
Kakek Liam menatap Renata dengan lekat. Tepatnya wajah cantik yang mirip sekali dengan menantunya. Hidung mancung seperti putranya. Dari awal bertemu sudah merasakan firasat aneh. Namun, mengingat diagnosa dokter yang mengatakan mandul membuat kakek Liam mengabaikannya.
Saling pandang, namun saling membisu. Kakek Liam mengulurkan tangan ke arah Renata yang masih diselimuti rasa takut. Keringat dingin pun masih bercucuran menembus pori-pori.
"Mas, aku mau ke kamar," bisik Renata tanpa menerima tangan keriput itu. Melihat tingkah aneh kakek Liam membuatnya ingin berlari sekencang-kencangnya, menjauh dari situasi itu.
Tak ada jawaban dari Bagas. Bu Nurmala dan Tante Amara pun hanya menjadi penonton dari arah yang sedikit jauh.
Kakek Liam menarik tangan hampa. Berlutut di depan Renata. Bagas membulatkan matanya melihat buliran bening keluar dari mata kakek Liam.
Sebenarnya ada apa ini? tanya Bagas dalam hati.
Sebuah tanda permintaan maaf yang belum diungkapkan dengan kata-kata. Kakek Liam menangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepalanya.
"Biar aku yang bicara dengan kakek."
Renata menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Bagas yang kini ikut berlutut di atas lantai.
"Kakek kenapa?" Bagas menggenggam kedua tangan kakek Liam.
Sebuah pertanyaan sederhana, namun sulit untuk dijawab.
"Aku hanya ingin bertemu cucuku. Aku ingin minta maaf padanya." Akhirnya suara itu meluncur dengan lugas.
Bagas menoleh, menatap Renata yang berada di ujung sofa. Gadis itu masih terlihat ketakutan, menautkan jari-jarinya dan terus melengos.
"Cucu kakek, maksudnya Gina? Dia tidak ada di sini."
Kakek Liam menggeleng pelan.
Bagas semakin tidak mengerti, menarik tubuh kakek Liam duduk di sampingnya.
"Gina bukan cucu kandungku, dan cucu kandungku yang sebenarnya adalah Renata Nicholas," ungkapnya kemudian.
Renata terbelalak. Itu adalah nama lengkapnya. Namun, jarang sekali orang yang tahu. Sebab, semenjak kedua orang tuanya meninggal, keadaan mengubah hidupnya seratus persen.
__ADS_1
Gadis yang ceria dan cantik itu berubah menjadi buruk karena tidak pernah merawat diri. Menjadi bahan ejekan orang sekitar. Renata sengaja menutupi jati dirinya, meninggalkan gelar Nicholas, baginya hanya akan membuat malu sang ayah yang sudah tiada.
"Itu namaku."
Bagas udah tahu siapa sang empu yang memiliki nama itu, yang ia bingungkan kenapa tiba-tiba menjadi cucu kandung Kakek Liam? Bukankah itu aneh?
"Kakek tahu, dan nama ayah kamu Reno Nicholas. Nama ibu kamu Naomi. Nicholas adalah gelar kebangsawanan keluarga ayah kamu. Sekarang kamu ikut kakek pulang."
Semua tepat. Hening sejenak. Renata mulai mencerna apa yang dikatakan kakek Liam tadi. Selama hidup, ayahnya tidak pernah menceritakan keluarganya, bahkan selalu menghindar jika ditanya tentang asal-usulnya.
Apa yang terjadi, hanya kakek Liam yang tahu. Cukup kenyataan ini membuat Renata tahu siapa sosok ayahnya.
"Sekarang buktikan kalau kakek adalah kakekku," ucap Renata dengan bibir bergetar. Meskipun kejadian malam itu masih terlintas di otaknya, Renata tak bisa membenci pria tua yang ada di depannya saat ini.
Kakek Liam mengeluarkan ponsel, menunjukkan beberapa photo Reno Nicholas mulai dari kecil hingga remaja.
"Apa kamu perlu bukti lain?" tanya Kakek Liam.
Renata mengangguk cepat. Meskipun sebenarnya itu sudah cukup, setidaknya ia mengetahui tentang ayahnya lagi.
"Makanan favorit ayah kamu ikan salmon. Minuman kesukaannya teh tawar, Dia juga pintar melukis seperti kamu. Sifatnya keras kepala, tapi penyayang, dia tidak mewarisi sifat kakek, tapi mewarisi sifat ibunya."
