
Renata duduk di tepi ranjang. Mentari sudah menampakkan sinarnya. Namun, bergeming adalah jalan satu-satunya menghilangkan rasa sakit karena kejadian semalam.
Pintu diketuk dari luar berkali-kali
Renata hanya menoleh tanpa beranjak. Knop pun nampak berputar. Sepertinya seseorang yang ada di balik pintu ingin memaksa masuk.
"Kamu sudah keterlaluan, Mas. Kamu lebih mementingkan orang lain daripada aku."
Renata meraih ponsel yang ada di nakas. Satu tangannya masih mendekap bantal yang berwarna putih bersih. Beberapa tetesan air matanya menghiasi hingga basah.
"Halo, mas Derya, lagi ngapain?" tanya Renata dengan napas tersengal.
Dari lubuk hati yang terdalam, ia tak ingin berurusan dengan pria lain, namun sikap Bagas mendorongnya untuk melakukan itu.
"Lagi jogging, sebentar lagi selesai. Memangnya kenapa?" Derya mengusap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Heran dengan Renata yang menghubunginya pagi-pagi.
"Aku bosan di kamar, pengen keluar."
Otak Renata tak bisa berpikir jernih dan ingin membalas kelakuan Bagas yang membuat hatinya sakit.
"Baiklah, kamu tunggu di sana, aku mandi dulu."
Setelah mendapat jawaban dari Derya, Renata beranjak dari duduknya. Menatap mata sembabnya dari pantulan cermin.
"Aku tidak boleh terlihat mengenaskan. Biarkan saja, kalau mas Bagas belum juga mengerti dengan perasaanku, itu artinya dia memang belum mencintaiku sepenuhnya. Aku tidak boleh berharap lebih padanya. Aku tidak mau terlanjur mencintai, pasti akan lebih menyakitkan."
Suara ketukan masih menggema. Namun, Renata tak peduli dan memilih ke kamar mandi membersihkan diri.
Merias wajahnya dengan make up yang sedikit tebal untuk menutupi matanya yang masih memerah. Memakai baju yang lumayan seksi supaya terlihat cantik di mata Bagas. Renata meraih tas tangannya dan membuka pintu.
Bagas masih mematung di depan pintu. Pria itu tercengang dengan penampilan Renata.
"Apa kamu mau ajak aku keluar?" tanya Bagas antusias. Tidak bisa membaca raut kesedihan Renata yang dibalut dengan senyuman manis.
"Bukankah kamu sibuk dengan Gina? Lebih baik aku cari orang lain yang bisa menemaniku," sergah Renata tanpa menatap.
Bagas mengerutkan alisnya. Ia merasa tersindir dengan ucapan Renata.
"Untuk semalam aku minta maaf, tadinya __"
Bagas menghentikan ucapannya saat Renata mengangkat satu tangannya.
__ADS_1
"Tidak usah dibahas lagi, kita belum menjadi suami istri. Terserah Mas mau jalan dengan siapapun, aku tidak peduli."
Mata Renata sudah digenangi cairan bening. Jika mengingat tentang itu, hatinya merasa tercabik-cabik, sakit tak berdarah.
"Kamu kenapa sih, aku cuma nganterin Gina ke supermarket, apa itu salah?" Bagas tak mau mengalah, bahkan ia meninggikan suara.
Renata melipat kedua tangannya, matanya terus menatap pintu kamar Derya yang masih tertutup rapat.
Terdengar helaan napas panjang dari Bagas. Pria itu diam, terus mencerna kesalahan apa yang membuat Renata semarah itu.
Ke supermarket tapi sampai tiga jam, apa itu wajar mas, bahkan aku tidak tahu kamu pulang jam berapa dan apa yang kamu lakukan dengannya.
Renata hanya mengucap dalam hati. Pagi yang cerah ini tak ingin larut dalam perdebatan yang disebabkan masalah kecil.
"Itu bukan urusanku, mau kamu anterin ke supermarket atau kuliah setiap hari, aku juga tidak peduli," jawab Renata ketus.
Bagas mengusap wajahnya kasar, ia tak mengerti jalan pikiran Renata. Baru kali ini menghadapi wanita yang ngambek. Dulu Melinda pun bersikap dewasa dan mengerti dirinya, sekalipun tak pernah marah dengan sikapnya yang sering meninggalkannya. Namun, Renata sudah marah hanya dengan satu masalah kecil.
