Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Resmi dibuka


__ADS_3

Bagas terpaku. Hampir berdurasi lima menit matanya tak berkedip, terpana pada sosok Renata yang berdiri di depan pintu. Gadis itu nampak anggun, wajahnya bening memukau. Baju yang dipakai menyempurnakan kecantikannya yang di atas rata-rata. 


Renata mengenakan Coat dress dipadu padankan dengan celana bahan. Ia terkesan sangat trendi dan juga smart, pastinya modis. Rambut tetap terurai panjang. Kali ini memakai aksesoris yang sedikit berlebih, seperti kalung dan anting panjang juga jepit rambut di bagian kanan. 


"Mas, aku aneh, ya?"


Renata menunduk menatap penampilannya sendiri. Tidak percaya diri dan terkesan alay.


"Nggak! Kamu cantik sekali, siapa yang beliin baju?" tanya Bagas penasaran, pasalnya sebelumnya Renata tak pernah memakai baju seperti itu, dan ini adalah perdana ia memakai baju formal. 


"Ibu dan tante Amara yang pilih, mereka berdua sekongkol beliin baju untukku." 


"Panggil mama, sebentar lagi dia akan menjadi orang tuamu juga." 


Bagas meraih tangan Renata. Keduanya turun dari apartemen saling bergandengan tangan. 


Seperti yang dikatakan Renata, hari ini ia akan resmi membuka cafe dan galeri miliknya, di hari pertama akan ada beberapa acara kecil-kecilan. 


"Lho, Mama dan Ibu mana, bukannya mas datang ke sini bersama mereka?"


Renata menoleh ke belakang, ternyata jok yang ada di belakang benar-benar kosong. 


"Mama dan tante sudah pergi dari tadi." 


Terpaksa Renata pergi berdua dengan Bagas. Di sepanjang jalan, ia menerima berbagai godaan dari Bagas yang akhir-akhir ini sangat jahil. 


Tiga puluh menit berlalu, kini mobil Bagas sudah tiba di depan sebuah cafe mewah milik Renata. Beberapa waitress menyambut kedatangan mereka. Meskipun baru resmi dibuka hari ini, Renata sudah menyiapkan semuanya, termasuk beberapa pelayan. 


"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan nama saya Rita, salah satu pegawai di sini."


"Terima kasih sudah mau bergabung, semoga kalian betah bekerja dengan saya." 


Setelah berkenalan dengan semua pegawai. Renata dan Bagas masuk menemui tamu yang lain. 


"Selamat pagi, Sayang." Bu Nurmala berhamburan memeluk Renata, mengurai rindu, tiga malam berpisah membuat wanita paruh baya itu kesepian. 

__ADS_1


"Pagi, Bu, Gimana kabarnya?" tanya Renata. Sebab sibuk, ia  tak sempat menghubungi ibu angkatnya. 


"Baik, tapi akan lebih baik jika kamu pulang." Memelas dan penuh harap. 


"Kapan-kapan aku akan menginap di rumah, tapi untuk saat ini aku belum bisa."


"Pagi, Tante."


"Kok tante pagi," protes Bagas menekankan. Ia tak terima dengan panggilan yang disematkan Renata untuk mamanya. 


"Pagi, Ma." Bagas memberi contoh dengan suara lantang, hingga membuat berapa orang tertawa. 


Entah kenapa, Renata masih canggung jika harus memanggil itu di depan umum, pasalnya mereka belum menikah dan terdengar sedikit aneh. 


"Pa—pagi, Ma." ucap Renata terputus-putus, sedikit gugup saat semua orang memperhatikannya. 


"Pagi, jangan dengarkan Bagas, terserah mau panggil apa, yang penting kamu nyaman."


Acara peresmian itu sudah siap. Renata memegang gunting dan berdiri tepat di belakang pita yang menjulur panjang. Kue setinggi dua meter sudah melambai-lambai ingin dipotong. Nasi kuning dan beberapa hidangan lainnya pun berjejer rapi menunggu disantap. 


