Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Terungkap


__ADS_3

Meninggal di hari yang sama karena sebuah kecelakaan, kakek Liam terus berderai air mata. Kabar yang dibawa Akio itu menancap di relung hati.  Membayangkan saat detik-detik putra dan menantunya meregang nyawa tanpa orang terdekat. Tak menyangka, takdir merenggut mereka di waktu bersamaan. 


Mobil berhenti. Kakek Liam mengusap air matanya. Mencoba tegar menghadapi apa yang tergores oleh sang takdir. 


"Ini rumah tuan Reno, Tuan." Akio turun dan mematung di samping mobil. Menunjuk bangunan yang ada di balik gerbang. 


Kakek Liam membuka kaca mobil, menatap rumah berlantai satu. Namun, bangunan itu lumayan luas dengan desain modern. Entah itu sudah dirombak oleh penghuni atau belum, setidaknya tidak mengenaskan seperti yang ia kira. 


"Mungkin kita bisa meminta bantuan warga sini untuk lebih tahu jelasnya." Akio memberikan pendapat supaya kabar yang ia terima kemarin tidak simpang siur. 


"Baiklah, aku akan menunggu disini."  


Hampir saja berjalan, seorang wanita keluar dari rumah itu. 


Kakek Liam melepas jas mewahnya lalu turun menghampiri wanita yang ada di teras. Menyuruh Akio untuk tetap di mobil. 


Berjalan pelan menghampiri sang pemilik  yang duduk di teras. 


"Permisi, boleh saya bertanya?" tanya kakek Liam ramah. 


"Boleh, Pak. Silahkan duduk dulu!" 


Bak rakyat jelata, kakek Liam pun langsung duduk tanpa melihat kursi kayu yang sedikit lapuk.


"Sebelumnya maaf, apa anda membeli rumah ini dari Reno sebelum meninggal atau bagaimana?" tanya kakek Liam mulai ke inti. 


"Bukan dari pak Reno, tapi dari Bu Narti, saudaranya Bu Naomi. Dia menjualnya setelah pak Reno meninggal. Katanya sih untuk biaya hidup anak pak Reno," jelasnya panjang lebar. 


Deg


Jantung kakek Liam berdegup kencang saat mendengar kata "anak" dari wanita yang duduk di depannya itu. 


"Anak? Maksud anda, anaknya Reno?" Bibir Kakek Liam bergetar menanti jawaban. 


"Iya, Pak. Saya kurang tahu karena bukan warga sini. Tapi, sedikit yang saya dengar pak Reno punya anak perempuan. Barang-barangnya juga masih ada di gudang. Sebentar saya ambilkan." Berdiri meninggalkan kakek Liam yang masih  terpaku. 


Reno punya anak, bukankah waktu itu dokter mengatakan kalau Naomi mandul.


Wanita itu keluar membawa kardus besar  di tangannya dan meletakkan di atas meja. Tepatnya di depan kakek Liam. 

__ADS_1


"Saya temukan ini di salah satu kamar. Sepertinya anak pak Reno sangat berprestasi, banyak piala nya." 


Kakek Liam beranjak, tangannya bergerak membuka kardus yang ditutup dengan lakban. 


Paling atas, ia melihat ada sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah. 


Apa ini lukisan Reno, kenapa tidak ada namanya?  


Kakek Liam menurunkan satu persatu beberapa lukisan yang ada di bagian atas. Setelah itu ada sebuah piala kejuaraan. 


Juara satu lomba melukis tingkat nasional,  Adinda Renata Nicholas.


Seketika piala yang ada di tangan kakek Liam terjatuh. Akio yang baru saja datang  langsung berjongkok dan menangkap benda itu dari bawah hingga tidak menyentuh lantai. 


Renata Nicholas, mengucap lagi dalam hati. 


Nama Renata saat menerima piala di panggung itu terlintas dalam otaknya. bagaimana bahagianya gadis itu. 


"Ada apa, Tuan?" tanya Akio yang tidak tahu menahu. 


"Siapa nama panjang Renata?" tanya kakek Liam, matanya mulai digenangi cairan bening, sebuah firasat yang pernah ditepis berulang kali itu kembali hadir. 


"Renata yang__" 


"Dia cuma menyebut namanya Renata, tidak memakai nama belakang, Tuan." 


