Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Fakta yang mencengangkan


__ADS_3

Perdebatan semakin sengit. Melinda tak menyangka Renata berani menampar pipinya. Mempermalukan di depan umum. Dari sorot matanya melihat ada amarah yang terbendung membuat Melinda sedikit menciut. Namun, ia bukan penakut yang gampang menyerah begitu saja, baginya itu adalah penghinaan yang sangat besar. 


"Dasar kau __" 


Melinda mengangkat satu tangannya, berniat membalas Renata. Namun dengan sigap gadis itu menangkap dan menurunkannya dengan pelan. 


"Tanganmu terlalu kotor untuk menyentuh pipiku, meskipun kau bilang aku sampah. Nyatanya, Mas Bagas mencintaiku, bukan kamu." Menunjuk wajah Melinda.


"Sekarang Minggir! Atau aku suruh bodyguard kakek menyeretmu dari sini," ancam Renata. Kesabarannya sudah habis. Tak ada ampun lagi bagi Melinda yang terus menghalangi jalannya. 


Tertawa sinis, masih tak percaya dengan kekuasaan Renata. "Bodyguard, kamu mimpi?" Melinda mengejek, matanya menoleh ke kanan kiri menatap beberapa orang yang menjadi penonton. Otaknya traveling mencari cara untuk menjatuhkan Renata dengan cara lain. 


"Kalian dengar! Dia bilang punya bodyguard. Eh, kalau mimpi jangan di pagi buta, belum waktunya tidur."


Renata memejamkan mata. Melinda benar-benar menguji kesabarannya yang semakin menipis. 


Renata melambaikan tangannya ke arah dua pria yang memakai baju hitam dengan kacamata yang senada. Tubuh kekarnya membuat semua orang merinding. 


"Kalian di sini ditugaskan untuk menjaga siapa?" tanya Rerata pada dua pria yang kini mematung di depannya. 


"Untuk menjaga Nona Renata," jawabnya serempak. Matanya menatap Melinda dengan tatapan tajam dan siap menjalankan perintah apapun dari sang majikan. 


"Sekarang kalian semua harus tahu." Menunjuk beberapa orang secara bergantian. Saatnya Renata membuktikan pada semua orang jati dirinya saat ini mana yang nyata dan siapa yang bermimpi dan sok berkuasa. 


"Dia ini mantan tunangannya mas Bagas Ankara." Memegang kedua pundak Melinda dari arah belakang. "Karena waktu itu mas Bagas bangkrut, dia meninggalkannya dan mencari orang yang lebih kaya." Renata beralih mematung di depan Melinda kembali, hingga keduanya saling tatap. "Apa kamu tahu siapa aku?"


Tak ada jawaban, Melinda hanya bisa mendengar ucapan Renata yang nampak serius. 


"Aku adalah cucu Liam Nicholas." Hanya mendengar namanya saja seluruh organ tubuh Melinda terasa kaku, darahnya seakan membeku, keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-porinya. Sebagai seorang model yang sudah menjelajahi beberapa negara, nama itu sangat tak asing di telinga Melinda.


"Pastinya kamu tahu siapa dia. Jadi, jangan coba-coba melawanku kalau tidak ingin berurusan dengan mereka." Renata berdiri di tengah-tengah bodyguard. 


Melinda hanya bisa menunduk, meratapi malu yang mulai menggerogoti wajahnya saat ini. Sungguh, kejadian ini diluar ekspektasi nya. 


Setelah memastikan tak ada perlawanan, Renata keluar dari tempat itu bersama dengan dua pengawalnya. Orang-orang pun kembali berhamburan meninggalkan Melinda yang masih mematung di tempat. 


Dari belakang, Bagas menghampiri Melinda. Menatap aneh pada sebagian orang yang nampak mencibir sang mantan. 

__ADS_1


"Kenapa, Mel? Sepertinya ada masalah?" 


Melinda berhamburan memeluk Bagas. Namun, seketika Bagas mundur menghindari tubuh wanita itu. 


"Bagas, kamu tadi lihat, kan? Bagaimana kejamnya Renata," adu Melinda, menitihkan air mata sembari mengelus pipinya yang sedikit merah, seolah-olah ia teraniaya. 


Apa dia habis bertemu Renata, apa pipinya itu tamparan Renata. 


Bagas hanya bisa menerka-nerka dalam hati sambil cekikikan melihat kondisi Melinda yang menyedihkan. 