Bagas mendekati Renata dan merengkuh erat. Mengelus punggungnya yang bergetar menahan tangis.
Masih tak percaya dan sulit dimengerti oleh Renata. Sebenarnya ia juga ingin keluarga yang hangat seperti yang dulu pernah dirasakan, tapi setelah perlakuan kakek Liam malam itu membuat Renata takut segalanya, takut itu hanya tipuan belaka.
"Mas, aku harus gimana?" tanya Renata pada Bagas yang masih memeluknya.
Bu Amara dan Bu Nurmala menghampiri. Mengusap pucuk kepala Renata. Memberikan kekuatan pada gadis itu untuk bisa menghadapi kenyataan.
"Sayang, Kakek Liam adalah kakek kamu, bagaimanapun juga dia adalah orang tua dari ayah kamu. Sekarang pilihan ada ditanganmu. Ibu akan selalu mendukung," tutur Bu Nurmala dengan lembut.
"Iya, Mama juga akan mendukung, apapun keputusan kamu pasti yang terbaik," imbuh mama Amara.
"Aku setuju sama mama dan tante, di manapun kamu tinggal, yang penting kita tetap bersatu. Kita akan tetap menikah sesuai rencana."
__ADS_1
"Aku mau tinggal di rumah ini. Nggak mau ikut kakek." Mengeratkan pelukannya.
Meskipun sudah tahu jika kakek Liam adalah keluarganya, Renata tetap kekeh ingin tinggal bersama keluarga calon suaminya daripada harus pulang ke jepang dengan harta melimpah.
Dada Kakek Liam terasa sakit. Penolakan Renata membuatnya tak bisa berkutik, juga tak bisa memaksakan kehendak. Bukan salah Renata, akan tetapi salahnya sendiri yang menanam kebencian lebih dulu.
"Re, kakek ingin memelukmu," pinta Kakek Liam, nada bicaranya sangat berhati-hati, berbeda saat ia menggunakan kekuasaannya, saat ini ia mengharapkan kelapangan Renata.
Renata merasa terharu. Orang yang pernah mengusirnya dengan kejam kini sangat halus dan terlihat melas.
Mengangguk pelan, meringsek duduknya mengikis jarak antara kedua nya. Berpelukan dengan erat, tubuh ringkih itu pun terasa hangat, bahkan melebihi dada bidang Bagas yang sering memeluknya.
Kakek Liam sesenggukan. Andaikata ia hanya bisa menatap rembulan, namun tak bisa meraihnya. Nyatanya, Renata tak mau tinggal bersamanya.
"Kakek jangan bersedih lagi, ada Gina yang akan menemani kakek. Dengan atau tanpaku, kakek akan baik-baik saja."
Kakek Liam semakin tergugu, ia tak kuat lagi menahan air mata yang tersimpan di pelupuk. Sikapnya yang sangat angkuh gugur seketika. Bisa bertemu dengan Renata adalah sebuah kebahagiaan, namun juga penderitaan karena tak bisa bersamanya.
Renata mengendurkan pelukannya. Mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi kakek Liam. Menatap manik mata yang sedikit sayu.
"Kamu yakin tidak ingin tinggal bersama kakek?" tanya kakek Liam memastikan.
Renata menggeleng, bukan kemewahan yang ia inginkan, tapi kasih sayang dan keikhlasan. Itu sudah ia dapatkan dari keluarga Bagas.
"Apa aku boleh meminta satu permintaan pada, Kakek?" tanya Renata membuat kakek Liam mengangguk cepat, senyuman kecil terbit di bibir pria tua itu.
"Aku hanya ingin kakek tidak memisahkan aku dari mas Bagas, itu saja. Aku sangat mencintainya, dan aku tidak mau kehilangan dia."
Bagaimana aku bisa memisahkan kalian. Di dunia ini tidak ada yang penting selain kebahagiaan cucuku. Nyatanya, kakek Liam hanya bisa berkata dalam hati.
"Maafkan kakek. Kakek janji tidak akan memisahkan kalian lagi. Kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu cintai." Menepuk punggung tangan Renata.
"Bagas," panggil kakek Liam.
Bagas beralih duduk di samping kakek Liam.
__ADS_1
"Kamu jaga Renata dengan baik. Jangan pernah membuatnya menangis, karena aku tidak segan-segan membunuhmu."
Bagas tersenyum kecil.