
Kebahagiaan bertubi-tubi datang. Setelah menemukan seorang anak dari Putra semata wayangnya, Kakek pun bisa menyaksikan Renata menikah dengan orang yang dicintainya. Kemudian kakek mendapatkan anugerah yang berlimpah atas kehamilan Renata.
Hari ini semua keluarga berkumpul di rumah kakek Liam, termasuk Bu Nurmala dan Bu Amara. Mereka akan membahas rencana pernikahan Derya dan Gina. Meskipun terkesan mendadak, kakek Liam tidak perlu ragu lagi pada Derya. Dia pun bukan orang sembarangan. Derya adalah pengusaha muda yang kaya, terampil dalam beberapa bidang seperti Bagas.
Hubungan yang pernah renggang kini terpaut kembali. Derya datang bersama Sena. Satu-satunya keluarga yang dia miliki. Tak ubahnya Gina dan Renata yang saling memaafkan, Bagas dan Derya pun melakukan hal yang sama. Persahabatan yang dulu pernah retak kini disambung dengan erat.
Tali persaudaraan pun tercipta dengan hangat. Seperti pada umumnya, prosesi lamaran itu pun terbilang mewah, meskipun hanya disaksikan keluarga dan tamu penting, Kakek Liam membuat acara itu dengan meriah. Renata masih canggung saat melihat Sena, apalagi terakhir kali bertemu mereka berdebat di acara pertunangan Melinda malam itu.
Derya dan Bagas saling merangkul. Mengingat momen-momen di waktu mereka masih kuliah, saling berbagi keluh kesah. Saling bercanda, merindukan kebersamaan yang tak ada habisnya.
Gina nampak cantik dengan balutan kebaya khas Jawa. Semenjak tinggal di Indo dan pindah kuliah, ia terhanyut dengan model-model baju yang ada di Indo. Kini dia pun berpakaian lebih tertutup daripada sebelumnya.
Sena duduk di samping Renata. Matanya terus tertuju pada tangan Bagas yang merangkul pinggang istrinya. Memamerkan kemesraan di depannya. Sakit hati pun percuma, Ia tak bisa lagi memiliki seorang Bagas Ankara.
"Bagaimana kabarmu, Re?" Renata menoleh, membalas senyuman manis Sena
"Aku baik, kamu sendiri gimana?" Renata bertanya balik. Pasalnya, mereka tidak pernah bertemu. Waktu pernikahan Renata, Sena tak hadur karena masih sakit hati pada Bagas yang pernah menolaknya mentah-mentah.
"Aku juga baik. Maaf aku nggak bisa datang ke pernikahan kamu, karena waktu itu aku ada pameran di luar kota," ucapnya asal.
"Nggak papa kok, lagi pula pekerjaan kamu kan sangat penting."
Calon pengantin duduk bersanding. Mereka tukar cincin di depan tamu. Tepuk tangan riuh mengiringi langkah Gina dan Derya yang meminta restu kepada kakek Liam dan juga bu Amara.
"Aku minta maaf, Tante. Sekarang aku sadar, tante adalah ibuku yang terbaik. Tanpa bimbingan tante, aku tidak akan seperti ini. Apartemen yang pernah aku bangun bersama Bagas, aku hadiahkan untuk Tante."
Bu Amara menepuk punggung Derya yang bersimpuh di depannya. Dulu ia menjadi ibu sepenuhnya bagi pria itu. Selalu memberikan petuah. Bagaimana cara menjalankan hidup dengan baik, bagaimana memutuskan permasalahan di tengah-tengah rumitnya kehidupan. Namun, setan yang terkutuk menyelimuti hati Derya saat adiknya terpuruk karena Bagas. Kini ia benar-benar menyadari kesalahannya, jodoh tidak bisa dipaksakan, akan tetapi menjalin hubungan yang baik akan membuatnya nyaman dan memiliki keluarga yang utuh.
__ADS_1
"Kamu tidak usah berlebihan, aku tidak minta apapun dari kamu. Yang terpenting, kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai.
"Tidak, Tante. Aku sudah bertekad akan memberikan tempat itu untuk, Tante." Derya semakin kekeh.
