Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Kantor polisi


__ADS_3

Seorang pria bertubuh kekar keluar dari sel. Kulit sawo matang dengan tinggi rata-rata. Jika dilihat dengan intens, dia bukan orang dari luar negeri. Dua polisi terus mengikutinya hingga pria itu berada di depan Bagas dan Renata.


"Duduk!" titah sang polisi yang mendorongnya. 


Pria itu duduk tanpa menatap Renata dan Bagas yang ada di seberang meja. Seolah-olah malu dengan perbuatan kotornya. 


Seperti yang dikatakan Renata, Bagas menahan emosi yang sebenarnya sudah membuncah di ubun-ubun. 


Jika teringat gedungnya yang ludes dilalap si jago merah, ia ingin melampiaskan kekesalannya pada pria itu. Namun, semua itu ditahan demi Renata. 


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" tanya Bagas pelan, menahan dadanya yang hampir meledak. 


"Namanya Nino, Mas," ujar polisi yang ada di samping Bagas. 


"Tidak ada yang menyuruh. Ini murni keinginan saya."


Amarah Bagas tidak bisa dibendung lagi. Ia menggebrak meja di depannya dengan keras hingga membuat Renata tersentak kaget. 


"Mas, kamu apa-apaan sih, ini kantor polisi. kalau kamu yang ditahan gimana?" 


Renata melirik beberapa penjaga yang mematung, juga ruangan yang sedikit gelap. Tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Nino, menakutkan. 


"Tapi dia nggak mau ngaku, Sayang," geram Bagas. 


Ia tahu jika pria di depannya itu berbohong dan menutupi dalang dari semuanya. 


"Biar aku yang bicara." Renata meminta  Bagas untuk diam. 


"Maaf, Pak. Tolong jawab jujur, sebenarnya siapa yang menyuruh, Bapak?" tanya Renata dengan lembut. 


"Tidak ada yang menyuruh saya, ini murni. Saya ingin kalian berdua hancur dan jatuh miskin."


Aku nggak takut miskin, Pak. Tapi aku takut kalau ada orang yang mati karena ulah bapak. Renata menggerutu dalam hati.


Bagas memijat pelipisnya, mendengar jawaban Nino yang juga sama. 

__ADS_1


"Itu artinya bapak siap menanggung semuanya, bahkan bapak akan di penjara seumur hidup karena sudah mencoba membunuh orang lain," tegas Renata berharap pria itu jera dan mau mengakui. 


Tertawa lepas, menatap Renata dan Bagas pergantian. 


"Saya tidak takut apapun. Hukuman ini tidak ada artinya. Silahkan Kalian pergi, jangan membuang waktuku." 


Pria itu mendorong kursi ke belakang dan beranjak. Memalingkan tubuhnya. Sebelum melangkah, Nino menoleh menatap Renata lagi. 


"Aku sudah tertangkap, sekarang kamu bisa hidup bahagia, tidak akan ada yang mengusik kehidupan kalian lagi."


Pergi meninggalkan Bagas dan Renata yang masih di diselimuti beribu-ribu pertanyaan. 


"Itu kayaknya orang gila deh," cerca Bagas menatap punggung Nino berlalu. 


Renata mengatupkan bibirnya, menahan tawa. Ia bisa melihat amarah di wajah sang kekasih. 


"Kita pulang yuk, sia-sia juga, lebih baik kita ke butik ngurusin baju," ajak Renata sembari menarik tangan Bagas. 


Sudah di halaman pun Bagas masih tak bisa pergi, tangannya gatal. Ingin menonjok wajah Nino. seandainya Renata  tak ada, mungkin wajah Nino dipastikan hancur lebur karenanya. 


"Sayang, seharusnya kamu membiarkan aku menghajarnya," protes Bagas pada Renata yang nampak baik-baik saja, bahkan Renata pasrah dengan apa yang terjadi. 


"Kita pulang!" 


Bagas membukakan pintu untuk Renata. Mendengar nama itu, telinganya ikut panas membara. Orang yang pernah menjadi sahabat dekat, namun kini menjadi musuh.


Baru saja mobil memutar ke arah gerbang, Renata menahan tangan Bagas untuk menghentikan mobilnya. 


