Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Terbuka nya rahasia


__ADS_3

Bagas menyisir rambut. Menyemprot parfum kesukaannya. Merapikan penampilan. Memakai kaos berwarna putih yang dibalut dengan jaket kulit berwarna coklat susu serta celana jeans berwarna hitam pekat. 


Ia meraih ponsel dan kunci mobil yang ada di nakas lalu keluar. Berjalan menuju ke kamar Renata. Senyumnya terus mengembang saat mendapati pintu kamar terbuka. 


"Re, kita jalan, yuk!" serunya, masuk tanpa permisi. Menatap ruangan kosong itu. mengedarkan pandangannya ke arah sudut kamar yang sepi. Masih belum sadar dengan apa yang terjadi. 


"Renata, kamu di mana?" Menatap kamar mandi yang juga tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ada orang di sana. Ranjang juga nampak rapi seperti saat datang. 


Renata ke mana? tanya Bagas dalam hati. 


Seorang cleaning service datang dan mengetuk pintu. 


"Permisi, Tuan. Saya mau membersihkan kamar ini, karena ada pengunjung yang akan menempatinya lagi." 


"Memangnya Renata ke mana?" tanya Bagas antusias. Ia mulai panik dan cemas. 


"Kata Pak Akemi pergi, Tuan."


"Maksudnya?" sergah Bagas. 


"Pulang bersama tuan Derya."


Deg 


Tubuh Bagas lemas seketika. Jantungnya berhenti berdetak. Sejak bangun tidur ia lupa dengan kejadian kemarin. Bagas pikir hubungannya dengan Renata baik-baik saja. Tapi ternyata, semua itu hanya mimpi, pertunangannya kandas. Bahkan Renata benar-benar pergi meninggalkan nya. 


"Kenapa harus begini, Re? Kenapa kamu tidak mau mengerti aku, padahal selama ini aku sudah ngertiin kamu, aku sudah membantumu berjuang. Apa semua ini karena Derya?" gumamnya. 


Brakkkk


Kepalan tangan Bagas menghantam pintu yang terbuat dari kayu hingga membuat pelayan yang membersihkan kamar itu tersentak kaget. 


Bagas kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Menjambak rambutnya frustasi. Mengerang, antara menyesal dan kesal memenuhi dadanya. 


Ia menatap cincin berlian yang ada di nakas. Memungutnya dan membolak balikkan. Setelah puas, melemparnya hingga jatuh di belakang pintu. 


Masa-masa indah yang pernah terlewati kini kembali melintas. Wajah Renata terus terbayang, seolah-olah gadis itu masih berada di sampingnya. Manis, lugu dan tidak banyak pertanyaan. Itulah sisi baik seorang Renata Nicholas di mata Bagas. Namun, juga egois. 


"Mas Bagas…" 


Seruan diiringi ketukan pintu terus menggema. Bagas beranjak dan membukanya. Menunjukkan wajah malas seperti hatinya yang saat ini terasa nyeri. 


"Ada apa, Na? Ngapain kamu ke sini?" tanya Bagas datar. 


"Mas Bagas nggak suka aku datang ke sini?" cetus Gina mengikuti langkah Bagas menuju ranjang.

__ADS_1


Bagas mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Bukan tidak suka. Tapi, aku lagi malas bertemu orang."


"Termasuk aku?" imbuh Gina ketus. Duduk di samping Bagas yang memijat pangkal hidungnya. 


"Kakek menyuruh mas Bagas datang ke rumah," lanjut Gina membuat alasan. 


"Baiklah, kita ke sana."


Bagas langsung keluar tanpa dalih lagi. Tak mau panjang lebar, takut berujung dengan sesuatu yang tak diinginkan. 


Perjalanan masih sangat lancar, Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Gina melirik Bagas yang membisu dan menatap ke depan. Guratan kecewa terlihat jelas di wajah pria itu. 


"Mas, kamu mikirin apa?" tanya Gina penasaran. 


Bagas menggeleng tanpa suara. Tidak mungkin ia mengatakan jika saat ini hatinya sedang kalut memikirkan Renata. 


"Jangan bohong! Aku tahu Kamu sedang memikirkan sesuatu, apa ini karena Renata?"


Ssssttttt


Bagas menginjak rem mendadak saat melihat kucing  melintas di depannya. 


"Jangan bicara tentang Renata, aku tidak suka."


Aku juga tidak suka padanya. 


"Mulai sekarang mas harus melupakan Renata, karena aku mencintai kamu."


