Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Jahil


__ADS_3

Renata dan Bagas tersenyum. Saling menggenggam jemari dengan erat. Setelah mengungkapkan semua isi hati, kini Bagas merasa lega. Tidak akan cemburu lagi pada Derya. 


"Kita keluar, yuk! Pasti mas Derya dan Jerry sudah menunggu." Renata beranjak. Menarik tangan Bagas.


Bukan ikut berdiri, Bagas malah menarik tangan Renata lebih keras hingga membuat sang empu jatuh ke pangkuannya. 


"Mas, ini nggak baik, dosa."


Renata mendorong dada Bagas. Turun dari pangkuan lalu merapikan penampilannya. 


Baru saja keduanya tiba di belakang pintu, ponsel Bagas berdering. 


Nama yang tak asing berkelip di layar. 


"Siapa, Mas?" tanya Renata pura-pura. Padahal, ia sudah melihat nama Gina di sana.


Bagas menghadapkan layar di depan Renata. 


"Angkat saja, nggak papa kok. Siapa tahu ada yang penting."


Bagas mengusap pucuk kepala Renata dan menggeser lencana hijau. 


"Halo, Na. Ada apa?" tanya Bagas, matanya tak teralihkan dari bibir Renata yang berwarna merah muda. 


"Temani jalan-jalan. Aku belum tahu kota ini, takut kesasar," ucap Gina dengan manja.


"Maaf, Na. Aku sibuk. Nanti aku kirim orang untuk menemani kamu," tawar Bagas mengatupkan bibirnya. Membayangkan reaksi Gina saat ini, pasti marah dan emosi karena penolakannya. 


"Nggak mau, aku maunya sama kamu, kalau nggak bisa sekarang, nanti malam saja."


Bagas diam, mencari alasan yang tepat untuk menolak permintaan gadis itu. Tidak mudah, ia tahu konsekuensinya jika kakek Liam tahu.


Disaat Bagas traveling dengan otaknya, tiba-tiba Renata menjerit. Mengangkat kedua kakinya dan melingkarkan di pinggul Bagas, sedangkan kedua tangannya merangkul leher pria itu dengan erat. 


"Mas, aku takut," jerit Renata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Bagas. 


"Takut apa?" tanya Bagas panik, lupa mematikan ponselnya. 


Renata tak mengucap, ia hanya menunjuk ke arah belakang lemari yang sedikit gelap. 


Bagas tertawa terpingkal-pingkal melihat anak kecoa yang merayap. Ide cemerlang muncul untuk membuat Renata tetap berada di gendongannya. 


"Ya ampun. Sayang. Sepertinya kecoa nya punya pasukan, lihat saja banyak sekali yang keluar." 


Kuping Gina terasa panas. Ia tak sanggup mendengar ucapan Bagas yang nampak menggoda Renata. 


Awas saja kamu, Re. Aku bisa melakukan apapun, termasuk menyingkirkan kamu dari mas Bagas, geram Gina membanting ponselnya ke arah jendela hingga hancur tak berbentuk. 

__ADS_1


Berani-beraninya kamu membohongiku, Mas. Kita lihat saja, tidak ada yang bisa memilikimu selain aku. 


Tangan Renata gemetar, ia terus menggeleng dan tak berani membuka mata. 


Tubuhnya yang berwarna hitam kecoklatan khas dengan dua sungut yang panjang membuat Renata geli bercampur jijik dan takut. 


"Mas, cepetan usir kecoanya!" pinta Renata merengek. 


Aku sengaja, Sayang. Mungkin ini yang dinamakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Bagas tersenyum menyeringai, terus berpura-pura mengusir kecoa yang sebenarnya sudah tidak ada. 


Nyaman, itulah yang Bagas rasakan, hingga tak ingin menurunkan tubuh Renata, walaupun berat. 


Ibu tenang saja, kamar ini sudah bersih. Jika masih ada satu atau dua kecoa itu wajar, mungkin saat penyemprotan sembunyi di balik sesuatu yang tidak bisa tembus. Tapi saya jamin sudah bisa ditempati. 


Ucapan cleaning service itu terlintas di otak Renata. Sebelum pindah ke apartemen, ia memastikan jika semua sudah bersih dan aman dari serangga. 


Apa ini cuma akal-akalan mas Bagas, nggak mungkin ada banyak kecoa. 


