Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Tidak mengakui


__ADS_3

Baru saja beberapa jam berada di luar, Renata sudah menjadi bahan rebutan. Wajahnya yang tak asing membuat semua orang ingin mengenalnya lebih dekat. Berfoto bersama dan juga meminta tanda tangan, bahkan ada yang konyol, meminta bajunya dilukis untuk kenang-kenangan.


"Kalau tahu begini, aku tidak akan keluar rumah," gerutunya, merasa risih dengan mereka yang datang silih berganti tiada henti. 


"Kok gitu, bukannya kamu senang, sekarang menjadi artis," canda Derya menyodorkan minuman yang baru saja datang. Seringnya bersama membuat rasa canggung itu lenyap, kini Derya dan Renata benar-benar menjadi sahabat.


Mereka berada di restoran ternama, setelah melihat-lihat apartemen dan cafe yang akan dibeli, rasa lapar melanda. Memutuskan mampir sejenak untuk melepas dahaga dan menyumpal perut. 


Renata tersenyum, menatap minumannya yang hanya diaduk-aduk. Memikirkan sesuatu yang Derya sendiri tidak tahu. 


"Kamu kenapa?" tanya Derya. Menatap Renata yang bermuka masam.


"Tidak kenapa-napa," jawabnya singkat. Enggan menceritakan isi hatinya pada siapapun, termasuk Derya.


Renata melepas garpu dan sendok, malas. Makanan yang ada di depannya seakan adalah obat yang sangat pahit. Lidahnya tak ingin menerima apapun. Dari lubuk hati yang terdalam, ia menanti telepon dari Bagas. Nyatanya, semenjak pulang ke Indo, pria itu tak menghubungi nya. 


"Mbak Renata, ya?" Wanita paruh baya datang menghampiri Renata. Mengangguk bingung. Beranjak dari duduknya. Menerima uluran tangan wanita itu. 


"Wah, kebetulan kita bertemu di sini. Anak saya ingin belajar melukis, sejak melihat tayangan di tv waktu itu, dia ingin bertemu dan belajar melukis dengan, Mbak." 


Bocah yang berumur dua belas tahun itu bersembunyi di belakang sang ibu, masih malu-malu. 


Renata tersenyum tipis, disanjung, dipuji di depan umum membuatnya risih. 


"Nanti saya akan buka galeri. Jadi ibu bisa mendaftarkan putra ibu ke sana. Rencananya minggu depan, karena banyak yang harus diurus."


Setelah memberikan alamat, Ibu itu dan anaknya pergi meninggalkan Renata dan Derya. 


Plok Plok Plok


Derya tepuk tangan dengan meriah hingga di sekeliling menatap ke arahnya. 


"Kenapa?" Renata kembali duduk dan menyesap latte yang sudah mulai menghangat. 


"Ternyata kamu sudah banyak fans, dan sebentar lagi sepertinya akan ada… nggak jadi ah, nanti kamu kepedean."


Renata berdecak, memukul lengan kekar Derya. 

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit, Derya melirik makanan Renata yang masih utuh. 


"Kenapa nggak di makan?" tanya Derya antusias. 


"Nggak lapar, kita pulang, yuk!" ajaknya, meraih tas yang di letakkan di samping nya. 


Derya tak bertanya lagi, ia langsung membayar makanannya dan keluar mengikuti langkah Renata. Setibanya di halaman, mereka menghentikan langkah. Menatap beberapa orang yang berkerumun. Terdengar pula teriakan seorang wanita dari sana. 


"Ada apa itu? Kenapa ramai sekali?" 


"Paling orang berantem dengan pacarnya," jawab Derya cuek. Ia sering menyaksikan seperti itu terjadi dan bukan hal yang tabu lagi di matanya. Itulah, kenapa Derya malas untuk berpacaran dan lebih memilih membujang. 


Aaaa…suara jeritan itu semakin keras. 


Renata menutup pintu mobil yang sempat dibuka. Sebagai seorang wanita, ia ikut merasakan pilu jika apa yang dikatakan Derya itu benar. 


"Permisi…" Renata membelah kerumunan, memastikan apa yang terjadi di sana. Betapa terkejutnya saat melihat seseorang yang dikenal jatuh tersungkur di atas lantai. 