Matanya fokus pada seorang wanita dan anak kecil yang turun dari motor. Nampak dengan jelas, mata wanita sembab, mungkin karena menangis. Menggendong putranya yang sekitar berumur enam tahun, langkahnya buru-buru masuk ke kantor. 


"Mas, kamu lihat nggak wanita itu?" Renata menunjuk ke arah belakang. 


"Hmmm… Memangnya kenapa?" tanya Bagas cuek. 


"Dia sepertinya habis menangis, apa masalah yang dihadapi, aku jadi kepo."

__ADS_1


Bagas berdecak, "Mungkin ibu tadi ingin melaporkan suaminya yang selingkuh, kamu nggak pernah nonton berita, akhir-akhir ini banyak sekali istri gerebek suaminya di hotel dengan wanita lain." 


Seketika Renata mendaratkan pukulan di lengan Bagas, disaat dirinya serius, justru pria itu malah bercanda. 


Renata membuka pintu mobil dan turun. Entah kenapa, ia ingin tahu permasalahan wanita tadi. Sebagai sesama wanita, hatinya tersentuh melihat orang lain yang nampak sedih.


"Ada-ada saja, katanya ngajak ke butik," omel Bagas, namun ia tetap turun mengikuti calon istrinya masuk. 


Suara tangis meraung-raung dari balik ruangan yang berdiameter 4x4. Renata menyandarkan punggungnya di dinding. Mendaratkan jari telunjuk di bibir, memberi kode pada Bagas untuk tidak bertanya atau mengeluarkan suara. 


Beberapa polisi pun ada di sana menatap Renata dengan tatapan aneh. 


Pintu sedikit terbuka. Terdengar percakapan kecil dari dalam. 


"Ayah, kapan pulang?" Hati Renata berdenyut mendengar rengekan itu. Seorang anak yang mengharapkan ayahnya pulang, namun sulit dikabulkan karena dalam masa tahanan. 


"Nanti ayah pulang, sekarang kamu dan ibu di rumah dulu. Tunggu ayah," ujar pria yang baru saja Renata temui. Suaranya berat, mungkin menahan kebohongan.


Terdengar sangat memilukan, miris sekali. Seandainya ia yang berada di situasi itu, pasti juga tidak akan sanggup menjalaninya. 


Kasihan mereka, pasti sangat terluka melihat keluarganya di penjara, apa sebaiknya aku melepaskan Nino, bagaimana dengan mas Bagas, apa dia setuju denganku. 


"Kamu hati-hati ya, jaga Angga dengan baik, aku pasti akan pulang," ucap Nino meyakinkan istrinya. Wanita yang memakai gaun berwanta cokelat, panjang selutut dengan lengan se siku itu hanya mengangguk tanpa banyak tanya. 


"Mas, kita keluar," bisik Renata. Mereka berlari menuju pintu depan. Masuk ke mobil mensuplai oksigen untuk bernapas, satu kejadian yang membuatnya ingin menjerit disaat yang bersamaan teringat pada orang yang ia sayangi. 


"Mas, apa nggak sebaiknya kita melepasnya Nino, Kasihan anaknya," pinta Renata tanpa pikir panjang. 


Bagas menyalakan mesin dan mulai membelah jalanan yang sangat ramai, di sore hari kendaraan berlalu lalang karena saatnya pegawai pulang. 


"Kita lihat dulu, jangan-jangan ini cuma permainan para penjahat itu. Jangan gampang tertipu dengan orang lain. 


"Maksudnya?" tanya Renata memastikan. 


"Maksud aku, kita lihat dulu keadaan rumah Nino dan istrinya. Aku takut mereka hanya menipu kita. Nino melapor diri ke Polisi, tadi penampilan istrinya juga tidak menunjukkan kalau dia itu orang kaya, tapi ada yang berani membangun gedung milikku yang terbakar, padahal biaya nya itu tidak sedikit, Sayang. 

__ADS_1


Mengertilah, biarkan Nino di penjara dulu, kalau sudah waktunya aku akan melepaskan dia."


Renata diam, meresapi setiap inci kata yang meluncur dari bibir Bagas. Ada benarnya juga, jika kali ini dia menurut. 


__ADS_2