
"Tidak ditemukan bukti-bukti, Pak. Itu murni kebakaran yang disebabkan aliran listrik." Jerry mengatakan pada Bagas apa yang dikatakan polisi tadi.
Penyelidikan dilakukan hampir satu hari. Namun, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Di tempat kejadian perkara pun tidak ditemukan benda apapun selain puing-puing bangunan yang kini sudah menjadi abu.
Bagas mengendurkan dasi. Dari terbitnya matahari hingga tenggelam ada di ambang rasa gelisah dan takut. Sebab, sejak pamit tadi pagi, Renata tak memberi kabar padanya.
"Kamu di mana, Re? Aku butuh kamu."
Panjang umur, baru saja beberapa detik diharapkan, gadis itu membuka pintu ruangan Bagas.
Senyum melebar menghiasi bibir Renata saat melihat Bagas duduk bersandar di sofa.
Bagas beranjak dan berhamburan memeluk sang tunangan. Saat ini hanya itu yang bisa membuatnya bisa berdiri tegak.
"Aku permisi dulu," pamit Jerry yang tidak mau mengganggu mereka berdua.
Bagas meletakkan dagu di pundak Renata. Mengurai rasa rindu yang seharian ini menggebu.
Aku tidak boleh bersedih, kasihan mas Bagas. Dia sudah banyak masalah, dan aku tidak boleh membebaninya.
Renata mengusap air matanya yang sempat lolos.
"Kamu dari mana saja? Aku kangen."
Renata terus tersenyum meskipun hatinya tersayat atas apa yang terjadi di cafe. Setidaknya, itu jalan satu-satunya untuk menghibur Bagas.
"Maaf ya, Mas. Hari ini aku sibuk banget, banyak yang harus aku urus."
"Nggak papa, yang penting kamu kembali, jangan tinggalin aku." Memohon dengan sepenuh hati.
Senja tadi sangat indah, namun tak seindah hati sepasang kekasih yang kini mengemban beban berat.
Sama seperti Bagas yang belum menemukan titik terang, di cafe pun belum menemukan orang yang sengaja ingin menjatuhkannya. Untuk beberapa hari terpaksa tempat itu ditutup.
"Mas, kita makan yuk! Aku lapar."
Renata meletakkan kantong kresek yang menggantung di tangannya itu di atas meja, lalu menarik kursi untuk duduk.
"Aku takut kamu akan meninggalkanku seperti yang dilakukan Melinda."
Renata membuka makanannya dan menyuapi Bagas. Tak mau larut dalam kesedihan yang kini menyelimutinya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tenang saja. Tadi ibu telepon menyuruhku tidur di rumah."
Sesuap nasi masuk ke mulut Bagas.
"Kenapa harus di rumah tante, seharusnya di rumahku."
__ADS_1
Renata mengatupkan bibirnya menahan tawa melihat tingkah Bagas yang persis anak-anak minta permen.
"Nanti aku akan tidur di rumah kamu selamanya, tapi jangan kaget, kalau tidur aku suka nendang-nendang."
"Tapi aku lebih suka, biasanya yang nendang itu bikin bergairah," jawab Bagas dengan jahil.
Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Melupakan sejenak masalah yang menerpa.
"Bagaimana cafe hari ini?"
Uhuk Uhuk
Renata tersedak nasi yang baru saja ditelan. Ia kaget dengan pertanyaan Bagas.
Bagaimana ini, apa sebaiknya aku jujur saja kalau cafe ditutup, tapi kasihan mas Bagas, pasti dia ikut sedih mendengar berita ini.
"Re, kamu dengar aku, kan?" Menepuk lengan Renata yang nampak bengong.
"I—-iya, Mas. Aku dengar, kok," jawab Renata terputus-putus. Meneguk air putih lalu menatap Bagas dengan tatapan sayu.
"Ada apa?" Bagas mengulangi pertanyaannya.
"Nggak papa, aku cuma tidak mau membahas pekerjaan saja. Lagipula ini sudah malam, waktunya kita istirahat. Besok temani aku ke makam ayah dan Ibu, ya?"
Renata mengalihkan pembicaraan. Masih tak tega membagi keluh kesah pada sang kekasih.
Mentari belum terbit. Embun pagi masih lekat menghiasi dedaunan. Hawa dingin menampar kulit. Namun, kakek Liam sudah berada di sebuah pemakaman umum. Tak henti-hentinya air mata membanjiri pipinya yang sudah keriput. Penyesalan yang mendalam dirasakan. Di akhir hidupnya justru mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan. Di samping dua gundukan tanah itu, kakek Liam menangis sesenggukan. Tangannya mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Reno Nicholas.