"Re, kalau kamu marah karena semalam, aku minta maaf. Sekarang lebih baik kita makan, aku sudah nungguin kamu dari tadi."
Suara yang keras itu lenyap. Bagas meraih tangan Renata. Namun, dengan cepat gadis itu menepisnya, seolah-olah menolak sentuhan Bagas.
"Aku sudah makan." Masih nada ketus, menurut Renata maaf saja bukan akhir dari pertikaian itu. Ia ingin Bagas peka dan menceritakan apa yang dilakukan dengan Gina tanpa disuruh.
Mengelus tangan Renata dengan lembut.
"Aku sudah ada janji dengan orang lain, jadi kamu istirahat saja."
Bagas memejamkan mata. Harus bersikap bagaimana lagi, terkadang sifat kekanak-kanakan Renata membuatnya gemas, namun saat ini membuat Bagas kesal.
"Sama siapa?" tanya Bagas semakin lirih. Penasaran, pasalnya di Jepang Renata tidak mengenal siapapun selain dirinya.
"Mas Derya," jawab Renata ragu.
Ia pun tak ingin membuat masalah semakin rumit, tapi semua sudah terlanjur.
Bagas terbelalak dengan rahang mengeras. Kedua tangannya mengepal sempurna dan siap menghantam sesuatu. Bara api sudah menyelimuti dirinya. Marah, mungkin kata yang tepat untuk Bagas saat ini.
Bunyi ponsel di saku celana mengurai gemuruh di dada. Bagas merogohnya dan menatap nama yang berkedip di layar.
Tanpa menunggu waktu lagi, Bagas menggeser lencana hijau tanda menerima.
__ADS_1
"Halo, Kek, ada apa?" tanya Bagas.
Pasti kakek Liam lagi.
"Bagas, apa kamu bisa datang ke sini?"
Bagas menatap Renata yang tampak tak acuh padanya.
"Ada apa ya, Kek?" Apa ini penting?" tanya Bagas kemudian.
"Penting sekali, aku punya perusahaan yang lumayan besar. Melihat kecerdasan kamu, aku ingin kamu memegang tempat itu."
Renata menunduk, meskipun dari sambungan ponsel. Ia bisa mendengar ucapan Kakek Liam dengan jelas.
"Ta… tapi, Kek __"
"Sudahlah, jangan banyak berpikir lagi, banyak yang menginginkan tempat itu, tapi aku harus berpikir ulang. Aku rasa kamu adalah orang yang paling tepat," tukas kakek Liam yang membuat Bagas kehabisan kata-kata.
"Cepat ya, aku tunggu."
Belum sempat menjawab, sambungan sudah terputus.
"Kakek Liam menyuruhku ke rumahnya."
Itu hanya alasan dia, dan aku yakin sebentar lagi pasti ada drama diantara kamu dan Gina.
Tidak ada kata lagi selain itu.
Bagas langsung melangkah menuju lift. Tak mengindahkan Renata yang menatap punggungnya dengan deraian air mata.
Setelah punggung Bagas menghilang, Renata ambruk di lantai, menumpahkan air matanya yang sempat tertahan di pelupuk.
"Kamu jahat, Mas. Aku kira kamu akan mencegahku dan minta maaf dengan tulus. Tapi apa, kamu lebih mementingkan orang lain."
"Re, kamu kenapa?" tanya Derya tiba-tiba, entah kapan datangnya pria itu, Renata tak menyadari karena sibuk dengan apa yang terjadi.
Derya berjongkok merengkuh punggung Renata yang bergetar karena tangis.
"Mas, aku ingin keluar menenangkan pikiran," ucap Renata di sela-sela tangisnya.
Derya tersenyum, "Aku akan menemani kamu."
__ADS_1
Hati Derya ikut berdenyut saat melihat air mata Renata. Masih mengingat jelas kesalahannya yang hampir membuat gadis itu tidak suci lagi.
Aku akan menebus kesalahan yang pernah aku lakukan, Re. Aku akan selalu ada untuk kamu. Menjadi sandaran saat kamu sedih, maafkan aku.