Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Rapat


__ADS_3

Bagas datang ke kantor, hari ini ada  sebuah proyek yang harus diselesaikan. Selain itu ada beberapa klien yang menawarkan kerjasama dengan perusahaan miliknya. Sebagai pimpinan ia bertanggung jawab penuh atas kinerja seluruh pegawainya baik dari yang paling rendah sampai yang tertinggi. 


"Bagaimana, apa kamu sudah siapkan semuanya tentang pertemuan hari ini?" tanya Bagas pada Jerry yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Sudah, Pak. Ini ada beberapa file yang harus bapak tanda tangani." 


Bagas meneliti rangkaian kalimat yang tercantum di dalam file itu. Setelah semuanya jelas, ia langsung menanda tanganinya. 


"Aku dengar sekretaris Pak Bambang itu anaknya sendiri?" tanya Bagas antusias. 


"Benar sekali, Pak. Pak Bambang sengaja menyuruh anaknya supaya nanti bisa menggantikannya."


Ada-ada saja. 


Jam menunjukkan pukul 11 siang. Bagas dan Jerry datang ke sebuah restoran tempat mereka rapat. Seperti biasa, ia datang tepat waktu, namun di sana ternyata tamunya sudah mendahuluinya. 


"Selamat siang, Pak." Bagas bersalaman dengan pria yang ada di depannya mengenalkan diri. Kemudian ia duduk di kursi yang tersedia untuk memulai rapatnya. Tak mau mengulur waktu, Bagas langsung membuka map yang tersaji di depannya. Ruangan itu nampak hening, hanya ada Jerry dan Bagas serta pak Bambang dan Alexa di sana. Bagas sengaja memesan ruangan yang sedikit tertutup untuk bisa fokus pada pekerjaannya. 


Bagas sibuk membaca proposal yang diajukan pak Bambang, sedangkan Jerry dan yang lain hanya bisa menunggu keputusan Bagas. 


"Kira-kira akan memakan waktu berapa tahun, Pak?" tanya Bagas melihat jalur tempat yang akan diruntuhkan. 


"Kurang lebih tiga tahun, itu pun kalau kita bisa menggusur beberapa perkampungan yang ada di pinggir kota." 


Bagas mengerutkan alisnya, lalu menatap Jerry yang duduk di sampingnya. Ia mengangkat kedua bahunya memberi kode Jerry untuk menjelaskan semuanya. 


"Maaf pak, perusahan kami memang ingin mencari klien untuk bekerja sama, dan pasti untung yang kami cari, tapi jika harus merugikan orang lain, kita tidak bisa," jawab Jerry menjelaskan. 


Bagas menyodorkan file yang ia pegang itu di depan Pak Bambang. 


"Tapi kalau kita cari jalur lain, akan lebih memakan waktu dan anggarannya juga lebih banyak, sedangkan hanya jalur ini yang paling tepat."


"Saya tetap tidak setuju, kecuali mereka menyerahkannya dengan ikhlas," ucap Bagas kekeh. 


Alexa mengelus lengan ayahnya lalu menatap Bagas yang tampak datar. 


"Begini saja, Pak. Saya akan bicarakan ini pada pihak yang terkait secara baik-baik, jika mereka menolak, saya akan hubungi bapak, kita akan mencari jalur lain yang lebih efektif lagi."


Bagas diam sejenak meresapi ucapan Alexa. 


"Baiklah, aku kasih waktu tiga hari."


Setelah semuanya beres, pak Bambang pergi meninggalkan tempat itu. Namun, tidak dengan Bagas dan Alexa yang masih betah dan ingin mengenal lebih jauh dari sekedar partner kerja. 


"Apa bapak sudah punya istri?" tanya Alexa disela-sela makannya. 

__ADS_1


Bagas menggeleng tanpa suara, matanya tertuju pada ponselnya yang berdering. Ternyata sang mama yang mengirim pesan. 


"Atau mungkin sudah punya pacar?" lanjut Alexa. 


Bagas meletakkan sendoknya dan tersenyum tipis.


"Maaf, kalau saya lancang." 


"Biasa saja, jangan terlalu formal. Ini di luar pekerjaan kita. Aku juga tidak memiliki pacar."


Tiba-tiba saja dada Alexa terasa sejuk mendengar ucapan itu. Selama ini ia hanya mendengar nama Bagas sebagai pengusaha yang sangat tampan. Namun, saat ini ia bisa melihat wajah pria itu secara langsung, bahkan Alexa mulai akrab dengannya. 