"Terserah kamu saja, pokoknya kamu harus bahagiakan Gina, tapi jangan lupa tetap sayangi Sena. Dia adalah adik kamu satu-satunya, teman hidupmu. Dia masih sangat membutuhkanmu, jangan pernah tinggalkan dia sendiri.
Derya mengangguk, ia paham apa yang dikatakan Bu Amara.
Setelah acara demi acara usai, kini semua tamu memasuki ruang makan. Banyak jamuan di sana, namun Renata enggan untuk mendekat. Setelah ngidam aneh-aneh yang memberatkan Akio dan Mondi, kini Renata bener-bener suntuk karena perutnya tak ingin menerima apapun selain buah yang asam.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Bagas membujuk.
"Aku tidak mau makan apa-apa, rasanya sudah mual, Mas." Renata menarik tangan Bagas keluar.
"Ternyata benar kata orang-orang, hamil itu sangat menyakitkan," keluh Renata menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Maafkan aku, karena sudah membuatmu seperti ini."
"Sekarang kamu bilang saja, pengen apa?"
"Aku pengen tidur." Sangat sederhana
"Ya udah, kita ke kamar."
Setelah keduanya berada kamar lantai dua, Renata langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, namun kantuknya tiba-tiba hilang. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum yang dipakai Bagas.
"Mas Aku ingin tidur dipelukanmu."
__ADS_1
Seperti biasa, Bagas pun langsung meletakkan tangannya di bawah kepala Renata. Membenamkan wajah wanita itu di dadanya. Tanpa izin, Renata membuka kancing baju Bagas bagian atas. Ia menciumi dada bidang suaminya yang sangat wangi. Setelah puas di sana, Renata beralih mencium wajah Bagas. Menyatukan bibir keduanya.
Maaf ya, Kak. Bukannya aku melarang, Tapi sebaiknya Kakak dan kak renata tidak berhubungan intim dulu. Tunggu sampai kandungannya semakin kuat.
Ucapan Liana terngiang-ngiang di telinga Bagas. Ia tak membalas sedikitpun ciuman dari istrinya, meskipun di bagian bawah sana sudah meronta-ronta, Bagas mempertahankannya demi menjalankan perintah dokter itu.
"Mas, Apa kamu nggak menginginkannya?" tanya Renata dengan suara pelan.
Bagas mengecup kening Renata dengan kilat.
"Bukan tidak menginginkannya, Sayang. Tapi kamu dengar apa kata Liana kemarin? Dia bilang kita tidak boleh berhubungan intim dulu, tunggu bayi kita kuat."
"Tapi aku ingin." Renata mengatakannya dengan manja. "Katanya pelan-pelan juga enggak apa-apa," imbuhnya.
Ternyata cicit marga Nicholas ngidamnya macam-macam. Tapi kalau ngidam yang ini aku suka.
Bagas hanya cekikan dalam hati, menerima umpan dengan baik.
Tanpa pikir panjang, mereka langsung memulai aksinya. Tak seperti sebelumnya Bagas yang selalu melakukannya sesuka hati, kini Bagas pelan-pelan, ia membalas ciuman istrinya dan membuka bajunya sendiri. Menyentuh bagian-bagian sensitif sang istri dengan lembut. Is tak ingin menyakiti wanita yang ada dibawahnya ataupun bayinya yang masih bersemayam di dalam kandungan.
Tak berselang lama, keduanya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun saling menyatukan tubuh. Saling memberi kenikmatan.
"Apa aku terlalu kasar?" bisik Bagas saat Junior melakukan tugasnya dengan sempurna.
Renata menggeleng pelan, matanya terpejam menikmati ritme bercinta dari sang suami. Hingga dua puluh menit keduanya saling menyemburkan cairan masing-masing secara bersamaan. Jika biasanya Bagas ambruk di atas tubuh istrinya, kali ini ia menggeser dan berbaring di sisi Renata karena tak mau menyakiti anaknya.
"Terima kasih, Sayang. I love you."
__ADS_1
Renata pun menjawabnya dengan malu-malu, "I love you too."
Renata kembali membenamkan wajahnya di dada Bagas. Itu adalah tempat ternyaman baginya semenjak hamil.