Wajah kakek Liam nampak pucat. Menahan rasa yang mulai bergejolak di dada. Nama yang sama dengan keahlian yang juga sama membuatnya terpukul berkali-kali. Bagaimana dia bisa menyakiti darah dagingnya sendiri? Rasa takut pun ikut menyambar mengingat perbuatannya pada sosok Renata yang begitu keji. 


Renata Nicholas, putri dari Reno Nicholas, cucuku. Hanya mengucap dalam hati, lidah kakek Liam terasa kelu. Pita suaranya terikat hingga tak mampu keluar.


Dadanya yang terasa nyeri terus diabaikan. Berharap saat ini untuk tidak runtuh dengan kenyataan pahit itu. 


"Akio, kamu bongkar isi kardus itu, dan cari bukti lagi," titahnya. 


Kakek Liam duduk dan bersandar. Merutuki semua yang pernah diucapkan pada Renata. 


Akio membongkar satu-persatu. Menunjukkan pada kakek Liam semua isinya. Banyak piala dengan nama yang sama, namun ada yang paling mengejutkan, sebuah foto usang yang terselip diantara buku-buku. 


"Ini foto tuan muda Reno dan Nona Naomi serta Renata, Tuan." Menyodorkan di depan Kakek Liam. 

__ADS_1


Kakek Liam meraih foto itu dan menatap dengan lekat. 


Jadi benar, Renata adalah cucuku, dia anak dari Reno dan Naomi. 


Buliran bening kembali lolos di pipi kakek Liam dengan deras. Penyesalan bertubi-tubi dirasakan. Sang pewaris tunggal telah ia sakiti, bahkan dengan teganya diusir dari kediaman yang seharusnya menjadi miliknya. 


Aku harus kuat, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertemu cucuku. Dia adalah orang yang berhak atas apa yang aku miliki. Meskipun aku tidak pantas dimaafkan, tapi aku harus menjelaskan padanya. Setelah semua ini jelas, aku akan melaporkan diri ke polisi. 


"Akio, bawa itu semua ke mobil, aku ingin bertemu dengan Renata." 


Kakek Liam meninggalkan rumah itu. Akio mengikutinya dari belakang dan meletakkan barang-barangnya di bagasi. 


"Apa sebaiknya kita bertanya pada warga sini, Tuan. Siapa tahu Renata hanya anak pungut?" saran Akio sebelum menyalakan mesin mobil. 


"Terserah kamu saja."


Setibanya di ujung jalan, Akio menghentikan mobilnya, menghampiri beberapa orang yang nampak santai di depan rumah. 


"Permisi, numpang tanya," sapa Akio dengan ramah. 


Beberapa orang saling senggol melihat tubuh kekar Akio yang melebihi rata-rata orang Indo. 


"Apa ibu kenal dengan almarhum Reno Nicholas?"


Semua warga yang ada di sana mengangguk tanpa suara.


"Apa beliau memiliki anak?" tanya Akio lagi. 


Salah satu warga lebih mendekat. 


"Iya, setelah tinggal di sini lima tahun,  istrinya pak Reno hamil dan melahirkan anak perempuan, namanya Renata. Tapi sekarang saya tidak tahu lagi dia tinggal di mana, terakhir bersama bibinya."


Ucapan itu sudah cukup menggambarkan semuanya. Akio langsung mengucapkan terima kasih dan berlalu. 


"Benar, Tuan. Renata adalah anak kandung Tuan Reno dan nona Naomi." 


Tanpa disuruh, Akio melajukan mobilnya membelah jalanan yang kian ramai. Kakek Liam terhanyut dalam lamunan. Tak mengindahkan ponselnya yang berdering berkali-kali.


"Akio, aku ingin mengalihkan semua hartaku untuk Renata. Kamu urus semuanya. Setelah itu aku akan mengakui perbuatanku ke polisi. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di sana."

__ADS_1


Kakek Liam mengungkapkan isi hatinya. Ia tak ingin lagi terjerumus dalam dosa. Mungkin itu adalah jalan satu-satunya untuk menebus kesalahan yang pernah dilakukan kepada anak cucunya. 


"Tidak, Tuan. Biarkan saya yang menjalani hukuman itu. Anda harus bahagia bersama cucu Tuan. Saya yang akan bertanggung jawab atas semua ini." 


__ADS_2