
Bagas mengedarkan pandangannya. Setiap sudut dinding yang berdiri kokoh itu dipenuhi dengan lukisan berbagai aliran. Kursi dan meja mewah itu tak luput dari macam-macam gambar kartun. Dilengkapi dengan beberapa ruangan dengan nuansa yang berbeda. Para pengunjung bisa memilih sesuka hati untuk menikmati hidangan. Yang lebih menarik lagi, Cafe milik Renata juga melayani makanan dan minuman dari beberapa negara dan kota.
Beberapa camilan bergizi juga disediakan untuk membuat siapa saja betah. Tempat yang sengaja di desain untuk semua kalangan, dari anak kecil sampai lansia. Untuk meeting ataupun bersantai, semua ada di sana.
"Gimana, Mas? Apa kamu suka dengan tempatnya?"
Bagas mengangguk tanpa suara, kakinya terus melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada di lantai satu.
"Ini siapa yang bikin konsep nya?" tanya Bagas, menghentikan langkah. Merapatkan tubuhnya tepat di samping Renata. Hembusan napas menerpa wajah hingga membuat bulu halus merinding.
"Aku sendiri, ini termasuk cita-citaku juga, dan sekarang bisa terkabul." Mengalihkan pandangan, tak kuat dengan tatapan Bagas yang tak bisa diartikan.
"Apalagi cita-citamu yang belum terpenuhi?"
Bagas mulai menggoda. Meraih dagu Renata dengan jari telunjuk hingga menatapnya kembali. Ia suka melihat pipi Renata bersemu, menggemaskan dan lucu.
Tersenyum malu, menautkan sepuluh jari-jarinya. Mendengar pertanyaan itu, jantung Renata berirama lebih cepat.
Lebih baik aku jujur padanya.
"Menjalin rumah tangga yang bahagia dengan orang yang aku cintai." Mengucapkannya dengan lugas.
Bagas terkekeh. Merangkul pundak kecil Renata. Melanjutkan jalannya menyusuri tangga.
"Kalau itu, aku yang akan mengabulkan, bulan depan, kita akan menikah."
Memasuki ruangan yang berada di lantai dua di bagian pojok. Di sana terdapat satu meja kerja dan sepasang sofa, juga lemari kaca. Di dalamnya terdapat kamar dengan ranjang yang lumayan besar dengan fasilitas lengkap.
"Ini ruangan siapa?" tanya Bagas seraya duduk di sofa, diikuti Renata yang duduk di sampingnya.
"Ini ruangan aku." Renata menunjukkan perlengkapan untuk melukis yang dibeli beberapa hari lalu.
"Rencananya aku akan mengisi waktu luang untuk melukis di sini." Membawa Kanvas ke balkon yang langsung terhubung ke tengah kota.
Bagas memeluk tubuh Renata dari belakang. Berat untuk mengucap, seakan suaranya tertahan di kerongkongan. Dari tadi ada yang ingin dikatakan. Namun, terjeda karena Renata menemui beberapa tamu penting.
"Sayang, hari ini aku ingin bertemu dengan kakek Liam."
__ADS_1
Renata menatap Bagas dengan lekat. Memutar tubuhnya dan memegang kedua lengan Bagas. Bola matanya saling bertemu, akan tetapi tidak bisa membaca apa yang tersimpan di dalamnya. Baru saja kemarin bilang memilihnya, kenapa hari ini ingin bertemu dengan pria itu.
"Untuk apa?" tanya Renata menahan matanya yang sudah mulai berkaca.
"Untuk menjelaskan semuanya. Kalau aku tidak bisa bersama dengan Gina."
Renata tersenyum, dadanya yang sempat sesak kini kembali lega mendengar ucapan Bagas yang baru saja meluncur.
"Kamu harus temani aku."
Renata mengangguk. Perlakuan kakek Liam tak membuat Renata jera. Sedikit pun ia tak takut dengan pria yang berkuasa itu. Baginya semua harus dihadapi, bukan dihindari. Berjuang dengan Bagas adalah jalan yang terbaik, menurutnya.
Renata terus menggenggam erat tangan Bagas. Sebenarnya, ia tak ingin bertemu dengan kakek Liam yang pernah mengusirnya. Namun, karena permintaan Bagas, terpaksa ia harus ikut.
"Mas, bagaimana kalau nanti Kakek Liam marah?" tanya Renata setelah keduanya keluar dari lift.