"Kak Karin!" seru Renata berjongkok, menahan punggung Karin yang hampir ambruk. 


Tak ada jawaban, Karin mendongak, menatap pria yang berdiri di depannya. 


"Kak, Ayo bangun!" Renata membantu Karin berdiri.


Renata ikut menatap pria yang ada di depan Karin, wajahnya yang sangat familiar membuat Renata mendengus. 


"Kakak masih berhubungan dengan dia?" tanya Renata lantang. 


Derya datang dan mematung di samping Renata. Melihat jelas gurat permusuhan antara Karin dan Toni. 


"Tidak!" sergah Toni tak kalah lantang. "Dia hanya ingin memfitnah ku," imbuhnya. "Aku yakin anak yang dikandung Karin bukan darah dagingku, dasar penipu!" Menunjuk wajah Karin yang sudah tampak layu. 


Plakkk 


Renata melayangkan tamparan di pipi kokoh Toni. Tak ada rasa takut sedikit pun, apalagi ragu, itu adalah pelecehan. menjijikkan yang hanya akan dilakukan pria rendah dan tak bertanggung jawab. 


"Jangan sekali-kali kamu menghina kakak ku. Aku tahu siapa kamu, dan aku akan buktikan kalau bayi yang ada rahim kak Karin adalah anakmu. Dasar buaya darat," tantang Renata. Meraih pergelangan tangan Karin yang terasa dingin. 

__ADS_1


"Berani sekali kau." Toni mengangkat satu tangannya. Namun, dengan sigap Derya maju dan berdiri didepan Renata. Mendorong tubuh Toni hingga tersentak ke belakang. 


"Kalau kau berani jangan sama perempuan, lawan aku!" Derya ikut menantang sambil melipat kemejanya. 


Suasana semakin mencengkam. Derya dan Toni saling unjuk gigi. Penjaga restoran pun datang menghampiri mereka untuk melerai. 


Tak ada perlawanan, Toni memilih pergi daripada harus berurusan dengan orang lain. 


Deraian air mata membanjiri pipi Karin. Tak menyangka, orang yang dicintainya setulus hati itu ingkar dengan janjinya, bahkan tak mengakui apa yang ditanam. Rasa malu itu pun tak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang menyusup memenuhi dadanya. 


Renata menggenggam kedua pundak Karin yang bergetar. 


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Renata pelan. Satpam membubarkan kerumunan hingga kembali tenang.


Karin sesenggukan dan terus mengelus perutnya yang terasa sakit. 


"Seharusnya kamu tidak membelaku. Re. Aku sudah jahat padamu. Aku selalu menyakiti kamu," ucap Karin di sela-sela tangisnya. Ada penyesalan yang amat dalam mengingat yang pernah diperbuat pada wanita yang baru saja menjadi dewi penolong. 


Renata merengkuh tubuh Karin. Memeluknya dan menepuk punggungnya yang bergetar karena tangis. Di balik kesombongan yang sering diumbar di depannya, ternyata Karin hanya wanita rapuh yang butuh sandaran. 


Renata tidak akan lupa dengan apa yang pernah dilakukan Karin. Namun, sebagai perempuan, ia masih punya hati nurani, tak mungkin tega untuk membalas semuanya. Tali persaudaraan lebih penting daripada dendam yang akan meruntuhkan segalanya. 


"Lebih baik kakak pulang, kasihan bibi pasti khawatir. Jangan pedulikan Toni, aku akan cari cara membuatnya bertekuk lutut di depan kakak." Renata mencoba menenangkan. 


Baru beberapa langkah, tubuh Karin terasa lemas. Ia terhuyung tak berdaya. 


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Renata cemas, mempererat rangkulannya. 


Karin memijat pelipisnya. Meredakan rasa pusing yang mulai menjalar hingga membuat matanya terasa gelap. 


"Mas Derya, anterin kak Karin pulang, mau nggak?" tanya Renata ragu, takut Derya menolak permintaannya.


Derya menatap jam yang melingkar di tangannya lalu mengangguk karena masih ada waktu.


Karin duduk di jok belakang, sedangkan Renata duduk di samping Derya yang sibuk melajukan mobilnya.


Sepertinya laki-laki ini bukan yang waktu itu di mall, lalu siapa lagi dia? tanya Karin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2