"Kenapa kalian mendahuluiku? Seharusnya aku yang meninggal lebih dulu," ucapnya tersendat. Dunia seakan mengutuknya. Mempunyai segalanya, akan tetapi tidak bisa melihat anak satu-satunya lagi untuk selama-lamanya.
Akio mendekat, duduk di belakang Kakek Liam dan merentangkan tangan, selalu waspada dengan kondisi kakek Liam yang mulai lemah.
"Mondi, panggil penjaga makam ini, suruh dia ke sini!" titah Kakek Liam pada bodyguardnya.
"Baik, Tuan."
Selang lima menit pria tua yang membawa sapu menghampiri kakek Liam yang masih bersimpuh di samping makam. Dia adalah pak Imin.
"Ada apa, Tuan?" tanya pak Imin ramah.
Meskipun tidak mengenal Kakek Liam, pria itu tahu jika orang-orang yang ada di depannya itu bukan orang yang sembarangan. Di lihat dari bajunya sudah menunjukkan tanda kebangsawanan.
Kakek Liam berdiri, matanya terus tertuju pada taburan bunga yang nampak masih baru.
"Apa ada orang yang sering ke sini?" tanya kakek Liam antusias. Hatinya menjanggal dengan satu buket bunga yang bersandar di batu nisan.
"Iya, Tuan. Hampir setiap hari ada dua orang kesini, tapi saya tidak tahu siapa. Mereka hanya memberi uang pada saya dan meminta untuk merawat makam ini dengan baik ."
__ADS_1
Apa mungkin itu keluarga Naomi, tapi dia kan juga bukan orang sini.
"Kira-kira umurnya berapa?" tanya Kakek Liam semakin penasaran.
"Yang cewek mungkin sekitar umur dua puluh dua tahun, sedangkan yang laki-laki sekitar dua puluh tujuh tahun, Tuan."
Apa mungkin ini bukan makam Reno anakku, apa mungkin nama mereka hanya kebetulan sama.
"Akio," panggil kakek Liam.
"Iya, Tuan."
"Apa Kamu yakin ini makam Reno, anakku." Kakek Liam memastikan lagi.
"Dilihat dari tanggal lahir dan nama semua sama, Tuan. Tapi jika anda perlu bukti lagi, kita bisa bongkar makam ini."
Kakek Liam menggeleng dengan cepat.
"Apa kamu tahu tempat tinggal Reno dan Naomi sebelum meninggal?" tanya kakek Liam lagi, semakin ingin tahu kehidupan Reno selama di Indo.
"Rumah yang ditempati Tuan Reno katanya sudah dijual, Tuan. Tapi kami belum sempat datang ke sana."
"Kalau begitu sekarang kita ke sana, aku ingin tahu semuanya tentang Reno selama tinggal di sini."
Kakek Liam berlalu meninggalkan makam. Membawa luka yang tak bisa terobati.
Setelah mobil Kakek Liam menghilang di ujung jalan. Mobil Bagas dari arah berlawanan berhenti di depan pintu gerbang makam.
"Gimana tidur kamu semalam?"
Bagas melepas seat belt lalu mengambil kacamata dari dashboard.
"Aku tidak bisa tidur, nggak tahu kenapa, mungkin karena banyak masalah, Mas."
Bagas menghembuskan napas pelan. "Aku sudah ikhlas. Semoga dengan ini aku menjadi orang yang lebih tangguh dan tidak takut apapun."
Renata hanya menanggapi dengan senyuman kecil.
Setelah turun dari mobil, Renata mengikuti langkah Bagas masuk. Mereka menyusuri setiap makam menuju tempat peristirahatan orang tua Renata.
"Pagi, Pak," sapa Bagas dan Renata serempak.
Seperti biasa, Pak Imin mengangguk ramah. Melihat Bagas dan Renata berdoa, mengingatkan pada sosok yang baru saja pergi. Pak Imin mendekati Renata dan mematung di belakangnya.
"Non, Den, barusan ada beberapa orang ke makam ini. Sepertinya juga dari keluarga kaya, apa itu saudaranya non dan Aden?" tanya pak Imin.
Renata mengerutkan alis. Ayahnya tidak pernah bercerita tentang keluarga atau saudaranya, sedangkan ibunya hanya mempunyai saudara, yaitu bibi.
__ADS_1