Bagas mengerutkan alisnya. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Gina. Sejak Awal bertemu hingga saat ini, ia tak menyangka gadis yang ada di sampingnya mempunyai perasaan yang lebih daripada sekedar sahabat. 


"Maksud kamu apa?" tanya Bagas memastikan. 


Gina memegang lengan Bagas. "Aku mencintai kamu dari awal kita bertemu." 


Cinta pada pandangan pertama. Bagas ingin tertawa, namun masih ia tahan. Ucapan Renata kembali terngiang-ngiang di telinganya. 


Mas, kamu merasa aneh nggak sih dengan kakek Liam? Sepertinya dia mencoba memisahkan kita, dan sikap Gina, sepertinya dia suka sama kamu.


Ternyata yang di katakan Renata benar, Gina suka padaku, dan tadi dia bilang mencintaiku. 


Kini Bagas baru menyadari bahwa yang dikatakan Renata benar adanya, tapi dia bisa apa, semua sudah berlalu. 


"Tapi, Na. Aku tidak mencintai kamu. Aku hanya menganggapmu sebagai adik," jelas Bagas meyakinkan. 


"Kamu bisa mencoba, kan? Aku yakin kamu bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Renata. Dia sudah pergi meninggalkan kamu. Itu artinya kamu bebas memilih." 

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu kalau Renata meninggalkan aku?" 


Gina tersenyum. "Kakek Liam tahu semua tentang kota ini, termasuk apa yang terjadi di hotel saat kamu dan Renata bertengkar." 


Rasa hampa mulai menyelusup ke dalam relung hati. Baru semalam ia dan Renata tidak menjalin komunikasi, namun dunia seakan sepi tak berpenghuni. Bahkan ponselnya pun tak lagi berguna. 


Bagas berada di ruangan kerja Kakek Liam. Ia langsung berhadapan dengan laptop. Memetik beberapa pelajaran dari pria tua itu. Entah, berapa banyak yang ia pahami. Pastinya bisa meredakan hati yang tidak tenang, wajah Renata terus melintas dan membuatnya gusar. 


"Bagas…" sapa Kakek Liam melambaikan tangannya di depan wajah Bagas. 


Tak ada sahutan, Bagas menatap dengan tatapan kosong tiada arah. 


"Bagas, kamu mikirin apa?" Kakek Liam menepuk pundak lebar Bagas. 


"Maaf, Kek. Aku lagi mikirin Renata," ceplos Bagas yang sukses membuat kakek Liam datar. 


"Apa istimewanya gadis itu? Dia hanya seorang pelukis, kecantikannya pun standar, bahkan Gina lebih dari pada dia." 


Mereka berbeda, Kek. Renata gadis yang mandiri. Dia bisa terkenal karena kemampuannya, sedangkan Gina, semua orang mengenalnya karena kakek berkuasa.


Nyatanya, Bagas hanya bisa mengucapkan dalam hati, takut kakek Liam lebih marah padanya. 


"Permisi, Tuan." Mondi menyapa diiringi ketukan pintu. 


"Ada kabar apa?" tanya Kakek Liam. 


Mondi mendekatkan bibirnya di telinga Kakek Liam. Setelah beberapa menit kemudian, Kakek membulatkan matanya. 


"Ke Indo, dari mana kamu tahu?" tanya Kakek Liam meninggikan suaranya. 


Bagas diam, ia tidak tahu apa yang dibicarakan pengawal dan tuannya, tapi ia tahu ekspresi kakek Liam sangat terkejut. 


"Ternyata Maito sudah tahu semuanya dari dulu, hanya saja dia bungkam karena permintaan tuan Reno. Sebelum meninggal, Maito mengatakan ini semua pada istrinya. Tadi saya bertemu dengan dia," jelas Mondi dengan lugas. 


Maito adalah salah satu bodyguard setia Nyonya Wanda yang sudah meninggal. Sebab kasihan dengan Reno Nicholas dan Naomi, akhirnya ia menutupi kepergian  mereka yang memang sudah diketahuinya. 


Ngapain mereka pindah ke sana.


"Aku akan akan ke Indo untuk mencari mereka." 


"Tapi, Tuan. Kesehatan Anda__"  


Mondi menahan langkah kakek Liam yang sedikit sempoyongan. 


"Jangan pikirkan kesehatanku. Sekarang siapkan semuanya!"

__ADS_1


Ngapain kakek Liam ke Indo? 


__ADS_2