Renata turun, matanya langsung mengarah kemana dirinya tadi mendapati kecoa. 


Tidak ada apapun di sana membuatnya semakin kesal.


Renata melayangkan pukulan pelan di dada Bagas yang asyik tertawa. Meskipun jengkel, ia tak bisa marah pada pria itu. 


"Dasar pembohong! Mana ada gerombolan kecoa, kemarin aku sudah memanggil pembasmi serangga."


Menggemaskan, bagaimana nanti kalau malam pertama. 


Bagas ikut keluar, ia tak akan membiarkan Renata bersama Derya sendiri. 


Derya merapikan map yang ada di meja. Menghampiri Renata yang duduk di ruang makan sembari meneguk segelas air putih. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat. 


"Kamu kenapa, Re?" tanya Derya. 


Beralih menatap Bagas yang baru keluar sembari merapikan kemejanya. 


"Nggak kenapa-napa, tadi di kamar ada kecoa raksasa, aneh kan? Lebih anehnya lagi, dia bisa berbohong," cecar Renata menyindir Bagas yang nampak santai. 


Derya hanya tersenyum tipis. Merasa canggung dengan kehadiran Bagas.


Derya pun menyerahkan dokumen itu pada Renata. 


"Semua sudah siap, kamu hanya tinggal tanda tangan saja. Aku pergi dulu, ada urusan di kantor." 


"Gak makan dulu. Ini sudah waktunya makan siang." Renata melihat jam dari pergelangan tangan Bagas. 

__ADS_1


"Tidak usah, aku makan di kantor saja. Sampai jumpa." Melambaikan tangan ke arah Renata. 


"Terima kasih ya, Mas. Aku selalu merepotkan kamu, setelah ini kayaknya ada yang rela bantuin aku siang malam."


Melirik sang tunangan yang nampak cuek pada Derya. 


Mereka pasti sudah baikan, semoga Bagas adalah pria yang tepat dan bisa melindungi Renata. 


Derya mengangkat satu tangannya tanda hormat." Aku balik dulu."


Tanpa pamit pada Bagas, Derya langsung keluar dari tempat itu. Setelah punggung Derya menghilang di balik pintu, Jerry ikut pamit undur diri. Namun, langsung dilarang Renata yang tidak mau berduaan dengan Bagas. 


Ponsel Renata yang ada di meja berdering. Ia meraih dan membukanya segera, takut sesuatu yang penting dan menyangkut Karin. 


Setelah membaca sebuah pesan, Renata mengucek matanya dan kembali membacanya dengan intens.


Ini beneran, siapa yang kirim uang sebanyak ini?


Bagas menarik kursi dan duduk di samping Renata.


"Ada apa?" tanya Bagas lirih. 


Mas Bagas, siapa lagi kalau bukan dia, cetus nya dalam hati. 


Tak mau terkecoh pada lelaki itu, dan tak ingin masuk ke perangkap nya seperti tadi. 


"Apa maksud Mas kirim uang sebanyak ini, mau menyogok supaya aku tetap memilih kamu," cetus Renata seraya menghampiri Bi Darmi yang sedang menata makanan. 


Bagas duduk di ruang makan. Mencium aroma makanan membuat perutnya sudah tak bisa lagi menahan lapar. 


"Tidak, itu hadiah untuk kamu."


Renata meletakkan beberapa menu di depan Bagas lalu memanggil Jerry yang dari tadi duduk sendiri di ruang tamu. 


Renata menyiapkan piring untuk Bagas dan Jerry. Menuangkan minuman untuk mereka berdua. 


"Jangan berlebihan, aku ingin mandiri."


"Kamu adalah tanggung jawabku, aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan tante untuk menjagamu, termasuk memenuhi semua kebutuhanmu."


Itulah kenapa aku tak bisa jauh darimu, kamu selalu mementingkan orang-orang terdekat. Aku yakin kamu juga bisa memegang janji yang kamu ucapkan. 


"Sayang, tolong ambilin ikan," pinta Bagas membuyarkan lamunan Renata. 


"Pak Jerry betah punya bos seperti dia?" tanya Renata pada Jerry yang mulai menyantap hidangannya.


"Terpaksa, karena bayarannya mahal."  Mengunyah makanannya dengan pelan. 

__ADS_1


Bagas hanya melirik sang sekretaris dengan ekor matanya. Tak mau merusak suasana makannya. 


 


__ADS_2