Bagas berhenti. Membalikkan tubuhnya hingga saling tatap.
"Aku akan menghadapinya. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi." Bagas meyakinkan Rdanta
Setibanya di depan pintu kamar khusus, Bagas menatap kedua penjaga yang mematung di sisi kanan kiri pintu.
"Ada, Tuan. Beliau sudah menunggu, Anda."
Sebelum berangkat, Bagas sengaja menghubungi Gina akan datang ke Hotel.
Pintu terbuka lebar. Renata dan Bagas langsung masuk menghampiri kakek Liam yang duduk di sofa.
"Berani sekali kau datang ke sini," celetuk kakek Liam, menatap Renata yang mematung di depannya. Wajahnya menunjukkan sebuah kebencian yang mendalam.
Renata menundukkan kepalanya. Tangannya tak lepas dari genggaman Bagas.
"Kek, aku mau bicara dengan kakek, ini penting," selak Bagas mengalihkan perhatian kakek Liam.
Kakek Liam menunjuk sofa kosong. Bagas mengajak Renata duduk. Tatapan tajam Gina terus mengarah pada Renata.
"Bicara apa?" Liam terlihat santai.
"Aku tidak bisa bersama Gina, tapi kalau kakek ingin aku menjaganya, dia akan aku anggap seperti adikku sendiri."
__ADS_1
Gina langsung menggeleng. Ia tak terima dengan pilihan Bagas saat ini.
"Tapi, Mas. Aku mencintaimu. Aku tidak mau hanya sekedar sebagai adik," bentak Gina. Beranjak dan duduk di samping Bagas. Mendorong tubuh Renata hingga terhuyung.
Bagas terkejut. Meraih tubuh Renata dan merengkuh nya. Mencengkal tangan Gina yang bergelayut di lengannya.
"Tapi aku mencintai Renata, kami akan menikah bulan depan," jelas Bagas tanpa ragu. Tak mau mengukur waktu, baginya harus cepat selesai saat ini juga. Tidak mau memberi harapan untuk Gina dan kakek Liam. Tegas dengan keputusan yang akan membawa masa depannya.
Gina kembali duduk di samping kakek Liam. Air matanya tumpah ruah membasahi pipi membuat kakek Liam semakin geram.
"Bagas, aku tidak akan memaksamu, tapi, dengan sendirinya kamu akan bertekuk lutut padaku. Kamu akan menyesal karena sudah menolak cucuku demi wanita itu." Menyungutkan kepalanya ke arah Renata.
"Aku tidak akan menyesal karena memilih Renata, tapi aku akan menyesal jika melepaskannya, jadi kakek jangan mengusik kehidupan kami. Semoga Gina mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku, permisi."
Bagas langsung menarik tangan Renata dan berjalan menuju pintu. Namun, langkah mereka harus berhenti saat anak buah Kakek Liam menghalanginya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, siapa yang berani membuat cucuku menangis, dia akan berhadapan denganku, termasuk kamu," ancam kakek Liam dengan serius.
Bagas tersenyum tipis tanpa membalikkan tubuhnya, menahan dadanya yang bergemuruh. Ada rasa takut yang mulai menyeruak. Beberapa kali Bagas mendengar kekejaman kakek Liam. Ia tak menyangka jika saat ini dirinya lah yang bersangkutan.
Setelah Mondi dan Akio menurunkan tangannya, Bagas membuka pintu dan keluar.
"Mas, aku takut kakek Liam nekad," kata Renata, mengikuti langkah lebar Bagas menuju lift.
"Jangan takut, ada aku yang akan melindungi kamu, lagi pula dia bukan orang sini, tidak mungkin berani berbuat macam-macam."
Gina masih sesenggukan di pelukan kakek Liam. Kecewa dan marah memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Mondi, Akio, kalian selidiki lebih dalam, apa kelemahan Bagas dan Renata, aku ingin mereka hancur perlahan dan bersujud di kakiku."
Tidak ada jawaban, kedua orang kepercayaan kakek Liam itu membungkuk ramah lalu keluar. Kini hanya ada Gina dan Kakek Liam di kamar itu.
Kakek Liam menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.
"Apa sudah ada kabar tentang Reno dan Naomi?" tanya kakek kakek Liam pada orang di seberang benda pipihnya.
"Sudah, Tuan. Tapi yang saya dengar mereka sudah meninggal."
Seketika jantung Kakek Liam berdenyut nyeri.
__ADS_1