Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Kedekatan Derya dan Gina


__ADS_3

Derya memutar tubuh. Tangannya pun sudah bersiap membalas serangan balik. Namun, diurungkan saat menatap wanita cantik yang berkacak pinggang. 


"Gina!" terkejut melihat orang yang ia cari ternyata ada di belakangnya. "kamu dari mana saja?" tanya Derya antusias. 


"Bukan urusan kamu." Meninggalkan Derya menuju taman yang ada di samping gedung. Gina duduk di kursi yang terbuat dari besi. Bergumul dengan kegelapan yang dihiasi dengan lampu warna-warni taman. Cuaca dingin menembus pori-pori membuat Gina terus mengelus lengannya yang tertutup kain tipis. 


Derya mengikuti dari belakang, tanpa izin ia duduk di samping Gina. Melepas jas yang dipakainya dan meletakkan di punggung gadis itu. 


Tidak ada penolakan, Gina merasakan sebuah kehangatan dengan baju itu. Aroma parfum khas pria semerbak menembus rongga hidung. Helaan napas panjang terdengar membuat Derya kembali menoleh. 


Ternyata dia cantik, sayang manja.


Diam-diam Derya mengagumi Gina. 


"Aku tahu, saat ini kamu pasti patah hati karena Bagas menikah dengan Renata?" tebak Derya yang tak meleset sedikitpun. 


Gina menatap ke depan, ia tak mengindahkan ucapan Derya yang membuat kupingnya kembali panas saat membahas itu. 


Hening 


Derya memutar otak. Setelah sekian lama meninggalkan dunia asmaranya, Ini pertama kali kembali mendekati seorang gadis, bahkan saat ini adalah tugas berat dari kakek Liam yang sengaja menyuruhnya untuk menghibur Gina disaat hatinya kacau. 


Sebelum pernikahan Bagas dan Renata berlangsung, kakek Liam datang ke rumah Derya. Sebuah kehormatan dikunjungi seorang Liam Nicholas. Derya diberi sebuah amanah untuk menjaga Gina. Secara halus sebuah perjodohan sudah direncanakan tanpa diketahui oleh kedua belah pihak. 


"Kenapa kamu ngikutin aku?" Gina membuka suara, tidak biasanya Derya ramah pada seorang wanita, apalagi beberapa kali pertemuan mereka hanya saling berseteru. 


"Karena aku peduli padamu, jangan mencintai orang yang mencintai orang lain, kamu akan merasa sakit," anjur Derya dari hati. Sebab, itu pun yang dirasakan saat ini, mencintai tanpa dicintai. 


Selama ini tak sembarang pria yang bisa dekat dengan Gina, sebagai cucu seorang konglomerat, ia dijaga penuh oleh beberapa pengawal kakek Liam. Berteman pun dengan orang-orang pilihan, dan kini ia mengerti bagaimana rasanya dekat dengan seorang pria tanpa sebuah larangan dari sang kakek. 


"Besok kita jalan, aku akan mengajakmu keliling kota ini," tawar Derya. 


Berusaha menarik perhatian Gina yang masih tak acuh padanya. 


Keliling kota, mengenal seluruh tempat yang ada di kota metropolitan adalah keinginan Gina yang belum terwujud. Ajakan Derya membuka peluang baginya untuk melupakan Bagas yang kini tak bisa ia miliki lagi. 


"Boleh," jawab Gina ragu-ragu. 


Meskipun taman itu sedikit gelap, Derya bisa melihat wajah cantik Gina yang nampak bersemu. Keduanya menikmati indahnya bintang yang berkelip. Meninggalkan kemeriahan acara di dalam yang masih berlangsung. 

__ADS_1


Lelah, itulah yang dirasakan Renata, tak menyangka kakek Liam merayakan pernikahan nya dengan sangat mewah dan berkelas. Hampir empat jam ia berada di atas pelaminan menjadi tontonan semua orang yang hadir. 


Renata duduk, ia tak peduli dengan tamu yang masih bergilir memberi ucapan selamat padanya. 


"Pengantinnya capek?" 


Renata menatap wanita cantik yang ada di depannya. Meskipun tak saling kenal, wanita itu tampak ramah pada nya. 


"Iya, tapi ini sudah resiko," jawab Renata yang membuat Bagas terkekeh. 


"Kamu datang dengan siapa, Ra?" tanya Bagas yang sedikit akrab. 


