Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Bahagia semua


__ADS_3

Setelah menjalani perawatan yang intensif selama dua minggu di rumah sakit, akhirnya kakek Liam dibawa pulang. Beberapa dokter yang langsung didatangkan dari negara asal pun ikut bahagia melihat pria tua itu nampak bugar seperti sedia kala. 


Tak sia-sia mereka datang, karena pada akhirnya bisa melihat kakek Liam tersenyum lebar. 


Bagas dan Renata menepati janjinya. Mereka tinggal di rumah kakek Liam setelah izin pada Bu Nurmala dan Bu Amara. 


"Maaf ya, Bu. Kalau aku meminta mereka tinggal di sini. " Kakek Liam menangkup kedua tangannya. Memohon dengan sepenuh hati kelapangan hati kedua ibu Renata. 


Bu Amara tersenyum. "Tidak apa-apa, Kek. Di manapun Bagas dan Renata tinggal, mereka akan tetap menjadi anak kami." Bu Amara merangkul Bu Nurmala. Saling mengikhlaskan karena keadaan yang mendesak.


Bagas membantu Kakek Liam duduk di sofa, meskipun sudah sepenuhnya sembuh, semua tetap khawatir dengan kondisi pria itu. Akio dan Mondi pun berjaga sepenuhnya, berusaha sekuat tenaga demi kesembuhan sang majikan.


"Sekarang kamu dan Renata istirahat saja. Sudah beberapa hari ini kalian nungguin kakek, pasti capek." 


Bagas menatap wajah lelah Renata lalu mengajaknya ke kamar. Meninggalkan ruang tamu yang masih dipenuhi keluarganya sendiri dan orang-orang kepercayaan kakek Liam.


Sesampainya di kamar, Renata tak langsung membaringkan tubuhnya, ia memilih berdiri di belakang jendela, menghirup udara dalam-dalam, menikmati udara pagi yang masih terasa segar menenangkan jiwa. 


Bagas menghampiri dan memeluknya dari belakang. Meletakan dagunya di pundak kecil sang istri. 


"Lagi mikirin apa?" tanya Bagas, kedua tangannya terus mengelus perut rata Renata. 


Terdengar helaan nafas panjang. 


"Bukan apa-apa, dulu aku pernah bermimpi ingin hidup bahagia di tengah-tengah keluarga yang mencintai dan menyayangiku. Menjadi seorang pelukis yang terkenal juga salah satu impianku." Renata terus mengenang masa sulitnya saat tinggal bersama Bibi dan Karin. 


Membalikkan tubuh, melingkarkan kedua tangannya di leher Bagas. Saling beradu pandang dan tersenyum. Pancaran cinta membuat mereka terhanyut dalam gelombang asmara.


"Ternyata semua itu bukan sebatas impian, tapi menjadi kenyataan, aku tidak menyangka bisa bersanding denganmu. Dan aku juga tidak menyangka kalau ayah adalah putra seorang Lima Nicholas."


Mata Renata berkaca. Tak sanggup lagi menyimpan kebahagiaan yang bertubi-tubi membanjirinya. Mempunyai suami yang baik, tampan dan kaya. Keturunan dari seorang konglomerat, bahkan kini menjadi pelukis yang dikenal banyak orang menyempurnakan kebahagiaan Renata. Mengiringi perjalanan hidup selanjutnya bersama orang-orang tercinta. 


Renata menyandarkan kepalanya di dada Bagas. Mendengarkan detakan jantung yang berirama dengan tenang. 

__ADS_1


"Aku pun ikut mewujudkan impianmu selanjutnya."


Mendengar ucapan itu, Renata mengernyitkan dahi, mendongak menatap Bagas yang nampak cekikikan. 


"Apa?" tanya Renata menyelidik, dari wajah sang suami sudah menunjukkan jika pria itu menyembunyikan sesuatu. 


"Menjadikanmu sebagai seorang ibu, sebentar lagi kita akan memiliki anak, dan akan menjadi keluarga kecil Ankara Nicholas."


Keduanya tertawa lepas. Menyambut satu anugerah yang beberapa bulan lagi akan melengkapi keluarganya. 


Bagas melepaskan pelukannya. Membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan perut Renata. 


"Dede mau di jenguk papa?" tanya Bagas berbisik.


Alasan, bilang saja kalau mas kangen itu, gerutu Renata dalam hati. 


