
Jerry keluar dari kamarnya memakai kemeja yang lumayan formal. Jika bertemu dengan Bagas, otaknya langsung berlari ke pekerjaan yang mungkin tidak ada habisnya. Ia menatap sofa kosong lalu pintu yang sudah tertutup rapat, meskipun bibirnya membisu, Bagas bisa membaca apa isi otak sekretarisnya itu saat ini.
"Andara sudah pulang," celoteh Bagas tanpa ditanya.
Jerry duduk di sofa seberang meja, ia menautkan kedua tangannya dan mulai fokus dengan kedatangan Bagas di waktu yang sangat asing.
"Ada perlu apa Bapak ke sini?" tanya Jerry seraya membuka laptop yang ada di meja.
"Ini bukan soal kerjaan."
Jerry tercengang, menutup kembali laptopnya dan menatap wajah Bagas dengan lekat. Sedikit tak percaya, namun ia yakin pendengarannya masih normal.
"Lalu?"
Huh
Bagas menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan, ia mensinkronkan otak dan hatinya dengan masalah yang dihadapinya. Mengendurkan dasinya dan menyandarkan punggungnya. Lelah menyelimuti wajahnya, setelah dari rumah Bu Nurmala, Bagas langsung ke apartemen Jerry dengan hati yang kecewa karena penolakan Renata.
"Mama menjodohkanku dengan Renata," ungkapnya pelan, namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Jerry.
"Tapi setelah aku bilang setuju, Renata malah menolaknya. Menurut kamu, apa yang membuatnya seperti itu?" tanya Bagas serius.
"Apa dia juga mempertimbangkan kekayaanku seperti Melinda?"
Jerry tersenyum, ia tak menjawab malah beranjak ke arah lemari pendingin, mengambil dua minuman kaleng dari sana.
Jerry membukakan untuk Bagas.
"Bukan itu, tapi mungkin karena masa lalunya."
Bagas mengerutkan alisnya, bingung dengan ucapan Jerry yang tak jelas.
Hening, keduanya saling tatap. Bagas meraih minumannya dan meneguknya. Mencoba memahami maksud ucapan Jerry.
"Renata hanya gadis biasa, tidak mungkin dia akan melihat harta. Dulu dia menjadi bahan pembullyan di kantor. Mungkin itu salah satu pemicu dia menghindari perjodohan itu."
Jerry membuka laptopnya kembali dan mengetik. Setelah itu menghadapkan layarnya di depan Bagas.
"Lihatlah! Sehari-hari dia hanya disiksa. Tidak ada yang peduli padanya, bahkan yang terakhir sebelum dia keluar dari kantor, aku dengar dia dituduh menyimpan foto, Bapak."
Beberapa video sadisnya para karyawan pada Renata terekam rapi. Sebagian Jerry dapat dari cctv dan sebagian lagi sengaja direkam mereka yang iseng.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?" tanya Bagas sambil terus memutar beberapa gambar.
"Kemarin aku cari tahu dari beberapa orang yang tidak terlibat."
Bagas kembali menatap Jerry dengan tatapan yang semakin menyelidik, "tapi kenapa dia betah bekerja di kantor?"
"Uang. Mungkin karena dia butuh uang."
Bagas memperbesar gambarnya dan menatap wajah Renata dengan intens.
"Ternyata dulu dia jelek sekali," ejeknya tertawa kecil.
Jerry ikut terkekeh.
"Tapi sekarang cantik, kan Pak. Dia juga berbakat," lanjut Jerry yang memang ucapan itu ditahan dalam hati Bagas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Bagas kembali ke pokok permasalahannya.
"Tunjukkan pada semua orang kalau bapak benar-benar mencintainya. Dengan begitu, pasti dia akan percaya dengan keseriusan Bapak. Lagipula dia itu tipe perempuan yang baik dan polos, tidak seperti wanita jaman sekarang yang banyak maunya."
"Seperti Andara," sahut Bagas yang membuat bibir Jerry terkunci.
Jerry mencoba mengalihkan pembicaraannya. Ia tak mau lagi membahas wanita yang pernah menyakiti hatinya.
"Besok, aku akan melamar dia di depan semua karyawan. Supaya mereka tidak berani macam-macam lagi padanya," Bagas semakin yakin dengan keputusannya.
