Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Minta maaf


__ADS_3

Sena menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah sang pemilik jemari yang mencengkeram pergelangan tangannya. 


"Kakak!" memekik, ternyata Derya yang sudah menghalanginya untuk menampar Renata. 


Sama seperti Sena, Renata pun terkejut dengan sikap Derya yang nampak peduli padanya. Namun, ia hanya diam dan tak mau percaya diri.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Derya pada Sena dengan antusias. 


"Renata sudah berani menghinaku, Kak. Aku mau memberinya pelajaran, biar dia tahu rasa," jelas Sena panjang lebar.


Merasa benar dan terdzolimi, Sena menyudutkan Renata yang tidak bersalah sedikit pun.


Renata melangkah mundur dan membalikkan tubuhnya. Tak mau terlibat lagi dengan Derya dan Sena. 


"Re," panggil Derya sukses menghentikan langkah Renata.


Mendengus kesal. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan Derya dan adiknya yang terlewat ketus.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, jadi aku pergi saja."


"Tunggu, Re! Aku mau bicara sebentar." Derya melangkah menghampiri Renata yang masih memunggunginya.


Hening


Suara Derya tertahan di kerongkongan, seakan berat untuk memulai hubungan dengan Renata, gadis yang pernah menjadi pelampiasannya karena sebuah dendam pada Bagas. 


"Re, aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Bisakah sekarang kita berteman?" 


Bagaikan diguyur salju, sekujur tubuh Renata terasa sejuk hingga ke relung yang terkecil. 


Mas Derya minta maaf padaku. Aku nggak salah dengar.


Seketika Renata memutar tubuhnya hingga ia dan Derya saling tatap. Memori kembali mengusik ketenangan jiwa. Wajah tampan Derya yang pernah ia kagumi itu nampak melas dan tulus. Bahkan Renata sempat memimpikan pria itu menjadi pelindungnya. Meskipun tak pernah dianggap, Renata terus memujinya di setiap saat dan beberapa kali ia melukis wajah Derya Hanim dengan sempurna. 


Kenapa baru sekarang dia menyadari ini semua.


Renata mendongakkan kepalanya tegas. Pikirannya berkelana ke sana ke mari. Di satu sisi ada Bagas, pria yang sudah menolongnya dan menjadikannya sebagai wanita yang paling penting. Di sisi lain, Derya adalah pria pertama yang bersemayam di hatinya. 


"Maaf untuk apa?" tanya Renata mengalihkan pandangannya. Ia tak mau terjebak lagi dalam cinta semu yang akan bertepuk sebelah tangan dan membuatnya terluka.


"Maaf untuk semuanya yang pernah aku lakukan padamu." 


"Kakak!" Sena mendekati Derya dan menarik tangannya dari belakang. 


"Kakak apa-apaan sih, meskipun penampilannya berubah, dia tetap saja sama, cleaning service." 


"Sena, diam! Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Derya ketus. 

__ADS_1


Sena menghentak-hentakan kakinya lalu meninggalkan Derya dan Renata. 


"Maaf mas, aku juga mau pergi, sudah ditunggu," pamit Renata. 


Lagi-lagi Derya memanggilnya dengan suara lirih membuat hati lembut Renata tergugah dan tak tega.


"Dari tadi kamu belum menjawab, apa Kamu mau memaafkan ku?" tanya Derya untuk yang kedua kali.


Kesalahanmu sangat besar, Mas. Hampir saja hidupku hancur karena nafsu bejatmu. Tapi aku juga tidak bisa terus-menerus memendam dendam. 


"Aku maafkan kamu. Untuk berteman, aku akan pikirkan lagi."


Derya bernapas dengan lega, selepas kejadian di gudang waktu itu, ia pun merasa bersalah pada Renata. Bayangan kedua orang tuanya bagaikan hantu yang terus menelisik, memburu hidupnya hingga tak tenang. 


"Kalau sudah selesai, aku pergi dulu."


"Aaaa…." Tiba-tiba saja Renata tersandung sesuatu yang membuatnya terjatuh. 


Derya yang masih ada di belakangnya berlari menghampiri Renata yang terduduk sembari mengelus lututnya. 


"Kenapa, Re?" tanya Derya panik. Menatap kaki Renata yang lecet dan sedikit berdarah. 


Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam, seolah-olah Renata adalah wanita yang sangat penting dalam hidupnya. 