"Kayaknya nggak deh, Pa. Mama ngantuk." Kata Renata menirukan suara anak kecil lalu menguap. Pergi ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Meskipun pura-pura malas, tak menyurutkan Bagas untuk melanjutkan aksinya, pria itu melepas kemejanya dan ikut berbaring di samping istrinya. 


"Yakin nggak mau itu?" goda Bagas, ia tahu jika istrinya hanya pura-pura. 


Tangan Bagas mulai bergerak. Menyentuh setiap jengkal wajah Renata dan berhenti di bibir merah wanita itu. Mengusapnya dengan lembut dan penuh cinta. 


"Kalau begitu ciuman saja," pinta Bagas melas. 


Alasan lagi. 


Renata tak memberi jawaban apapun, yang menurut Bagas, itu adalah kode lampu hijau. Tanpa aba-aba Bagas langsung menyatukan bibirnya, hampir seminggu tak menyentuh Renata bagaikan setahun dan membuatnya rindu setengah mati. 


Semakin lama, ciuman Bagas semakin dalam dan menuntut. Kedua tangannya menyusuri bagian tubuh yang lain sehingga menciptakan suara yang erotis dari bibir Renata. 


Kini tak ada penolakan sedikitpun, Renata yang sudah berada di bawah kungkungan sang suami merasa kalah dan menyerah hingga akhirnya ia mengikuti permainan Bagas. 


Seperti biasa, Bagas melakukannya dengan pelan. tak ingin menyakiti anak maupun istrinya yang kini menjadi sumber kebahagiaanya. Hingga keduanya saling merasakan nikmatnya surga dunia bersama. 

__ADS_1


Hari sudah sore, Renata dan Bagas yang seharian melepas kerinduan kini sudah disibukkan dengan beberapa aktivitas.


Setelah aksi di ranjang yang membuat keduanya keelalah. Renata bergelut dengan pekerjaannya di Galeri, begitu juga dengan Bagas yang mulai mengurus kantornya dan juga bisnis kakek Liam yang kini menjadi milik istrinya, belum lagi ikut sibuk mempersiapkan pernikahan Gina dan Derya yang beberapa hari lagi akan digelar. 


"Sayang, nanti aku jemput kamu jam tujuh, ada rapat penting." Bagas pamit setelah menemani Renata di Galeri dan kini beralih mengantarkan istrinya ke Cafe. 


"Hati-hati, nanti kalau nggak bisa jemput, bilang saja, biar aku panggil supir." 


"Jangan!" sergah Bagas seketika. 


"Pokoknya tungguin aku," pinta Bagas. 


Renata mengangguk, memberi ciuman perpisahan yang membuat semua karyawan yang melihatnya iri. 


Lambaian tangan mengiringi langkah Bagas menuju mobil. Tak henti-hentinya Bagas mengutarakan kasih sayang dan cintanya untuk Renata. 


Terima kasih, Mas. Kamu adalah cahaya yang menerangi hidupku. Tanpa dirimu, aku tidak akan bisa bertemu kakek, tanpa kamu pula aku tidak akan bisa seperti ini.


"Sore, Bu," sapa Rita dengan membawa map di tangannya. 


"Sore, ada laporan apa?" tanya Renata seperti yang ia lakukan saat tiba di cafe. 


Rita tersenyum. "Cafe berkembang pesat, Bu. Ada yang ingin bekerja sama. Mereka menawarkan beberapa makanan yang menjadi andalan di tempatnya."


Renata mengecek beberapa proposal yang dibawa Rita. 


"Baiklah, aku terima. Kamu urus saja semuanya, pokoknya aku percayakan semua ini sama kamu." 


Renata masuk, melewati pintu yang dibuka sang penjaga. 


Dari arah gerbang, seorang wanita cantik dengan perut membesar pun menangis tergugu, menyesal dengan semua yang sudah terjadi. Dia adalah Karin yang dulu pernah merasa paling benar dan berkuasa. 


Seandainya dulu aku mendengarkan ucapan kamu, pasti aku tidak akan hamil seperti ini. Sekarang semua sudah terlambat, takdir mengubah segalanya.

__ADS_1


Tak hanya Bagas dan Renata yang berlimpah kebahagiaan, kini Andara pun merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia setelah Jerry menerimanya lagi sebagai kekasih. Bahkan secepatnya Jerry akan menikahi Andara dan membangun rumah tangga yang kokoh bersama gadis itu.


Tamat


__ADS_2