Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Kejutan


__ADS_3

Fokus pada kejutan yang akan diberikan Bagas di kantor. Ketulusan dari kedua bola mata coklat yang terpancar terang membuat pertahanan Renata runtuh. Kepedulian seorang bos yang tak pernah dirasakan, kini menjadi aroma syahdu setiap saat bersama. Mewarnai setiap jengkal langkah yang diayun. 


Renata membuka paper bag yang ada di nakas, ia  meraih dan membaca sepucuk surat yang ada di dalamnya.


Pakai baju ini, dandan yang cantik. Aku sudah menunggumu di kantor, jangan terlambat. 


Renata menatap jam dari layar ponsel lalu membulatkan matanya. 


"Alamak, sudah jam delapan."


Renata melompat dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Ia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang ditentukan Bagas. 


Tetap tenang, dandan yang cantik, jangan membuat malu, itulah isi otaknya hingga  ia menghabiskan waktu untuk menuruti permintaan tulisan tadi, meskipun harus terlambat lebih lama lagi. 


Hampir satu jam, Renata bergulat dengan baju dan make up, blouse hitam dengan rok katun pendek abu yang diimpor dari luar negeri  itu sudah membalut tubuhnya dengan rapi. Make up natural sudah menghiasi wajah dan membuatnya terlihat sangat cantik mempesona. Rambut tetap terurai panjang dengan sedikit poni yang menutupi jidat. Beberapa aksesori pun menyempurnakan penampilannya yang anggun. 


"Apa mas Bagas benar-benar menyayangiku, atau hanya memanfaatkanku seperti Mas Derya," gumam Renata, ia merapikan sudut bibirnya yang terkena coretan lipstik dengan tisu. 


Renata memegang dadanya lagi, untuk yang kesekian kali ia merasakan debaran aneh pada hatinya. 


" Let's go, Renata." Menyemangati dirinya sendiri yang sempat ragu. 


Suara dentuman sepatu dan lantai menggema, Renata yang ada di ruang tamu menoleh ke arah sumber suara. 


"Ibu," panggil Renata melihat Bu Nurmala turun dari tangga. Menghampirinya dan memeluknya menjadi sapaan pagi. 


Bu Nurmala tercengang menatap penampilan Renata dari atas hingga bawah. Dandanannya kali ini sangat cantik dan lebih maksimal dari awal ia dirombak oleh pegawai salonnya. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Bu Nurmala, matanya tak teralihkan dari baju mewah yang dipakai Renata. 


"Mau ke kantor mas Bagas. Semalam dia memintaku datang, katanya ada kejutan," ucap Renata seperti yang dikatakan Bagas padanya. 


Bu Nurmala hanya manggut-manggut lalu mendorongnya menuju depan. Tak mau membuang waktu jika urusannya dengan sang keponakan. 


"Ibu merestuimu, sekarang pergilah!" 


Renata tersenyum paksa, ia bingung dengan sikap bu Nurmala yang seakan mendukung penuh kedatangannya ke tempat yang pernah menjadi ajang pembullyan itu. 


Renata membuka tas nya, mengambil cermin dan terus menatap wajahnya. 

__ADS_1


Apa aku pantas untuk mas Bagas? Bagaimana kalau orang-orang menertawakanku?


Sang supir tersenyum saat melihat Renata nampak gelisah. 


"Ada apa, Non?"


Renata menghembuskan napas kasar dan mencondongkan kepalanya ke depan, lebih mendekat. 


"Menurut bapak aku pantas nggak sih, menjadi istrinya mas Bagas?"


Pak sopir hanya mengangkat jempolnya dan tersenyum. 


Selang tiga puluh menit, mobil sudah masuk ke area kantor.


"Non mau di tungguin apa tidak?" tanya pak sopir yang mulai memelankan laju mobilnya. 


"Kayaknya nggak usah deh, Pak. Tapi nanti kalau butuh, aku telpon bapak." 


Pria setengah tua itu mengangguk mengerti. 


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk perusahaan. Tempat yang menyimpan sejuta kenangan buruk. Tempat yang terus meluruhkan air mata tiada henti.


Beberapa detik kemudian pintu mobil dibuka dari luar. 