"Nggak papa kok, Mas. Aku yang ceroboh." 


Pak sopir keluar. Membantu Renata berdiri. Meraih makanannya dan memasukkan ke dalam mobil, setelah itu membantu Renata masuk. 


Derya menatap nanar mobil yang kini sudah melaju di jalan raya. Ia memegang dadanya yang berdetak lebih cepat. Penyesalan mulai menyeruak menghambat saluran pernapasannya.


Seandainya aku tidak pernah menyakitimu, mungkin sekarang aku yang ada di sisimu.


Diam-diam Derya mendengar semua yang di ucapkan Renata pada Sena.


"Pak, tadi katanya mas Bagas mau bertemu mas Derya, itu artinya mas Bagas juga sudah kembali ke kantor, cepat sedikit." 


Renata merasa cemas dan terus menatap layar ponselnya. Ia takut jika Bagas menunggu lama. 


Di cafe Host


"Bagaimana? Apa bapak sudah mendapatkan jalur seperti yang saya inginkan?" tanya Bagas setelah memeriksa laporan dari Alexa.


"Sudah, Pak. bulan depan akan mulai digarap." 


"Baiklah, kalau begitu saya rasa sudah cukup di sini." 


Pak Bambang berpamitan. Seperti biasa, Alexa tak langsung meninggalkan tempat itu dan memilih berbincang dengan urusan pribadi. 

__ADS_1


Alexa menatap Jerry yang masih sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas nya, sedangkan Bagas terus mengetik sesuatu di layar ponselnya. 


"Apa setelah ini kalian sibuk?" tanya Alexa. 


Bagas menoleh sekilas dan kembali fokus pada layar benda pipihnya. 


"Tidak, Setelah ini kan, jam makan siang." 


"Kebetulan sekali, kita makan siang sama-sama." 


Jerry mendekatkan bibirnya di telinga Bagas dan mengatakan sesuatu yang tak bisa di dengar oleh Alexa. 


"Ya ampun, aku hampir lupa." Bagas menepuk jidatnya lalu mendorong kursi ke belakang. "Maaf Al, aku harus kembali ke kantor, ada urusan yang lebih penting."


Alexa ikut beranjak dan mengikuti langkah Bagas sampai ke mobil. Ia tak bisa menahan Bagas yang nampak buru-buru. "Sekali lagi aku minta maaf, karena tidak bisa menemani kamu," ucap Bagas menangkup kedua tangannya. 


Alexa tersenyum, "Tidak apa-apa, tapi aku harap besok kamu tidak menolak ajakan ku lagi."


Bagas mengangguk lalu masuk ke mobil. 


Bagas buru-buru masuk ke kantor. Hampir dua jam ia meninggalkan Renata, pasti gadis itu kesepian dan bosan, pikirnya. 


"Lain kali bapak harus jaga jarak dengan Alexa." Sekali lagi Jerry mengingatkan saat keduanya berada di depan pintu lift. 


"Iya," jawab Bagas singkat, meskipun ia masih di lantai dasar, pikirannya sudah melayang di ruangannya. 


"Maya," panggil Bagas pada gadis cantik yang berkutat dengan laptopnya. 


"Saya, Pak. Maya menghampiri Bagas yang nampak gusar. 


"Apa Renata sudah kembali?"


"Sudah dari tadi, Pak. Bu Renata berkali-kali ke ruangan saya, katanya bosan."


Bagas langsung berlari menuju ruangannya. 


Ceklek 


Pintu dibuka pelan. Mata Bagas langsung mengarah pada kaki yang menjulur di atas sofa. 


Bagas melangkah sembari melempar jas nya. Senyum mengembang melihat beberapa makanan di meja, lalu menatap Renata yang terlelap . 


"Maafkan aku," ujarnya lirih. 


Bagas membungkuk melepas high heels yang masih melekat di kaki Renata dengan sangat hati-hati. 


Merasa terganggu, Renata membuka matanya dan meringis, merasakan perih pada bagian lututnya. 

__ADS_1


"Maaf, aku lama." Bagas membantu Renata bangun. 


Renata menggeleng, mengembalikan nyawanya yang sempat tercecer di alam mimpi. Tanpa berkata, Renata pun sudah tahu jika tunangannya adalah orang yang super sibuk dan tidak ada waktu untuk bersantai. 


__ADS_2