami pecah. 


Bagas tak mau menanggapi foto itu, tapi juga tak menghapusnya.


Bagas kembali fokus pada Renata yang hampir selesai, gadis itu tenang saat menyempurnakan gambarnya. 

__ADS_1


Hampir tiga jam berlalu, akhirnya waktu tinggal beberapa detik lagi. Semua peserta angkat tangan termasuk Derya dan Renata.


Waktu di tutup, semua peserta menyerahkan hasil karya seni nya di atas panggung. 


Renata keluar menemui Bagas. Meskipun wajahnya penuh dengan coretan cat warna-warni, ia langsung memeluk Bagas dengan erat. 


"Gimana hasilnya?" tanya Bagas membalas pelukan hangat Renata. 


"Aku sangat puas dengan gambarku, dan aku persembahkan untuk kamu." 


Bagas merasa terharu mendengarkan ucapan Renata. 


"Kalau gitu cium juga dong," goda Bagas.


Seketika Renata memukul dada bidang Bagas dan melepaskan pelukannya. Tak mau memancing napsu pria mesum yang ada di depannya. 


"Nanti kalau sudah menikah, apapun akan  kuberikan tanpa meminta," tukas Renata selanjut nya, kesal dengan permintaan Bagas yang mulai aneh-aneh.


"Baiklah, aku akan sabar menunggu."


Sesi selanjutnya. Semua berkumpul di ruangan untuk menjelaskan deskripsi lukisannya. 


Renata kembali masuk, meninggalkan Bagas dan duduk di tempatnya. 


Lukisan Renata bagus sekali. Dia sangat cerdas, puji Derya dalam hati. 


Setelah beberapa peserta maju, kini giliran Renata. Wanita itu masih mengibar semangat. Memposisikan dirinya di depan juri dan kakek Liam. 


"Silakan Renata!" ucap kakek Liam secara langsung yang dari tadi sudah terpesona dengan lukisan gadis itu. 


"Judul lukisan: Badai. Aliran Lukisan:  Romantisme." 


Renata tersenyum, menatap semua orang bergantian. Meskipun sedikit gugup, ia tetap berusaha tenang melihat Bagas yang sedang mengabadikan momen itu. 


"Lukisan badai ini merupakan ungkapan khas karya yang beraliran Romatisme. Dalam aliran ini saya ingin mengungkapkan gejolak jiwa yang terombang-ambing antara keinginan menghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia nyata yang rumit dan terpecah-pecah."


Berhenti sejenak


"Dalam lukisan “Badai” ini, dapat dilihat bagaimana sebuah perjuangan yang dramatis antara dua buah kapal dalam hempasan badai dahsyat di tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh kegelapan awan tebal dan terkaman ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal. Dari sudut atas secercah sinar matahari yang memantul ke gulungan ombak, lebih memberikan tekanan suasana yang dramatis."


Renata membungkuk tanda selesai. 


Suara tepuk tangan menggema menghiasi ruangan itu. 

__ADS_1


Bagas mengangkat kedua jempolnya ke arah Renata yang turun dari panggung. 


__ADS_2