Bagaimana reaksi mereka kalau aku dan mas Bagas bergandengan tangan. Sekali-kali membuat mereka jantungan, pasti lucu.


Renata menerima uluran tangan Bagas.


Beberapa karyawan yang melihat adegan itu hanya membungkuk dan tersenyum. Kebingungan mulai melanda melihat sikap Bagas yang sangat lembut pada Renata. Beberapa tatapan dari orang penghuni kantor pun mulai mengimintidasinya. Apalagi, Bagas menggenggam jemari Renata dengan erat hingga menuai banyak tanya. 


Benar kan, pasti mereka sangat kecewa melihatku dan mas Bagas seperti ini.


Renata menjerit kesenangan melihat ekspresi semua orang yang pernah menghakiminya secara tidak adil. Ada yang manyun, cemberut, bahkan marah. 


Renata dan Bagas menghentikan langkah tepat di tengah-tengah ruangan karyawan. 


"Mas, kenapa kamu menyuruhku ke sini?" tanya Renata dengan suara tinggi, bahkan hampir setiap orang yang ada di tempat itu mendengar ucapannya. 


Fina datang dengan map di tangannya, sama seperti yang lain, ia yang lebih terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya, dimana Renata dan Bagas masih bergandengan mesra. 

__ADS_1


"Aku ingin semua orang tahu, kalau kamu adalah pacarku."


Duaaarrrr 


Bagaikan petir yang menyambar gedung, hawa panas kian menyeruak menembus daging lalu menyentuh dada terdalam, hingga kaku dan kejang. Sebagian dari mereka terasa terbakar api mendengar pernyataan Bagas. Sungguh, ini adalah kenyataan pahit yang melebihi empedu.


Seorang gadis cupu yang bekerja sebagai cleaning servis kini berubah menjadi putri yang akan dilamar pangeran mahkota. 


Saling tatap, dan saling mengangkat bahu, saling cubit mencubit tak percaya dan menganggap itu mimpi. 


Ah, ini nyata.


Fina mengelus tangannya yang memerah karena cubitannya sendiri. Runtuhlah semua yang dibanggakan. Mencari cara untuk menghadapi Renata yang kini berstatus bosnya.


"Dan hari ini, aku ingin kalian semua menjadi saksi." 


Bagas menatap karyawannya satu persatu. Merogoh kotak kecil yang berwarna biru dari saku celananya. Ia membukanya pelan, dan berlutut di depan Renata bak sinetron di tv.


"Renata Nicholas, Will you marry me?"


Jantung Renata berdegup dengan kencang, ia menutup mulutnya yang terbuka lebar. 


Ini nggak mungkin, itulah yang selalu terucap dalam hati. 


Semua membelalakkan mata melihat aksi Bagas yang diluar ekspektasi para pegawainya. Saat meresmikan pertunangan dengan Melinda pun tak seromantis itu. Pada akhirnya mereka semua yang menganggap Renata rendah  harus mengalah daripada dipecat dan menjadi pengangguran. Mereka pun bertepuk tangan. 


"Terima, terima," seruan itu membuat Renata bingung. Ia masih meyakinkan hatinya dengan jawaban yang akan diluncurkan. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. 


Ayah, Ibu, jika kalian masih hidup pasti akan menerima mas Bagas sebagai menantu, restui hubungan ini.


Hampir lima belas menit, Renata menurunkan tangannya dan meraih tangan Bagas untuk berdiri.


Kini keduanya saling tatap. 


"Aku mau menikah denganmu," ucap Renata kemudian. 


Bagas meraih tubuh Renata dan memeluknya. Membenamkan wajah gadis itu di dada bidangnya yang tertutup jas berwarna navy. 


"Aku berharap kamu adalah pelabuhan terakhir aku, apa pun keadaanku jangan pernah pergi," bisik Bagas. 

__ADS_1


Renata mengangguk. Melingkarkan kedua tangannya di punggung Bagas. Membalas pelukan hangat yang membuat matanya berkaca. Dipinang pria tampan dan terhormat dengan harta melimpah adalah impiannya, namun sekarang semua itu menjadi kenyataan.


"Jadilah Bagas yang seperti ini, jangan pernah berubah meskipun masih banyak yang lebih baik dan cantik dariku."


__ADS_2