"Mas Derya, sini!" Renata memanggil Derya untuk berada di dekatnya, bersama Bagas dan yang lain. 


Bukan saatnya untuk cemburu. 


Bagas berbicara dalam hati. Tidak mau merusak momen bahagia Renata saat ini. 


Derya menggeleng tanpa suara. Ia pun tak  mau mengganggu acara penting itu. Jika dulu kehadirannya menjadi salah satu kelengkapan, kini ia bagaikan orang asing di mata keluarga Bagas.


"Nggak papa Derya, sini saja," imbuh Bu Amara. Meskipun hubungan Bagas dan Derya sedang tak baik, beliau tetap bersikap biasa. 


Sebab, sudah mendapatkan izin, Derya memberanikan diri berdiri di belakang Bagas. 


Tidak panjang lebar, hanya ada berapa sambutan dari keluarga dan juga Bagas. Yang terakhir adalah ungkapan kata dari Renata selaku sang pemilik. 


Terharu, itulah yang dirasakan Renata. Perjalanan hidupnya yang sangat menyakitkan kini berbuah manis. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang terus diinjak-injak harga dirinya. Namun, dengan berjalannya waktu, kini ia disanjung dan dipuji. Hampir setiap orang menyadari keberadaannya sebagai pelukis. 

__ADS_1


Renata menatap satu persatu orang yang hadir. Kemudian menghentikan pandangannya ke arah Bagas yang kini berada di sisinya. 


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang sudah membantuku. Menemani setiap langkahku, mendukung, memberikan penyemangat baik secara tenaga maupun doa. Meluangkan waktu demi aku. Terima kasih untuk ibu yang sudah memberikan kasih sayang dan tempat untukku." Renata berhamburan memeluk Bu Nurmala. Mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dari wanita itulah awal mula karir Renata dimulai.


"Terima kasih juga untuk mama yang sudah mengikhlaskan putranya untuk membantuku." Renata beralih memeluk Bu Amara. Ibu dari tunangannya itu selalu berdoa untuk Renata saat berada di Jepang. Membebaskan Bagas untuk selalu berada di sisi nya. 


"Terima kasih juga untuk mas Derya yang sudah mencarikan tempat ini." Menunjuk Derya yang mematung di belakangnya. "Pak Jerry yang sudah menyiapkan acara ini." 


Kapan aku dipanggil? gerutu Bagas tak sabar. 


"Yang terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk calon suamiku. Dia satu-satunya laki-laki yang langsung menerimaku apa adanya. Tidak pernah merendahkanku. Dia yang terbaik untuk menemani hidupku."


"Mas Bagas, sini!" Renata melambaikan tangannya ke arah Bagas.  


Bagas melangkah maju dan berada di samping Renata. Berdiri bersejajar dan terus mengulas senyum. 


Setelah hitungan ketiga, Bagas pun Bagas dan Renata memotong pita sebagai bentuk peresmian cafe itu di buka. 


Suara tepuk tangan menggema saat pita itu terputus. Renata memeluk Bagas dan kembali mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.


"Aku mencintaimu." 


Mendengar ucapan itu, Bagas semakin tak sabar dan ingin menghalalkan Renata secepatnya. 


"Ma, boleh nggak hari ini sekalian nikah?" Pertanyaan Bagas sukses membuat semua orang tertawa. 


"Nggak boleh, harus bulan depan, menunggu paman," tolak bu Amara. 


Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang cafe. Membuka kaca dan menatap Renata dari jauh. Seorang pria bertubuh kekar menempelkan ponselnya di telinga. 


"Saya sudah menemukan cafe milik Renata, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?" ucap pria itu pada orang yang ada di balik teleponnya. 


"Biarkan saja dia menikmati kekayaannya untuk sesaat. Setelah itu aku sendiri yang akan turun tangan, kalau dia nggak mau mundur. Baru kalian yang bereskan." 


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari bosnya, pria untuk menutup kaca mobilnya dan kembali melaju, membelah jalanan yang sangat ramai.


__ADS_2