Bagas menggelengkan kepalanya dengan pelan saat Melinda semakin terisak. "Kamu salah target, Mel. Renata bukan lagi wanita lemah yang gampang ditindas, dia punya kekuasaan yang lebih daripada kamu."


"Kamu belain dia?" pekik Melinda tak percaya. 


Dulu Bagas adalah pria satu-satunya yang membelanya, meskipun terkadang dalam posisi salah, Bagas pun terus berpihak padanya. Kini semua berbalik, Bagas justru menyalahkannya di depan umum. 


"Banyak alasan untuk membelanya. Dia calon istriku, minggu depan kita akan menikah, jadi aku harap kamu mengerti. Sebaik apapun, tidak ada mantan yang harus aku kasihi."


Bagas menjelaskan singkat dan padat. Menggambarkan hatinya yang masih terluka karena Melinda yang tega melepasnya disaat runtuh. 


Bagas berlalu, tak mengindahkan Melinda yang terus berteriak memanggil namanya. Baginya masa lalu hanya akan membuat hidupnya berada dalam bayang-bayang semu.


Renata masih dirundung kekesalan. Menatap Bagas yang sudah dekat dari mobilnya. Pria itu nampak santai, seakan  tidak mengetahui kejadian tadi. 


"Sayang, ternyata kamu ada di sini?" pura-pura bodoh. Mencium kening Renata yang masih cemberut. Memasangkan seatbelt untuk gadis itu dan dirinya sebelum melajukan mobil. 


Dua bodyguard dengan mobil pun ikut melajukan mobilnya di belakang. 


Perjalanan sampai ke galeri hanya ada keheningan, Bagas sengaja tak mengganggu Renata yang mungkin masih jengkel dengan Melinda. 


"Maaf, aku tadi kelamaan, antri."


"Nggak papa, aku bisa kok ngadepin mantan kamu yang sok sempurna itu."


Baru saja membuka seat belt. Bagas meraih tangan Renata dan memeluknya. 


"Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu sendiri, maaf." Bagas merasa bersalah karena tidak ada disaat Renata butuh dirinya. 

__ADS_1


Renata tak menjawab, ia langsung keluar. 


"Perut, kenapa kamu harus sakit, sih. Lihat tu calon istriku ngambek," gerutunya, menepuk perutnya yang masih terasa nyeri.


Melukis adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan gejolak di dada. Bagi Renata itu bukan sekedar hiburan, namun juga aktivitas yang bisa mengalihkan otaknya saat keruh. 


"Kalian kok lama banget, dari mana saja?" tanya kakek yang sudah menunggu hampir satu jam di galeri. 


Renata tersenyum kecut dan masuk, melewati kakek Liam tanpa menjawab. 


Dua bodyguard datang menjelaskan, bersamaan dengan Bagas yang meminta maaf. 


Benar-benar seperti neneknya, gampang ngambek. 


"Kakek, cepetan!" teriak Renata dari dalam membuat kakek Liam secepatnya ikut masuk, takut membuat cucunya marah. 


Jika di ruangan itu Renata sibuk melukis wajah kakek Liam dan sang ayah. Di sisi lain, Bagas pun sibuk melukis wajah Renata, ingin memberikan hadiah sebagai tanda perminta maafnya. 


"Maaf, Tuan. Rambutnya kurang panjang," protes pengawal kakek Liam setelah memperhatikan gambar Bagas yang hampir sempurna. 


Bagas beranjak, mengintip sang kekasih yang masih sibuk dengan kuas di tangannya, setelah beberapa menit, ia kembali menyempurnakan gambarnya yang hampir finish. 


Hampir dua jam bergelut dengan alat-alat melukis, akhirnya Bagas menyelesaikan misinya. Puas dengan gambarnya yang sangat cantik, ia pun menghampiri Renata. 


"Sayang, aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Bagas diiringi dengan senyum. 


"Apa?" tanya Renata sedikit ketus. 


Bagas menutup kedua mata Renata dengan telapak tangannya. Menggiring menuju ruangan sebelah. 


Setelah tiba di depan gambar itu, ia  membuka mata Renata kembali. 


"Taraaaammmm… "


Renata terpaku, antara kagum dan terkejut melihat wajahnya yang terpampang di atas kanvas.  


"Ini Mas, yang buat?" 

__ADS_1


Bagas mengangguk cepat. ''Ini sebagai tanda minta maaf karena tadi tidak membantumu."


Keangkuhan Renata runtuh sudah dengan hadiah dari Bagas yang menurutnya sangat spesial.


__ADS_2