
Renata berada di taman beserta alat lukis yang lengkap. Namun, sudah hampir satu jam terlewati, ia tak menghasilkan apapun. Otaknya terasa keruh dan tak bisa berimajinasi dengan penuh. Lagi-lagi perjodohan yang direncanakan Bu Nurmala dan Bu Amara mengusik hidupnya. Bukan menantang pilihan mereka, ia hanya ingin bahagia dengan laki-laki yang mencintainya, bukan karena belas kasihan ataupun paksaan.
Seharusnya, disaat semburat jingga terbit, Renata pun bisa membuat gambar yang sangat indah. Akan tetapi, semua itu berlalu dengan sia-sia.
Setelah pulang dari restoran, Renata cenderung diam dan melamun, sesekali ia tak menjawab pertanyaan Bu Nurmala.
Aku tidak boleh memikirkan pak Bagas, aku harus fokus dengan cita-citaku yang sudah ada di depan mata.
Renata mengambil kuas dan mulai menggerakkan tangannya, ia menepis bayangan Bagas yang terus melintasi otaknya.
Baru saja lima menit, otak Renata kembali buyar saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pria yang tak asing turun dari mobil itu.
Ngapain pak Bagas ke sini?
Renata semakin kesal mengingat kejadian di restoran tadi.
Selang lima menit, Bagas sudah ada di belakangnya membuat Renata salah tingkah.
"Ngapain Bapak ke sini?" tanya Renata ketus. Jika alam berpihak, ia ingin menghindar dari Bagas. Namun, itu tak mungkin terjadi mengingat dirinya yang kini tinggal di rumah Bu Nurmala.
Bagas menatap lukisan Renata yang tak berbentuk lalu tersenyum.
"Ini rumah tante Nurmala, dan aku sering ke sini," jawab Bagas santai.
Renata beranjak dari duduknya dan membalikkan tubuhnya.
"Permisi," ucap Renata melewati tubuh tegap Bagas yang mematung di sampingnya.
"Mau ke mana?" tanya Bagas seraya menatap punggung Renata yang menjauh.
Renata menghentikan langkahnya lalu memutar badannya menatap Bagas yang nampak lelah. Seharusnya ia tak perlu bersikap tak acuh pada Bagas yang bukan siapa-siapanya, tapi hatinya tetap saja jengkel saat melihatnya.
"Aku mau masuk, sudah hampir malam," jawab Renata datar.
Bagas menghampiri Renata dan meraih kedua tangannya.
"Bulan depan ada event melukis di Jepang, apa kamu mau ikut?" tanya Bagas.
Renata tercengang. Ucapan Bagas seketika menghapus semua rasa kesal yang hampir seharian mengendap memenuhi dadanya.
"Benarkah? Apa aku boleh ikut?" tanya Renata memastikan, wajahnya langsung berseri-seri memberikan aura positif.
"Boleh, itu event yang digelar setiap tahun. Dulu aku dan Derya selalu ikut lomba itu sekalian liburan, dan bulan depan aku akan mengajak kamu ke sana," ucap Bagas.
Renata kembali duduk di depan kanvas.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Aku harus bisa menjadi Renata, seorang pelukis hebat yang bisa dikenal dunia."
Akhirnya dia tidak jadi merajuk. Bagas menghela napas panjang, lega.
Sebenarnya Bagas tidak tahu apa alasan Renata cuek padanya. Namun, ia lebih peka dengan sikap Renata yang mempunyai tingkat emosional tinggi.
Bagas membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Renata, mengikis jarak antara keduanya. Ia terus mengikuti gerakan jari lentik gadis itu, dan sesekali ia menatap wajah Renata yang sangat serius.
"Re, aku mau bicara sama kamu," ucap Bagas yang mengubah suasana menjadi canggung.
"Bicara saja, Pak." Renata mengusir rasa gugup saat merasakan hembusan napas Bagas yang menerpa telinganya, ia takut jika Bagas akan membahas tentang permintaan mamanya.
