
Rasa sesal menyusup ke relung hati yang paling kecil saat Bagas tiba di negeri sakura tersebut. Musim semi telah tiba. Bunga sakura bermekaran menghiasi setiap rute jalan menuju hotel. Sesekali ia menatap Renata yang sibuk memotret bunga itu dari dalam mobil. Indah, namun akan lebih indah jika dirinya dan Renata sudah menjadi suami istri.
Ini pertama kali Renata menginjakkan kakinya di tempat itu. Hampir seluruh mimpinya menjadi kenyataan setelah bertemu dengan Bu Nurmala dan Bagas. Seakan takdir mengubah hidupnya menjadi wanita yang sangat beruntung.
"Sayang," panggil Bagas dengan mesra sambil menurunkan ponsel Renata. Ingin perhatian lebih dari seorang yang sangat penting.
Renata menoleh, menatap wajah Bagas yang nampak memelas. Saat ini tidak ada orang yang lebih berharga selain pria yang ada di sisinya itu.
"Ada apa, Mas. Capek?" tanya Renata antusias, menempelkan punggung tangannya di kening Bagas.
Bagas menggeleng. Meletakkan kepalanya di pundak Renata. "Seandainya kita sudah menikah, pasti hari ini adalah hari terindah untuk kita."
Otaknya traveling, membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka sudah resmi menjadi pasangan halal. Pasti ranjang hotel adalah tujuan utama. Menjadi saksi bisu pergulatan panasnya.
Renata mengatupkan bibirnya, menahan tawa melihat wajah Bagas yang nampak pasrah. Tangannya bergerak mengusap pipi kokoh Bagas, kemudian naik menyisir rambut pria itu dengan jari-jarinya.
"Kata ibu nanti bisa bulan madu ke sini. Mas tenang saja," ucap Renata menenangkan.
Bagas mendengus kesal lalu memejamkan matanya.
Mobil berhenti di depan hotel mewah. Bagas langsung turun dan masuk, diikuti pelayan yang membantu membawa barang-barangnya.
"Selamat datang, Tuan Bagas," sapa manager hotel yang ada di depan resepsionis.
Bagas tersenyum dan bersalaman. Menerima sambutan hangat itu. Kedatangannya sudah tak asing lagi. Sebab, akhir-akhir ini ia juga sering datang ke Jepang untuk memperluas bisnisnya.
"Terima kasih, Tuan Akemi. Saya tidak menyangka hotel ini semakin ramai saja."
Seperti biasa saat bertemu, keduanya bercanda, saling bertanya kabar lawan. Apalagi Akemi, pria yang ada di depannya itu pun belum beristri.
Akemi menatap Renata dari atas sampai ke bawah, cantik dan sempurna, itulah kata yang tertahan dalam hati, ingin menyanjung takut dianggap lancang.
"Maaf, Tuan. Sepertinya pasangannya berbeda? Tuan Derya ke mana?" cetus Akemi penasaran.
Bagas menggaruk alisnya yang tidak gatal, ia tak mungkin menceritakan hubungannya yang sedikit renggang.
"Kenalkan, ini calon istri saya, namanya Renata." Bagas mengalihkan pembicaraan, ia tak mau membahas orang yang kini memasang bendera perang padanya.
Renata menangkup kedua tangannya tanda perkenalan. Berbeda dengan Bagas yang sudah lancar berbahasa asing, Renata tak tahu apa-apa, beruntung masih ada beberapa orang yang memakai bahasa Indo dan memudahkannya untuk berkomunikasi.
__ADS_1
"Silakan istirahat, Tuan! Saya sudah siapkan kamar yang spesial, semoga Tuan dan Nyonya betah di sini."
Keduanya bergelak tawa sebelum Bagas meninggalkan pria itu.
Setibanya di lorong, Bagas menghentikan langkah dan meraih tangan Renata hingga keduanya berjalan bersejajar.
"Kamu mau langsung tidur, apa jalan-jalan."
Renata teringat nama seseorang yang pernah diucapkan Bagas. Nama yang membuatnya takjub dengan segala keahliannya dan itu sukses membuat Renata tak sabar ingin segera bertemu.