Kini tak ada keraguan yang membelenggu di hati Bagas setelah mendengar penjelasan Jerry. Meskipun sama-sama belum menikah, Jerry lebih berpengalaman soal wanita daripada dirinya.
Jerry mengangkat jempol setuju, apapun yang dilakukan Bagas, selagi itu positif pasti akan ia dukung.
Bagas tersenyum lebar. Beberapa rencana pun sudah mulai mengelilingi otaknya. Ia tak mau gagal lagi dan tak ingin lama-lama menjalin hubungan tanpa ikatan resmi dengan Renata.
Bagas meraih ponselnya yang berdering.
"Melinda," ucapnya dengan tangan yang sudah berada di atas lencana hijau.
"Jangan diangkat, Pak," cegah Jerry merebut ponsel milik Bagas dan meletakkannya di meja.
"Kenapa?" tanya Bagas antusias.
__ADS_1
Ia bingung dengan Jerry yang terus bersikap aneh.
"Ingat, Pak! Perempuan tak hanya butuh kepastian di depan saja, tapi juga butuh kesetiaan, kejujuran. Kepercayaan yang sudah dibangun kokoh pun akan hancur lebur hanya dengan satu kesalahan. Apalagi bapak baru akan memulai, dan aku tidak mau Melinda menghancurkan semuanya."
Dering ponsel berhenti, Bagas meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Jerry yang masuk akal.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Ini sudah malam, kalau tidak penting tidak mungkin dia menghubungi ku?"
"Kalau bapak masih mengkhawatirkan perempuan lain, jangan lamar Renata. Kasihan dia hanya menjadi bahan pelarian, selama ini hidupnya sudah penuh dengan catu, baik dari orang lain maupun keluarganya, apa bapak akan memberinya luka lagi dan membuatnya semakin menderita."
Ucapan Jerry sangat bijaksana, ia tahu jika pria di depannya itu lebih dewasa. hidupnya tanpa kasih sayang kedua orang tua membuatnya lebih mandiri dan bisa membaca situasi di sekitarnya.
Ponsel Bagas kembali berdering, kini bukan nama Melinda, melainkan nama Tante cerewet yang berkelip di layar.
"Siapa?" tanya Jerry penasaran.
"Memangnya tante ku yang cerewet ada berapa?" tukas Bagas sinis.
"Satu, tante Nurmala."
Bagas menerima panggilan teleponnya, namun tetap menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, takut suara Bu Nurmala melumpuhkan pendengarannya.
"Ada apa, Tante?" Bagas mengawali pembicaraan.
"Bagas, kamu ada di mana?"
Tak sesuai ekspektasinya, yang akan menjerit dan berbagai bentakan dan omelan. Suara yang ada di seberang sana terdengar lirih dan cemas.
"Di apartemen Jerry. Memengnya ada apa?" tanya Bu Nurmala, suaranya terdengar semakin panik dan takut.
"Renata sakit, badannya panas sekali, kamu cepat kesini!" Bu Nurmala terdengar mendesah.
"Baik, Tante," jawab Bagas memasukkan ponselnya di saku celana dan beranjak. Tanpa kata, ia langsung keluar dari tempat Jerry dengan menyampirkan jas nya di pundak.
"Bapak mau diantar?" teriak Jerry mengikuti langkah Bagas menuju lift.
"Tidak usah, Kamu kalau nyetir lelet," ejek nya berlari kecil.
Jerry menyunggingkan bibirnya menatap punggung Bagas yang menghilang dari balik pintu lift.
Jerry kembali masuk dan mengingat Andara. Namun, ia segera menepisnya dan tak mau larut dengan masalah pribadinya.
__ADS_1
"Renata sakit apa? Sepertinya pak Bagas mulai perhatian padanya. Aku harus bisa membuatnya melupakan Melinda. Dia hanya akan menghancurkan kehidupan pak Bagas seperti Derya."
Jalanan masih sangat ramai, Bagas mencoba tenang dan fokus untuk membelah kendaraan yang berlalu lalang di dalam kegelapan. Selang beberapa menit, ia kembali menghubungi Bu Nurmala dan memastikan kondisi Renata.