"Ini tentang perjodohan kita. Bagaimana menurut kamu?"
Seumur hidupnya, ini pertama kali Renata terjerat dengan perjodohan yang tak diinginkannya, jika dulu ia pernah berharap pada pria, kini harapan itu seakan hanyut dengan berjalannya waktu.
"Mungkin mereka hanya bercanda saja. Tidak mungkin tante Amara menjodohkan Bapak denganku. Lagipula kita jauh berbeda, masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dan cantik dariku, jadi bapak tenang saja, aku akan bicara pada ibu."
Renata mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Bagas.
"Tapi, bagaimana kalau aku menerimanya?"
Deg deg deg
Renata menatap kedua bola mata Bagas. Ada ketulusan di sana, namun Renata juga melihat ada sedikit keraguan dari wajah pria itu.
"Mak….maksud bapak?" tanya Renata memastikan.
"Aku menerima perjodohan ini. Itu artinya aku menerima kamu sebagai calon istriku." Bagas menjelaskan membuat Renata semakin canggung.
"Tapi aku tidak bisa," jawab Renata tegas.
Bagas menggenggam tangan Renata dan berlutut di depannya.
"Berikan aku satu alasan kenapa kamu menolakku?"
"Aku ingin meraih cita-citaku yang sempat tertunda, setelah itu aku akan pikirkan lagi. Tapi jika bapak ingin mundur silahkan, aku tidak memaksa bapak untuk menungguku."
Bagas menundukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Renata.
"Aku akan menunggumu sampai waktu itu tiba."
Ponsel Bagas berdering, ia segera merogoh benda pipih itu dari saku jas dan menatap layarnya.
"Alexa, ada apa dia menelponku?"
__ADS_1
Alexa, apa itu nama gadis yang bersama pak Bagas tadi siang.
Renata melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Bagas langsung menerima panggilan dari Alexa yang kini menjadi salah satu kliennya.
"Halo, ada apa?" tanya Bagas.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin bilang kalau papa dan para staf sudah sepakat untuk memindahkan jalur yang lain, dan aku akan mempersiapkannya bulan depan."
"Baiklah, semoga sukses."
Bagas memutus sambungan ponselnya dan kembali mendekati Renata yang sibuk menyempurnakan lukisannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa? Renata menampar mu. Kurang ajar, awas saja kalau sampai ketemu, akan aku cincang dia," pekik bibi dengan lantang.
Wajahnya merah padam setelah mendengar cerita Karin. Wanita paruh baya itu bahkan tak bisa memendam emosinya dan memecahkan beberapa piring yang tertata rapi di rak.
Karin memeluk Bibi dengan erat dan pura-pura terisak.
"Tadi aku juga melihat dia bersama pria kaya, mungkin saja dia menjual diri untuk mengubah takdirnya."
Bibi semakin geram dan tak bisa membendung amarahnya.
"Di mana kamu bertemu dengan dia?" tanya Bibi antusias.
"Di Mall, tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana, yang pastinya dia naik mobil mewah bersama laki-laki."
Hening sejenak, tiba-tiba saja Karin merasa mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi yang ada di belakang.
Suara Karin muntah terdengar oleh bibi, dengan sigap wanita itu berlari menuju kamar mandi.
"Karin, kamu tidak apa-apa?" teriak Bibi menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Karin tak menjawab, ia masih sibuk menumpahkan isi perutnya hingga membuat bibi semakin cemas.
"Karin, buka pintunya!" teriak Bibi untuk yang kedua kali.
"Sebentar, Bu," jawab Karin lirih.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mual, apa aku punya penyakit maag," gumam Karin sembari membasuh wajahnya.
Karin menggeser tubuhnya menatap pembalut yang menggantung di dinding dari pantulan cermin. Seketika, wajahnya pucat pasi mengingat kejadian malam kelam yang penuh gairah bersama Toni.
Apa jangan-jangan aku hamil?
__ADS_1