Renata menatap suami dan wanita itu bergantian. 


Siapa dia, sepertinya mas Bagas akrab banget. 


"Sendiri, tapi tadi ditemani dansa sama dia." 


Menunjuk Jerry yang sedang berbicara dengan tamu yang lainnya. 


Bagas Manggut-manggut mengerti. Ia tahu apa yang dilakukan Andara saat bertemu Jerry, pasti merayu asistennya itu  untuk kembali. 


Seketika sebuah tepukan mendarat di lengan Bagas, Andara lah pelakunya, ia nampak jengkel dengan status yang disematkan Bagas. 


"Kenapa? Bener kan, kamu itu mantannya Jerry?"


"Nggak, aku bukan mantan, bulan depan kita akan menikah," ucapnya dengan lantang, dan itu sukses membuat Jerry menoleh. 


Andara Andara, mau sampai kapan kamu betapa padaku. 


Renata tersenyum, namun juga meringis membuat Bagas kaget.


Bu Nurmala dan Bu Amara menghampiri  Renata yang mengelus betisnya. Melepas high heels yang dipakai gadis itu. Nampak beberapa luka kecil di bagian jari dan tungkai. 


"Ya ampun, ini nggak bisa di biarin, harus segera diobati. Takut bengkak," ucap Bu Amara cemas. 


Kakek Liam ikut mendekat. 


"Bagas, kamu ajak Renata ke kamar, kakek akan panggilkan dokter dan tukang pijat," titah Kakek Liam. 

__ADS_1


Bu Amara tersenyum melihat kakek Liam yang nampak gelisah. 


Kakek Liam memanggil beberapa bodyguard untuk menjalankan perintahnya, kesehatan sang cucu akan menjadi nomor satu dibandingkan pesta yang hampir usai itu. 


"Iya, Re. Sekali lagi selamat untuk kalian.  Aku pamit dulu. Semoga cepat sembuh."


Setelah memeluk Renata dengan erat, Andara pun turun dari pelaminan dan bergabung lagi dengan yang lain. 


Bagas mengangkat tubuh mungil Renata. 


Membelah tamu yang masih menikmati acara. Keromantisan pengantin menyita perhatian semua orang yang semakin iri. 


Sepanjang perjalanan menuju sweet room, mata Bagas terus tertuju pada wajah Renata yang terbenam di dadanya.


"Sekarang kamu sudah menjadi istriku. Aku ingin kita selalu bersama disetiap suka dan duka, aku mencintaimu," ungkap Bagas dari lubuk hati yang terdalam. 


Renata diam, ia terus mendengar dentuman sepatu dan lantai dari belakang suaminya, pasti itu pengawal kakek Liam yang ditugaskan untuk mengantar mereka. 


Benar, dua pria yang memakai seragam khas itu mengikuti langkah Bagas. Bahkan mereka juga membantu Bagas menekan tombol lift. 


"Pak, ini hotel, tidak akan ada yang berani berbuat jahat padaku dan mas Bagas, lebih baik bapak kembali ke pesta saja," pinta Renata Ia merasa risih dengan kehadiran orang lain saat Bagas menunjukkan keromantisannya. 


"Tidak, Nona. Kami harus memastikan Anda dan tuan Bagas sampai ke kamar." 


Renata mendengus kesal. Ternyata kakek Liam selalu memperketat penjagaan pada dirinya. 


Setibanya di depan pintu kamar, Renata turun dari gendongan Bagas. Berjalan tertatih-tatih menghampiri pengawalnya. 


"Sekarang aku adalah bos kalian, jadi apapun yang aku perintahkan, Kalian harus ikuti. Kalau tidak, aku akan pecat kalian."


Renata mengucapkan dengan serius membuat kedua pria itu lari terbirit-birit.


Bagas tertawa lepas. Membuka pintu kamarnya. Harum bunga mawar sudah mulai menusuk rongga penciuman. Menenangkan hati. 


Renata masuk lebih dulu disusul Bagas. Pria itu memeluk sang istri dari belakang dan mencium pundak kecilnya. 


"Apa malam ini kamu sudah siap untuk melayaniku?" tanya Bagas dengan suara lirih, namun menegaskan. 


Tidak ada alasan untuk menolak. Bagas adalah orang yang  dicintai, dan bagi Renata, tubuhnya hanya milik Bagas seutuhnya. 

__ADS_1


"Aku siap."


__ADS_2