"Nggak mungkin, pria se tampan Bapak tidak memiliki pacar?" Imbuh Alexa tak percaya. 


"Aku belum menemukan yang cocok." 


Alexa tersipu, ia mengaduk es nya yang mulai mengembun. 


Ya ampun, jarang sekali ada pria yang seperti ini, puji Alexa dalam hati. 


"Senang bekerja sama dengan bapak, aku salut, selain mementingkan pekerjaan, bapak juga mementingkan nasib orang lain."


Bagas kembali menatap layar ponselnya, namun masih sama, sekalipun Renata tak menghubungi nya, padahal ia sangat mengharapkan gadis itu menelponnya di sela-sela pekerjaannya yang kelar. 


"I'm fine."


Renata kemana sih. Apa salahnya mengirim pesan dan mengucapkan selamat siang, gerutu Bagas dalam hati. 


Usai makan, Bagas dan Alexa keluar dari ruangan itu, mereka berjalan bersejajar melewati beberapa pengunjung yang masih sibuk menikmati hidangannya. 


Hingga di depan pintu, Bagas berpapasan dengan Melinda yang baru saja masuk. 


"Bagas," sapa Melinda dengan ramah. 


Bagas tersenyum paksa. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Meskipun sudah berusaha melupakan Melinda, namun cinta yang terjalin dalam kurun waktu yang lama itu masih tertinggal di hati Bagas. 


Melinda mantap Alexa yang masih ada di samping Bagas. 


Siapa perempuan ini, kelihatannya mereka sangat akrab? 


"Mel, kenalkan ini Alexa," ucap Bagas, ia merasa canggung saat berhadapan dengan Melinda. 


Alexa mengulurkan tangannya di depan Melinda. Mereka saling menyebutkan namanya. 


"Maaf Mel, aku harus pergi." 

__ADS_1


Bagas meraih tangan Alexa yang membuat sang empu terkejut. 


Alexa membalas genggaman tangan Bagas dan berjalan keluar. 


Melinda terus menatap punggung Bagas berlalu. Dari lubuk hati yang terdalam, Melinda pun belum bisa melupakan Bagas sepenuhnya. 


Namun sebelum Bagas dan Alexa tiba di parkiran, Renata datang, ia bisa melihat dengan jelas saat Bagas dan Alexa bergandengan. 


Dada Renata terasa sesak hingga ia harus mensuplai oksigen untuk bisa bernapas.


Renata, kamu harus sadar diri. Siapa pak Bagas dan siapa kamu, jangan pernah mengharapkannya, dia itu tampan, dan tidak mungkin mau menikah dengan kamu.


"Ayo Re! Nungguin apalagi?" 


Suara Bu Nurmala membuyarkan lamunan Renata, ia segera mengikuti langkah Bu Nurmala ke dalam. Setibanya di depan teras restoran, Renata menoleh menatap Bagas yang membukakan pintu mobil untuk Alexa. 


Pernikahanmu dengan bagas tidak akan pernah terjadi, sebelum kamu bermimpi lebih jauh lagi, bangunlah! 


Lagi-lagi Renata menyemangati dirinya sendiri. 


"Bapak yakin mau anterin aku balik ke kantor?" tanya Alexa setelah beberapa menit mobil Bagas membelah jalanan yang Ramai. 


"Iya, lagi pula jadwalku hari ini tidak terlalu padat, jadi bisa santai, maaf tadi aku pegang tanganmu" ucap Bagas kaku. 


Alexa hanya menanggapinya dengan senyuman. 


Mobil Bagas berhenti di depan kantor Alexa. Setelah gadis itu turun, ia kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah Bu Nurmala. Entah, setelah rencana perjodohan tadi pagi mendorong Bagas untuk memulai hubungannya dengan Renata ke tahap yang lebih serius lagi. 


Bagas merapikan penampilannya, menyisir rambutnya dan menatap pintu rumah Bu Nurmala yang tertutup rapat. Ia turun dan langsung membuka pintu depan tanpa permisi. 


"Tante," teriak Bagas, namun matanya fokus ke pintu kamar Renata. 


"Aden," sapa Bibi yang baru keluar dari dapur. 


"Bi, kok sepi. Tante Nurmala ke mana?" tanya Bagas. 


"Katanya tadi pergi arisan ke restoran XX," jawab Bibi seperti pesan Bu Nurmala. 


"Apa, bibi nggak salah?" 


Bibi menggeleng. 


"Kapan berangkatnya?" tanya Bagas. 


"Dua jam yang lalu," jawab Bibi lagi. 

__ADS_1


__ADS_2