Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Menemui


__ADS_3

"Nona Renata tidak ada di apartemennya, Tuan," lapor Akio yang baru saja masuk mobil. 


Kali ini kakek Liam tidak melibatkan banyak anak buah. Cukup Mondi dan Akio, bahkan ia berpesan pada Gina dan yang lain untuk tetap di hotel supaya tidak mengetahui aktivitasnya di luar.


Bagaimana jika Gina tahu tentang ini? Kaget luar biasa, itu pastinya. Orang yang ingin disingkirkan justru ahli waris yang sebenarnya. Kakek Liam mengambil ponselnya dan menghubungi Bagas. Tidak banyak berpikir, yakin jika cucunya saat ini bersama pria itu.


Tersambung. Bernafas lega dan tersenyum. Namun, senyumnya itu meredup  saat panggilannya ditolak. Tak bosan, kakek Liam mengulanginya lagi hingga lima kali. Akan tetapi, tetap saja ditolak terus menerus, menyebalkan. Bagas sudah berani tidak sopan pada tokoh yang sangat terpandang di negaranya. Tapi keadaan berbeda, Kakek Liam malah tertantang dengan ulah calon cucu menantunya itu. 


"Calon cucu menantu, tapi kelakuannya kurang ajar," geram Kakek Liam. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, tidak ada alasan baginya untuk tidak merestui hubungan Bagas dan Renata. 


Akio tersenyum menatap wajah kakek Liam dari pantulan spion yang menggantung. Kesal, akan tetapi memendam rasa syukur yang begitu besar. 


"Mungkin tuan Bagas tidak mau diganggu, siapa tahu mereka sedang berduaan," canda Akio ikut senang. Setidaknya kini semua sudah beres. Beban hidup sudah menguar sempurna, tinggal permintaan maaf pada Renata yang belum terlaksana. 


"Sini hp kamu, enak saja aku dicuekin, nggak bisa, sebentar lagi dia akan memegang semua bisnisku, tidak sepantasnya menolak telepon dari kakeknya." Tak henti-hentinya kakek Liam menggerutu. Seumur hidupnya hanya Bagas yang berani seperti itu. 


Menempelkan benda pipih milik Akio di telinga. Sang supir melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan sembari menunggu perintah ke mana arah tujuan. 


Akhirnya diangkat juga. Suara berat Bagas menyapa dengan ramah karena tidak mengenal nomor ponsel yang menghubunginya.  Meskipun sedikit curiga dengan panggilan yang terus memberondong.


"Halo, ini siapa?" Bagas terdengar nampak ragu. 


"Ini aku, kenapa kau tidak menjawab teleponku?" pekik kakek Liam. Dadanya yang sempat sesak kini kembali lega. 


Bagas yang ada di seberang sana mendaratkan jarinya di bibir Renata memberi kode untuk tetap diam. 


"Siapa?" tanya Renata tanpa suara. 


"Kakek Liam," jawab Bagas tanpa suara juga. 


"Maaf kek, aku sibuk," jawab Bagas malas. 


Dari lubuk hati yang terdalam, ia tak mau lagi berhubungan dengan kakek Liam, tidak peduli apa yang akan dilakukan pria tua itu yang penting ia bisa terus bersama Renata. 


"Sibuk apa, mengurus gedung kamu yang terbakar? Tenang saja, nanti akan berdiri lagi. Sekarang katakan kamu ada di mana?" tanya Kakek Liam serius. 

__ADS_1


Bagas tak menjawab, ia masih fokus dengan ucapan kakek Liam tentang gedung. Apa hubungannya? Dari mana kakek Liam tahu tentang itu, padahal tempatnya ada di luar kota? Mencurigakan.


"Bagas, kamu mendengar suaraku, kan?" tanya kakek Liam, semakin geram, andai saja Bagas ada di depannya, mungkin sudah ditoyor jidatnya. 


"Iya, Kek. Aku ada di rumah tante Nurmala, jagain Renata. Dia sakit, mungkin karena kecapekan."


Apa! Cucuku sakit. Kakek Liam cemas, namun ia masih bisa menahannya seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. 


"Cepat, kamu bawa ke rumah sakit, jangan sampai kenapa-napa."