"Aku ingin bertemu Tuan Liam, apa mas mau mengantarku sekarang?"
"Pemilik galeri yang aku ceritakan waktu itu?"
Hemmmm
Bagas menghentikan langkah di depan kamar yang ia pesan lalu menatap Renata yang nampak penuh harap.
"Boleh, namanya Liam Nicholas. Dia pelukis kondang yang mempunyai galery terbesar di kota ini. Dia juga menampung ratusan orang yang ingin belajar melukis secara gratis."
Deg
Renata menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah yang kembali meredup mengingat sang ayah.
"Aku masuk dulu," pamit Renata sembari membuka pintu kamar. Setelah menutup pintu, Renata duduk di tepi ranjang, membuka tas dan mengambil sebuah foto usang dari sana.
"Ayah, Ibu, aku kangen kalian. Apa ayah tahu, ternyata di Jepang ada juga orang yang namanya mirip ayah. Hanya beda nama depannya saja. Semoga ayah dan ibu mendapat tempat yang indah di sisi Tuhan."
Renata menyimpan kembali kenangan itu, ia tak mau larut dalam kesedihan yang mendalam. Melepas jaket yang membalut tubuhnya lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Renata menatap rumah mewah yang ada di depannya, bangunan kokoh dengan tiga lantai itu bak istana. Banyak penjaga yang berlalu lalang di halaman dan di samping rumah itu.
"Ini rumah tuan Liam?" tanya Renata pada Bagas. Matanya fokus pada pintu rumah yang terbuka lebar.
"Iya. Lihat saja, itu lukisan seharga satu miliar rupiah." Bagas menunjuk sebuah lukisan yang terpajang di sisi pintu depan. "Di dalam masih banyak lagi yang lebih mahal dan indah."
Renata semakin penasaran dengan wajah sang pemilik marga Nicholas tersebut.
__ADS_1
Bagas menggandeng jemari Renata. Keduanya masuk dan langsung mengikuti langkah pelayan di sana.
"Nanti panggil saja kakek," bisik Bagas di telinga Renata.
"Kenapa begitu, apa mas sudah mengenalnya?" Renata balik tanya dengan berbisik pula.
"Aku sudah mengenalnya, dia adalah guruku waktu aku masih kuliah di sini."
"Silakan, Tuan!" Pelayan mempersilahkan Bagas dan Renata masuk ke sebuah ruangan yang ada di depannya.
Tok tok tok
Bagas mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar.
Kursi menghadap ke arah jendela. Memunggungi Bagas dan Renata yang ada di ambang pintu.
"Masuk saja anak muda," sahut suara yang ada di balik kursi. Meskipun tak nampak, Bagas sudah tahu itu adalah suara Liam Nicholas. Pengusaha kaya yang tiada tanding.
Ternyata dia bisa bahasa Indo, kereeen, puji Renata dalam hati.
"Kek, aku membawa calon istriku ke sini, dia seorang pelukis dan ingin bertemu dengan, Kakek."
Pria yang dipanggil Kakek itu beranjak dan membalikkan badannya, menatap wajah Bagas, lalu beralih Renata.
Bagas membungkuk, begitu juga dengan Renata yang mengikutinya.
Jantung Renata kembali berdegup kencang. Melihat kakek Liam, ia seperti menatap sosok sang ayah berdiri di depannya.
Dia cantik sekali, mirip Naomi. Sayang dia mandul dan tidak punya anak.
Hening
Kakek Liam masih menatap Renata, begitu juga sebaliknya. Seperti ada sebuah aliran yang membuat keduanya tak bisa berpaling.
"Kek…" Suara Bagas membuyarkan lamunan Kakek Liam dan Renata.
"Iya, silakan duduk." Kakek Liam nampak gugup.
Reno, Naomi, kalian di mana, aku sudah memaafkan kamu dan Naomi, jika kamu masih ingat aku, pulanglah nak. Aku sudah merestui kalian.
__ADS_1
Buliran bening luruh membasahi pipi keriput kakek Liam. Penyesalan terus menghantui hidupnya saat mengingat apa yang pernah dilakukan pada anak satu-satunya.