Bagas menjauhkan ponsel dari telinganya. Heran dengan perintah Kakek Liam yang memekik seperti orang yang panik. 


Kenapa kakek Liam khawatir seperti itu. 


"Bagas, kenapa diam? Lakukan perintah!" teriaknya lagi membuat Bagas meng iyakan dengan cepat lalu menutup sambungannya. 


Menghela napas panjang, bingung dengan perintah yang menurutnya sedikit mustahil. 


"Apa kata kakek Liam?" 


"Dia memintaku membawamu ke rumah sakit," kata Bagas seperti ucapan kakek Liam. 


Renata mendongak. Mengerutkan alisnya, sama seperti Bagas, ia pun lebih tercengang dengan sikap kakek Liam yang perhatian padanya. 


"Apa dia sedang bermimpi, mungkin kakek Liam mengira yang bersama kamu itu Gina, bukan aku." Renata tak percaya, pasalnya ia melihat dengan jelas kebencian kakek Liam. Bahkan kata-katanya bagaikan tancapan tombak yang menembus relung hati. 


Bagas mengangkat kedua bahunya. Tanpa aba-aba pria itu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Satu tangannya tetap merangkul Renata hingga gadis itu ikut meringkuk di sampingnya. 


"Bagas…" teriak wanita dari ambang pintu dengan kencangnya. Bagas langsung melompat turun sambil tersenyum nakal. 


"Mama, kok nggak bilang mau ke sini, kalau tahu, kan aku bisa jemput." 


Bagas menghampiri bu Amara yang berkacak pinggang di ambang pintu. Tatapannya tajam setajam silet melihat tingkah mesra Bagas yang berlebihan. Bukan apa-apa, hanya takut terjadi hal yang di batas kewajaran saja. 


Renata bangun, menyisir rambutnya dengan jari, kedua pipinya bersemu karena sudah tertangkap basah. 

__ADS_1


"Tante, aku minta maaf. Ini salahku," ucap Renata memeluk Bu Amara. Meskipun semua berawal dari Bagas, ia pun harus melakukan itu, takut terjadi salah paham. 


"Tidak, Re. Ini semua salah dia." Menunjuk wajah Bagas yang maish cekikikan.


Kejamnya mama, begini amat nasibku. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


Bu Nurmala hanya menangkupkan bibirnya  menahan tawa melihat perdebatan sengit itu. 


Ponsel Bagas berdering lagi, ia segera mengambilnya. Menatap layarnya. Ternyata kakek Liam yang menelpon. 


Aku harus bilang apa ini? 


Bagas menatap punggung Renata yang keluar bersama mamanya. Bu Nurmala mengikutinya dari belakang. 


"Iya, Kek. Ada apa?" tanya Bagas. 


"Gimana, apa Renata sudah kamu bawa ke rumah sakit?" tanya kakek Liam antusias. Rasa khawatirnya semakin tinggi. Ingin bertemu semakin memuncak hingga tak bisa dikendalikan dan terus ingin tahu kabarnya. 


"Renata tidak mau, Kek. Katanya istirahat saja sudah cukup," jelas Bagas seperti yang diucapkan Renata. 


"Kalau begitu katakan dimana tempatmu sekarang?"


Eh, ada apa ini, kenapa kakek Liam tanya tempatku, tapi sepertinya dia terlihat khawatir. 


Tanpa berpikir panjang, Bagas segera memberitahu alamat rumah Bu Nurmala. 


Jarak dari apartemen dan rumah Bu Nurmala tak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja.


Kakek Liam masuk tanpa Akio. Langkahnya terus mengayun lambat, mengantarkannya sampai ke teras. Bagas membulatkan matanya melihat tubuh tua itu terus mengetuk pintu. 


Disatu sisi ada Renata yang terus bergelayut manja di tangannya, seolah-olah melarangnya untuk pergi. Di sisi lain, kakek Liam nampak menunggu dirinya datang. 


Bu Amara dan Bu Nurmala mendekati kakek Liam.


"Aku hanya ingin bertemu Renata," ujar kakek Liam.

__ADS_1


Dada Renata bergemuruh hebat. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat pasi. Rasa takut kembali menyeruak saat kakek Liam semakin mendekat.


__ADS_2